
Ingin rasanya waktu terhenti disini. Kenapa? Kenapa Aku seperti Budak Cinta pada Laki-laki yang ada di depanku? Semenjak Aku memimpikan dan kemudian bertemu dengannya di Dunia nyata. Rasanya Aku semakin tak percaya. Aku suka Laki-laki sepertinya. Ia selalu ketus tapi juga perhatian.
Suara dering ponselku terdengar lagi. Sepertinya panggilan dari Ayah. Tapi, dengan posisiku yang sedang berada di atas motor, Aku agak kesulitan menjawabnya. Karena, Aku menyimpan ponselku di Ransel dan agak sulit mengambilnya.
Ryu sedikit menoleh padaku ketika suara dering ponselku berbunyi.
"Ayahmu telepon lagi?" tiba-tiba Ryu bertanya padaku.
"Ah, mungkin. Aku agak kesulitan mengambilnya karena ada di Ranselku."
"Baiklah, pegangan yang erat!"
"Sudah!" sembari memegang behel motor.
"Jangan salahkan Aku kalau Kamu sampai terjatuh," ujarnya.
"Maksud Kamu?"
Ryu menancap gas dengan kecepatan 80 km per jam. Aku sangat terkejut, lalu spontan memeluk Ryu dengan erat. Jantungku kembali berdegup kencang. Aku berharap Ryu tidak merasakan detak jantungku. Tapi, yang saat ini Aku pikirkan adalah keselamatan Kami.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit, akhirnya tiba di depan Rumahku. Aku segera turun dari motor dan mengucapkan terima kasih pada Ryu. Lalu, Aku melangkahkan Kaki masuk ke dalam Gerbang.
"Tunggu!" Ryu menghentikan langkahku.
"Ya?" Aku tersipu malu ketika Ia mencoba menahanku.
"Helm. Tolong kembalikan!" ujarnya dengan nada datar.
"O-oh. Maaf!" Sembari berusaha membuka gesper helm.
Hah! Aku pikir Ryu sengaja menahanku karena masih ingin berbicara denganku. Tapi, Aku kesulitan membuka gesper helm. Berulang kali kucoba, tapi Aku tetap kesulitan untuk membukanya.
"Kenapa susah sekali di buka, ya?" gumamku.
Ryu akhirnya turun dari motor dan segera menghampiriku. Ia dengan peka membantuku membuka gesper helm yang kukenakan. Dan, tangan Kami pun saling bersentuhan.
"Maaf!" ujarnya ketika tidak sengaja menyentuh tanganku dan membantuku membuka gesper helm.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Karena, Jantungku terus berdetak kencang. Dan tiba-tiba saja Aku berfantasi, bagaimana jika Aku berpacaran dengannya? Apakah Kami akan seromantis ini? Ah! Semua hanya khayalan. Aku takut bermimpi terlalu tinggi. Cukuplah Darren yang membuatku sangat kecewa. Tapi, setidaknya Ryu tidak pernah memberikan harapan untukku.
"Sudah selesai! Kamu boleh masuk sekarang!" ujarnya.
Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Ingin sekali rasanya Aku menawarinya untuk singgah sebentar di Rumah. Tapi, situasinya tidak mendukung. Disamping Ryu bukanlah siapa-siapa bagiku, Ayah juga sedang membutuhkanku.
"Terima kasih, Kak Ryu! Hati-hati di jalan!"
Ryu hanya menganggukkan kepala. Ia lalu menancap gas dan pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung memandangi punggungnya yang indah.
Ayah dan Tante Aiko sudah cukup lama menungguku. Mereka sudah siap untuk segera berangkat ke Rumah Sakit. Aku menyimpan Ransel dan mengambil tas kecil milikku di kamar. Kami pun bergegas untuk berangkat ke Rumah Sakit.
Tante Aiko terlihat sangat panik. Kulihat Tante Aiko berulang kali menggigit bibirnya. Dan terlihat jelas suara hentakan kecil dari kedua kakinya yang terus bergetar.
"Tante Aiko!"
"Ya!" Tante Aiko mengulum senyumnya. Ia berusaha untuk tenang ketika menjawab panggilanku.
"Tante yang sabar, ya! Kita doakan saja, Semoga Ayah Tante Aiko tidak apa-apa."
"Ya, terima kasih, Yumiko."
Tiba di parkiran Rumah Sakit. Tante Aiko segera turun sembari berlari kecil menuju pintu masuk. Aku dan Ayah menyusulnya dari belakang. Rupanya, Ayah dari Tante Aiko sudah berada di Ruang Rawat Inap kelas VIP.
"Ibu, maaf! Kami terlambat!" ujar Tante Aiko kepada Ibunya.
"Bagaimana kondisi Ayah?" imbuhnya.
"Untunglah lekas tertolong. Tadi pagi Ayahmu sempat sesak nafas. Lalu, Ibu segera membawa Ayahmu ke Rumah Sakit. Untung saja Hiro sedang menginap di Rumah. Jadi, Hiro bisa membantu memapah Kakeknya."
Hiro? Apa jangan-jangan Hiro yang disukai oleh Yui? Ah, tapi masa iya? Nama Hiro kan banyak. Mungkin saja bukan Hiro si Kapten Basket gebetan Yui.
"Ah, syukurlah! Lalu, apakah ada hal yang serius?"
"Tidak. Hanya saja Asma Ayahmu sempat kambuh. Maklum, sudah lanjut usia. Jadi, cukup rentan karena daya tahan tubuh Ayahmu sudah mulai menurun."
Tante Aiko sudah bisa bernafas lega. Kemudian, Tante Aiko memperkenalkanku pada Ibunya.
"Salam kenal, Bu. Saya Yumiko. Saya dari Indonesia."
"Ah, Yumiko, ternyata Kamu Gadis yang sangat cantik sekali," Ibu Tante Aiko memujiku dengan senyuman.
"Terima kasih, Bu."
"Tidak! Jangan panggil 'Ibu'! Panggil saja Saya 'Nenek'. Ya!"
"Ta-tapi—"
"Tidak perlu sungkan. Aiko juga kan Ibumu. Jadi, Saya juga adalah Nenekmu."
"Ne-Nenek!" Aku terharu ketika Beliau memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'Nenek'. Sepertinya, sikap ramah Tante Aiko menurun dari Ibunya. Apa sebaiknya mulai saat ini Aku memanggil Tante Aiko dengan sebutan 'Ibu'?
"Aiko-san!" seorang Wanita memanggil Tante Aiko.
"Oh, Kak Emiko? Kakak dari mana?"
"Aku dan Toshio (Suami dari Emiko) baru saja tiba dari Chiba. Kemarin Sepupu Toshio Menikah disana. Untung saja Hiro sedang menginap di Rumah Ayah. Jadi, ada Hiro yang bisa membantu Ibu membawa Ayah. Lalu, bagaimana kondisi Ayah?"
Nenek menceritakan kembali secara rinci kepada Tante Emiko. Tante Emiko adalah Kakak dari Tante Aiko. Lalu, ketika sudah diketahui bahwa Kondisi Kakek sudah lebih baik, akhirnya semua bisa bernafas lega. Mereka bersyukur karena kondisi Kakek semakin membaik dari sebelumnya. Nenek juga memperkenalkanku kepada Tante Emiko. Dan, Tante Emiko pun begitu senang bertemu denganku.
"Wah, cantik sekali!" Tante Emiko memujiku.
"Terima kasih, Tante Emiko!"
Tante Emiko tersenyum padaku. Lalu, Tante Emiko memanggil seseorang yang jaraknya 10 meter dari Kami.
"Hiro! Anakku!" ujar Tante Emiko.
Aku menoleh kebelakang. Jadi benar, itu adalah Hiro si Kapten Basket. Spontan Aku menyembunyikan wajahku.
Tidak! Jangan sampai Ia menyadari keberadaanku.
"Hiro, dari mana saja Kamu, Nak?" tanya Tante Emiko.
"Aku habis cari udara segar."
Sepertinya, Hiro sudah mulai mencurigai keberadaanku. Berulang kali Ia memandang kearahku. Namun, Aku berusaha untuk terus membuang muka.
"Yumiko, Kamu kenapa? Oh ya, kenalkan, ini adalah Keponakan Saya, namanya Hiro. Dia juga satu Sekolah denganmu."
Perlahan Aku membalikkan badan dan menatap Hiro. Hiro pun menatapku dengan dengan tatapan heran. Hah! sudah terlanjur. Baiklah, mungkin sebaiknya Aku pura-pura mengenal baik dirinya.
"Hai, Hiro!" Aku melambaikan tangan padanya.
"Hai!" Hiro menjawab datar.
"Hiro, Kamu kenapa selalu bersikap dingin sama Perempuan? Bahkan, ada Gadis secantik Yumiko pun, Kamu tetap bersikap dingin padanya," ujar Tante Emiko.
"Lalu, Aku harus bagaimana?" tanya Hiro.
"Mungkin Kamu bisa mengajaknya kenalan. Meskipun Kalian satu Sekolah, tapi Kalian belum saling kenal, kan?"
"Sudah, kok!"
"Iya Tante, Kami memang sudah kenal," sahutku.
"Oh, syukurlah. Lain kali, Kalian harus akrab dan kompak ya di Sekolah!" celetuk Tante Emiko.
Apa? Akrab? Kompak? Ingin sekali Aku mengatakan kalau semua itu mustahil. Bahkan, sangat-sangat mustahil! Aku enggak bisa dan enggak akan pernah bisa akrab, apalagi kompak dengan Hiro. Jika semua itu terjadi, Aku harus berurusan dengan Musuh dan juga Sahabatku. Membayangkannya saja sudah membuatku stress. Mungkin Aku masih bisa menghadapi Seika, tapi bagaimana caraku menghadapi Yui?
Sudah dua jam Kami berada di Rumah Sakit menunggu hingga Kakek sadar. Tapi, belum ada tanda-tanda bahwa Kakek akan segera sadar. Ayah dan Tante Aiko pamit untuk pulang lebih dulu. Kalau tidak halangan, Tante Aiko akan datang besok pagi untuk menjenguk dan bergantian menjaga Kakek.
Kami bertiga berjalan kearah Parkiran. Ayah melangkah lebih dulu, lalu Aku dan Tante Aiko berjalan beriringan sembari mengobrol ringan. Tante Aiko berkata bahwa sebelum Aku masuk ke Sekolah baru, Tante Aiko sudah lebih dulu menceritakan kepada Hiro bahwa Aku akan masuk di sekolah yang sama dengannya.
Selanjutnya, Kami berdua membahas hal lain yang membuat Kami tertawa bersama. Tanpa Kami sadari, dari kejauhan tampak sebuah Mobil Minibus menancap gas dengan sangat cepat. Ayah menyadari akan hal itu spontan berteriak, "Yumiko! Aiko! Awas!"
Tante Aiko berada di sebelah kananku, dimana posisi tersebut adalah posisi orang yang pertama kali akan tertabrak jika tidak sempat menghindar.
Ketika Aku dan Tante Aiko mendengar teriakan Ayah, Aku pun spontan teriak sambil menarik tangan Tante Aiko.
"Ibu! Awas!"