YUMIKO

YUMIKO
MANTAN KEKASIH



Tanpa sadar Aku mengucapkan satu kata itu. Namun, satu kata itu ternyata bisa mengubah segalanya. Ya, satu kata itu adalah 'Ibu'. Mungkin bagi seorang Ibu yang memang mengandung dan melahirkan Anak adalah suatu hal yang biasa. Tapi, lain hal dengan Tante Aiko. Ia tidak pernah merasakan bagaimana nikmatnya mengandung dan melahirkan. Maka dari itu, satu kata yang telah kuucapkan dan kini melekat pada dirinya bisa mengubah segalanya. Matanya berkaca-kaca dan senyumnya mengembang. Aku tahu bahwa Ia begitu bahagia dengan sebutan itu.


Dan, memang sudah saatnya Aku memanggilnya 'Ibu'.


"Yu-Yumi! Ba-barusan, Kamu bilang apa?" suaranya terbata-bata.


Meskipun Ia merasakan sakit pada kakinya. Tapi, semua itu seolah hilang ketika Ia mendengar ucapanku. Sebegitu bahagianya Tante Aiko saat Aku memanggilnya 'Ibu'.


"Yumi, bisa katakan sekali lagi?" harapnya.


"I-Ibu!"


Tante Aiko, Ah bukan, sekarang Aku akan mantap memanggilnya 'Ibu'. Aku harus membiasakan diri memanggilnya dengan sebutan Ibu. Karena, Beliau memang pantas disebut sebagai Ibu meskipun statusnya adalah Ibu Sambung. Kepribadian dan tutur katanya mencerminkan sikap seorang Ibu yang sangat menyayangi Anaknya.


"Yumi, terima kasih, Nak!" Ibu memelukku dengan sangat erat, lalu mencium keningku. Aku pun membalas pelukannya seraya menitikkan air mata. Aku sangat bersyukur, karena dipertemukan oleh Orang-orang yang sangat baik.


Sebentar lagi musim dingin, Ayah dan Ibu mengajakku pergi ke Pusat Perbelanjaan untuk membeli pakaian musim dingin. Ibu membantuku memilih pakaian musim dingin. Aku sangat senang sekali, Ibu begitu antusias memilihkan untukku. Ayah tersenyum pada Kami yang tampak sangat akrab. Ayah pasti merasa sangat bahagia karena Kami layaknya seorang Ibu dan Anak.


Setelah itu, Kami pergi mencari sebuah Restoran di Pusat Perbelanjaan untuk makan siang, dan Kami memilih Restoran Sushi. Ayah mengajak Kami untuk memilih tempat duduk di dekat jendela sambil menikmati pemandangan Kota Tokyo. Aku duduk berdampingan dengan Ibu, sedangkan Ayah duduk dihadapan Kami. Kami saling bersenda gurau, dan sesekali Ibu membelai lembut rambutku. Sampai saat ini, semua terasa bagaikan mimpi.


"Ryu-kun! Disini!" seorang Perempuan di seberangku memanggil sebuah nama yang sangat familiar, sembari melambai-lambaikan tangannya.


Jiwa keinginan tahuanku muncul secara naluriah, Aku ingin sekali mengetahui 'Ryu' siapa yang dimaksud? Saat kualihkan pandanganku, tampak sosok Laki-laki tinggi tegap yang baru saja kutemui, kini sedang berjalan menghampiri seorang Perempuan yang sangat cantik. Ternyata benar, Laki-laki itu adalah Ryu Yamazaki. Sepertinya Ia sudah selesai latihan Baseball. Entah kenapa Dadaku rasanya sesak. Apakah Perempuan itu adalah pacarnya?


Aku membuang pandanganku dan berpura-pura tidak melihatnya. Aku tak tahu, apakah Ryu menyadari keberadaanku atau tidak?


"Yumi, kenapa melamun?" Ibu bertanya padaku.


"Tidak apa-apa, Bu.


"Kamu sudah lapar?"


"Enggak, Bu. Aku enggak terlalu lapar."


"Kamu sakit?" Ibu menyentuh keningku untuk memastikan suhu tubuhku.


"Aku baik-baik saja, Bu!" sembari tersenyum agar Beliau tidak khawatir.


"Tapi, kenapa Kamu tiba-tiba saja diam? Ada yang sedang Kamu pikirkan?"


"Tidak, Bu. Benar! Aku hanya sedikit mengantuk."


"Yumi, maafkan Kami, ya? Kami sudah memintamu untuk segera pulang dan langsung ikut bersama Kami ke Rumah Sakit. Kamu pasti kelelahan?"


"Tidak apa-apa, Bu. Yumi juga memang ingin bertemu dengan Orang Tua Ibu."


"Yumi, terima kasih, Sayang."


"Iya, Bu."


Meskipun Aku tidak menoleh kesamping. Tapi, Aku sangat yakin kalau Ryu melihat kearahku dan berpura-pura tidak mengenaliku. Tak lama, hidangan Kami telah tersedia. Ayah dan Ibu begitu antusias dan sangat menikmati makan siang Mereka. Sedangkan, Aku masih terus merasa canggung selama Ryu masih berada di tempat yang sama denganku.


Aku tak perlu berusaha keras untuk mencuri dengar pembicaraan Mereka. Karena, percakapan Mereka cukup terdengar ditelingaku. Mungkin terdengar bagi Mereka yang ingin fokus untuk mendengarkan. Tapi, lain hal bagi Orang lain yang memang tidak peduli tentang isi percakapan Mereka. Maka, suara Mereka seakan tak terdengar sama sekali. Namun, Aku salah satu, bahkan mungkin satu-satunya Orang yang ingin mencuri dengar percakapan Mereka.


"Bukankah dari awal Kamu memanggilku kesini hanya untuk mendengarkan saja? Kamu pun sepertinya enggak perlu komentar dariku."


"Ryu, kenapa Kamu jadi seperti ini?"


"Aku? Seperti ini? Bukankah Kamu justru yang seperti sekarang ini? Semenjak Kamu menggeluti Dunia Modelmu, Kamu perlahan berubah."


"Ryu, Aku harus Profesional. Apalagi, saat ini Aku sedang berusaha untuk merambah ke Dunia Akting."


"Itu hal yang sangat wajar kalau Kamu ingin Profesional. Tapi, bukan berarti Kamu bermesraan dengan Laki-laki lain."


"Ryu, mengertilah! Aku hanya berlatih Akting. Sebentar lagi Kami akan mulai Syuting Film pertamaku. Sedangkan, Aku dan Dia adalah Pemeran Utama. Jadi, Kami harus latihan untuk membangun chemistry."


"Membangun chemistry?Kamu pikir Aku bodoh? Apakah latihan akting harus di Apartemen Kamu? Memangnya enggak bisa di Lokasi Syuting?"


"Kamu terlalu cemburu, Aku enggak suka!"


"Ya, Aku memang terlalu cemburu. Tapi, Aku cemburu karena ada alasan."


"Apa alasannya?"


"Yoshida, Kamu belum sadar juga? Aku melihat langsung Kamu sedang bermesraan dengannya. Kamu pikir itu bukan suatu alasan jika Aku harus cemburu?"


"Bukan! Karena Kamu memang terlalu cemburu dan terlalu protektif."


"Jika Aku memang terlalu cemburu dan terlalu protektif, Aku tidak akan pernah mengizinkan Kamu untuk terjun ke Dunia Model. Apalagi, Kamu sudah sering foto bersama dengan Laki-laki lain. Kalau untuk hal itu, Aku masih mengerti. Karena itu sudah menjadi tuntutan profesi Kamu. Dan lagi, hal itu dilakukan saat di Lokasi Pemotretan. Tapi, yang Aku lihat kemarin itu di Apartemen Kamu, bukan di Lokasi Syuting. Apa salah jika Aku cemburu? Tolong pikiran baik-baik!"


Yoshida? Jadi nama Perempuan itu adalah Yoshida? Dan Dia adalah seorang Model? Hah! bukan Aku bermaksud menjelekkannya. Tapi, apa Dia terlalu bodoh untuk berusaha membodohi seseorang? Yang benar saja? Sudah jelas bermesraan di dalam Apartemen itu pasti ada hubungan spesial. Bisa-bisanya Dia bilang hal itu hanya sekedar latihan untuk membangun chemistry? Ryu, Kamu terlalu baik untuknya. Apa jangan-jangan yang semalam berbicara dengan Ryu di telepon itu adalah Perempuan yang bernama Yoshida?


"Asal Kamu tahu, Kamu itu terlalu kaku!" ujar Yoshida.


"Kaku? Maksud Kamu?"


"Iya. Kaku. Kamu itu tidak pernah bersikap romantis layaknya seorang Pacar. Yang Kamu tahu itu hanya cemburu. Semestinya Kamu koreksi diri dulu. Lagipula, bagus juga kalau Kita putus. Jadi, Aku tidak perlu terus menerus merasa kesal sama Kamu. Setelah mengetahui hal ini, harusnya Kamu bisa untuk lebih baik lagi. Berusaha kembali untuk mendapatkan cinta dan perhatian dariku. Bukan malah rela melepaskan."


"Oke. Jadi itu masalahnya? Apapun kesalahan Kamu, Aku bisa terima asalkan bukan selingkuh. Tapi, bagiku, Kamu sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Jadi, untuk selanjutnya Kamu tidak perlu repot-repot menghubungiku untuk menjelaskan semuanya. Dan, memang sudah seharusnya Kita berhenti sampai disini. Lakukan saja apa yang ingin Kamu lakukan. Tidak akan ada yang cemburu, bahkan tidak akan pernah ada lagi yang akan PROTEKTIF padamu."


Kalimat PROTEKTIF itu terlalu ditekan. Aku sangat yakin, Perempuan yang bernama Yoshida itu sepertinya mengada-ada. Dia terlalu melebih-lebihkan. Mungkin benar, jika Ryu memang protektif, tidak mungkin Ia mengizinkan pacarnya menjadi model. Tapi, jika memang Ryu cemburu dan protektif, menurutku itu hal yang lumrah selama dalam batas wajar.


Akhirnya, Ryu memilih untuk pergi meninggalkan Yoshida.


"Ryu, tunggu sebentar! Bukankah ini tempat favorit Kita?"


"Maaf. Kamu makanlah sendiri. Aku tidak berselera."


Hmmm—kasihan! Makanya, jangan berulah. Apalagi sampai menyalahkan sepenuhnya kepada Orang Lain. Sedangkan diri sendiri yang salah. Siapa yang seharusnya harus koreksi diri?


Note:


Haii...mohon maaf udah 3 hari baru up. Author lagi mudik. jadi diusahakan untuk bisa tetap update. Terima kasih sudah menunggu.