
Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas. Junichi Matsushima adalah Ayah Kandungku. Sebenarnya, Aku cukup bangga, selain tampan dan juga gagah, Ayahku bekerja sebagai Manajer di Perusahaan Investasi. Aku sudah mulai memaafkan kesalahan Ayah. Setidaknya, Ayah tidak pernah berniat untuk membuangku dan juga Bunda.
"A-Ayah!"
"Ya, Yumiko? Kamu memanggilku dengan sebutan Ayah?" mata Ayah berbinar menatapku.
"Iya, tapi Aku belum terbiasa."
Ah, kenapa masih begitu canggung! Cepat atau lambat, Aku harus bisa memanggilnya dengan sebutan 'Ayah'.
"Tidak masalah. Ayah tidak akan memaksamu untuk secepatnya memanggil dengan sebutan 'Ayah'."
"Yumiko, apakah Kamu bisa berbicara dengan menggunakan Bahasa Jepang?" imbuhnya.
"Hmmm, Kurang lebih bisa."
"Baik, Kita coba percakapan Kita menggunakan Bahasa Jepang, ya?"
"Baiklah. Jika ada yang salah, tolong Ayah koreksi!"
"Iya."
(Selanjutkan, percakapan Yumiko dan Junichi menggunakan Bahasa Jepang. Tapi, berhubung Penulis ga bisa Bahasa Jepang sama sekali, jadinya pakai Bahasa Indonesianya deh!).
"Yumiko, maukah Kamu ikut Ayah ke Jepang? Kita akan memulai hidup baru disana?"
"Ta-tapi, ini terlalu mendadak. Yumi belum siap."
"Pelan-pelan saja. Kita akan urus semuanya satu-satu."
"Tapi, bagaimana dengan pekerjaan Ayah?"
"Ayah sudah minta cuti selama 1 Minggu. Ayah pikir, itu cukup mengurus segala sesuatunya disini."
"Dan, bagaimana dengan Istri Ayah?"
"Jadi, sebenarnya Dia yang meminta Ayah untuk mengajakmu ke Jepang?"
"Apa? Serius? Tapi, dibayanganku kalau sosok Ibu Tiri itu–"
"Nanti Kamu sendiri akan tahu. Oh ya, bagaimana dengan Kakek dan Nenekmu? Dimana Mereka tinggal sekarang?"
"Kakek meninggal 10 tahun yang lalu karena sakit Gagal Ginjal. Uang yang selama ini Kakek kumpulkan habis untuk biaya pengobatan. Akhirnya, karena sudah tidak memiliki biaya untuk berobat, Kakek memilih untuk dirawat di Rumah saja dan melakukan pengobatan rawat jalan. Selama 4 bulan bertahan, Kakek meninggal. Dan, 2 tahun setelahnya Nenek menyusul Kakek karena sakit Komplikasi. Dengan berat hati, Bunda menjual Rumah Kami dan memilih pindah ke Bogor. Bunda diterima kerja disebuah Pabrik Minuman yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Rumah Kami. Ngomong-ngomong, Ayah tahu dari mana alamat Kami yang di Bogor?"
"Ayah tahu dari Sahabat Ibumu."
Aku berpikir sejenak, seingatku, Bunda memang memiliki 2 Sahabat baik. Mereka adalah Tante Vera dan Tante Lisa. Pasti, salah satu diantara Mereka yang memberitahu pada Ayah.
"Siapa? Tante Vera?"
"Bukan!"
"Tante Lisa?"
"Ya!"
"Tapi, bagaimana Ayah dan Tante Lisa bisa berkomunikasi?"
"Jadi begini, dulu, Ibumu sempat menghubungi Ayah dengan menggunakan nomor Ponsel dari Tante Lisa. Setelah itu, untuk jaga-jaga, Ayah menyimpan nomornya dan Ayah juga meminta Tante Lisa untuk menyimpan nomor Ayah. Ayah memohon kepada Tante Lisa, jika ada apa-apa, Tante Lisa harus segera hubungi Ayah. Tante Lisa pernah menghubungi Ayah saat Ibumu melahirkan Kamu. Ayah tidak bisa menemui Ibumu karena saat itu Ayah sedang sibuk membuat Makalah Kelulusan. Ayah berencana akan ke Indonesia setelah lulus. Tapi, siapa sangka, ternyata Ayah langsung diterima bekerja. Hingga akhirnya, Ayah hanya bisa merindukan Kalian dan lambat laun melupakan rencana Ayah untuk hidup bersama Kalian, karena Ayah sudah jatuh cinta dengan Wanita lain. Tante Lisa begitu marah pada Ayah saat mengetahui hal itu. Ia memaki-maki Ayah karena sudah mengkhianati Ibumu. Ayah terima itu semua, Ayah memang salah. Tapi, mau bagaimana lagi? Saat itu sudah mendekati hari Pernikahan Ayah dengan Istri Ayah. Setelah Ayah Menikah, Ayah terkadang masih menanyakan kabarmu dan juga Ibumu. Bahkan, Ayah dan Tante Lisa saling mengabari jika salah satu diantara Kami ada yang mengganti nomor telepon. Maka dari itu, Ayah terkadang menghubungi Tante Lisa meskipun beberapa bulan sekali, hanya untuk sekedar bertanya kabar Kalian. Jadi, Ayah minta maaf, Ayah sama sekali tidak bermaksud membuang Kalian. Maafkan Ayah!"
"Ayah, sudahlah! Aku sudah ikhlas memaafkan Ayah."
"Tapi, Ayah merasa kalau Ayah memang tidak pantas disebut sebagai seorang 'Ayah'."
"Ayah, berhenti menyalahkan diri sendiri. Mulai sekarang, Mari Kita memulai hidup baru, ya? Yumiko akan ikut Ayah ke Jepang."
"Yumiko, Anakku! Kamu? Kamu mau ikut Ayah Jepang ?" mata Ayah berkaca-kaca saat memandangku. Beliau lalu memelukku penuh haru, Akupun membalas pelukannya.
Aku mengurus segala keperluan untuk pindah ke Jepang. Rumah yang Aku tempati bersama Bunda, terpaksa harus Kami Gadai ke Bank, alih-alih dengan tujuan agar Rumah tersebut bisa segera terjual dan Dananya lebih cepat cair dalam waktu dekat.
Selanjutnya, Kami mengurus Paspor, Visa, serta Surat Pindah Kewarganegaraan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Terakhir, Kami pergi ke Sekolahku untuk mengurus surat kepindahan Sekolah.
Suasana Sekolah begitu ramai, terang saja, Kami tiba di Sekolah disaat jam Istirahat pertama. Semua mata tertuju padaku dan juga Ayah. Wajah Mereka seakan bertanya-tanya, untuk apa Aku datang ke Sekolah bersama seorang Pria? Beberapa Wajah sinis menatapku, bahkan ada pula Para Siswi yang berdecak kagum melihat Ayahku. Hah! Sungguh menyebalkan. Hari ini, Aku akan akhiri semua penderitaanku selama Aku Sekolah disini. Tentu saja, tujuan utamaku adalah membalas perbuatan Diana dan juga Darren.
"Permisi!" Aku menyapa ke Ruang Guru.
"Lho, Yumi? Kamu sudah baikan?" tanya Bu Roro yang sedang duduk di dekat pintu Ruang Guru.
"Sudah, Bu."
"Permisi! Saya Ayah dari Yumiko!" Ayah sedikit menggunakan Bahasa Indonesia yang Ia ketahui.
Bu Roro membelalakkan matanya. Beliau seolah tak percaya. Dalam waktu singkat, Aku sudah membawa sosok Ayah ke Sekolah.
"Yu-Yumi, ini benar Ayah Kamu?"
Tanpa basa-basi, Aku mengeluarkan Surat hasil Tes DNA. Bu Roro masih tak percaya, tertera pada kertas tersebut bukti kecocokannya adalah 99,999%.
"Gimana, Bu?"
"I-Iya, Ibu percaya!"
"Baiklah kalau begitu, Ayah Saya ingin menyampaikan beberapa hal kepada Bu Roro. Berhubung Ayah Saya Warga Negara Jepang, Beliau hanya bisa berbahasa Jepang atau Bahasa Inggris. Jika tidak keberatan, mungkin bisa minta tolong Pak Anto menerjemahkan Bahasa Jepang."
"Ah, iya. Kebetulan Pak Anto lagi di tempat. Saya panggilkan dulu, ya!"
Bu Roro bergegas menghampiri meja Pak Anto. Aku melihat percakapan Mereka yang sesekali memandang kearah Kami.
Pak Anto dan Bu Roro menghampiri Kami. Pak Anto memperkenalkan diri dalam Bahasa Jepang. Selanjutnya, Ayah berbicara dengan Bu Roro dan Pak Anto dalam Bahasa Jepang. Tentu saja, Pak Anto yang membantu Bu Roro untuk menerjemahkan tentang apa yang dikatakan oleh Ayah. Intinya, Ayah akan mengurus surat pindah Sekolahku.
"Bu Roro, Saya boleh ke Kelas? Saya ingin menyapa teman-teman, sekaligus mengucapkan salam Perpisahan."
"Tentu saja, Silahkan!"
"Ayah, Yumi ke Kelas Yumi sebentar, ya?"
"Baik!"
Aku berjalan menyusuri lorong Sekolah. Aku bertemu dengan teman-teman yang sudah berlangganan menghinaku. Aku berjalan dengan penuh percaya diri dihadapan Mereka. Kini, Aku bukan Yumiko yang berpura-pura Pengecut lagi. Tidak ada alasan bagiku untuk takut pada Mereka. Dari awal, Aku bukan takut karena intimidasi dari Mereka. Tapi, Aku hanya takut membebani Bunda karena sikapku. Aku berjalan sambil mendongakkan wajah. Mereka sibuk membicarakanku sambil berbisik-bisik. Saat Aku tiba di depan Kelas, Teman-teman sekelasku begitu sibuk dengan kegiatan Mereka masing-masing. Ada yang sedang membaca buku, mamainkan ponsel, dan mengobrol dengan anggota Genknya.
"Yumiko!" Ricky si Ketua Kelas menyadari kehadiranku. Semua mata tertuju padaku yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Eh, ada si Anak Haram. Ups, sorry lupa, sekarang sudah Yatim Piatu, ya?
Sial! Diana, bukannya ikut berduka, Ia malah semakin menjadi-jadi. Hampir satu kelas menertawakanku ketika mendengar ucapan Diana.
"Hai, Diana!" sapaku dengan nada sok imut.
Aku mendekati Diana yang sedang berada di tengah teman-temannya. Gayanya membuatku muak! Ia seolah Primadona yang bersembunyi dibalik kebohongannya.
Tak gentar, Aku terus berjalan menghampirinya selangkah demi selangkah. Diana tertegun kala Aku menghampirinya. Saat ini, Ia masih memiliki banyak pengikut. Jadi, Ia seakan berani menghadapiku. Huh! Kita lihat saja! Apakah Mereka masih mau berteman sama Kamu atau tidak?
"Yumi, mau apa Loe?"
"Enggak! Gue cuma pingin nyapa Loe aja sebagai Mantan Sahabat, yang sangat Gue sesali bisa dekat banget dulunya. Kenapa? Sensi banget, sih?"
"Maksud Loe apa? Bacot banget!"
"Oh ya, sekalian Gue mau kasih kenang-kenangan buat Loe. Ya, berhubung Gue mau pindah. Enggak ada salahnya dong kalau Gue kasih sesuatu buat Loe sebelum Say Goodbye."
"Bisa to do point aja nggak? Mau Loe apa?"
"Teman-teman sekalian! Gue minta maaf kalau selama ini Gue ada salah sama Kalian. Meskipun yang salah itu Kalian. Tapi, berhubung Gue mau pindah, Gue mau kasih sesuatu untuk Kalian semua."
Mereka saling berbisik satu sama lain. Sepertinya, Mereka begitu penasaran dengan sesuatu yang Aku maksud.
"Kasih sesuatu apaan?" cetus salah satu Teman Sekelasku.
"Diana!" Plak! Tamparanku tepat mengenai pipi Kanannya.
"AN***G! Berani Loe tampar Gue?"
"Oh, jelas! Selama ini Gue udah capek bertahan menghadapi sikap Loe yang kayak T**!"
Suasana kelas menjadi gaduh. Diana menjambak rambutku, begitupun sebaliknya. Tidak ada yang melerai. Sungguh, Aku merasa sangat lega bisa menyalurkan seluruh amarahku padanya. Jika bukan karena mulutnya yang tajam, teman-teman yang lain tidak mungkin ikut membenci, bahkan menghinaku 'Anak Haram'.
Beberapa dari Mereka berusaha memisahkanku, sedangkan yang lain sibuk bertaruh siapa yang menang? Siapa yang kalah? Teman-teman menonton aksi perkelahian Kami sambil bersorak Sorai.
"KALIAN BERDUA! BERHENTI!"
Bu Roro teriak di depan Kelas. Tampak terlihat wajah Bu Roro yang diliputi amarah.
Aku dan Diana seketika menghentikan perkelahian Kami. Para Siswa dikelas serentak diam dan tak ada yang berani komentar.
Saat pandanganku tertuju ke depan Kelas. Aku tertegun melihat sosok itu!
"Ayah?"