YUMIKO

YUMIKO
KITA BERSAMA



Aku tak menyangka, sebelum pukulanku melayang ke wajah Miu dan Hikari, ternyata Bola Basket Hiro lebih dulu melayang ke Wajah Mereka. Baguslah, setidaknya Aku tidak perlu mengotori tanganku untuk memberi pelajaran untuk Mereka.


"Siapa itu?" Miu berteriak lantang sembari memandang ke ambang pintu kelas.


"Oh, ternyata Kau, Hiro!" ujar Hikari.


"Kenapa Kamu melakukan ini pada Kami?"


"Kenapa? Karena Aku ingin sekali merobek mulut Kalian yang bisanya hanya menebar fitnah!"


Para Siswa dan Siswi saling berbisik. Entah apa yang dibicarakan oleh Mereka? Tapi yang pasti, beberapa dari Mereka justru menertawakan Miu dan Hikari.


"Bagus Hiro! Mereka memang seharusnya diberi pelajaran!" ujarku puas.


"Yumiko, lihat saja! Aku akan balas perbuatanmu! Dan lagi, Kami akan tetap laporkan pada Polisi jika Seika yang melakukan hal ini."


"Woi, Loe berdua punya mulut kenapa pada nyablak, ya? Jelas-jelas Loe berdua yang nyebar fitnah! Memangnya ada bukti kalau Seika adalah penyebab Kematian Akane? Ngomong tuh pakai otak dikit, dong! Dasar Nenek Lampir!" mengumpat memakai bahasa Indonesia.


Semua mata tertuju padaku. Mereka sangat heran ketika mendengar kalimat yang baru saja kulontarkan dengan memakai Bahasa Indonesia.


Tak lama kemudian, Polisi dan Para Guru tiba di tempat kejadian. Polisi mengindentifikasi penyebab kematian Akane. Diduga, Akane sudah lebih dulu tewas sebelum gantung diri. Tidak ditemukan sidik jari pada tali tambang dan tubuh Akane. Jika memang gantung diri, pasti ditemukan sidik jari Akane pada tali tambang tersebut. Polisi berasumsi jika ini adalah kasus Pembunuhan. Namun, Pelaku tersebut sangat cermat. Ia sepertinya menggunakan sarung tangan agar sidik jari tidak diketahui oleh Polisi.


"Benar, kan? Pasti ini perbuatan Seika!" Hikari terus saja menyalahkan Seika.


"Hei, Hikari! Bukankah Kamu baru saja bilang kalau Akane bunuh diri karena Seika? Tapi, jelas-jelas Polisi baru saja mengungkap jika kematian Akane adalah kasus Pembunuhan. Berarti, Akane bukan bunuh diri dan bukan juga penyebab kematiannya itu adalah Seika! Benar, tidak?"


"I-iya, itu memang kasus Pembunuhan. Siapa yang bilang kalau itu kasus bunuh diri?" Hikari tampak gelagapan.


"Cih! Kamu sudah mulai pikun, ya? Jelas-jelas Kamu baru saja bilang seperti itu. Masih saja tidak mau mengaku!"


"Sudah, cukup! Kalian jangan bertengkar lagi! Polisi sudah menyatakan kalau ini adalah kasus Pembunuhan. Jadi, belum ada yang bisa dinyatakan sebagai tersangka. Paham? Sekarang, bubar semua!" ujar Pak Miura, Wali kelas 3-4.


Semua Murid kembali ke kelas masing-masing. Beberapa dari Mereka ada yang tampak biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa. Beberapa lagi ada yang masih menunjukkan ekspresi wajah ketakutan dan sesekali bergidik ngeri.


Kegiatan Belajar Mengajar hari ini ditiadakan. Karena, Para Guru sedang fokus membahas kasus kematian Akane.


"Seika, Kamu tidak apa-apa?" tanyaku pada Seika yang masih shock.


"Seika, Mari kuantarkan Kamu pulang!" Yui menawarkan bantuan pada Seika.


Tatapan Seika seakan kosong. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Kami.


"Tidak! Aku tidak ingin pulang!" nada Seika seperti ketakutan.


"Bagaimana kalau ke Rumahku?" Yui menawarkan kembali.


"Tidak mau. Aku tidak ingin Bibi Haruka (Ibu dari Yui) curiga. Pasti Bibi Haruka bertanya mengapa Kita bisa pulang lebih awal? Aku tidak ingin Bibi Haruka mengadu pada Ibuku."


"Baiklah, bagaimana jika Kalian pergi ke Rumahku?" Seika langsung saja melihat kearahku. Dari tatapan matanya seolah terbaca jika Ia ingin sekali menerima tawaran dariku.


"Bo-bolehkah?"


"Tentu saja. Apakah Kamu membawa Sepeda?"


"Tidak. Aku diantar oleh Supir."


"Hmmm— Hiro, apakah Kamu membawa Sepedamu?" sebenarnya, Hiro sejak awal sudah berada didekat Kami. Hanya saja, Ia lebih banyak diam.


"Ya."


"Kalau begitu, bisakah Kamu ikut ke Rumahku? Sekalian saja Kamu bonceng Seika."


"Baiklah."


Wow! Hiro langsung setuju tanpa komentar apapun. Ditambah lagi, barusan Ia membela Seika di depan Para Murid ketika Miu dan Hikari memfitnah Seika.


Akhirnya, Kami berempat pergi ke Rumahku. Tapi, saat Kami baru sampai di depan Gerbang Sekolah, Kami bertemu dengan Akira. Yui begitu tersipu malu ketika Akira mendekat pada Kami. Sepertinya Aku harus peka untuk mendekatkan Yui dan Akira.


"Akira, apakah Kamu ada waktu luang?" tanyaku.


"Tentu saja. Memangnya ada apa?"


"Boleh, selama Kalian tidak keberatan."


"Tentu saja tidak. Ayo, Kita bersama-sama pergi ke Rumahku!"


Selama perjalanan, Kami mengayuh Sepeda dengan riang gembira. Semua itu Kami lakukan agar Seika merasa lebih nyaman dan tidak terlalu memikirkan masalah kematian Akane. Kami semua sangat yakin, Seika sama sekali tidak terlibat dan bukan pula penyebab dari kematian Akane. Semua terasa sangat janggal.


"Ibu, Aku pulang."


"Yumi, Kau sudah pulang? Bukankah ini masih pagi?"


"Iya. Tiba-tiba saja Para Guru ada rapat penting. Jadi, Kami semua dipulangkan."


"Begitu, ya! Wah, ada Yui dan yang lain! Oh, Hiro juga ada. Ayo, Silahkan masuk!"


"Terim kasih, Bibi Aiko. Kami datang kesini ingin main ke Rumah Yumiko. Apakah Kami tidak merepotkan Bibi?"


"Tentu saja tidak. Saya senang sekali karena Rumah jadi terasa lebih ramai. Oh ya, silahkan duduk! Saya ambilkan minuman dan beberapa Camilan untuk Kalian."


"Terima kasih, Bibi Aiko. Maaf kalau sudah merepotkan!"


"Jangan bicara seperti itu. Tentu saja tidak merepotkan. Kalian anggaplah Rumah sendiri."


"Ibu, sepertinya Kami akan mengobrol di Kamarku saja. Bolehkah?"


"Ah, tentu saja boleh."


"Terima kasih, Bu. Nanti biar Aku saja yang membawa minuman dan Camilan untuk teman-teman. Kami ke atas (Kamar) dulu, ya!"


"Oh, Silahkan!"


Aku membawa teman-teman menuju ke Kamarku. Ini baru pertama kalinya Aku mengajak teman-temanku masuk ke dalam Kamarku. Bahagia, terharu dan gugup menjadi satu. Untung saja masih ada space kosong di Kamarku untuk Kami berlima. Yui melihat-lihat isi Kamarku. Ia begitu antusias ketika melihat beberapa bingkai foto yang ada di Kamarku. Namun, tiba-tiba saja matanya tertuju pada bingkai foto berukuran 4R yang terpajang diatas meja belajarku.


"Yumi-chan, siapa Wanita ini? Dia sangat cantik dan anggun!"


"Itu, Ibu Kandungku."


"Ya Tuhan! Kenapa bisa ada Wanita secantik ini? Kamu sangat mirip dengan Ibumu. Ternyata, Ibumu lebih cantik dari Bi—"


"Yui-chan, coba berikan padaku! Sepertinya Aku lupa membersihkan kaca pigura!" Aku sengaja memotong ucapan Yui barusan.


Ya Tuhan! Hampir saja Yui kelepasan bilang hal itu. Aku tahu kearah mana kalimat yang hendak dilontarkan oleh Yui. Aku tidak ingin Hiro mendengar hal itu. Karena, Bibi Aiko adalah Adik dari Ibunya Hiro. Hiro pasti merasa tersinggung jika mendengar hal itu.


"Yumiko! Jadi, Kamu memiliki Ibu Kandung?"


"Ya, benar. Hanya saja, Ibuku sudah lebih dulu pergi ke Surga. Ibu pergi disaat Aku sedang mengalami masa-masa sulit di Sekolah lamaku."


"Memangnya kesulitan apa yang Kamu hadapi di Sekolah lamamu?"


Aku menceritakan semuanya pada Seika tentang bagaimana kehidupanku selama di Indonesia? Hingga akhirnya Ayah Kandungku datang ke Indonesia untuk menjemputku dan pindah ke Jepang. Seika merasa bersalah karena sudah bersikap kasar padaku saat awal-awal Aku pindah Sekolah.


"Yumiko, maafkan Aku! Selama ini, Aku sering bersikap kasar padamu."


"Sudahlah, Aku sudah memaafkanmu. Lagipula, Kita sudah sering melewati liburan bersama. Bagiku, itu sudah cukup untuk membuatmu bisa menjadi lebih baik padaku dan juga Yui. Seika, Kamu adalah Gadis yang baik. Mungkin, Kamu seperti itu karena ada suatu hal yang mendorongmu untuk bertindak semaunya pada Orang lain."


"Ya, Kamu benar. Memang ada suatu hal yang mendorongku bersikap seperti itu. Hanya saja, Aku belum bisa menceritakan pada Kalian."


"Tidak masalah. Selama Kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik, tentu saja Kami menerimamu dengan senang hati. Bukankah begitu, Hiro?"


"A-Ah, iya!" Hiro terlihat gugup.


"Baiklah, berhubung Kita semua sedang berkumpul, bagaimana kalau Kita bahas tentang kasus kematian Akane? Apakah Kalian sadar kalau ada sesuatu yang janggal? Memang benar ini kasus Pembunuhan. Tapi Aku curiga, Pembunuh Akane sepertinya Orang yang tahu seluk beluk tentang Sekolah Kita. Selain itu, Aku sangat yakin, bahwa Pembunuhnya adalah seorang Pria."


"Kenapa Kamu bisa yakin kalau Pembunuhnya adalah seorang Pria?" tanya Seika.


"Sederhana saja. Plafond di kelas Kita cukup tinggi dan sulit dijangkau meskipun harus naik keatas meja. Mungkin hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan tangga lipat. Tapi, bukankah tangga lipat berada di Gudang Sekolah? Sedangkan, Gudang Sekolah pasti dalam keadaan terkunci rapat. Menurut kesimpulan yang kudapat, sepertinya Pelakunya lebih dari 1 orang. Mereka adalah Pria dan Wanita."


"Apa katamu? Lebih dari satu orang?"