YUMIKO

YUMIKO
MOMENT DALAM PERJALANAN



Akhirnya, libur Sekolah pun tiba. Aku, Ayah, Ibu, Keluarga Bibi Emiko, dan tentunya Kakek beserta Nenek berlibur ke Osaka. Awalnya, Kami berencana menggunakan Mobil. Tapi, perjalanan dari Tokyo ke Osaka membutuhkan waktu 6 jam lebih. Kami juga mempertimbangkan masalah kesehatan Kakek, khawatir Beliau kelelahan karena perjalanan jauh. Lalu, Kami berencana lagi menggunakan Pesawat Terbang. Tapi nyatanya, Nenek phobia ketinggian. Dan pilihan terakhir adalah menggunakan Kereta Shinkansen. Perjalanan dari Tokyo ke Osaka hanya memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit. Ya Tuhan! Akhirnya Aku bisa naik Kereta Shinkansen.


Ah, ada yang hampir saja kulupakan. Aku meminta izin pada Ayah dan Ibu, apakah Yui boleh ikut berlibur bersama Kami? Dan jawaban Mereka adalah setuju. Mereka dengan senang hati jika Yui bisa ikut bersama Kami. Ibu juga mengatakan, jika Aku ingin mengajak Teman yang lain pun tak masalah. Karena teman-temanku adalah teman-teman Hiro juga.


Tak lupa juga Aku bertanya tentang pendapat Hiro. Apakah Ia tidak keberatan jika Aku mengajak teman yang lain?


"Terserah!" Hiro menjawab datar. Kami saling bicara melalui sambungan telepon.


"Hiro, terserah itu bukan jawaban."


"Lalu, Kamu maunya apa?"


Menyebalkan! Padahal Kami adalah Saudara. Tetap saja Dia bersikap dingin padaku. Kalau sudah karakternya seperti itu mau diapakan lagi?


"Iya atau tidak. Itu jawaban yang Aku mau."


"Memangnya Kamu mau ajak siapa?"


"Tentu saja Sahabat baikku!"


"Yui?"


"Ya, betul sekali."


"Bagaimana dengan Seika?"


What the hell? Gue enggak salah dengar? Barusan Dia nanya Seika? Oh My God! Sudah sejauh mana hubungan Mereka sampai Hiro menanyakan tentang Seika.


"Apa? Seika? Memangnya Aku berteman dengannya?" tanyaku.


"Ah, lupakan!"


"Hiro, jawab jujur! Maksud Kamu apa menanyakan tentang Seika?"


"Tidak ada apa-apa. Lupakan saja! Lagipula, terserah Kamu saja mau ajak siapapun. Selama Orangtua Kita tidak keberatan, dan Orangtua Mereka pun mengizinkan."


"Hah! Ya sudahlah. Berarti, terserah Aku saja kalau begitu."


"Ya."


"Baiklah, Aku tutup dulu teleponnya!"


"Ya."


Aku mematikan sambungan telepon. Astaga! Apa yang baru saja kudengar? Kenapa tiba-tiba Hiro bertanya tentang Seika. Apakah Hiro memiliki perasaan pada Seika? Atau Mereka sudah punya hubungan khusus? Lalu, bagaimana dengan Yui?


"Yui-chan, apakah Kamu siap berangkat?" ujarku dari sambungan telepon.


"Baiklah. Tapi, Yumi-chan, apakah Kak Ryu boleh ikut?" Yui bertanya seolah penuh harap.


"Kak Ryu? Te-tentu saja. Kalau begitu, bagaimana kalau Kita ajak Akira juga? Formasinya sama seperti saat Kita ke Sapporo. Tapi, tidak perlu mengajak Seika. Bagaimana?"


"Ide bagus. Tapi— eh, jangan dirampas, Aku sedang bicara dengan Yumiko!"


'Yui sedang bicara dengan siapa?' pikirku.


"Halo, Yumiko, ini Aku."


"Seika?"


"Ya. Betul sekali. Kamu menelepon Yui disaat yang tepat. Kebetulan sekali Kami sedang ada acara makan malam Keluarga. Apakah Kalian berniat pergi ke Osaka tanpa diriku?"


"Iya, tentu saja. Kalau Kamu ikut yang ada suasana jadi kacau. Lagipula, memangnya Keluargamu tidak berlibur? Kenapa harus ikut pada Keluargaku?"


"Yumiko, Kamu sadar, tidak? Bukankah Yui juga sama sepertiku. Dia kan bukan Keluargamu."


"Baiklah. Tapi Kamu harus janji untuk tidak membuat masalah! Disini, Aku lah yang memegang kendali."


"Oke. Setuju!"


"Tapi, tunggu! Liburan kali ini Keluargaku akan menggunakan Kereta Shinkansen. Jadi, Aku harap Tuan Putri lebih baik mundur saja jika ingin naik Transportasi yang lebih nyaman."


"Tidak masalah. Selama bersama Hiro, Aku tidak akan merasa keberatan."


"Oke."


Seika bilang barusan, selama bersama Hiro, Dia tidak akan merasa keberatan. Astaga! Bukankah di dekatnya jelas-jelas ada Yui. Aduh, Aku jadi kepikiran, bagaimana perasaan Yui, ya?


Dua hari kemudian...


Hari yang dinantikan pun tiba. Kami semua berkumpul di Rumah Kakek. Karena, kebetulan jarak Rumah Kakek dekat dengan stasiun. Kakek dan Nenek merasa sangat senang ketika mengetahui bahwa teman-temanku ikut bersama Kami. Liburan menjadi lebih seru karena diramaikan oleh Anak-anak Muda.


"Wah, akhirnya Aku naik Kereta Shinkansen!"


Tentu saja Aku menggunakan Bahasa Indonesia, dengan tujuan agar tidak ada yang tahu artinya. Aku khawatir Mereka menyebutku Kampungan. Maklum saja, ini adalah luapan kegembiraanku karena baru pertama kali ini naik Kereta Shinkansen.


"Yumiko, apakah Kamu senang?" tanya Ayah padaku. Terang saja Ayah bertanya hal itu padaku. Karena, Ayah cukup mengerti Bahasa Indonesia. Namun, kali ini Ayah bertanya dengan menggunakan Bahasa Jepang.


"Ya, Ayah. Akhirnya tersampaikan juga keinginanku. Terima kasih, Ayah."


"Iya, Yumiko. Semoga Kamu menikmati perjalanan ini."


"Iya, Ayah."


Formasi tempat duduk di Kereta Shinkansen adalah 2-3. Sayap kiri terdiri dari 2 kursi, dan sayap kanan terdiri dari 3 kursi. Pembelian tiket Kereta bisa melakukan 2 pilihan, yaitu jiyu seki (bebas memilih nomor kursi), selain itu ada juga Shitei seki (nomor kursi sudah ditetapkan saat membeli tiket). Kami membeli tiket dengan memesan nomor kursi. Saat memesan tiket, Kami semua mendapat nomor kursi, yang mana kursi tersebut adalah kursi dengan formasi 3.


Ibu, Bibi Emiko dan Nenek duduk di barisan paling depan. Begitupun dengan Kakek, Ayah dan Paman Toshio, Mereka ada dibaris kedua. Selanjutnya, Seika sudah mengklaim Hiro untuk duduk bersamanya. Kemudian, yang akan duduk bersama Seika dan Hiro adalah Akira. Huh! Akhirnya Seika bisa berada ditengah-tengah antara Akira dan Hiro. Dua Orang Laki-laki yang Ia sukai. Kini, tinggal Kami bertiga. Aku, Yui dan Ryu.


"Yumi-chan, bolehkah Aku duduk dekat jendela?"


"Tentu saja."


Yui tetap tenang dan berusaha menunjukkan ekspresi gembira. Padahal Aku tahu, pasti Ia merasa tersisihkan dengan adanya Seika. Tapi, ada sesuatu yang aneh, kenapa tatapan Yui selalu tertuju pada Akira? Bukankah Ia sangat menyukai Hiro?


"Yumiko, apakah Kamu mau duduk ditengah?" Ryu bertanya padaku.


"A-Ah, iya!" Aku merasa sangat gugup berada didekat Ryu. Sampai saat ini, Aku masih belum berani bertanya pada Yui, kenapa Ryu bisa ikut dengan Kami? Apakah Yui yang menawarkan untuk mengajaknya, atau Ryu yang ingin ikut? Tapi, apapun itu, saat ini jantungku rasanya sudah tidak bisa dikondisikan lagi.


Kereta pun akhirnya berangkat sesuai jadwal. Aku merasa sangat bahagia sekaligus merasa gugup karena bisa berdekatan dengan Ryu. Hanya saja, Kami bertiga saling diam. Yui juga sepertinya tak ingin banyak bicara. Mungkin suasana hatinya sedang tidak baik. Di tengah perjalanan, Yui ternyata sudah tertidur. Aku menoleh kearah Ryu, ternyata Dia sedang sibuk menatap ponselnya. Hah! Sepertinya Aku ikut mengantuk. Tak terasa, Aku sudah berada di alam mimpi. Dalam mimpiku, entah kenapa rasanya begitu nyata. Oh, tidak! Ciuman Pertamaku! Hingga akhirnya Aku terbangun dan menemukan diriku bersandar pada pundak Ryu. Dan, ah! bagaimana bisa tanganku memegang tangan Ryu. Selain itu, Ryu pun tidak menolak ketika kupegang tangannya, justru Ia pun memegang tanganku dan mengusap lembut bagian punggung tanganku dengan Ibu jarinya. Ya Tuhan, Kami seperti pasangan Kekasih. Jujur saja, seseorang dalam mimpiku adalah Ryu Yamazaki. Dia lah yang telah mencuri ciuman pertamaku.


Sepertinya, Ryu tidak menyadari kalau Aku sudah bangun. Aku ingin bergerak tapi tubuh ini rasanya sangat kaku. Aku justru sangat menikmati posisiku saat ini. Astaga! Aku mikir apa, sih?


Kereta pun akhirnya berhenti sebentar di Kyoto. Aku pura-pura terbangun dan berakting seolah Aku terkejut karena sudah bersandar di bahu Ryu dan memegang tangannya.


"Astaga! Maaf, Kak Ryu!" seraya melepas genggamanku.


"Oh, Kau sudah bangun?" Ryu pun tampak sangat terkejut dan gugup.


"I-iya. Maaf kalau sudah menyulitkan Kak Ryu," ujarku setengah berbisik.


"Tidak apa-apa."


"Yumi-chan, ada apa?" tanya Yui yang tiba-tiba saja ikut terbangun.


"Tidak ada apa-apa."


"Oh, begitu."


Hmm—perjalanan yang sangat menyenangkan. Tapi, jantungku berdegup semakin kencang. Ya Tuhan! Aku semakin tak bisa mengontrolnya. Aku sangat bahagia berada di dekatnya.