YUMIKO

YUMIKO
WISATA DI OSAKA



Pagi yang cerah, udara terasa sangat sejuk. Wangi Musim Semi sudah mulai tercium. Sebentar lagi Bunga Sakura akan mekar dengan sangat indah. Hal inilah yang Aku tunggu-tunggu. Aku membuka jendela kamar sembari menghirup udara pagi di Osaka.


"Wah, sejuknya! Hari ini Aku akan memulai petualangan di Osaka selama beberapa hari ke depan."


"Yumiko!"


"Astaga! Ah, Ibu. Ibu membuatku terkejut!" sembari mengelus dada.


Ibu pun menahan tawanya, "Maaf, Sayang! Ibu enggak tahu kalau Kamu sampai kaget begitu."


"Iya, enggak apa-apa, Bu! Barusan Yumi sedang fokus menikmati suasana pagi hari. Sebentar lagi puncak musim semi. Kampung halaman Ibu ternyata sangat menyenangkan. Aku senang sekali berada disini."


"Wah, Ibu ikut senang dengarnya. Lain waktu, Kita bisa datang kembali ke Osaka."


"Baiklah."


"Oh ya, apakah teman-temanmu sudah bangun? Kalau sudah, Kita akan sarapan sama-sama!"


"Mereka sedang mengantri untuk Mandi."


"Begitu, ya! Baiklah. Ibu dan yang lain akan tunggu di Ruang Makan, ya?"


"Iya, Bu. Kami akan segera menyusul."


Aku, Yui dan Seika sudah siap menuju ke Ruang Makan. Hanya saja, mengapa Anak Laki-laki belum keluar Kamar sama sekali. Apa Mereka masih tidur?


"Semuanya! Kami sudah datang!" Aku memperhatikan seisi Ruang Makan. Rupanya, Anak Laki-laki sudah berada di Ruang Makan lebih dulu.


"Yumi, Yui dan Seika, ayo Kita mulai makan!" Bibi Emiko mengajak Kami.


Menu Sarapan hari ini adalah Beef Yakiniku dan Sayur tofu. Kami semua menyantap makanan dengan sangat lahap.


Kami berencana menghabiskan Liburan di Osaka selama 6 hari. Hari pertama, saat Kami tiba di Osaka kemarin. Hari kedua, Kami berencana pergi ke tempat wisata yang masih berada di daerah Minoo.


"Hiro! Yumiko! Untuk liburan hari ini, Kalian pergi berenam saja. Kami yang sudah Tua tidak ikut pergi bersama Kalian. Kami ingin menghabiskan waktu Liburan Kami dengan berjalan-jalan disekitar Villa saja," ujar Kakek.


"Kenapa Kakek dan yang lain tidak ikut bersama Kami?" tanyaku.


"Kakek ingin bersantai saja di Villa. Kakek sudah merasa sangat senang meskipun hanya berdiam di Villa saja. Bukankah begitu Para Anak dan Menantuku?"


"Ya, Ayah!" jawab serempak.


"Lebih baik Kalian segera berangkat. Pak Tanaka sudah menyewakan Mobil untuk Kalian selama beberapa hari kedepan," ujar Nenek.


"Baiklah! Hiro! Kamu yang akan memimpin wisata hari ini?"


"Kenapa harus Aku?"


"Hei, bukankah Kamu sudah cukup hafal wilayah sini?"


"Tidak mau. Memangnya Aku tour guide?"


"Ih, Kamu memang menyebalkan."


"Hiro, pimpin teman-temanmu. Ajak Mereka jalan-jalan," Bibi Emiko mencoba membujuk Hiro.


"Oke. Tapi, Aku tidak mau menyetir. Aku belum punya Surat Izin Mengemudi."


"Tidak masalah, Hiro. Kakakku bisa menyetir. Dan Ia sudah memiliki Surat Izin Mengemudi," ujar Yui.


"Oke. Ayo, Kita berangkat sekarang!" Hiro akhirnya luluh juga.


"Oke. Akan pergi kemana Kita hari ini?" tanyaku.


"Kita akan pergi ke Taman Minoo. Setelah itu, Kita akan ke Air Terjun Minoo."


"Berangkat!"


Hari kedua di Osaka, Kami yang notabene Anak-anak muda akan pergi ke tempat wisata yang masih berada di sekitar Minoo. Hiro sebagai Pemandu wisata Kami, sekaligus penunjuk arah.


"Hiro, lebih baik Kamu duduk di depan bersama Kak Ryu!" ujarku.


"Tidak boleh. Hiro akan duduk bersamaku di kursi tengah!"


Hmm—Seika selalu saja mengklaim Hiro untuk terus berada didekatnya. Namun, Hiro seakan tidak menolak jika Seika terus menempel padanya. Lagi-lagi, Aku ingin memastikan tanggapan Yui. Kali ini, Aku semakin yakin kalau Yui seolah sudah tidak peduli lagi pada kedekatan antara Hiro dan Seika. Tapi, kenapa Yui begitu antusias ingin ikut liburan denganku ketika Aku menyatakan bahwa Keluargaku dan Keluarga Hiro akan liburan bersama?


Namun, tatapan mata Yui pada Akira terlihat berbeda. Apa mungkin Yui sudah berpindah hati pada Akira?


"Jadi, apakah Aku harus duduk didepan sendiri dan terlihat seperti Supir Pribadi Kalian?"


"A-Ah, maaf!" ujarku.


"Yumi-chan, lebih baik Kamu saja yang duduk di depan bersama Kak Ryu."


"Lalu, bagaimana denganmu?"


"Aku akan duduk dibagian paling belakang bersama Akira. Ayo, Yumi-chan, lekaslah naik!"


"Oh, baiklah!"


"Semua sudah siap?" tanya Ryu.


"Sudah!" jawab Mereka yang berada di belakang.


"Belum!" ujarku sembari memakai sabuk pengaman.


Tsk! Kenapa sabuk pengaman ini sulit sekali terpasang? Maklum saja, Mobil yang disewa oleh Pak Tanaka sudah cukup Tua. Mungkin itu sebabnya kurang adanya maintenance.


"Astaga! Kenapa bisa lepas lagi?" ujarku.


"Yumi-chan, ada apa?"


"Ah, ini, sabuk pengaman yang kupakai tiba-tiba lepas lagi."


Tanpa basa-basi dan izin dariku, Ryu tiba-tiba saja mendekatkan dirinya kepadaku. Lalu, Ia menarik kembali sabuk pengaman yang berada disampingku. Wajahnya sangat dekat, dan hampir saja bibirnya menyentuh pipiku.


Ya Tuhan! Jantungku berdegup kencang. Aku harap Ryu tidak mendengar bunyi detak jantungku yang begitu cepat.


Klik! Sabuk pengaman akhirnya terpasang. Ryu segera kembali ke posisinya. Wajahnya terlihat sangat datar, dan matanya terus menatap kearah depan.


"Terima kasih, Kak Ryu!"


"Sama-sama. Kita berangkat sekarang, ya!"


"Oke!"


Perjalanan ke tempat wisata yang Kami tuju memakan waktu sekitar 15 menit. Mula-mula, Kami menuju Taman Minoo. Disana Kami saling berswafoto dan melihat keindahan Pohon koyo (pohon berdaun merah). Kami hanya bermain sebentar di Taman Minoo. Semua terlihat berpasangan. Akira dan Yui semakin dekat saja. Begitupun dengan Hiro dan Seika. Apakah diantara Mereka berempat sudah saling memiliki ketertarikan?


"Yumiko!"


"Iya, Kak Ryu! Ada apa?"


"Apakah Kamu mau minum?"


"Hmm—boleh!"


"Baiklah, tunggu sebentar, ya!


"Oke!"


Aku menunggu Ryu di sekitar Taman dekat jembatan. Aku baru sadar, saat Kami berdua jalan berdampingan, ternyata Akira-Yui dan Seika-Hiro sudah tidak ada dibelakang Kami. Kemana perginya Mereka?


"Yumiko! Ini untukmu!" Ryu membelikan minuman jus jeruk untukku.


"Terima kasih, Kak! Oh ya, yang lain kemana, ya? Kenapa Mereka mendadak hilang di belakang Kita?"


"Entahlah. Sepertinya Mereka semua berpencar."


"Oh, begitu."


"Ya. Apakah Kamu keberatan jika hanya Kita berdua?"


"Ah, tidak."


Suasana kembali hening. Ryu meneguk minumannya sembari melihat ke sekeliling Taman.


"Kak Ryu!"


"Ya, ada apa?"


"Aku mau minta maaf."


"Minta maaf untuk apa?"


"Apakah Kak Ryu marah padaku?"


"Marah padamu? Kenapa Aku harus marah padamu?"


"Itu—kejadian saat di Kereta. Maaf kalau Aku sudah menyulitkan Kak Ryu."


"O-oh, itu. Tidak perlu dipikirkan. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Karena Aku sudah mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku terlihat seperti Laki-laki brengsek karena sudah mencuri kesempatan itu."


"Ah, tidak. Aku tidak masalah!"


Ryu spontan menoleh kepadaku. Ya Tuhan! Apa yang sudah kukatakan? Aku terkesan seperti Perempuan yang tidak masalah dipegang-pegang oleh sembarang Laki-laki. Ah, hancur sudah reputasiku! Bagaimana ini? Pasti Ryu beranggapan kalau Aku adalah seorang Perempuan yang bisa dipegang sesuka hati oleh siapapun.


"Yumiko!"


"Ya?"


"Boleh Aku mengatakan sesuatu?"


Mengatakan sesuatu? Tidak! Kali ini Ryu sedang tidak dalam kondisi mabuk seperti waktu itu. Jangan-jangan Dia ingin menyatakan cinta padaku? Ih, apa sih? Kenapa Aku jadi percaya diri sekali?


"Te-tentu saja boleh."


"Yumiko, bolehkah Aku—"