
Apakah ini mimpi atau nyata? Aku berada di tengah hamparan Padang rumput yang sangat luas. Semilir angin bertiup sepoi-sepoi membelai rambutku. Ini kali pertama Aku berada di tengah Padang rumput yang begitu asing. Ya Tuhan! Apakah Aku sudah tidak ada Meninggal?
"Yumi!" seorang Wanita memanggil namaku. Suara ini sangat familiar. Suara yang begitu lembut dan tak pernah kudengar lagi. Suara ini adalah suara Bunda.
"Bunda?"
"Yumi, Anakku!"
"Bunda! Bunda dimana?" Aku terus mencari sumber suara tersebut.
"Bunda! Bunda dimana? Aku kangen banget sama Bunda! Bunda jangan tinggalin Aku!" Aku menangis sesenggukan. Aku berharap Bunda muncul dihadapanku.
"Yumi sayang!"
"Bunda!" Aku membelalakkan mata. Akhirnya Bunda muncul dihadapanku.
"Bunda! Aku kangen sekali sama Bunda!" Aku segera memeluk Bunda. Aku merasakan kehangatan dari pelukannya. Dan, Bunda juga membelai lembut rambutku.
"Yumi, Bunda juga kangen sekali sama Kamu! Bunda bersyukur kalau selama ini Kamu baik-baik saja."
"Apakah Bunda datang untuk menjemputku?"
Bunda hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum padaku.
"Tidak, Nak! Bunda hanya ingin melihatmu!"
"Tapi, bukankah Aku sudah tidak di Dunia lagi?"
"Tidak. Kamu masih ada di Dunia. Semua Orang berharap Kamu kembali. Mereka semua sangat mencemaskan dirimu. Ayahmu, Ibu Tirimu, dan semua teman-temanmu. Mereka sangat berharap agar Kamu bisa berkumpul lagi bersama Mereka."
"Tapi, apakah Bunda bisa ikut bersamaku? Kita akan berkumpul bersama lagi."
"Tentu saja tidak, Nak! Dunia Kita sudah berbeda. Hiduplah dengan baik Anakku! Jaga dirimu! Masa depanmu masih panjang! Semoga Kamu berbahagia selalu. Bunda juga akan merasa sangat bahagia jika melihatmu bahagia. Maafkan Bunda ya, Nak! Bunda tiba-tiba saja pergi meninggalkanmu seorang diri."
Aku tak sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa menangis dan terus menangis. Aku ingin sekali ikut bersama Bunda. Tapi jika Aku pergi, pasti akan membuat Ayah, Ibu, Ryu dan juga teman-teman bersedih.
Mungkin ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan untukku. Tuhan masih memberikanku hidup agar bisa berkumpul lebih lama lagi bersama Orang-orang yang Aku sayangi.
"Yumi, kembalilah, Nak! Bunda juga harus pergi. Bunda tidak bisa lebih lama menemanimu! Selamat Tinggal, Yumiko!"
"Tidak! Jangan pergi dulu, Bunda! Aku masih ingin bersama Bunda. Kumohon, Bunda! sebentar saja!"
Bunda pun pergi meninggalkankanku sendiri ditengah Padang rumput yang begitu asing. Aku terus berteriak memanggil nama 'Bunda'. Tapi, Bunda seakan tidak peduli lagi padaku.
RUMAH SAKIT TOKYO
Perlahan Aku membuka mata. Seberkas cahaya tampak menyilaukan mataku. Kupandangi langit-langit dalam Ruang tempatku berada. Namun, semua tampak asing. Ini bukan kamarku.
Terdengar suara alat medis EKG (Elektrokardiogram). Dan, saat kulihat punggung tanganku, ternyata sudah terpasang infus. Kulihat lagi ke sekeliling, Aku tidak mendapati siapapun di Ruangan ini.
Cklek!
"Yumi, Kau sudah sadar!"
Ternyata Ibu. Ibu dengan sigap menghampiriku sembari tersenyum.
"I-Ibu!" suaraku seolah tercekat. Aku berusaha bangkit dari tidur. Aku ingin mengubah posisiku menjadi duduk.
"Yumi, jangan banyak gerak dulu!"
"Ini dimana, Bu?"
"Ini di Rumah Sakit. Kamu sudah tidak sadarkan diri selama 38 jam."
"38 jam? Lalu, bagaimana kondisi Seika, Ryu dan Hiro?"
"Mereka baik-baik saja."
"Syukurlah! Mereka dimana?"
"Hiro dan Seika masih Sekolah. Kemarin teman-temanmu datang menjenguk. Mereka semua sangat khawatir dan selalu menanyakan tentang kondisimu. Apalagi Ryu, Ia terus menerus menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa melindungimu saat itu."
"Ibu, apakah Ayah marah pada Ryu? Karena Aku berusaha menolongnya?"
"Tidak. Justru Ayah berterima kasih padanya karena sudah berusaha menolongmu. Hanya saja, mungkin sudah takdir jika Kamu harus mengalami kejadian ini. Tapi yang penting, sekarang Kamu sudah sadar. Ibu sangat senang sekali."
"Lalu, dimana Ayah?"
"Ayahmu sedang pergi kerja. Ayah minta pada Ibu untuk terus mengabari kondisimu. Oh ya, sebaiknya Ibu segera kasih kabar pada Ayahmu jika Kamu sudah sadar. Pasti beberapa hari ini Ayahmu tidak fokus kerja. Selama Kamu belum sadarkan diri, wajahnya terlihat begitu kusut saat pulang kerja!"
"Ya, ide bagus. Kita harus segera kabari Ayah agar Ayah tidak terus menerus mencemaskanku."
Ibu pun segera menghubungi Ayah. Setelah berbicara pada Ayah, Ibu memberitahukan padaku jika Ayah akan pulang lebih cepat hari ini. Ayah terdengar sangat bahagia ketika Ibu mengatakan jika Aku sudah sadar.
"Ibu, apakah Ibu tahu dimana ponselku?
"Begini, Ponselmu ada dalam tas sekolahmu. Dan kebetulan tas sekolahmu Ibu simpan di Rumah. Waktu itu Ayahmu yang membawa pulang tas sekolahmu. Maaf ya, Yumi! Memangnya Kamu ingin menghubungi siapa?"
"Tidak apa-apa, Bu. Tadinya Aku ingin menghubungi Yui."
"Ah, iya. Bagaimana kalau Ibu hubungin Hiro. Nanti biar Hiro yang mengabarkan kepada teman-temanmu."
"Boleh juga, Bu!"
"Baiklah, Ibu akan mengirimkan pesan pada Hiro sekarang!"
"Iya Bu, terima kasih."
Pukul 16.30
Tok tok tok
"Yumi-chan!"
"Yumi-chan, syukurlah Kamu sudah sadar. Kami semua sangat khawatir. Terlebih lagi Kak Ryu. Ia terus menerus merasa bersalah."
"Tidak apa-apa, Yui-chan! Dimana yang lainnya?"
"Ah, itu, Kami diperbolehkan masuk secara bergantian. Seika dan Hiro sedang menunggu giliran di depan."
"Begitu, ya! Lalu, bagaimana dengan Yuji dan teman-temannya?"
"Mereka dibawa ke Kantor Polisi. Menurut penuturan dari Hiro dan Seika, setelah Kamu dipukul oleh salah satu temannya Yuji, Kak Ryu langsung membuat Mereka tak berkutik lagi. Kak Ryu terlihat sangat murka pada Mereka. Dan juga, setiap saat Kak Ryu datang untuk menjengukmu. Ia tidak bisa tenang sepanjang hari. Ia terus saja khawatir tentangmu."
"Sekarang Kak Ryu dimana?"
"Kak Ryu masih di Kampus. Barusan Aku sudah mengabarinya. Kak Ryu begitu girang ketika Aku mengabarkan jika Kamu sudah sadar. Nanti malam Kak Ryu akan menjengukmu. Sore ini Kak Ryu mau latihan Baseball dulu."
"Ya. Tidak masalah."
"Kalau begitu, Aku dan Akira akan keluar sekarang! Seika dan Hiro juga ingin bertemu denganmu."
"Iya, terima kasih karena sudah menjengukku."
"Sama-sama, Yumi-chan. Kami pergi dulu."
Setelah Yui dan Akira keluar dari Kamar, tak lama kemudian Seika dan Hiro masuk.
"Yumiko!"
"Seika! Hiro! Bagaimana keadaan Kalian?"
"Kami baik-baik saja. Aku menyesal, Yumiko! Maafkan Aku!" ujar Seika dengan wajah penuh penyesalan.
"Sudahlah, Seika! Tidak ada yang perlu disesali. Ini bukan salahmu. Mereka saja yang mencari-cari masalah. Tapi, Aku masih bertanya-tanya, bagaimana Mereka bisa tahu kalau Kita sedang berada di lingkungan Rumah Hiro?
"Itu juga yang Aku pikirkan. Pasti ada seseorang yang memberitahukan pada Mereka. Atau, bisa juga Mereka sudah membuntuti Kita dari Sekolah."
"Ya. Sepertinya ada dua kemungkinan! Oh ya, Hiro, bagaimana Kamu bisa tahu kalau Kami sedang dalam masalah? Lalu, apakah Kamu yang memberitahu Kak Ryu?"
"Jadi begini, saat itu Ibu menyuruhku untuk membuang sampah yang lokasinya tak jauh di sekitar tempat kejadian. Ketika Aku selesai membuang sampah, samar-samar Aku mendengar suaramu. Aku berusaha mencari sumber suara tersebut. Dan setelah Aku menemukan Kalian sedang dikepung oleh tiga Orang Pria, karena sangat panik, Aku langsung menghubungi Ryu. Kebetulan sekali Ryu juga sedang berada di lokasi yang tidak jauh dari lingkunganku. Aku mengatakan pada Ryu jika Kalian sedang dalam bahaya. Ryu memintaku untuk bergerak lebih dulu sembari menunggunya datang. Selanjutnya, seperti yang sudah Kalian ketahui, seperti itulah kelanjutan ceritanya."
"Begitukah? Aku pun tidak menyangka jika ternyata Ryu dan Yuji saling mengenal. Hanya saja, Mereka saling mengenal dalam hal persaingan. Lalu, bagaimana selanjutnya? Apakah Yuji dan Teman-temannya ditahan?"
"Ya. Mereka ditahan atas kasus penganiayaan selama 2 tahun dan juga denda."
"Syukurlah! Semoga Mereka semua jera. Mungkin Yuji masih belum bisa menerima tentang kematian Adiknya.
"Ya."
Pukul 19.20
Yui, Seika, Akira dan juga Hiro sudah pulang ke Rumah Mereka masing-masing. Di kamar ini, hanya ada Aku dan Ibu yang sedang tertidur di Sofa. Kupandangi wajah Ibu dalam-dalam. Sungguh, Aku merasakan adanya ketenangan saat memandang wajahnya. Mungkin Tuhan mengirimkan Ibu kepadaku sebagai pengganti Bunda. Aku bersyukur karena Ayah menikah dengan seorang Wanita yang begitu baik hati, hangat, dan lembut seperti Ibu.
"Ibu pasti lelah seharian ini menemaniku. Ibu sabar sekali!" gumamku.
Tok Tok Tok
Cklek!
"Yumi!"
"Ayah!"
Ayah segera menghampiriku lalu kemudian memeluk tubuhku dengan erat. Ayah menangis terharu ketika melihatku sudah sadar.
"Yumi, syukurlah! Ayah sangat khawatir!"
"Sstt—Ibu sedang tidur!"
"Maafkan Ayah! Bagaimana kata Dokter?" seraya setengah berbisik padaku.
"Tidak ada masalah. Hanya saja, Aku masih merasa sedikit pusing."
"Kepalamu masih sakit?"
"Ya, sedikit. Aku merasakan pukulan itu tepat di leherku."
"Hah! Untung saja Mereka sudah dihukum. Mereka sudah membuat Ayah marah besar."
"Sudahlah, Ayah! Kita maafkan saja. Yang penting Mereka sudah menerima hukumannya."
"Ya, Kau benar."
"Oh ya, apakah Ayah dan Ibu akan menginap disini?"
"Semestinya dari kemarin Kami lah yang harusnya menemanimu. Hanya saja, seseorang yang begitu merasa sangat bersalah ingin menemanimu sepanjang malam."
"Benarkah? Siapa?"
Tok tok tok
"Ya, masuk!" sahut Ayah.
Cklek!
"Yumiko!"
"Ryu!" Aku menyunggingkan senyum pada Ryu.
"Itu Dia Orangnya! Dia yang akan menginap malam ini!" ujar Ayah.
Aku dan Ryu saling berpandangan dan melempar senyum. Ya Tuhan! Aku sangat merindukan Ryu.