
"Hikari, akhir pekan ini apakah Kamu mau berkencan denganku?"
Hikari diam sejenak, "Baiklah, Aku mau!"
Akira pun mengajak Hikari untuk pergi dari Rooftop. Akira memberi kode dengan mengacungkan jempol pada Kami.
Sempurna! Ternyata benar tentang apa yang dikatakan oleh Seika. Hikari memang sungguh mudah dirayu. Sekarang, tinggal menjalankan rencana selanjutnya. Namun, Aku sepertinya melupakannya sesuatu.
"Yui-chan, apakah tidak apa-apa jika Akira pergi kencan dengan Hikari? Maaf, Kami jadi menggunakan Akira untuk mendekati Hikari!"
"Tidak apa-apa, Yumi-chan. Ini memang atas kemauanku juga. Berhubung yang disukai oleh Hikari adalah Akira, mau tidak mau, Aku harus merelakan Akira dekat dengan Hikari untuk sementara waktu. Bisa saja kalau ternyata yang disukai Hikari adalah Hiro, pasti Seika harus merelakan Hiro untuk sementara waktu. Bukankah begitu, Seika?"
"A-Ah, iya juga. Tapi, Aku tetap saja tidak rela jika Hiro harus dekat dengan Hikari. Dia itu ular berkepala dua. Sungguh menyebalkan!" ujar Seika.
Tibalah akhir pekan...
Sesuai rencana yang sudah ditetapkan, sehari sebelumnya, Akira mengajak Hikari untuk bertemu disebuah Mall. Dan tentu saja Kami berempat tetap setia mengawasi gerak gerik Akira dan Hikari.
Akira mengajak Hikari menonton sebuah film di Bioskop. Hikari begitu antusias, senyumnya mengembang ketika Akira memberikan tiket nonton untuknya. Berhubung misi ini untuk mengungkapkan kebenaran dan juga bertujuan untuk memulihkan nama baik Seika, maka, Seika lah yang mendanai semua acara kencan ini. Meskipun Ia sedikit tidak ikhlas menghamburkan uangnya untuk kesenangan Hikari. Namun, Seika berusaha berkorban demi kesuksesan rencana ini.
Kami pun membeli tiket di teater yang sama dengan Akira dan Hikari. Kami duduk tepat dibelakang Mereka. Untung saja Akira selalu mengalihkan pandangan Hikari setiap kali Ia hendak melihat kearah Kami.
Sebenarnya, Aku sedikit kasihan pada Akira, Ia pun terpaksa mengorbankan dirinya pergi kencan dengan Hikari, yang sama sekali bukanlah Gadis yang Ia sukai.
Saat Film tengah tayang, Kami terus mengawasi gerak gerik Hikari yang berusaha cari-cari kesempatan untuk bersandar di bahu Akira. Tapi, Akira memang cerdas, Ia bisa menghindar setiap kali Hikari ingin bersandar atau memegang tangannya. Hanya saja, Yui terlihat begitu cemburu melihat Hikari dan Akira duduk berdekatan.
"Yui-chan, jika Kamu sudah tidak kuat lagi, tolong katakanlah! Kita akan sudahi rencana ini. Nanti, biar Kita pikirkan lagi rencana lainnya!" bisikku pada Yui.
"Tidak perlu. Aku harus bisa tahan. Lagipula, Akira selalu berusaha menghindar secara halus setiap kali Hikari ingin menyentuhnya. Jadi, Aku tidak perlu mencemaskan apapun!"
"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Yui-chan?"
"Ya."
Film pun telah selesai ditayangkan. Akira mengajak Hikari untuk segera keluar dari teater, lalu Akira mengajak Hikari makan di sebuah cafe yang lokasinya masih berada di dalam Mall. Dan tentu saja Kami pun ikut mengamati Mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Kemudian, Aku mengirim pesan pada Akira untuk menjalankan rencana selanjutnya. Akira sengaja memilih duduk disebelah Hikari. Terlihat jelas, Hikari menjadi salah tingkah dibuatnya. Setelah Mereka memesan makanan, Mereka pun harus menunggu beberapa menit hingga Makanan yang Mereka pesan siap dihidangkan. Sembari menunggu, Akira meminta izin pada Hikari untuk foto bersama. Dan dengan polosnya, Hikari pun mengiyakannya. Akira meminta Hikari untuk menggunakan kamera dari ponsel Hikari saja.
Saat Mereka sedang berfoto bersama, tiba-tiba salah satu pelanggan Cafe, yaitu seorang Pria sedang lewat disamping Hikari dan tidak sengaja menumpahkan minumannya ke Baju Hikari. Hikari spontan berdiri dan sibuk memarahi Pria itu. Pria itu pun meminta maaf padanya. Hikari begitu kesal hingga akhirnya Ia izin pada Akira untuk pergi ke Toilet.
Sebenarnya, Pria yang menumpahkan minuman ke Baju Hikari adalah Orang suruhan Kami. Sebelumnya, Yui membayar Pria tersebut untuk menjalankan misi Kami.
"Sempurna!" ujar Kami berempat.
Akira sengaja terus menyalakan ponsel Hikari ketika Hikari sedang sibuk memarahi Pria suruhan Kami, dengan tujuan agar ponsel Hikari selalu dalam keadaan stand by. Karena, menurut Seika, ponsel milik Hikari menggunakan kata sandi.
Dengan sangat cekatan, Akira mencari pesan dari seseorang yang bernama Isamu. Tak butuh waktu lama, Akira sudah menemukan pesan tersebut. Kemudian, Akira menangkap layar (screenshot) isi pesan-pesan dari Isamu. Lalu, Ia mengirimkan hasil screenshot tersebut ke nomor kontak Seika yang kebetulan masih disimpan oleh Hikari. Lalu, Akira segera menghapus jejak digital agar tidak diketahui oleh Hikari.
Syukurlah, ketika Hikari datang, Akira sudah selesai menjalankan tugasnya. Dan makanan yang Mereka pesan pun datang di waktu yang bersamaan.
Akhirnya, misi hari ini selesai. Akira beralasan tidak bisa mengantarkan Hikari pulang. Dan tentu saja Hikari tidak mempermasalahkan hal itu. Karena, hari ini sudah pasti Ia merasa sangat senang karena bisa pergi kencan dengan Akira.
2 hari kemudian...
Tibalah Kami menyerahkan bukti itu kepada pihak Sekolah. Demi menjaga agar tidak menimbulkan kecurigaan, yang bertugas menyerahkan bukti itu kepada pihak Sekolah adalah Aku dan Yui.
Aku dan Yui tak tanggung-tanggung langsung menemui Kepala Sekolah. Jantungku pun berdegup kencang saat berdiri tepat di depan pintu Ruangan Kepala Sekolah. Aku merasa khawatir tentang tanggapan Kepala Sekolah nanti. Tapi, Aku harus tetap maju. Kebenaran tetap harus ditegakkan. Kami hanya ingin pihak Keluarga Akane mengetahui penyebab Kematian Akane yang sebenarnya.
"Yui-chan, Ayo Kita berjuang sama-sama!"
"Baik."
Tok tok tok
"Ya, silahkan masuk!" suara Kepala Sekolah dari dalam Ruangan.
Cklek! Aku membuka pintu Ruang Kepala Sekolah dengan hati-hati.
"Permisi!"
"Ya, ada apa?"
Sembari menghela nafas panjang, Aku memberanikan diri menyampaikan kepada Kepala Sekolah tentang kasus Akane. Aku menceritakan secara rinci kepada Kepala Sekolah. Aku menceritakan mulai dari saat Aku sedang berada di Toilet dan mendengarkan percakapan Hikari dengan Isamu melalui telepon. Kepala Sekolah tidak serta merta percaya begitu saja terhadap ucapanku, karena tidak ada bukti otentik. Lalu, Aku menyampaikan kembali tentang misi yang telah Aku jalankan bersama Yui, Seika,Akira dan Hiro. Kepala Sekolah hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Sepertinya Kepala Sekolah sudah mulai mempercayai ucapanku. Lalu, Aku menunjukkan hasil screenshot percakapan antara Hikari dan Isamu. Di akhir-akhir percakapan Mereka, rupanya Isamu mengajak Hikari untuk kabur agar tidak tertangkap oleh Polisi. Kepala Sekolah mulai menunjukkan ekspresi wajah marah ketika membaca isi percakapan Hikari dan Isamu.
"Astaga! Saya tak habis pikir. Ternyata, kematian Akane disebabkan oleh Siswa dan Siswi dari Sekolah ini!" ujar Kepala Sekolah sembari memijat kecil keningnya.
"Iya, Pak. Kami juga tak habis pikir, bisa-bisanya Hikari melimpahkan kesalahan pada Seika dan membuat Para Murid percaya pada ucapannya."
"Ya, wajar jika Para Murid percaya. Karena, sebelumnya memang banyak keluhan dari Para Murid, terutama Para Siswi. Mereka mengeluh jika Seika terus merundung Mereka."
"Tapi, Seika bukanlah penyebab kematian Akane. Mungkin dulu Seika sering merundung beberapa Siswi di Sekolah ini, termasuk Aku dan Yui. Tapi percayalah, Seika sudah benar-benar berubah menjadi lebih baik."
"Ya, Saya percaya. Apalagi saat ini Saya sudah lihat buktinya. Untuk hal ini, Saya akan coba rapatkan dengan Para Guru. Lalu, bukti ini akan Kami tunjukkan pada pihak Kepolisian."
"Baik, Pak!"
"Apakah masih ada yang ingin Kalian sampaikan?"
"Sudah, Pak."
"Baiklah kalau begitu, Kalian bisa kembali ke Kelas. Dan untuk bukti yang tadi Kalian unjukkan pada Saya, bisa tolong Kalian print out, lalu berikan pada Saya?"
"Bisa, Pak. Kami akan segera print out bukti ini."
"Ya, terima kasih karena Kalian sudah berani mengungkapkan kebenaran."
"Iya, sama-sama, Pak."