
Liburan Musim Dingin pun telah berakhir. Masih terbayang di pelupuk mataku, tentang bagaimana sikap Ryu saat malam Festival. Setelah kejadian malam itu, Ryu berusaha untuk menyapaku lebih dulu. Tapi, sikapku justru sebaliknya, Aku berusaha untuk menghindarinya dan masih malu berpapasan dengannya.
Untung saja, Ryu adalah Kakak Yui yang notabene seorang Mahasiswa di Universitas. Jadi, Kami tak akan pernah bertemu di Sekolah yang setiap harinya kudatangi. Yui tidak menyadari kejanggalan yang terjadi antara Aku dan Ryu.
Sebentar lagi Musim Semi akan datang. Aku harus lebih giat belajar. Karena, sebentar lagi akan ada ujian kenaikan kelas. Tahun Fiskal (Tutup Buku) di Jepang berakhir setiap 31 Maret dan dimulai setiap tanggal 1 April. Kenapa demikian? Karena, awal-awal April bertepatan dengan mekarnya Bunga Sakura sebagai ciri khas Negera Jepang. Jadi, baik Kantor maupun Sekolah, semua tutup buku diakhir Maret, dan dimulai pada awal April.
Sebenarnya, Aku cukup lemah di Pelajaran Matematika. Aku ingin sekali bisa mengikuti Kelas bimbingan belajar untuk menambah pemahaman dan kemampuanku. Tapi, ada yang bilang kalau Biaya masuk Bimbingan Belajar di Jepang tergolong cukup tinggi. Aku tidak ingin menyulitkan Ayah. Selama ini, Ayah bekerja sangat keras untuk menanggung Biaya hidup Kami. Ayah harus berangkat Pagi sekali dan pulang saat gelap. Terkadang Ayah harus pulang hingga larut malam karena banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Sebisa mungkin, Aku harus belajar sendiri atau bertanya kepada yang lebih pintar.
"Yui-chan, Aku bingung."
"Kamu bingung kenapa, Yumi-chan?"
"Apakah Kamu ikut Bimbingan Belajar?"
"Tentu saja. Ayahku memasukkanku ke Bimbingan Belajar terbaik di Tokyo. Memangnya kenapa?"
"Hmm—enaknya jadi Anak Orang Kaya. Mau Sekolah dimanapun bisa. Tidak perlu khawatir masalah Biaya."
"Yumi-chan, kenapa Kamu jadi sedih seperti itu? Ada apa?"
"Sebentar lagi Ujian Kenaikan Kelas. Sebenarnya, Aku agak lemah dalam pelajaran Matematika. Aku ingin sekali ikut Bimbingan Belajar. Tapi, pasti Biayanya sangat mahal. Aku tidak ingin menambah beban Ayahku. Menurutmu, apakah Aku harus kerja paruh waktu saja? Biar bisa punya Uang sendiri. Jadi, Aku bisa ikut Bimbingan Belajar."
"Jangan, Yumi-chan!"
"Kenapa?"
"Bukankah Kamu masih baru tinggal di Jepang? Kamu belum sepenuhnya tahu tentang seluk beluk Kota Tokyo. Kalau Kamu bekerja paruh waktu, Kamu pasti akan pulang malam. Itu cukup berbahaya bagi seorang Perempuan. Apalagi, Kamu belum kenal betul seperti apa Kota Tokyo di malam hari. Saat ini, tingkat kriminalitas di Tokyo sedang tinggi. Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu, Yumi-chan."
"Hmm—lalu, Aku harus bagaimana? Apakah Kamu bisa membantuku belajar?"
"Yumi-chan, bukannya Aku tidak ingin membantu. Meskipun Aku Bimbingan Belajar di tempat yang terbaik, itu bukan berarti Aku tergolong Anak yang Pandai. Saat ini, Aku pun sedang berusaha meningkatkan nilai-nilai Mata Pelajaranku. Maka dari itu, Ayahku sengaja memasukkanku ke tempat Bimbingan Belajar yang paling bagus."
"Hah! Sepertinya Aku Otodidak saja!"
"Yumi-chan, Aku punya saran."
"Saran apa?"
"Bagaimana kalau Akira saja yang mengajarimu. Bukankah Akira adalah Siswa paling Cerdas di Angkatan Kita?"
"Akira? Memangnya Dia mau?"
"Coba saja tanyakan dulu padanya. Nanti Aku akan membantumu bicara padanya. Setuju?"
"Tapi, bukankah nantinya malah menyusahkan Akira? Dia juga harus belajar untuk persiapan Ujian nanti."
"Sudah, Kamu tenang saja! Percaya Padaku. Oke?"
Sungguh sangat kebetulan. Baru saja Aku dan Yui hendak menghampiri Akira yang berada di Kelas 2-1, ternyata Kami berpapasan dengannya saat Ia sedang berjalan menuju kearah kelas Kami yaitu Kelas 2-3.
"Akira-kun!" sapa Yui.
"Oh, Kalian. Aku baru saja ingin ke Kelas Kalian."
"Benarkah? Wah, kebetulan juga Kami ingin bicara padamu," ujar Yui.
"Oh ya? Apa yang ingin Kalian bicarakan padaku?"
"Sebelum Kami bicara padamu, ada perlu apa Kamu mencari Kami?"
"Aku hanya ingin bilang, kemarin Aku sudah mencetak foto-foto saat Kita liburan kemarin. Aku ingin menunjukkannya pada Kalian. Siapa tahu saja Kalian ingin mengambil beberapa foto untuk disimpan sebagai kenang-kenangan."
"Wow, benarkah? Coba perlihatkan pada Kami hasilnya!"
Akira menyerahkan beberapa lembar foto pada Kami. Hasil cetakannya sangat bagus dan jernih. Aku dan Yui begitu antusias melihat foto-foto Kami saat di Sapporo. Namun, ada satu buah foto yang membuatku ingin sekali memilikinya. Yaitu, foto saat dimana Aku dan Ryu saling berdekatan, meskipun Kami foto bersama dengan yang lain. Foto itu diambil saat Kami sedang bermain Ski di Gunung Teine.
"Yumi-chan, Kamu ingin menyimpan salah satu?"
"Tentu saja. Jika Akira membolehkannya."
"Akira-kun, apakah Kami boleh mengambil satu buah foto?" tanya Yui.
"Silahkan! Ambil saja yang Kalian mau."
Aku dan Yui memilih foto yang akan Kami ambil. Tentu saja Aku mengambil foto yang Aku inginkan sejak awal. Sedangkan Yui mengambil foto beramai-ramai saat Festival di Taman Odori.
"Terima kasih, Akira-kun!" ujar Kami berdua.
"Ya. Sama-sama. Oh ya, barusan Kalian bilang kalau Kalian ingin bicarakan suatu hal padaku? Ada apa?"
"Begini, Kami ingin meminta tolong padamu!" Yui mewakiliku bicara dengan Akira.
"Minta tolong apa?"
"Bisakah Kamu membantu Yumi-chan belajar?"
Aku dan Yui saling berpandangan seraya mengangguk kecil. Syukurlah, Akira menyetujui permintaan dari Yui.
"Kapan Kita akan mulai belajar?" tanya Akira.
"A-Ah, itu terserah Kamu saja," ujarku.
"Bagaimana kalau mulai besok?"
"Boleh. Dimana? Kapan waktunya?"
"Mungkin saat jam istirahat, di Perpustakaan. Atau, bisa juga sesekali setelah pulang Sekolah. Entah itu di rumahmu atau dirumahku. Nanti Kita bisa bicarakan lagi nyamannya mau kapan dan dimana."
"Hmm—oke. Berhubung Ujian 2 Minggu lagi, Kita harus lebih intens belajar.Terutama mata pelajaran Matematika."
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok!"
"Bye, Akira-kun!"
Keesokan harinya, sesuai dengan kesepakatan, Kami belajar bersama pada Jam Istirahat di Perpustakaan. Akira begitu sabar mengajariku. Ia pun tak segan-segan memberikan Rumus Matematika jitu yang tentunya mudah kumengerti, dibanding Rumus yang diberikan oleh Guru Matematika. Yui pun ikut serta belajar bersama Kami. Dan tentunya Aku merasa sangat senang. Karena, belajar menjadi semakin lebih menyenangkan.
"Yumi-chan, bagaimana kalau belajar bersama besok di Rumahmu saja?"
"Boleh. Nanti Aku akan bilang pada Ibu kalau besok Kalian akan datang ke Rumah untuk belajar bersama."
"Asyik! Akira-kun, bagaimana denganmu? Apakah Kamu ada waktu untuk belajar bersama di Rumah Yumi-chan?"
"Te-tentu saja," Akira sedikit gugup menjawab pertanyaan dari Yui
"Baiklah. Karena sudah dipastikan, Aku dan Akira akan datang ke Rumahmu besok!"
"Oke."
Tiba-tiba saja Seika dan Teman-temannya datang menghampiri Kami bertiga yang sedang berdiskusi di depan Ruang Kelasku.
"Wah, sepertinya Kalian bertiga sudah mulai akrab sekali. Hati-hati, nanti akan muncul Cinta Segitiga!"
Miu dan Hikari tertawa cekikikan. Mereka pastinya menertawakan Kami bertiga. Untung saja suasana hatiku sedang baik. Jadi, Aku lebih memilih untuk mengabaikan ucapannya. Aku memutar kedua bola mataku, lalu mengajak Yui untuk segera masuk ke Kelas.
"Akira-kun, terima kasih untuk hari ini. Kamu pergilah ke Kelas! Disini ada setan-setan yang suka menggoda Manusia," ujarku.
"Baiklah, sampai jumpa besok."
Akira pun pergi meninggalkan Kami. Ia pun tidak menggubris ucapan yang dilontarkan oleh Seika. Ketika Aku dan Yui membalikkan badan untuk segera masuk ke dalam Kelas. Tiba-tiba saja Seika meneriakiku.
"Hei, Yumiko! Kamu mengatakan kalau Kami ini adalah Setan?"
"Simpulkan saja sendiri!" jawabku datar.
Semua teman-teman yang ada di Kelasku sontan menjadikan Kami pusat perhatian. Seika benar-benar tukang rusuh. Tapi, jika dilihat-lihat, semakin kesini Aku semakin paham tentang karakter Seika. Ia hanyalah seorang Gadis Manja yang berada dibawah ketiak Ayahnya yang notabene seorang Wakil Perdana Menteri. Aku bisa pastikan, Dia bersikap seperti itu karena kurang kasih sayang dari Kedua Orangtuanya. Atau, mungkin saja Sikap dan sifatnya adalah copy paste dari Orangtuanya.
Namun, Ia ternyata berbeda dari Diana. Seika masih memiliki hati nurani. Meskipun Ia kasar, tapi ada satu ucapannya yang membuatku seakan paham kalau Ia ingin melindungiku.
Saat itu, ketika Aku ingin pergi ke Toilet. Aku mendengar dari luar Toilet, percakapan Seika dengan beberapa Senior. Yang intinya, Mereka tidak menyukai kehadiranku di Sekolah ini. Mereka mengajak Seika dan Teman-temannya bekerja sama untuk menindasku agar Aku tidak betah Sekolah disini. Tapi yang pasti, Aku bisa menangkap dari perkataan para Senior, kalau Mereka iri dan ingin menyingkirkanku dari Sekolah ini. Namun, satu hal yang membuatku terkejut saat itu adalah ketika Seika dengan tegas menolak penawaran dari Mereka
"Kalau Kalian tidak suka padanya, kenapa Kalian harus mengajakku untuk ikut menindas Yumiko? Kalian lakukan saja sendiri! Aku tidak ingin ikut campur, apalagi disuruh-suruh oleh Kalian."
"Hei, Seika! Bukankah Kamu juga tidak menyukai Yumiko? Kami semua tahu kalau Kamu menyukai Hiro dan Akira? Apakah Kamu tidak takut kalau Laki-laki yang Kamu sukai direbut oleh Yumiko?" Kalimat itu seolah ingin mendoktrin pikiran Seika.
"Aku memang tidak menyukainya. Tapi, apa urusan Kalian mencampuri tentang Orang-orang yang kusukai? Ada atau tidak adanya Yumiko di Sekolah ini, jika memang Mereka tak suka padaku, ya sudah biarkan saja. Selama Mereka belum mengucapkan kalimat penolakan untukku, Aku tidak akan menyerah untuk terus mengejar Mereka."
"Huh! Dasar munafik! Terserah Kamu saja. Kami sudah mengingatkanmu! Suatu hari nanti, jangan pernah menyesali ucapanmu, apalagi sampai mencari Kami untuk membantumu menyingkirkan Yumiko. Mengerti?"
Para Senior hendak keluar dari Toilet. Aku segera mencari tempat persembunyian agar tidak diketahui oleh Mereka. Syukurlah, Aku segera menemukan tempat persembunyian, sehingga Mereka tidak mengetahui keberadaanku.
"Seika, kenapa Kamu tidak menerima tawaran dari Senior Kita? Bukankah Kamu membenci Yumiko?"
"Miu! Hikari! Aku memang tidak menyukai Yumiko. Tapi, Aku bukan membencinya. Aku bukan Orang yang berpikiran picik untuk menyingkirkannya dengan bantuan dari Senior."
"Tapi, apakah Kamu tidak khawatir jika suatu hari nanti justru Yumiko menyerang balik padamu?"
"Tidak. Karena Aku yakin, Yumiko tidak akan berbuat seperti itu."
"Kenapa Kamu yakin sekali?"
"Ya. Kecuali Aku yang memulai duluan. Kata-kataku memang selalu kasar padanya. Tapi, Aku tidak sampai hati ingin menyingkirkannya karena iri padanya. Aku bisa menggunakan caraku sendiri."
"Lalu, bagaimana jika Para Senior sampai menindas Yumiko?"
"Itu bukan urusanku. Tapi, Aku yakin kalau Yumiko mampu mengatasi Mereka."
Ternyata Seika berbeda dengan Diana. Ia masih punya hati nurani dan tidak berniat menyingkirkanku dari Sekolah ini. Meskipun nada bicaranya terdengar sangat ketus, tapi Ia masih memikirkan diriku.