YUMIKO

YUMIKO
FESTIVAL MUSIM DINGIN



Kami saling berhadapan. Aku tak menyangka, saat ini Ryu sudah berada 2 jengkal di hadapanku. Mata Kami saling berpandangan dan tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Kami setelah Ia bertanya tentang apakah Aku sudah memiliki Pacar atau belum? Ryu tiba-tiba saja menangis. Mungkin karena efek Alkohol yang membuatnya seolah sangat sensitif dan mengeluarkan unek-unek yang sudah lama dipendam olehnya.


Ryu mendaratkan wajahnya ke pundakku. Aku ingin sekali memeluknya, tapi Aku tidak berani. Ryu menangis sesenggukan, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


"A-Aku harus bagaimana?" ujarnya sembari terbata-bata.


"Kak Ryu? Kakak kenapa? Kalau Kakak mau cerita, ceritakan saja padaku!"


Ryu tak menjawab pertanyaanku. Ia tetap menangis. Ada apa dengannya? Kenapa Ia terlihat sangat rapuh. Padahal Ia terlihat sangat kuat.


Dan akhirnya, Aku melingkarkan kedua tanganku di punggungnya. Aku bisa mencium aroma wangi khas tubuhnya.


"Menangislah! Jika menangis itu membuat Kak Ryu tenang."


Aku menepuk lembut punggungnya yang bidang. Entah kenapa, Aku merasa iba padanya. Sepertinya, selama ini Ia menyimpan kesedihan itu sendiri.


Cukup lama Ryu memelukku. Air matanya tumpah, seakan Ia tak tahu malu untuk menangis sejadi-jadinya di pundakku.


Ryu melepas pelukannya dariku. Ia mengusap linangan air mata yang membasahi pipinya. Aku pun membantu mengusapnya. Setelah merasa lebih baik, Aku mengajak Ryu untuk berbicara denganku, perihal apa yang sebenarnya terjadi padanya?


"Gimana, Kak? Apakah Kak Ryu sudah jauh lebih tenang?"


"Ya. Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih. Maaf, jika Aku harus menyulitkanmu."


"Tidak masalah. Aku senang jika Kak Ryu sudah merasa jauh lebih baik."


"Sebenarnya, Aku malu padamu."


"Malu kenapa, Kak?"


"Aku malu karena tadi menangis padamu."


"Tidak apa-apa. Itu manusiawi. Setiap Manusia pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Sekuat apapun Kita bertahan, pada akhirnya Kita akan merasakan titik dimana Kita harus meluapkan segalanya."


"Ya, Kamu benar. Mungkin ini adalah titik dimana Aku sudah tidak kuat lagi menahan semuanya. Menurutmu, apakah Aku terlalu mendramatisir?"


"Tidak. Hanya saja, tergantung masalah yang Kak Ryu hadapi. Tapi menurutku, tidak mungkin masalah yang Kak Ryu hadapi ini adalah masalah sepele. Sampai-sampai, Kak Ryu bisa meluapkan emosi seperti ini. Jika Kak Ryu tidak keberatan, Kak Ryu bisa ceritakan semuanya padaku. Aku janji, Aku tidak akan membocorkan masalah ini kepada siapapun, termasuk pada Yui."


"Sebenarnya, Aku ingin bisa terus merahasiakan masalahku ini kepada siapapun. Tapi, Aku tak pernah menduga, secara tidak langsung Kamu mengetahui sebagian besarnya."


"Aku? Mengetahui sebagian besarnya?"


"Ya. Tanpa Kamu sadari, Kamu sudah mengetahui sebagian besar dari masalahku. Hanya saja, Kamu hanya tahu bagian permukaannya saja."


"Contohnya?"


"Kamu masih ingat saat pertama kali Kita bertemu? Bagiku, Aku tak akan pernah melupakan peristiwa itu."


"Ya, Aku masih ingat. Saat itu, Kak Ryu meminta tolong padaku karena Kak Ryu sedang dikejar oleh sekelompok Pria tak dikenal. Dan yang membuatku cukup terkejut, saat Aku melihat ada darah dikening Kak Ryu. Aku sangat panik saat itu. itu. Lalu, apakah Yui dan Orang Tua Kak Ryu tahu?"


"Tidak. Mereka tak tahu. Setelah itu, Aku pergi menginap dirumah temanku selama 2 hari. Meskipun belum sembuh total, setidaknya Ayah, Ibu dan juga Yui tidak mengetahuinya."


"Tapi, apakah tidak masalah dengan lukanya? Khawatir ada cidera di Kepala."


"Tidak. Semua baik-baik saja."


"Syukurlah! Kalau boleh tahu, memangnya Mereka itu siapa? Apakah Kak Ryu punya masalah dengan Mereka?"


"Aku pun tak tahu Mereka itu siapa? Saat Aku pulang latihan Baseball, Mereka sudah menghadangku. Mungkin kebetulan atau sudah direncanakan, saat itu Aku sedang tidak membawa motor, karena sedang berada di bengkel. Saat itu, Aku hendak berjalan menuju Halte Bis. Namun, tiba-tiba saja Mereka menghadangku. Tanpa basa basi lagi, Mereka berusaha mengejar dan ingin menangkapku."


"Lalu, bagaimana kepala Kak Ryu bisa berdarah?"


"Karena jumlah Mereka banyak, jadinya Aku sempat tertangkap oleh salah satu dari Mereka. Selanjutnya, Aku dipukul dengan menggunakan tongkat Baseball yang mengenai pelipis kananku. Untung saja, Aku masih memiliki tenaga untuk bisa lepas dari cengkeraman Mereka. Hingga akhirnya Aku bertemu Kamu."


"Astaga! Sebenarnya Siapa Mereka? Aku punya firasat kalau Mereka adalah Orang-orang suruhan. Tapi, apakah Kak Ryu pernah punya musuh?"


"Aku rasa tidak. Tapi, Aku memang punya lawan di Tim Baseball Universitas lain. Dia berambisi untuk menang dariku. Memang sangat kebetulan, saat Orang-orang itu mengejarku, seminggu lagi akan diadakan kompetisi Baseball. Hanya saja, Aku tidak ingin menuduh sembarangan karena tidak ada bukti."


"Semoga Orang-orang yang jahat pada Kak Ryu segera dapat ganjarannya. Oh ya, barusan kenapa Kak Ryu tiba-tiba bertanya tentang Aku sudah punya pacar atau belum?" Jantungku berdegup kencang saat menanyakan hal itu.


"Tidak apa-apa. Aku sekedar bertanya saja. Jika memang Kamu memiliki seorang Pacar, Aku harap Kamu bahagia bersamanya. Jangan sampai Pacarmu justru malah menyakitimu."


"Kenapa Kakak berkata seperti itu?"


"Aku tahu, Kamu pasti mendengar percakapanku dengan seorang Perempuan, kan? Saat itu, Aku menyadari keberadaanmu. Aku juga yakin kalau Kamu sudah mendengar semuanya."


"Ah, tidak. Aku tidak mendengarnya."


"Jangan berkelit. Terlihat sangat jelas. Ketika Orangtuamu bertanya padamu, Kamu menjawab pertanyaan dari Mereka tapi Kamu malah tidak fokus."


"O-oh, begitu ya? Aku memang sengaja tidak mendengarnya," Aku jadi salah tingkah.


Hmm—kupikir Ryu akan menyatakan cinta padaku. Ternyata, Aku terlalu percaya diri. Tapi, apa sebaiknya Aku kasih tahu pada Ryu tentang Yoshida? Ah, lebih baik tidak usah. Lagipula, Ryu sendiri sudah tahu kalau ternyata Yoshida selingkuh darinya. Hanya saja, Ryu mungkin tidak tahu kalau selama Mereka menjalin hubungan, ternyata Yoshida tidak tulus padanya.


"Sudah larut malam. Udara pun semakin dingin. Sebaiknya Kita masuk!" ujar Ryu.


Keesokan harinya...


Kami bersiap menyambut festival Sapporo hari ini. Semua sudah siap menghabiskan waktu sehari penuh menjelajah Sapporo. Pertama-tama, Kami berangkat ke tempat yang sedikit lebih jauh dari Sapporo. Kami pergi ke Gunung Teine untuk bermain Ski. Waktu perjalanan yang diperlukan sekitar 1 jam. Disana Kami menikmati bermain Ski bersama hingga usai makan siang. Aku bersyukur karena Seika tidak berbuat ulah padaku. Dia sibuk melakukan pendekatan kepada Hiro.


Dari Gunung Teine, Kami menuju Pabrik Coklat Shiroi koibito, Theme Park. Sebagai pecinta cokelat, ini adalah pengalaman pertama kalinya Aku datang ke Pabrik Cokelat. Aku merasa takjub hingga tak henti-hentinya bersikap seolah Aku adalah Anak Kecil yang begitu bahagia melihat berbagai macam Cokelat. Di Shiroi koibito, ada beberapa fasilitas yang bisa Kita nikmati, diantaranya: Meseum Cokelat, Pabrik Cokelat dan sweet workshop dream kitchen (tempat dimana Kita bisa berkreasi membuat cokelat sendiri dan tentu saja bisa dibawa pulang).


Aku mengajak Yui untuk membuat Cokelat bersama, Yui pun menyetujuinya. Seika tak mau kalah, Ia pun ikut bersama Kami. Para Laki-laki tidak ikut bersama Kami. Mereka memilih untuk pergi ke Museum Cokelat.


Sekitar satu jam kemudian, Kami telah selesai membuat cokelat. Yui membuat cokelat berbentuk hati. Aku taksir, pasti Yui membuatnya untuk Hiro.


"Yumi-chan, Kau buat Cokelat apa?"


"Entahlah. Aku hanya asal membuat."


"Wow, lucu sekali Cokelat buatanmu," Yui memuji Cokelat buatanku. Mendengar hal itu, Seika menatap iri padaku.


Tak terasa, sudah mulai menjelang malam. Kami kembali ke Kawasan Taman Odori, sekaligus lokasi Hotel tempat Kami menginap kemarin. Dan, di Taman Odori ini lah Kami akan menikmati Festival Sapporo. Pengunjung sudah mulai memadati Taman Odori.


"Yumi-chan, Ayo cepat! Aku sudah tidak sabar."


Yui mengajakku berlari melihat berbagai macam bentuk pahatan es. Ternyata, sangat menakjubkan ketika Aku melihat pahatan es tersebut dari dekat. Aku terperangah ketika melihat pahatan es berbentuk Candi Borobudur. Tiba-tiba saja Aku merindukan Indonesia.


"Yumi-chan, kenapa Kamu melamun?" Yui menepak bahuku.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya takjub saja. Ternyata, Orang-orang Jepang itu hebat, ya? Mereka bisa membuat ukiran es seindah ini."


"Yumi-chan, cepat kemari! Sebentar lagi akan dimulai pertunjukan es Osamu Tezuka." (Osama Tezuka adalah nama Pencipta Manga dan disebut juga 'Bapak Manga'. Karya yang paling terkenal adalah Astro Boy)


Selanjutnya, Kami menikmati malam Festival snow ice. Sebenarnya Aku masih belum puas melihat keindahan bentuk pahatan es yang terletak di Taman Odori. Semakin malam, udara semakin dingin. Aku lupa memakai syal. Alhasil, Aku merasa sangat kedinginan. Maklum saja, Aku yang biasa hidup di Negara dua musim, kini tinggal di Negara dengan 4 musim.


"Yumi-chan, kenapa tubuhmu gemetar?"


Aku menggelengkan kepala sembari meniup telapak tanganku agar tetap hangat.


"Apa sebaiknya Kita pulang saja? Mari, naik ke punggungku jika Kamu sudah tidak kuat untuk berjalan!" ujar Akira.


"Tidak. Aku masih ingin disini. Biarkan saja Dia kembali ke Hotel lebih dulu. Aku masih ingin menikmati Festival bersama Hiro," sahut Seika.


Seika benar-benar egois. Meskipun begitu, Aku sebenarnya masih ingin menikmati Festival ini. Kali ini, Seika ada benarnya. Sudah jauh-jauh datang, tapi hanya sebentar menikmati Festival. Apalagi besok Kami harus segera pulang ke Tokyo.


Baiklah, Aku harus bertahan. Teman-teman yang lain pasti masih ingin menikmati malam Festival ini. Aku tidak ingin mengecewakan Mereka.


"Yumi, Kau tidak apa-apa?" tanya Hiro padaku.


"Hiro-kun, tidak usah pedulikan Dia. Kita nikmati saja Festival ini!"


"Seika, apa masalahmu? Kita juga harus melihat kondisi Yumiko saat ini!" ujar Hiro.


"Tidak apa-apa. Ayo, Kita lanjutkan kembali!" ujarku.


"Yumi-chan, Kamu yakin tidak apa-apa?"


Aku melirik kearah Ryu yang menatap dingin padaku. Aku tak tahu maksud tatapan itu, apakah Ia marah padaku karena Ia masih ingin menikmati Festival ini, atau justru malah prihatin padaku?


"Ti-dak. Ayo, Kita lanjutkan!" Suaraku sedikit gemetar.


"Tunggu!" Ryu mencoba menghentikan Kami.


"Ada apa, Kak?" tanya Yui.


Ryu tak menjawab. Ia berjalan menghampiri Kami, lalu Ia melepaskan syal yang Ia kenakan. Setelah itu, syal miliknya Ia lilitkan ke leherku. Romantis! Ah, hangatnya. Tapi, bagaimana dengan Ryu? Aku khawatir Ia justru malah kedinginan.


"K-Kak Ryu? Kenapa syal ini diberikan padaku?"


"Pakailah!"


"Ta-tapi, bagaimana dengan Kak Ryu?"


"Tidak masalah. Kamu lebih memerlukannya."


"Terima kasih, Kak!"


"Yumi-chan, kalau begitu, mari Kita lanjutkan kembali!" Yui menarik tanganku.


"Iya," Aku menoleh kearah Ryu yang terus saja menatapku. Tatapan mataku padanya menyiratkan bahwa Aku ingin sekali Ia berjalan di dekatku. Tak kusangka, Ryu begitu paham dengan maksudku.


Ketika pertunjukan es Osamu Tezuka dimulai, Seika menarik tangan Hiro untuk berdiri lebih depan. Selanjutnya, Yui menarik tanganku, tapi pegangan itu dipatahkan oleh Pengunjung lain yang kebetulan sedang terburu-buru melintas ditengah-tengah Kami. Kami berdua sama-sama terbawa arus Pengunjung yang lain. Yui dan Akira terpaksa harus berjalan ke barisan depan. Aku dan Ryu berada di barisan paling belakang.


Jujur saja, Aku sama sekali tidak fokus menonton pertunjukan. Karena apa? Karena, tiba-tiba saja Ryu menggenggam tanganku dan memasukkan telapak tanganku ke saku jaketnya. Seperti adegan manis dalam sebuah Drama.


"Apa Kau sudah merasa jauh lebih hangat?" tanya Ryu padaku.


Aku tersipu malu seraya tersenyum dan menundukkan kepala. Sungguh, ini adalah Festival Musim Dingin yang sangat indah dan mengesankan bagiku.