
Sudah 1 Minggu Surat itu tak pernah lagi singgah di Lokerku. Mungkin, Ia cukup berhati-hati karena bisa saja sewaktu-waktu Aku mencari tahu lagi tentang dirinya.
"Selamat pagi, Yumi-chan!"
"Selamat pagi, Yui-chan. Kamu datang lebih awal?"
"Ya. Aku hari ini sedang tidak membawa Sepeda."
"Oh ya? Lalu, Kamu ke Sekolah di antar siapa? Atau naik Bis?"
"Aku diantar Kak Ryu."
"O-oh, begitu ya!"
Ryu! Sudah hampir 2 Minggu Aku tidak bertemu lagi dengannya. Semenjak pulang liburan dari Sapporo, Kami tak pernah bertemu lagi. Sejujurnya, Aku sedikit menyesal karena telah mengabaikan Ryu setelah malam Festival.
"Yumi-chan, kenapa Kamu melamun? Kamu tidak ganti Sepatu?"
"Ah, iya."
"Yumi-chan, apakah Kamu masih kepikiran tentang seseorang yang menulis Surat Cinta padamu? Kamu masih penasaran?"
"Sebenarnya, Aku sudah tidak ingin memikirkan tentang siapa yang mengirim Surat itu padaku. Mungkin Ia berusaha menjaga privasinya, dan Aku pun menghargai itu. Jadi, selama Ia tidak bertindak diluar batas, Aku pun tidak akan mempermasalahkannya."
"Hmm—begitu, ya!"
"Ya, begitulah. Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana kabar Kak Ryu?"
"Dia baik-baik saja. Sekarang lagi sibuk belajar untuk persiapan Ujian Akhir Semester."
"Hmmm!"
"Yumi-chan, apakah Kamu sudah mengerjakan tugas Bahasa Inggris?"
"Astaga!"
"Kenapa?"
"Bukunya!" Aku segera berlari menuju kelas. Yui pun ikut berlari mengikutiku dari belakang.
"Yumi-chan, tunggu Aku!"
Ya Tuhan! Aku sampai lupa kalau ternyata Aku meninggalkan Buku Teks Bahasa Inggris milikku di laci Meja.
Duk! Oh Tuhan, lagi-lagi Aku menabrak seseorang.
"Maaf, Saya tidak sengaja!" seraya membungkukkan badan.
"Tidak apa-apa. Saya juga minta maaf!" suara terdengar agak parau.
"Yumi-chan, Kamu tidak apa-apa? Kenapa akhir-akhir ini Kamu sering menabrak Orang?" Yui bertanya dengan nafas tersengal-sengal.
"Aku tidak apa-apa. Yui, ayo Kita ke Kelas!"
Rupanya Aku menabrak seorang Siswa. Dan sepertinya Ia adalah Seniorku. Tapi, kenapa Dia bisa ada di lantai 2? Bukankah lantai ini khusus untuk kelas 2? Ah, siapa juga yang peduli. Mungkin saja Dia habis bertemu dengan Adik atau Pacarnya.
"Oh, Kita bertemu lagi!" ujar Laki-laki itu.
Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badan. Aku berusaha mengingat wajahnya. Tapi, Aku tak bisa mengingatnya. Hanya saja, samar-samar Aku masih mengingat suaranya. Ah, betul juga, Dia adalah laki-laki yang Aku tabrak saat sedang mengajar Yui. Ternyata Dia orangnya?
"Maaf, Anda siapa?" tanyaku seakan sok polos.
"Waktu itu Kita sempat bertabrakan. Saat Kamu keluar dari kelas dan hendak mengejar Temanmu."
"A-Ah, Iya, Aku ingat!"
"Perkenalkan, namaku Isamu Kobayashi. Aku kelas 3-4. Lalu, siapa namamu dan juga Temanmu?"
"Aku, Yumiko Matsushima. Dan Dia adalah Yui Yamazaki. Kalau begitu, Kami permisi dulu."
"Baiklah. Sampai jumpa lagi!"
"Iya. Ayo, Yui-chan!"
"Oh, Oke."
Aku dan Yui segera berjalan menuju Kelas tanpa menoleh ke belakang. Setibanya Kami di kelas, Aku segera mencari Buku Teks Milikku di laci Meja, "Hah! Ketemu!"
"Yumi-chan, jangan bilang kalau Kamu lupa mengerjakan tugas Bahasa Inggris?"
"Iya. Aku lupa membawa pulang Buku Teks Milikku. Oh ya, tugas Bahasa Inggris ada dihalaman berapa?"
"Halaman 46, dari nomor 1 sampai 10."
"Oke. Terima kasih."
Aku duduk di bangku ku dan membuka Buku Teks Milikku. Namun, ada satu hal yang membuatku tertegun ketika Aku membuka Buku tersebut. Amplop Merah Muda! Aku menemukan Amplop Merah Muda pada Buku Teks Bahasa Inggrisku.
"Tidak mungkin!" gumamku.
"Yumi-chan! Ada apa?" Yui bergegas ke bangkuku.
Yui pun terkejut ketika melihat Amplop merah muda yang sedang kupegang. Aku menelan saliva dan masih tak percaya.
"Ya, benar. Ba-bagaimana bisa?" Aku dan Yui saling berpandangan.
Spontan Aku melihat ke sekeliling Ruang Kelas. Tak ada seorangpun Siswa yang bersikap mencurigakan. Namun, saat Aku memandang ke luar Jendela, mataku tertuju kearah lapangan basket. Itu Dia! Laki-laki yang menggunakan Jaket Hoodie berwarna Biru Elektrik. Tapi kali ini Ia tidak menggunakan Masker. Meskipun begitu, tetap saja Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena sebagian wajahnya tertutup oleh Hoodie. Ia terus menatap kearahku. Ya Tuhan! Aku jadi merinding.
"Yui-chan, coba Kamu lihat Laki-laki yang berdiri di Lapangan Basket!"
Yui melihat ke luar jendela, tepatnya kearah lapangan basket, "Tidak ada seorangpun!"
"Yang benar? Bukankah disana barusan ada Laki-laki yang memakai jaket Hoodie warna biru?"
"Tidak. Dari tadi tidak ada siapapun disana. Mungkin Kamu salah lihat."
"Tidak. Aku yakin sekali. Barusan Laki-laki itu berdiri di lapangan basket dan terus menatap ke arahku. Yui-chan, sepertinya Orang ini tahu semua tentangku."
"Benarkah?"
"Coba Kita baca isi Surat ini sama-sama. Pasti Dia akan membahas sesuatu yang Aku sukai."
Kami membaca Surat itu bersama-sama. Dan benar saja, Ia membahas tentang makanan kesukaanku. Ia berharap suatu hari nanti bisa mengajakku makan bersama makanan kesukaanku.
"Yumi-chan!" Yui menatap kearahku.
"Yui-chan, Aku sangat yakin, pasti Dia sudah menguntitku selama ini. Bahkan, hari kedua saat Aku menerima Surat darinya, Ia tahu alamat Rumahku. Ba-bagaimana ini?"
"Yumi-chan, sepertinya Kita harus berusaha untuk cari tahu. Kalau dipikir-pikir, seseorang itu lebih mengarah pada Akira atau—Hiro?"
"Akira? Hiro? Aku rasa tidak mungkin."
"Bukankah Akira terlihat jelas sangat menyukaimu?"
"Ya, mungkin bisa dibilang kalau Ia terlihat menyukaiku. Hanya saja, Aku pikir Ia bukan tipikal Orang yang suka sembunyi-sembunyi dalam mengatakan perasaannya."
"Bagaimana bisa Kamu yakin seperti itu, Yumi-chan?"
"Awal-awal kenal saja Dia sudah langsung menyapa. Setelah itu, saat Aku tertidur di Perpustakaan, Dia memberikanku minuman kaleng, belum lagi saat liburan ke Sapporo. Kamu bilang padaku kalau Akira ingin ikut karena Aku juga ikut. Menurut hematku, kalau memang Dia menyukaiku, Dia lebih memilih secara terang-terangan, daripada harus menulis Surat Cinta seperti ini."
"Hmm—betul juga. Lalu, apakah Orang itu Hiro? Sepertinya Hiro menyukai—"
"Yui-chan, jangan pesimis begitu. Tidak mungkin Hiro menyukaiku. Karena Dia adalah Sepupuku."
"Apa? Sepupu?" Yui terkejut ketika Aku mengatakan bahwa Hiro adalah Sepupuku.
"Y-ya, Hiro adalah Sepupuku."
"Yumi-chan, bagaimana bisa? Kenapa Kamu rahasiakan ini padaku?"
"Yui-chan, maafkan Aku. Sebenarnya, Aku ingin jujur padamu. Hanya saja, Aku mencari waktu yang tepat. Apakah Kamu marah padaku?"
"Yumi-chan, tidak ada alasan bagiku untuk marah. Hanya saja, Aku sedikit kecewa karena Kamu merahasiakan ini padaku. Tapi, sudahlah! Aku sangat lega."
"Lega? Kenapa?"
"Karena, hilang satu sainganku."
Pfft! Aku mencoba menahan tawa karena mendengar pernyataan dari Yui.
"Yui-chan, apa maksudmu hilang satu saingan?"
"Ah, itu. Aku hanya merasa kalau Hiro selalu memperhatikanmu saat Liburan kemarin. Meskipun Seika terus menempel padanya, tapi tatapan mata Hiro tertuju padamu. Dan itu membuatku sedikit merasa cemburu."
"Hei, Nona Yamazaki, sepertinya Kamu salah paham. Jadi begini, Ibu dan Ayahku meminta Hiro untuk terus mengawasiku. Maka dari itu, wajar saja jika Hiro terus melihat kearahku. Hiro adalah Anak dari Bibi Emiko, Kakak dari Ibuku."
"Oh, begitu. Syukurlah!"
"Itu artinya, Kamu jangan salah paham lagi padaku atau cemburu."
"Iya, Yumi-chan!" Yui tampak begitu sumringah sembari memelukku.
Siapa Kamu sebenarnya? Kenapa begitu Misterius? Aku tahu Kamu ada di sekitar ini. Tapi, siapapun dirimu, tolong jangan membuatku terus menerus merasa dihantui olehmu.
Tibalah waktu pulang Sekolah. Aku dan Yui harus pisah di Pintu masuk utama Sekolah. Yui mengatakan kalau Ia akan berjalan Kaki ke Halte Bus, karena Ryu tidak bisa menjemputnya.
"Yumi-chan, sampai jumpa besok!
"Ya. sampai jumpa besok. Hati-hati di jalan, Yui-chan!"
"Kamu juga hati-hati, ya!"
Aku bergegas menuju tempat parkir sepeda. Namun sayangnya, sepertinya hari ini Aku kurang beruntung lagi. Hah! lagi-lagi ban Sepedaku kempis. Saat kuperiksa, untung saja hanya kekurangan angin. Aku baru ingat, di Pos Penjaga ada Pompa Ban. Sebaiknya Aku minta tolong Pak Tanaka saja.
"Permisi, Pak Tanaka!"
Tidak ada siapapun. Kemana perginya Pak Tanaka? Apa mungkin sedang ke Toilet atau sedang makan? Ah, sebaiknya Aku tunggu saja disini sampai Pak Tanaka datang. Aku duduk di bangku Pak Tanaka sembari melihat-lihat ke sekeliling Pos Pak Tanaka. Meja milik Tanaka terlihat kosong. Hanya ada Kalender Meja dan gelas berisi kopi.
Eh, lacinya sedikit terbuka. Tapi, saat kuperhatikan dengan seksama, sepertinya Aku familiar dengan kertas berwarna Merah Muda ini. Kubuka laci dengan perlahan, Aku menemukan secarik kertas berwarna merah muda yang sudah tergores oleh pena. Dan yang membuatku sangat terkejut adalah ketika Aku menemukan Namaku tercantum dalam kertas itu.
Astaga! Tidak mungkin!
"Yumiko, sedang apa Kamu disini?"