YUMIKO

YUMIKO
KEBERANGKATAN



Tibalah hari dimana Kami akan pergi ke Hokkaido untuk mengakhiri liburan musim dingin Kami. Sebelumnya, Ibu membantuku meminta izin pada Ayah agar Beliau mengizinkanku pergi bersama teman-teman. Ketika Ayah tahu bahwa Hiro juga akan ikut, Ayah dengan senang hati mengizinkanku untuk pergi berlibur ke Hokkaido. Tak lupa, Ayah memberikanku uang saku untuk berjaga-jaga, jika ada suatu hal yang mendesak.


Sesuai kesepakatan, Yui akan menanggung Biaya Penginapan dan Makan Kami selama disana. Jadi, untuk biaya perjalanan kesana, Kami lah yang harus menanggung sendiri.


Kami memilih untuk menggunakan Pesawat dengan Harga Ekonomis. Bisa saja menggunakan Kereta Hayabusa Shinkansen, tapi biaya yang dibutuhkan ternyata lebih mahal dibandingkan naik pesawat. Karena, kurang lebih setelah Kami melewati 4 jam perjalanan, Kami akan berhenti di Stasiun Shin-Hakodate. Selanjutnya, Kami melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan Kereta Super Hakuto Limited Express menuju Sapporo yang memakan waktu hampir 4 jam lamanya. Jika di total, perjalanan akan memakan waktu hingga 8 jam. Tapi, jika menggunakan pesawat, kira-kira memakan waktu 1 jam 30 hingga 45 menit. Jadi, sudah ditetapkan bahwa Kami akan menggunakan transportasi Pesawat Terbang dari Bandara Narita ke Bandara Chitose, Hokkaido. Selanjutnya Kami menunju Sapporo dengan menyewa Mobil. Dan di sanalah Kami akan menghabisi Festival Musim Dingin Kami.


Kami berencana untuk berkumpul di Rumah Yui terlebih dulu dan berangkat ke Bandara bersama dengan menggunakan Mobil milik Yui.


Hiro menjemputku pagi-pagi dengan Motor Sportnya. Ia menawarkan tumpangan untukku agar Kami bisa bersama-sama pergi ke Rumah Yui, sekaligus berpamitan pada Ayah dan Ibu.


"Ayah! Ibu! Kami berangkat dulu, ya!"


"Hati-hati, Yumi! Hiro! Jaga diri baik-baik, ya? Kapan Kalian pulang?"


"Besok lusa Kami akan pulang."


"Baiklah. Semoga selamat sampai tujuan."


"Iya, terima kasih!"


Tak lupa, Hiro pun berpamitan pada Ayah dan Ibuku. Motor Hiro segera melaju menuju Rumah Yui. Perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.


Setibanya Kami di Rumah Yui, ada hal yang sangat menggangguku. Sungguh tidak disangka, ternyata ada Tamu tak diundang. Tamu itu sudah bersiap-siap membawa sebuah koper besar miliknya. Ia berdiri dengan menunjukkan wajah angkuhnya. Ya, Tamu itu adalah Seika Miyama. Entah memang Yui mengajaknya atau Seika sendiri tahu rencana Yui sehingga memaksa untuk ikut. Cih, menyebalkan!


"Oh, jadi Dia yang datangnya terlambat?" Seika bertolak pinggang seraya menatap sinis kearahku.


"Seika, sudahlah! Mungkin dijalan macet," Yui mencoba membelaku.


"Wah, Hiro-kun! Kau juga ikut?" Seika berjalan menghampiri Hiro dengan wajah sumringah.


Aku menyeringai saat melihat Hiro mengabaikan Seika. Hiro segera berlalu meninggalkan Seika dan tidak memperdulikannya sama sekali. Seika begitu geram ketika Hiro mengacuhkannya. Hiro justru menghampiri Yui dan meminta maaf karena datang terlambat.


Hiro menjelaskan pada Kami semua, jika keterlambatan itu akibat dirinya terlambat bangun pagi. Semua maklum akan hal itu. Yang penting, Kami semua tiba di Bandara tepat waktu.


"Ah, tidak apa-apa, Hiro-kun. Mungkin Kamu tidur terlalu malam, sehingga terlambat bangun lebih awal. Tidak masalah, yang penting Kamu bisa ikut dan Kita tiba di Bandara tepat waktu."


Hah! Seika, Seika! Sikapnya begitu menjijikkan. Aku kasihan pada Yui yang terus menundukkan kepalanya. Aku tahu alasan Yui bersikap seperti itu. Ditambah lagi, Ryu yang ada disamping Yui pasti merasa sangat kesal dengan sikap Seika. Namun, Aku yakin, Mereka bersikap diam karena ada alasan yang membuat Mereka terpaksa seperti itu.


Hmm—sepertinya Aku harus sedikit memberi pelajaran pada Seika.


"Seika! Sejak kapan Yui mengajakmu? Bukankah Yui hanya mengajak Aku dan juga Hiro? Memangnya Kamu siapa? Bukankah Kamu sering menindas Yui di Sekolah? Sampai-sampai, tidak ada Murid lain yang mau dekat dengannya?"


Ryu terkejut mendengar pernyataanku. Ia menatap tajam kearah Seika yang sedang gugup mendengar ucapanku.


"Seika! Apa benar yang Yumiko katakan?"


"Heh, jangan asal menuduh! Kamu punya bukti apa kalau Aku sering menindas Yui?"


"Untuk sekarang memang belum ada bukti. Tapi, suatu hari nanti Aku yakin, Kamu pasti akan mengakui semua perbuatan jahatmu pada Yui. Lalu, kenapa Kamu tidak menjawab pertanyaanku barusan?"


"Pertanyaan yang mana?"


"Kamu siapanya Yui? Kenapa juga Kamu bisa ikut liburan bersama Kami? Apa Kamu itu penguntit?"


"Jaga ucapanmu, Yumiko! Kamu tak tidak berhak tahu siapa Saya!"


"Sudah! Cukup! Sekarang bukan saat yang tepat untuk bertengkar. Kita ini tujuannya untuk liburan. Jangan sampai liburan kali ini menjadi tidak berkesan dikarenakan adanya perselisihan di antara Kita!" Yui menegaskan suaranya.


"Hai, maaf terlambat!" seseorang menyapa Kami.


"Akira?" ujarku.


Dan, akhirnya Kami ada 6 Orang. Aku pun semakin tak menyangka jika Akira ternyata ikut berlibur bersama Kami. Lantas, dari mana Ia tahu kalau Kami akan berlibur ke Hokkaido?


Sesuai rencana awal. Kami pergi ke Bandara diantar oleh Supir Pribadi Yui. Selanjutnya, Kami naik Pesawat menuju Bandara Chitose. Setelah itu, Kami menyewa Mobil Pribadi untuk mengantarkan Kami ke Sapporo.


"Wah, Keren! Ternyata Sapporo tidak kalah keren dari Tokyo," ujarku seraya mengagumi keindahan Sapporo.


"Yumi-chan, apakah Kamu senang?"


"Ya, senang sekali. Oh ya, apakah Mereka (Pemahat Es) sedang memahat es?"


"Ya. Festival Sapporo akan dimulai besok. Mereka sudah sibuk mempersiapkan berbagai macam pahatan dari es. Hasil pahatannya pun sangat indah."


"Wow! Disana ada pahatan es membentuk Spinx, Istana Buckingham, Kuil, bahkan Tokoh Kartun Maruko-chan. Hebat sekali Mereka yang sudah membuat pahatan es seindah ini. Kyaa! Aku sudah tidak sabar ingin ke Festival Sapporo.Lalu, dimana Kita akan menghadiri Festival besok?"


"Odori Park. Kita juga akan menginap di Hotel sekitar Odori Park."


"Tapi, apakah masih ada space untuk Kita menginap? Bukankah dari berbagai Daerah berbondong-bondong untuk datang ke Acara Festival ini."


"Semua Aman. Beberapa hari yang lalu Aku sudah memesan 2 Kamar untuk Kita. Untung saja teman Ayahku bekerja di salah satu Hotel di Odori Park."


"Terima kasih, Yui-chan! Kamu memang yang terbaik!" Aku memeluk Yui yang sedang duduk disebelahku, yang notabene Kami memang masih berada di dalam Mobil.


"Cih! Dasar Kampungan! Baru pertama kali kesini, ya?" ujar Seika dengan kalimat pedasnya.


"Iya. Terus kenapa? Masalah buat Loe? Dasar Mak Lampir! Ribet banget sih hidup Loe! Ngurusin amat hidup orang. Kayak yang udah bener aja Loe!" Aku memaki Seika menggunakan bahasa Indonesia.


Semua terperangah dan menatap kearahku. Ups! Mereka pasti tidak paham dengan yang Aku ucapkan. Seika pun mengernyitkan dahinya seolah ingin memahami arti dari kalimat yang sudah kulontarkan padanya.


"Bicara apa Kamu barusan? Apakah Kamu mengumpatku memakai Bahasamu?" ujar Seika dengan nada ketus.


"Ah, tidak. Kamu saja yang terlalu sensitif."


"Sudah! Kalian ini kenapa bertengkar terus, sih! Tolong hargai Kami juga yang ingin menikmati liburan ini. Kalau Kalian bertengkar terus, yang ada justru liburan ini tidak akan menyenangkan!" Akira berusaha menengahi.


Aku dan Seika pun saling diam. Ah, mudah-mudahan liburan ini tetap menyenangkan meskipun adanya Seika disini. Aku akan mencoba untuk menganggap kalau Seika sedang tidak ada bersama Kami.


BONUS CERITA


Bagaimana Seika bisa ikut?


Tiga hari yang lalu, Ibu Seika dan Seika berkunjung ke Rumah Yui. Awalnya, Mereka datang untuk mengundang Keluarga Yui akhir pekan depan untuk menghadiri Acara Ulang Tahun Ayah Seika. Ketika itu, Yui baru saja pulang dari Pusat Perbelanjaan untuk membeli beberapa Pakaian Musim Dingin yang akan Ia kenakan saat berlibur ke Hokkaido nanti. Ibu Seika bertanya dan sangat ingin tahu sekali. Yui dari mana? Belanja apa saja? Dipakai untuk kemana? Sungguh merepotkan! Sepertinya, Seika sangat mirip dengan Ibunya. Sama-sama suka mengurusi Orang lain.


Dan, dari situlah mengapa Seika bisa ikut bersama Kami. Rupanya, Ia merajuk pada Ibunya agar bisa ikut serta liburan bersama Kami.


Bagaimana Akira bisa ikut?


Tepat dihari yang sama saat kedatangan Seika ke Rumah Yui. Sebelumnya, Yui sempat bertemu dengan Akira di Pusat Perbelanjaan. Saat itu, kebetulan sekali Akira sedang mencari Sepatu untuk Musim Dingin. Yui dan Akira bertemu di Toko yang sama. Dengan polosnya, Yui menceritakan rencana liburan Kami ke Hokkaido. Mendengar hal itu, Akira langsung saja menyambar dan menawarkan dirinya untuk ikut bersama Kami. Apalagi, saat Ia tahu bahwa Aku akan ikut serta juga. Ya, begitulah menurut penuturan Yui padaku. Akira antusias ingin ikut karena ada Aku. Jadi, Yui berkesimpulan kalau Aku juga menyukai Akira dan pasti akan merasa sangat senang jika Akira ikut bersamaku.


Astaga! Yui ternyata begitu naif. Dia berpikir kalau Aku juga menyukai Akira? Justru, Aku sama sekali tidak menyukainya. Ah, bukan, mungkin lebih tepatnya waspada. Aku hanya takut sikap baik dan perhatian Akira padaku justru sama dengan sikap Darren padaku. Wajar jika Aku masih trauma dengan Laki-laki yang sifat dan sikapnya mirip dengan Darren.