
BOGOR, INDONESIA
Setelah beberapa hari di Bali, Kami pun terbang ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan Kami ke Kota Bogor. Aku cukup menguasai jalan di Kota Bogor. Karena di Kota inilah terakhir kalinya Aku menjalani masa-masa Sekolahku, dan sekaligus Kota yang menyimpan banyak kenangan pahit untukku. Namun, Aku tidak ingin terlalu bawa perasaan. Meskipun menyimpan banyak kenangan pahit, Kota ini tetaplah memiliki arti bagiku, terutama saat bersama Bunda.
Kami berkunjung ke Rumah Tante Lisa (Sahabat Bunda), yang kebetulan 2 tahun terakhir ini pindah ke Bogor karena Suami Tante Lisa di mutasi di Kota ini. Sebelum terbang ke Jakarta, Aku lebih dulu menghubungi Tante Lisa karena Aku ingin mampir sebentar ke Rumah Tante Lisa di daerah Pluit. Dan ternyata, Tante Lisa mengatakan jika Suaminya sudah dimutasi ke Kota Bogor 2 tahun yang lalu. Dan Mereka sekeluarga memang ingin sekali menetap di Bogor, tepatnya di daerah Pajajaran.
"Yumiko!" Tante Lisa menyapaku dengan wajah sumringah seraya memelukku.
"Tante Lisa! Apa kabar?" Aku mengusap punggung Tante Lisa.
"Kapan tiba di Indonesia?"
"Sebenarnya sudah 3 hari yang lalu. Tapi, Kami lebih dulu pergi ke Bali, sebelum ke Bogor. Oh ya, perkenalkan Tante, ini Sahabat-sahabatku. Yang ini namanya Yui, Seika, Hiro, dan Akira."
"Lalu, Pria yang satu lagi?" Tante Lisa senyum-senyum padaku.
"O-oh, ini Ryu, Suamiku!"
"Apa? Suami?" Tante Lisa terperangah.
Setelah itu, Tante Lisa menyuruh Kami untuk masuk dan menyuguhkan minuman serta camilan untuk Kami. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, karena sebelumnya Kami tiba di Rumah Tante Lisa pukul 5 sore. Selama Kami bertamu di Rumah Tante Lisa, tentu saja Aku dan Tante Lisa menggunakan Bahasa Indonesia. Sedangkan, jika Tante Lisa ingin bertanya kepada yang lain, Tante Lisa menggunakan Bahasa Inggris, atau terkadang memakai Bahasa Indonesia dan Aku yang menerjemahkannya.
Aku sangat senang sekali bertemu dengan Tante Lisa. Karena, Tante Lisa sudah seperti Ibu Kandungku.
"Bagaimana kabar Junichi? Ah, maksud Tante, Ayahmu?"
"Kabar Ayah, baik."
"Lalu, bagaimana dengan Ibu Tirimu? Apakah Dia baik padamu?"
Aku melirik kearah Hiro. Untung saja Dia tidak paham Bahasa Indonesia. Karena, Tante Lisa sedang menanyakan tentang Bibi nya.
"Ibu Tiriku baik sekali, Tante. Oh ya, Om Reno (Suami Tante Lisa) belum pulang?"
"Om Reno hari ini sedang ada rapat di Bandung. Kemungkinan akan tiba di Rumah menjelang tengah malam. Om Reno baru saja hubungi Tante kalau Ia baru mau pulang."
"Begitu, ya! Semoga Om Reno selamat sampe tujuan!"
"Aamiin."
"Lalu, si Kembar Jeslyn dan Joseph belum pulang?"
Jeslyn dan Joseph adalah Anak dari Tante Lisa. Mereka masih duduk di bangku kelas 10. Tante Lisa Menikah saat Aku masih berusia 5 tahun.
"Oh, Mereka lagi liburan di Jakarta. Di Rumah Eyangnya."
"Wah, sepi dong, Tante?"
"Ya, begitulah! Mereka rencananya akan pulang besok lusa. Oh ya, Ngomong-ngomong, setelah ini Kalian akan kemana lagi?"
"Sepertinya Kami akan mencari Hotel di sekitar sini."
"Kenapa tidak menginap disini saja?"
"Tidak, Tante! Takut merepotkan."
"Enggak, kok! Kan Kamar si Kembar lagi kosong."
"Tidak usah, Tante. Kami cari Hotel terdekat saja. Kalau tidak salah, sekitar 200 meter dari Rumah Tante ada Hotel yang baru saja dibangun. Terakhir Aku disini, Hotel itu belum dibangun."
"Iya, Hotel itu dibangun saat Tante dan Keluarga baru pindah ke Bogor. Ya sudah kalau begitu, Kalian makan malam dulu ya sebelum ke Hotel! Tante belikan masakan Padang. Kebetulan Tante hari ini enggak masak. Maklum, enggak ada si Kembar. Jadi enggak ada yang habisin makanan."
"Jangan, Tante. Jadi merepotkan."
"Yumi, Kamu boleh menolak menginap disini. Tapi, Tante bakal marah kalau Kamu menolak ajakan makan malam dari Tante!"
"I-iya deh, Tante! Lagi pula, Aku sudah lama sekali enggak makan masakan Padang."
"Nah, gitu dong! Suami dan teman-temanmu juga pasti belum pernah coba masakan Padang, kan?"
"Kayaknya sih belum, Tante!"
"Ya sudah, Kalian tunggu sebentar, ya! Tante belikan dulu!"
"Iya, Tante."
Setelah Tante Lisa kembali dari Rumah Makan Padang, Aku membantu Tante Lisa menyiapkan peralatan makan serta hidangan untuk Kami makan malam.
Ryu, Yui dan yang lainnya sangat menikmati makan malam ini. Mereka semua memuji masakan ala Indonesia.
"Oishi!!!" ujar Ryu dan yang lainnya.
Setelah selesai makan, Kami pamit untuk mencari Hotel, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Tante, Kami pamit dulu, ya! Terima kasih banyak!"
"Kalian barusan naik apa dari Bandara?"
"Naik Taksi Minibus."
"Lalu, berapa lama Kalian akan tinggal di Bogor?"
"Besok lusa Kami akan kembali ke Jepang. Tapi, rencananya besok Kami ingin berkunjung ke Taman Safari."
"Wah, ide bagus itu! Bagaimana kalau Kalian pakai Mobil Tante saja!"
"Waduh, tidak usah, Tante. Jadi merepotkan! Kami sewa Mobil saja. Lagi pula, pasti mau dipakai kerja oleh Om Reno."
"Kamu tenang saja, Om Reno kalau kerja pasti pakai Mobil dari Kantor. Mobil ini Kami pakai saat weekend saja. Lagi pula, si Kembar kan lagi di Jakarta. Sebentar, Tante ambil kuncinya dulu!"
"Tapi, Tan—"
Tante Lisa segera berlari masuk, lalu mengambil kunci Mobilnya.
"Ini kuncinya! Lumayan kalau harus sewa Mobil. Uangnya bisa dipakai buat beli oleh-oleh."
"Ya sudah, Tente. Terima kasih banyak. Maaf kalau Kami jadi merepotkan Tante. Besok akan Kami kembalikan setelah pulang dari acara jalan-jalan."
"Sudah, tidak usah sungkan! Kalian hati-hati, ya!"
"Iya, Tante."
Esok harinya, Kami berkeliling Kota Bogor. Aku mengunjungi Rumahku yang dulu, dan ternyata sudah ada penghuni baru disana.
Lalu, Kami melanjutkan perjalanan Kami menuju daerah Puncak dan wisata ke Taman Safari. Ryu dan Teman-teman terlihat sangat senang ketika Aku mengajak Mereka jalan-jalan di Kota Bogor.
Hari sudah hampir menjelang malam, Kami memutuskan untuk mencari sebuah Restoran yang berada disekitar Puncak, yaitu Restoran Cimory.
Setelah selesai makan, Aku mengajak yang lainnya untuk membeli oleh-oleh. Dan Kami pun memilih Chocomory sebagai destinasi untuk membeli oleh-oleh. Sebenarnya, banyak tempat oleh-oleh di Kota Bogor. Namun, berhubung sudah malam, Kami hanya mencari pusat oleh-oleh yang terdekat saja.
Saat dipertengahan jalan, sebelum Kami tiba di pusat Kota, Ryu mengatakan jika Mobil Tante Lisa sebentar lagi akan kehabisan bahan bakar.
"Sayang, dimana tempat pengisian bensin?"
"Kalau tidak salah sekitar 100 meter lagi. Posisinya ada di sebelah kiri jalan."
"Oke."
Saat Kami sedang mengantri untuk mengisi bahan bakar, Aku izin kepada Ryu pergi ke Mini Market untuk membeli air mineral.
"Tidak."
"Yumi-chan, Aku ikut denganmu!"
"Boleh. Ayo!"
Aku dan Yui bergegas ke Minimarket untuk membeli air mineral. Yui ingin sekali mencoba biskuit, Snack dan cokelat asal Indonesia. Maka dari itu, Ia membeli banyak camilan untuk dibawa ke Jepang. Mengenai Merk, tentunya atas rekomendasi dariku.
"Yumi-chan, biskuit ini ada rasa apa saja selain rasa cokelat dan strawberry?"
"Entahlah. Aku akan bertanya dulu pada pramuniaga toko!"
Aku melihat seorang Pramuniaga toko yang sedang merapikan barang-barang, dan posisinya membelakangiku.
"Mas! Mas!"
"Ya, ada apa?"
Disini Kami menggunakan Bahasa Indonesia. Aku sangat terkejut ketika Pramuniaga itu berbalik kearahku.
"Yu-Yumiko?"
"Darren?"
Cukup lama Kami saling berpandangan. Namun, tiba-tiba saja Yui mengejutkanku.
"Yumi-chan! Nanishiteruno (Kamu sedang apa)?"
"Furuku kara no yūjin ni aimashita (Aku bertemu Teman lama)!" sembari menunjuk kearah Darren.
"Darren, Rokok Melbourne belum Loe simpan lagi di Display, ya?" ujar seorang Wanita seraya menghampiri Darren yang masih saja menatapku.
"Darren! Hello! Loe kenapa diam aja, sih?"
Suara ini! Bukankah ini adalah suara dari seseorang yang enggan ingin kutemui? Aku dilema, Aku ingin segera pergi dari sini. Tapi, Wanita itu sudah terlanjur melihatku.
"Lho, Yumiko?"
"Hai, Diana! Kalian satu tempat kerja?"
"Iya. Kami satu tempat kerja. Dan juga, saat ini Kami sudah berpacaran. Benar kan, Darren?"
"Oh! I-iya!"
Cih! Siapa juga yang nanya? Diana, Dia masih sama saja seperti dulu. Masih merasa dirinya paling hebat.
"Oh begitu! Selamat, deh!"
"Yui-chan, Watashi ni shirasete kudasai, karera wa watashi no furui gakkō no tomodachidesu (Perkenalkan, mereka adalah teman sekolahku dulu)."
"Kon'nichiwa, min'na (Hai, semua!)," Yui membungkukkan badan seraya tersenyum.
Darren dan Diana terperangah, lalu Mereka ikut membungkukkan badan.
"Hai!" Darren dan Diana menyapa Yui kembali.
"Yumi-chan, Karera wa anata ni ijiwaruna tomodachidesu ka (apakah mereka adalah teman yang dulu jahat padamu)?" Yui berbisik padaku. Setelah itu, Aku hanya mengedipkan mata pada Yui. Yang pertanda, bahwa itu adalah benar.
"Yumiko, apa kabar? Kamu sedang berlibur di Indonesia? Atau sudah pindah lagi ke Indonesia?" tanya Darren.
"Ya enggak mungkin pindah lah, Ren! Kan Dia sudah enggak punya siapa-siapa lagi disini!" celetuk Diana.
Menyebalkan! Ingin sekali Aku menampar mulut Diana. Huh! Kalau Yui sedang tidak bersamaku, mungkin Aku sudah melakukannya.
"Hanī, dōshite son'nani jikan ga kakatta no? (Sayang, kenapa Kalian lama sekali?)."
"Oniichan! (Kakak!)" Yui menyapa Ryu.
Ryu tiba-tiba saja muncul dan mengejutkan Kami. Aku melihat kearah Diana, Ia tercengang melihat ketampanan Ryu. Padahal, Darren sedang berada disampingnya. Ck! Dasar tidak tahu malu.
"Sumimasen, kyūyū ni aimashita (Maaf, Aku bertemu dengan teman lama)."
"Halo! Perkenalkan, Saya Ryu. Saya adalah Suami dari Yumiko!" Ryu membungkukkan badan.
Kali ini, Aku dibuat tercengang oleh Ryu. Sejak kapan Ia belajar Bahasa Indonesia? Kenapa Ia tidak memberitahuku? Luar biasa! Ryu cukup fasih mengucapkannya.
"Yu-Yumiko, Kamu sudah Menikah?" Diana bertanya padaku.
"Iya, Kami baru saja Menikah."
"Yui-chan, Kaimono wa owarimashita ka? (apakah Kamu sudah selesai belanja)?"
"Hai! (Iya!)"
"Darren! Diana! Kami permisi dulu. Sampai jumpa di lain waktu!"
"Yumiko, tunggu!"
"Ya, ada apa, Diana?"
"Aku dan Darren minta maaf atas sikap Kami yang dulu."
"Lupakan! Aku sudah memaafkan Kalian! Mari Kita buka lembaran baru!"
"Terima kasih, Yumiko!"
"Iya sama-sama."
Tanpa direncanakan, Aku bertemu dengan Diana dan juga Darren. Aku tak menyangka, ternyata Diana dan Darren meminta maaf padaku atas sikap Mereka yang kurang menyenangkan di masa lalu. Kini Aku merasa sangat lega, karena semua masalah sudah selesai.
Kami pun kembali ke Hotel dan beristirahat. Karena, besok Kami harus sudah kembali ke Jepang. Meskipun Bulan Madu Kami cukup singkat, tapi Kami menemukan banyak pengalaman selama berada di Indonesia.
5 tahun kemudian...
Hari ini adalah Hari Pernikahan Yui dan Akira. Kami semua ikut berbahagia atas Pernikahan Mereka. Jika kalian bertanya bagaimana hubungan Seika dan Hiro? Mereka sudah lebih dulu Menikah. Tepatnya, 2 tahun yang lalu.
Seika saat ini sedang mengandung Anak Pertama. Sedangkan Aku, Aku sedang mengandung Anak Kedua, hanya selisih 3 bulan dengan usia Kandungan Seika. Anak pertamaku saat ini sudah berusia 4 tahun, namanya Keichiro. Banyak yang bilang, Ia sangat mirip denganku.
"Mama! Pokoknya, Aku mau Adik laki-laki. Aku tidak mau Adik Perempuan. Karena, Adik Perempuan itu sukanya nangis. Sama seperti Yuzu."
Yuzu adalah Teman sekolah Keichiro di Play Group. Keichiro sering sekali menjahili Yuzu. Maka dari itu, wajar saja jika Yuzu sering menangis. Begitulah yang sering dikatakan oleh Gurunya.
"Keichiro, bagaimana jika Papa dan Mama memberi mu Adik Perempuan?" tanya Ryu.
"Tidak mau. Pokoknya, Aku mau Adik laki-laki!"
Hingga hari kelahiran pun tiba, ternyata Anak Keduaku adalah Anak Perempuan. Keichiro sangat kecewa karena tidak bisa mendapatkan Adik laki-laki.
"Keichiro, maafkan Kami!"
"Hu-hu-hu-hu. Setelah ini, Papa dan Mama harus memberikan Aku adik Laki-laki!"
"Apa? Oh, tidak!"
...•••THE END•••...