
Mereka adalah Seika Miyama sebagai Ketua Genk, Miu dan Hikari sebagai Pengikutnya. Seika dan Teman-temannya memang cukup ditakuti oleh Para Siswi di Sekolahku. Mereka pun terkenal cukup sadis jika sudah melabrak salah satu Siswi di Sekolah ini. Tak tanggung-tanggung, ada Siswi yang nyaris bunuh diri karena di bully habis-habisan oleh Mereka. Bersyukur, Siswi itu selamat. Penjaga Sekolah memergoki Siswi itu hendak bunuh diri dengan melompat dari lantai 2. Namun, semua perbuatan Seika dan Genknya seolah ditutup-tutupi oleh Pihak Sekolah. Karena, Ayah Seika merupakan Wakil Perdana Menteri Jepang.
Ah, ternyata Anak Manja yang tak tahu bagaimana bersikap baik kepada Orang lain. Mereka seenaknya berbuat semaunya.
Diketahui, bahwa Siswi yang di bully oleh Mereka rata-rata adalah Para Siswi yang mengidolakan dan berani mendekati Hiro ataupun Akira.
Seika menyukai keduanya. Jika Ia tak dapat hatinya Hiro, Ia harus mendapatkan hati Akira. Seika begitu ambisius ingin berpacaran dengan salah satu dari Mereka. Gadis aneh sekaligus menyebalkan!
Aku memang harus memberinya pelajaran. Tak masalah meskipun Ia Anak Wakil Perdana Menteri atau Perdana Menteri sekalipun. Perbuatannya sudah salah, dan membuat situasi di Sekolah menjadi tak nyaman.
Beberapa Siswa dan Siswi yang berada di kantin mengerumuni Kami. Aku melirik satu persatu kearah Mereka. Tampak terdengar samar-samar, Mereka saling berbisik tentangku dan juga Seika.
"Kamu! Minta maaf pada Yui! Sekarang!" ujarku.
"Siapa Kamu? Seenaknya Perintah Saya?"
"Namaku, Yumiko. Kenapa?"
"Ah, jadi Kamu Siswi Baru yang ramai dibicarakan? Enggak terlalu cantik, sih. Tapi, Oke lah kalau Kamu mau gabung di Genk Kita. Hanya, ada syaratnya, Kamu tidak boleh menyukai salah satu Siswa yang Saya suka. Mereka adalah Hiro dan Akira."
"Hei, apa hak Kamu menyuruh Saya? Memang Kamu sendiri siapa? Terserah Saya mau menyukai siapapun? Itu hak Saya!"
"Hah! Jadi, Kamu enggak tahu siapa Saya? Saya adalah Seika. Semua anak-anak di Sekolah ini harus patuh sama Saya. Kalau tidak? Siap-siap saja!"
"Seika? Ya, Saya akan mengingat namamu, tapi sebagai Tukang Bully."
"Hei, Yumiko! Saya juga akan mengingat namamu sebagai seseorang yang akan Saya bully. Camkan itu! Ingat, jangan pernah menyesali ucapanmu."
"Tidak! Saya tidak akan pernah menyesal! Lalu, Kalian mau apa? Mau melakukan hal yang sama kepadaku, seperti yang Kalian lakukan pada Yui dan Siswi lain yang Kalian anggap bermasalah?"
"Kamu enggak bisa dikasih hati sedikit, ya? Semakin lama semakin menjadi. Teman-teman, Kita beri Dia pelajaran!"
"Baik!"
Miu dan Hikari menuruti perintah Seika. Mereka berdua memegang tanganku. Aku meminta Yui untuk mengambil jarak dariku. Awalnya, Ia menolak. Yui ingin tetap berada bersamaku. Tapi, setelah Aku paksa untuk pergi, Yui akhirnya mundur beberapa meter dariku.
"Yumiko! Sekali lagi kuberi peringatan. Kamu ingin mundur atau tetap mencari masalah sama Kami?"
Aku memandang tajam pada Seika. Ia begitu membenci tatapan yang kulabuhkan padanya. Dari sekian banyak Siswa dan Siswi yang melihatku, tak ada satupun dari Mereka yang bergeming. Nyaliku tak ciut sama sekali. Aku tetap berani menghadapi Mereka. Karena, tidak ada alasan bagiku untuk berpura-pura lemah seperti dulu.
Seika mendekatiku, namun Aku tetap bersikap dingin padanya. Ia semakin kesal hingga akhirnya Ia menarik kerah bajuku. Tapi, semakin Aku diam, semakin Ia kesal padaku.
"Cih! Beraninya keroyokan! Kalian bertiga, menjijikkan!"
Semua yang mendengar sontak merasa terkejut ketika mendengar umpatan yang kutujukan pada Seika dan teman-temannya.
Plak!
Seika menampar pipi kananku. Mungkin, ini Dosa yang harus kutebus karena telah menampar Diana saat itu.
Tak ada satupun dari Audience yang melerai Kami. Semua tahu, jika berbuat masalah dengan Seika. Maka harus siap diintimidasi habis-habisan olehnya. Tapi, tetap saja Aku tak gentar.
"Hanya segitu?" ujarku tanpa rasa takut.
"Apa maksudmu?Ka—"
Buk!
"Aaw!" Seika meringis kesakitan. Ia memegangi tulang kering kakinya.
Seika jatuh tersungkur. Semua Murid menjadi panik. Mereka takut dihukum karena tidak membela Seika.
"Kedua tanganku boleh ditahan. Tapi, Aku masih memiliki Kaki yang bisa melawan. Bagaimana, apakah Kamu perlu kuantar ke Rumah Sakit?"
Seika menatap tajam ke arahku. Ia semakin murka. Seika berusaha berdiri dengan nafas yang memburu. Aku tahu, apa yang akan Ia lakukan setelah ini. Maka dari itu, kuinjak kaki Miu dan Hikari saat Mereka lengah. Mereka pun meringis kesakitan. Aku bersyukur karena injakanku cukup kuat mengenai Mereka.
Seika mengambil kuda-kuda, Ia hendak memukulku kembali. Namun, pertolongan tepat pada waktunya. Seorang Siswa berteriak untuk menghentikan Kami.
"Berhenti!" Siswa itu menghampiri Kami. Ia melewati kerumunan Para Murid.
"Kamu?" sahutku.
"Kalian semua? Ada apa ini ? Kenapa ramai begini?"
"Akira!" ujar Seika. Ia pun lalu melanjutkan ucapannya, "Tidak ada apa-apa. Ini semua karena Anak Baru ini! Dia menantangku karena Aku telah mengambil tempat duduknya."
Seika! Bisa-bisanya Ia memutar balikkan fakta? Tapi, kenapa Aku merasa bahwa Seika tidak terlalu berbisa seperti Diana. Apakah Aku merasa kalau Orang yang kuhadapi saat ini tidak terlalu berbahaya seperti Diana?
Entahlah! Perlakuan Diana kepadaku saat itu sangat menyerang mentalku. Tapi, Aku tidak tahu untuk Orang-orang yang kuhadapi sekarang ini? Aku berharap, Aku bisa mengatasi Mereka.
Dan,ternyata nama Siswa itu adalah Akira! Akira yang menjadi salah satu Siswa yang diincar oleh Seika. Aku baru tahu kalau ternyata Dia adalah Ketua OSIS yang menjadi Idola Para Siswi. Selain itu, Ia juga tampan, cerdas, ramah, tapi juga bersikap dingin.
Saat Ia menyapaku tadi pagi, mungkin itulah sisi ramahnya. Namun kali ini, yang kulihat adalah sisi dinginnya.
"Seika! Sudah berapa kali kubilang, Kamu jangan menindas Siswi lain. Jangan mentang-mentang Ayahmu adalah salah satu Donatur di Sekolah ini, sekaligus Wakil Perdana Menteri. Lantas, Kamu bisa seenaknya bertindak sesukamu."
"Akira! Apa yang Kamu bilang? Jelas-jelas Dia ini yang cari masalah lebih dulu. Kalau Kau tak percaya, tanyakan saja pada yang lain?"
"Tak perlu. Kamu tak perlu repot-repot bertanya pada yang lain. Aku akan mengakuinya. Memang benar, Aku yang mencari masalah lebih dulu. Aku yang sudah menantangnya. Tapi, Aku melakukan semua itu karena Aku mencari keadilan untuk temanku, Yui. Aku hanya tak ingin Temanku mengalami tindak kekerasan di Sekolah. Apakah itu salah?"
Akira terdiam sejenak, "Ya, Kamu benar. Itu tidak salah. Hanya saja, Aku tak suka jika ada keributan seperti ini."
"Aku memang mencari masalah, tapi Aku tak mau memulai lebih dulu untuk melakukan kekerasan fisik. Mengerti?"
Seika dan teman-temannya mengalah dengan terpaksa. Mereka memilih untuk tidak melanjutkan Makan Siangnya. Boleh kutebak? Seika pasti merasa malu dan tak ingin di cap buruk oleh Akira. Ia hanya haus perhatian dari Laki-laki yang di Idolakannya.
Semua kembali ke tempat duduk Mereka masing-masing, lalu melanjutkan Makan Siang Mereka yang sempat tertunda.
Aku masih diam mematung, kemudian Yui menghampiriku, "Yumi, Kamu enggak apa-apa?"
"Ya, Aku baik-baik saja."
Yui berkata bahwa Ia kagum pada sikapku yang begitu berani melawan Seika dan teman-temannya, "Yumi, Kamu keren sekali!"
Aku membalas dengan senyuman. Ya, tentu saja Aku berani karena Aku pernah berada di posisi tertindas. Dan, Aku hanya tidak ingin mengulang kembali posisi tersebut.
"Hei, Kamu Siswi yang tadi pagi, kan?" Akira bertanya padaku.
"Ya, betul!" jawabku datar.
"Aku, Akira. Kita belum sempat berkenalan," Akira menjulurkan tangannya, lalu Aku menggenggam tangannya sepersekian detik.
"Yumiko."
"Oke, Yumiko, Kamu enggak apa-apa? Apakah Mereka sudah berbuat kasar padamu."
"Tidak! Aku enggak apa-apa."
"Oke, kalau ada apa-apa, Kamu bisa beri tahu Saya."
"Baiklah."
"Kalau begitu, Saya pergi dulu. Silahkan dilanjutkan lagi Makan Siangnya."
"Iya. Terima kasih, Akira."
"Sama-sama."
Akira pun pergi meninggalkan Kami. Aku mengajak Yui untuk melanjutkan Makan Siang Kami. Aku tetap duduk dengan penuh rasa percaya diri, meskipun beberapa pasang mata masih tetap terus memperhatikan Kami. Entah apa tanggapan Mereka mengenai hal yang baru saja terjadi? Aku tidak peduli. Tapi yang pasti, mulai saat ini, Aku akan selalu waspada pada Seika dan teman-temannya.