YUMIKO

YUMIKO
PEMUJA RAHASIA



KANTIN SEKOLAH


Aku sudah cukup kelelahan mengejar Yui, begitupun dengan Yui, Ia pun sudah menyerah untuk berlari lagi. Yui akhirnya menyerahkan Surat itu padaku.


Kami memutuskan untuk pergi ke Kantin Sekolah sebelum Bel masuk Pelajaran Pertama. Kami membeli minuman ringan di vending machine.


"Yumi-chan, 10 menit lagi masuk kelas. Kita duduk sebentar, ya!"


"Oke!" Lalu, Kami memilih bangku kantin yang letaknya dekat vending machine.


"Yumi-chan, apakah ada hal ingin Kamu jelaskan padaku?"


"Hmm—sepertinya tidak. Apa yang harus Aku jelaskan?"


"Yumi-chaaannn! Kamu ini pura-pura tidak tahu, ya? Itu kertas yang Kamu pegang apa?"


"Oh ini, ya? Seperti yang Kamu lihat, bukankah ini Surat."


"Iya, Aku tahu. Tapi, pasti itu Surat Cinta dari seseorang, kan? Ayo, ceritakan padaku! Siapa yang memberi Surat itu untukmu?"


"Entahlah. Aku juga tidak tahu Surat ini dari siapa? Surat ini tiba-tiba saja jatuh saat Aku membuka Loker."


"Wah, keren sekali! Yumi-chan, ternyata Kamu punya pengagum rahasia," Yui meninggikan suaranya.


"Sssttt.. jangan berisik! Tidak nyaman dilihat sama Murid lain!"


"Ups! Maaf!" Yui menutup mulutnya dengan tangan.


"Oh ya, apakah di Surat itu ada nama pengirimnya?"


"Tidak. Tapi, surat ini memang ditujukan untukku. Awalnya kupikir kalau ini adalah surat yang menyasar di Lokerku."


"Begitu, ya? Boleh Aku lihat isinya?"


"Tidak boleh!"


"Yumi-chan, kenapa Kamu pelit sekali?"


"Soalnya Kamu sudah mengerjaiku. Pagi-pagi Kamu sudah membuatku lelah karena harus berlari mengejarmu."


"Yumi-chan! please!" Yui memasang wajah memelas. Ia manangkupkan tangannya sembari memohon padaku seperti Anak Kecil minta dibelikan permen. Tingkah laku Yui membuatku geli. Aku sampai kesulitan menahan tawa melihat sikap imutnya, seperti Anak Kucing yang sedang memelas.


Akhirnya, Aku berikan Surat itu pada Yui. Yui senyum-senyum sendiri ketika membaca isi Surat tersebut. Tiba-tiba saja ada pesan masuk di ponselku. Aku membaca pesan tersebut sembari menundukkan kepala, ternyata pesan masuk dari Ibu. Ibu bilang akan pergi ke Rumah Bibi Emiko dan akan pulang saat Sore hari.


"Wah, Yui mendapat Surat cinta?"


Suara ini? Aku spontan menegakkan kepalaku dan melihat Seika sedang merampas Surat yang sedang dibaca oleh Yui.


"Seika! Berikan padaku!" ujar Yui.


Seika dan Teman-temannya justru malah semakin menjadi-jadi. Seika sengaja membaca Surat itu dengan suara keras, hingga pada kalimat yang menyebutkan namaku. Ah, menyebalkan! Seika suka sekali mengganggu Kami.


Brak! Secara reflek, Aku pun memukul meja Kantin.


"Seika! Cukup! Jangan keterlaluan! Berikan Surat itu!" ujarku dengan nada lantang.


"Oh, jadi ternyata ini Surat untukmu, Yumiko?"


"Kalau iya, kenapa? Kamu iri, ya? Kasihan sekali, pasti Kamu tidak pernah dapat Surat Cinta. Soalnya, Kamu kan yang lebih dulu suka sama Laki-laki."


"Yumiko, jaga ucapanmu! Kamu pikir Kamu siapa? Pasti Kamu duluan yang merayu Mereka?"


"Seika, Kamu itu ajaib, ya! Kalau Aku merayu duluan, tidak mungkin Aku dapat Surat Cinta. Paham?"


Seika hanya diam. Miu dan Hikari justru menggoda Seika agar membalasku. Sepertinya sikap Seika tidak sefrontal dulu. Kali ini sikapnya lebih berhati-hati padaku. Bukan karena Dia takut padaku, tapi lebih kepada segan. Sikapnya seolah sedang mencari perhatian padaku.


"Ada apa ini?" Hiro tiba-tiba saja datang menengahi Kami.


Aku melihat Seika hanya bisa diam ketika Hiro datang. Sepertinya Seika sedang menjaga image di depan Hiro. Tanpa basa-basi lagi, Aku langsung saja menyambar surat yang sedang dipegang oleh Seika. Hiro melirik kearah surat tersebut dengan tatapan tajam.


"Ah, tidak ada apa-apa, Hiro-kun? Benar kan, Yumiko?" ujar Seika.


Bel masuk pun berbunyi. Kami semua bubar dari Kantin. Selama perjalanan ke Kelas, Yui berkali-kali minta maaf padaku karena sudah lalai, sehingga surat itu bisa diambil oleh Seika. Aku pun memaafkan Yui dan sama sekali tidak menyalahkan dirinya.


Seika dan Teman-temannya masuk ke Kelas 2-2, Aku dan Yui ke Kelas 2-3, sedangkan Hiro ke kelas 2-5.


Keesokan harinya, lagi-lagi Aku mendapatkan Surat yang sama. Hanya saja isinya berbeda. Sepertinya, Orang yang menulis Surat ini pandai dalam merangkai kata. Kata-katanya begitu puitis dan tulus.


Esok harinya pun begitu, Ia menulis Surat Cinta lagi untukku dan diselipkan ke dalam Lokerku. Aku semakin penasaran, siapa Dia? Apakah memang benar seseorang yang menyukaiku, atau hanya sekedar prank dari Orang usil?


Saat jam pelajaran pertama berlangsung, Yui menulis pesan pada secarik kertas dan memberikannya padaku.


Yumi-chan, kalau Kamu penasaran siapa yang sudah menulis Surat Cinta padamu, Aku sarankan, sebaiknya besok Kamu datang lebih pagi. Kamu sembunyi disuatu tempat. Siapa tahu saja Dia datang lagi untuk memberikan Surat Cinta padamu. Saat itulah Kamu harus tangkap basah Dia.


Hmmm—sepertinya saran Yui ada benarnya. Mungkin sebaiknya Aku ikuti saja saran Yui. Sebenarnya, Aku tidak merasa terganggu dengan adanya Surat itu. Aku tidak pernah melarang siapapun yang menyukaiku, karena itu hak Mereka. Justru, Aku bersyukur karena ada Laki-laki yang menyukaiku. Hanya saja, Aku masih sangat penasaran, siapa sebenarnya Laki-laki ini? Apa jangan-jangan Dia yang beberapa hari lalu kulihat di lapangan Basket? Yang memakai Jaket Hoodie dan Masker? Aku jadi tak sabar menunggu besok. Baru kali ini Aku mendapat Surat Cinta dari seseorang tak dikenal. Tapi, jika ternyata Aku tahu siapa yang sudah menulis Surat ini, Aku tidak akan mengikuti saran Yui untuk menangkap basah Orang tersebut. Terlalu kejam jika Aku sampai menangkap basah dirinya, apalagi sampai menginterogasinya. Toh, Dia pun tidak berbuat macam-macam padaku.


Keesokan harinya, tibalah saat dimana rasa penasaranku tersampaikan. Sesuai rencana yang kususun sendiri, Aku datang ke Sekolah tepat pukul 07.00 pagi. Sedangkan, waktu masuk Sekolah adalah pukul 09.00 pagi. Jadi, Aku datang 2 jam lebih awal sebelum Bel masuk berbunyi.


"Selamat pagi, Pak Tanaka!"


"Yumiko, pagi sekali datangnya? Bahkan Saya belum sempat membuka gembok pintu masuk."


"Benarkah? Wah, sayang sekali."


"Memangnya ada apa?"


"Begini, kemarin Saya lupa membawa pulang buku catatan Saya. Ternyata ada Tugas untuk di Rumah. Saya sengaja datang lebih pagi untuk mengerjakan Tugas Saya. Apakah Saya bisa minta tolong pada Pak Tanaka agar Saya bisa masuk ke dalam Gedung?"


"Baiklah, Saya akan buka pintunya sekarang."


"Wah, terima kasih, Pak Tanaka!"


"Iya. sama-sama."


Akhirnya Aku berhasil menjalankan rencana A. Semua berjalan dengan mulus. Aku segera membuka Lokerku, ternyata memang belum ada Surat. Sepertinya Dia belum datang. Aku mengganti Sepatu dengan Uwabaki, lalu Aku berjalan menuju kelas.


Sudah 1 jam Aku menunggu, dan terus memperhatikan kearah Gerbang Sekolah dari balik jendela. Sama sekali belum ada Murid yang datang. Lalu, sekitar 5 menit kemudian, seorang Siswa dan seorang Siswi masuk Gerbang Sekolah. Mereka menyapa Pak Tanaka saat memasuki Gerbang. Jika dilihat-lihat, Mereka saling mengenal dan secara bersamaan memasuki pintu masuk gedung. Jujur saja, Aku mengincar seorang Siswa yang memakai Jaket Hoodie berwarna Biru Elektrik. Bahkan, sudah hampir Bel masuk berbunyi, sosok yang kucari sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.


"Yumi-chan! Bagaimana? Apakah rasa penasaranmu sudah terobati?"


"Hah! Sudah 2 jam Aku menunggu, ternyata Orang itu tidak datang. Baru saja Aku mengecek lagi Lokerku, ternyata Surat itu tidak ada disana. Sepertinya Dia sedang tidak mood menulis surat. Atau mungkin, Dia tahu rencanaku?"


"Sepertinya tidak mungkin. Bukankah—astaga!"


"Yui-chan, ada apa?


"Kamu ingat tidak kertas yang kemarin Aku berikan saat jam pelajaran? Tentang rencana Kita? Kamu letakkan dimana setelah itu?"


Aku mencoba mengingat kembali setiap puzzle ingatanku. Setelah membaca pesan dari Yui, Aku menyimpan kertas itu di saku seragamku. Kebetulan kemarin Aku sedang tidak membawa sepeda, karena Ibu mengantar dan menjemputku dengan Sepeda Motornya. Saat di depan Gerbang, Aku menerima telepon dari Ibu, yang mengatakan kalau Ibu akan terlambat menjemput sekitar 15 menit. Oh tidak, jangan-jangan kertas itu jatuh saat Aku mengambil ponsel dari saku seragamku? Lalu, kebetulan saja Dia melihat dan mengambil kertas itu. Dan—


"Yui-chan, saat jam istirahat nanti, ikut Aku untuk mengecek Loker!"


"Oke."


Akhirnya, tibalah jam Istirahat pertama, Aku dan Yui segera berlari menuju Lokerku. Saat kubuka pintu Loker, ternyata benar, Aku mendapatkan surat. Namun, kali ini kertasnya bukan berwarna pink, melainkan secarik kertas memo biasa.


Yumiko, sepertinya Kamu tidak perlu berusaha sangat keras untuk tahu siapa Aku sebenarnya. Maaf jika Surat yang kukirimkan padamu justru membuatmu sangat terganggu. Sekali lagi Aku minta maaf. Tapi, mohon izinkan Aku untuk tetap mengagumimu.


"Ya Tuhan! Benar, kan?" Aku menepuk dahiku.


"Ada apa, Yumi-chan?"


"Sepertinya Orang ini menemukan kertas itu di depan Gerbang."


"Ya Tuhan! Lalu, Kamu sendiri bagaimana?"


"Ya sudah. Biarkan saja, selama Dia tidak berbuat macam-macam, Aku tidak akan mempermasalahkan kalau memang Dia menyukaiku."


Entah kenapa, Aku merasa ada sepasang mata yang sedang memperhatikan Kami.