YUMIKO

YUMIKO
RAHASIA HIRO



Aku masih penasaran, siapa sebenarnya seseorang yang dicintai oleh Hiro? Jadi, selama ini Yui hanya menjadi bayang-bayang dari Hiro? Kasihan Yui, semoga saja kelak Ia bisa mengerti dan menerima jika memang Hiro tidak memiliki perasaan padanya.


Setelah Aku bertanya pada Hiro tentang siapa seseorang yang Ia cintai, Ia tidak menjawabku. Ia memilih untuk mengambil kembali ponselnya dan memasukkannya ke saku celana. Itu artinya, rahasia yang Ia simpan selama ini, tidak boleh diketahui oleh siapapun. Bahkan, Aku yang baru mengenalnya pun tidak mungkin diberitahu olehnya.


Oh ya, mungkin sebaiknya Aku bertanya mengenai Yoshida. Barangkali saja Hiro mau menjawab pertanyaan yang kuajukan.


Baiklah, Aku mengeluarkan ponsel dari tas kecilku. Lalu Aku mengetik sebuah pesan untuknya


Aku:


Hiro, maaf, Aku ingin bertanya sesuatu. Bolehkah?


Hiro:


Silahkan.


Aku:


Barusan Kamu bilang kalau Kamu cukup mengenal Perempuan yang bernama Yoshida.


Hiro:


Iya, terus?


Aku:


Bagaimana Kamu mengenalnya?


Hiro:


Kenapa Kamu ingin sekali tahu tentangnya? Apakah Kamu punya masalah dengannya?


Aku:


Ah, tidak! hanya saja, Aku sedikit penasaran. Dia seperti...?


Hiro:


Seperti siapa?


Bilang tidak, ya? Sebaiknya Aku bilang apa ke Hiro? Tidak mungkin jika Aku bilang pada Hiro kalau Aku mengenal Yoshida karena habis menguping percakapannya dengan Ryu. Hmmm—oh ya, Aku ada ide!


Aku:


Hmmm—seperti Pacar dari Kakaknya Yui.


Hiro:


Ryu?


Aku:


Ya. Kamu tahu Ryu?


Hiro:


Ya. Dia adalah salah satu Mahasiswa yang diajar oleh Ayahku.


Aku:


Paman Toshio Dosen?


Hiro:


Ya. Lalu, apa tujuanmu menanyakan tentang Yoshida?


Aku:


Ah, bukan apa-apa. Aku hanya sekedar bertanya saja. Soalnya, Yoshida itu mirip sekali dengan Pacarnya Ryu.


Hiro:


Kapan Kamu melihat Mereka berdua? Apakah Kamu pernah bertemu Ryu sebelumnya?


Aku:


Ya. Waktu itu Aku menginap di Rumah Yui. Aku bertemu dengan Kakaknya Yui, yaitu Ryu. Keesokan harinya, saat Aku pergi bersama Ayah dan Ibu ke pusat perbelanjaan, Aku melihat Ryu sedang makan dengan Yoshida. Jadi, kupikir Mereka pasti Pacaran.


Hiro:


Oh, begitu. Tidak heran.


Aku:


Maksudnya?


Cih! Lagi-lagi Dia mengabaikan pertanyaanku. Menyebalkan! Kenapa Dia selalu gantungin pertanyaan Aku, sih?


Hah! Lebih baik Aku tidur saja. Meskipun Aku masih sangat dongkol padanya. Aku pikir, Kita sudah mulai asyik, meskipun percakapan Kami hanya sebatas lewat ponsel.


Tapi, bisa jadi Dia punya alasan kenapa Dia tidak menjawab pertanyaan dariku. Itulah Rahasia Hiro. Sebisa mungkin Ia berusaha menutup rapat-rapat.


Ah, sungguh melelahkan! Akhirnya tiba di Rumah. Aku ingin sekali merebahkan diri di Kamar. Namun apa daya, Aku sudah terlanjur merebahkan diriku diatas Sofa Panjang di Ruang Tamu. Kami baru tiba dirumah pukul 8 malam, karena kondisi lalu lintas sangat padat dan macet. Semua itu terjadi karena kecelakaan antara Mobil dan Motor yang saling bertabrakan. Berhubung sudah mulai gelap, Kami mampir sebentar ke Restoran cepat saji untuk makan malam.


Keluarga Bibi Emiko mengantarkan Kami terlebih dulu, selanjutnya Mereka pulang ke Rumah. Untung saja, jarak Rumah Kami dan Bibi Emiko sekitar 2 km.


"Yumi, lebih baik Kamu tidur di Kamar!" ujar Ibu.


"Mau Ayah gendong?" celetuk Ayah.


"Ih, enggak mau! Memangnya Aku Anak Kecil?"


Ayah dan Ibu tertawa renyah menanggapi celotehku. Mereka akhirnya berpamitan padaku untuk lebih dulu naik keatas, ke Kamar Mereka.


Mataku terasa sangat berat, hingga akhirnya Aku tak sadar bahwa Aku sudah terlelap dalam mimpi indah. Ah! Liburan Musim Dingin yang menyenangkan. Aku bertemu Ryu dalam mimpiku. Ya Tuhan! Kami sedang berjalan sambil bergandengan tangan dibawah hujan salju yang begitu indah. Lalu, Kami berdiri di sebuah jembatan yang dibawahnya terdapat Danau kecil. Ryu memelukku dari belakang dan melekatkan wajahnya di pundakku seraya berkata 'Aishiteru' . Rasanya Aku tidak ingin bangun dari mimpi yang sangat indah ini.


"Yumi-chan!"


Suara ini? Seperti suara Yui? Di dalam mimpiku, Aku mencari-cari asal sumber suara tersebut. Namun, Aku justru tidak mendapati sosok Yui.


"Yumi-chan! Yumiii-chaaaannn! Bangun!"


Spontan Aku membuka mataku dan tersentak. Aku bangun dari tidurku, kemudian Aku duduk sembari menyipitkan mata.


"Yui-chan? Ternyata Kamu? Aku pikir, Aku sedang bermimpi."


Aku kembali merebahkan tubuhku dan memejamkan mata. Yui menepuk lembut kedua pipiku sembari memanggil-manggil namaku.


"Yui-chan! Tunggu sebentar lagi! Aku masih mengantuk."


"Yumi-chan, ini sudah jam 10. Ayo bangun! Kamu benar-benar pemalas, ya!"


Lagi-lagi Aku tersentak ketika Yui menyebutkan waktu saat ini. Yang jadi pertanyaan, kenapa Aku bisa tertidur di Sofa Ruang Tamu hingga pagi? Apa mungkin Ayah atau Ibu lupa membangunkanku?


Ibu melintas di hadapan Kami, sepertinya Ibu hendak keluar Rumah.


"Ibu, mau kemana? Kenapa Ibu tidak membangunkanku? Apakah Ayah sudah berangkat kerja?" ujarku dengan suara khas bangun tidur.


"Yumi, Ibu sudah beberapa kali membangunkanmu. Bahkan Ayahmu semalam sempat membangunkanmu untuk segera pindah ke Kamar. Tapi, Kamu tidak mau bangun juga. Ya sudah, terpaksa Kami membiarkanmu tidur di Sofa Ruang Tamu. Pagi ini pun Kami membangunkanmu lagi, tapi sepertinya Kamu masih sangat mengantuk. Jadi, Kami biarkan saja sampai Kamu bangun dengan sendirinya. Yui juga sudah cukup lama berada disini. Ia pun sudah beberapa kali berusaha membangunkanmu."


"Hmm—sepertinya Aku masih kelelahan. Oh ya, Ibu mau kemana?"


"Ibu mau ke Supermarket dulu. Ayahmu sudah berangkat kerja. Tolong jaga Rumah sebentar, ya? Kamu mau titip apa?"


"Tidak usah, Bu. Camilanku masih banyak di Kulkas. Ibu hati-hati, ya!"


"Iya. Ibu berangkat dulu, ya!"


Ibu bergegas keluar Rumah dan menyalakan mesin Motornya di halaman Rumah. Tak lama, suara deru Motor Ibu menghilang.


"Yui-chan, tumben sekali Kamu pagi-pagi ke Rumahku? Ada apa?" suaraku terdengar seperti Orang sedang mabuk.


"Yumi-chan, jaga sikapmu!" Yui berbisik padaku.


"Hah? Jaga sikap? Ini kan Rumahku. Kenapa Aku harus jaga sikap?" Aku masih mempertahankan suaraku yang seperti Orang mabuk.


"Kemarilah!" Aku mencondongkan tubuhku untuk lebih dekat pada Yui. Lalu, Yui berbisik perlahan padaku, "Berbaliklah! Ryu sedang ikut bersamaku. Dari tadi Dia memperhatikan tingkah lakumu, sejak Kamu masih tertidur."


Aku menarik nafas sembari membelalakkan mataku. Oh tidak! Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa Ryu ikut bersama Yui? Ya Tuhan! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Perlahan Aku membalikkan badanku untuk meyakinkan ucapan Yui.


"Ya Tuhan!" Aku terkejut melihat sosok tampan yang tengah duduk di Sofa bangku satu. Tatapannya mengarah padaku, lalu Ia memalingkan pandangan kearah ponsel yang sedang Ia pegang. Ternyata benar, Yui tidak berbohong. Aku pikir Ia hanya bercanda. Tanpa sadar, Aku mundur dan bersandar pada senderan Sofa yang sedang ku tempati. Aku meraba sekitar mulutku, apakah ada air liurku yang keluar? Ah, syukurlah! Aman!


"Yumi-chan? Kamu kenapa? Seperti melihat setan?"


"Kenapa Kamu tidak menghubungiku sebelumnya?"


"Aku sudah berkali-kali menghubungi ponselmu. Tapi tidak ada jawaban. Ya sudah, Aku meminta pada Ryu untuk mengantarkanku ke Rumahmu. Kebetulan sekali Dia juga bersedia mengantarku."


"O-oh, begitu, ya! Kalian mau minum apa?"


"Sudah, tidak perlu! Barusan Ibumu sudah membuatkan 2 cangkir teh untuk Kami. Jadi, tujuanku datang kesini untuk memberitahu sebuah kabar bagus."


"Kabar bagus? Apa itu?"


"Yumi-chan, barusan Aku sudah izin pada Ibumu!"


"Izin? Memangnya Kamu mau minta izin apa ke Ibuku?"


"Aku meminta izin untuk mengajakmu ke Hokkaido."


"Wah, Hokkaido?"


"Iya, Kita akan mengakhiri liburan musim dingin di Hokkaido."


"Memangnya, Kita mau apa jauh-jauh ke Hokkaido?"


"Tentu saja Kita akan melewati liburan musim dingin Kita dengan menghadiri Festival Sapporo. Aku jamin, Kamu pasti suka."


"Tapi, Aku tidak tahu, apakah Ayahku membolehkan Aku pergi?"


"Aku secara langsung sudah meminta izin pada Ibumu. Nanti, biar Ibumu yang akan membantu meminta izin pada Ayahmu. Jadi, Kamu tenang saja!" Yui tersenyum meyakinkan padaku.


"Lalu, dengan siapa saja Kita akan berangkat ke Hokkaido?"


"Aku, Kamu, Ryu, lalu Aku juga mengajak Hiro."


"Hiro? Tapi, apakah Dia bersedia ikut?"


"Dia bilang akan mempertimbangkannya."


"Hmmm—jadi, kapan Kita akan berangkat?"


"Minggu depan."