YUMIKO

YUMIKO
TROUBLE



Sudah satu bulan berlalu sejak kasus kematian Akane. Para Guru dan Semua Murid sepertinya sudah melupakan kejadian tersebut. Situasi pun sudah mulai tenang. Miu yang yang tadinya sempat berpihak kepada Hikari, kini telah meminta maaf sepenuhnya pada Kami, terutama kepada Seika. Miu mengakui jika Ia sudah termakan ucapan Hikari. Padahal, justru Hikari lah yang bersalah. Miu dengan tulus meminta maaf. Awalnya, Seika merasa berat menerima permintaan maaf dari Miu. Tapi, Aku dan Yui berusaha membujuk Seika untuk memaafkan kesalahan Miu atas ketidaktahuannya.


Dan kini, Miu pun diterima oleh Kami. Akhirnya, Kami pun menjalani masa-masa Sekolah dengan tenang dan bahagia bersama. Dan kabarnya, Hikari pun sudah pindah ke Saitama.


Namun, sepertinya kebahagiaan itu belum bisa sepenuhnya Kami dapatkan. Ya Tuhan! Mengapa masalah datang lagi silih berganti? Baru saja Kami mengecap masa-masa bahagia bersama. Kini sudah ada lagi masalah baru. Kupikir, semuanya sudah aman. Dan Kami pun bisa melewati masa Sekolah yang begitu indah. Tapi nyatanya....


Aku, Hiro dan Seika habis berkunjung ke Rumah Hiro. Awalnya, Hiro hanya mengajak Seika untuk berkunjung ke Rumahnya. Tapi, rupanya Seika merasa malu jika harus datang seorang diri. Seika terus membujukku agar Aku mau menemaninya.


Kebetulan, Yui dan Akira sudah janji akan pergi ke Toko Buku. Jadi, Mereka tidak bisa ikut bersama Kami.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ibu sudah menghubungiku sejak sore tadi. Sebelumnya, Aku sudah meminta izin pada Ibu bahwa Aku akan pergi ke Rumah Hiro. Ibu pun mengizinkanku dengan catatan 'Pulangnya jangan terlalu malam'.


"Bibi Emiko, Hiro, Kami pulang dulu, ya! Terima kasih atas jamuannya!" ujarku.


"Yumiko, ini sudah malam. Biar Hiro yang akan mengantar Kalian pulang!"


"Benar. Kenapa Kalian Para Wanita keras kepala semua!" sahut Hiro.


"Tidak usah. Kami tidak ingin merepotkan!" jawabku.


"Benar. Kebetulan Aku sudah menelepon Supir. Sebentar lagi Ia akan datang menjemput," ujar Seika berusaha membuat Bibi Emiko dan Hiro tidak khawatir.


"Ya. Lagipula, bukankah Kamu harus memilih salah satu diantara Kami untuk Kamu antar pulang?" selorohku.


"Tidak masalah jika Aku mengantar Kalian berdua pulang!" jawab Hiro sekenanya.


"Bagaimana bisa? Motormu saja tidak mungkin untuk membonceng Kami berdua. Sudahlah Hiro, Kau tidak perlu repot-repot. Aku akan pulang bersama Seika."


"Hiro, Kamu tak perlu khawatir. Aku juga akan meminta Supirku untuk mengantar Yumiko pulang dengan selamat."


"Baiklah. Aku akan mengantar Kalian sampai jalan utama."


"Tidak perlu. Kami berdua akan jalan berdua. Kami tidak ingin merepotkanmu. Benar kan, Yumiko?"


"Ah, iya."


Akhirnya, Hiro pun mengalah Kami. Lalu, Hiro hanya bisa mengantar Kami hingga depan Gerbang saja. Dan, Kami pun berpamitan padanya.


"Seika, kenapa jalan ini terasa sepi? Aneh sekali."


"Ya. Aku juga merasakan hal yang sama. Entah kenapa perasaanku tidak enak."


Lalu, tiba-tiba saja Seika mendapat telepon dari Supirnya. Supir Seika mengatakan bahwa akan terlambat menjemput karena lalu lintas sangat padat, karena baru saja terjadi kecelakaan.


"Yumiko, bagaimana ini? Ini sudah mulai larut malam. Aku khawatir Ibuku akan marah padaku."


"Seika, sebaiknya Kamu hubungi Hiro saja. Katakan saja kalau Supirmu tidak bisa jemput. Lalu, Hiro akan mengantarmu pulang."


"Lalu, bagaimana denganmu? Lebih baik Kamu hubungi Kak Ryu juga, agar Ia bisa menjemputmu disini."


"Tidak perlu. Kak Ryu hari ini sedang sibuk. Lagipula, cukup jauh jika Ia harus menjemputku kemari."


"Ya sudah kalau begitu, Kita sewa taksi saja."


"Jangan! Rumah Kita berlawanan arah. Argonya pasti mahal."


"Kamu enggak perlu khawatir. Aku yang akan membayarnya. Pertama-tama, Aku akan mengantarmu pulang. Dan selanjutnya ke Rumahku."


"Seika, apakah tidak terlalu merepotkanmu?"


"Sudah, tenang saja! Ini sudah mulai larut malam. Besok Kita harus pergi ke Sekolah. Lagipula, Aku sudah merepotkanmu dengan memaksamu ikut ke Rumah Hiro."


"Tidak masalah. Aku memang sekalian ingin berkunjung ke Rumah Bibi Emiko. Selama ini, Aku memang belum pernah berkunjung ke Rumahnya."


"Ya sudah kalau begitu. Biar impas, bagaimana kalau Kita cari Taksi sekarang?" ujar Seika sembari menarik tanganku.


"Oke!"


Kami berdua menuju Jalan Utama untuk mendapatkan Taksi. Perumahan tempat Hiro tinggal cukup sepi. Sangat jarang sekali Orang-orang yang lewat. Maka dari itu, Kami harus setengah berlari agar segera tiba di Jalan Utama.


"Seika, perasaanku tiba-tiba enggak enak."


"Ya, Aku juga!"


"Siapa Kalian?" Aku berusaha memberanikan diri.


"Mana yang namanya Seika?" tanya salah satu dari Mereka.


Kami pun saling berpandangan. Aku memberi kode pada Seika untuk tidak mengaku.


"Cepat katakan! Mana dari Kalian yang bernama Seika?" Pria itu bertanya dengan suara lantang.


"Baiklah, kalau tidak ada yang mau mengaku! Aku akan menggiling Kalian berdua!" imbuhnya.


"Tunggu! Ada urusan apa Kalian mencari Seika? Lagipula, darimana Kalian bisa tahu Kalau salah satu diantara Kami ada yang bernama Seika? sedangkan, Kalian sendiri tidak tahu wajah Seika sampai Kalian bertanya yang mana Orangnya?" cetusku.


"Diam! Apa urusanmu jika ternyata Aku bisa menemukan keberadaan Orang yang yang bernama Seika? Pokoknya Aku harus bertemu dengan Seika. Aku akan membuat perhitungan dengannya!"


"Perhitungan?"


"Ya, Dia sudah membunuh Adikku, Akane. Berhubung Isamu sudah dipenjara dan Hikari sudah pergi. Kini, Aku hanya tinggal membuat perhitungan dengan Perempuan yang bernama Seika!"


"Tapi, Seika tidak terlibat dalam kasus kematian Akane."


"Meskipun Dia tidak terlibat, tapi saat Adikku masih hidup, Seika selalu merundungnya. Semua tercantum dalam buku harian Akane."


"Tidak. Seika tidak bersalah."


"Sekali salah, tetap salah. Sekali lagi Aku bertanya pada Kalian, mana dari Kaliam yang bernama Seika? Kalau tidak mengaku juga, Aku tidak segan-segan menghabisi Kalian berdua."


Seika terlihat sangat ketakutan. Terlihat sangat jelas jika tubuhnya sangat gemetar. Mata Seika berkaca-kaca. Ia berusaha menahan tangisnya. Seika hendak mengaku pada Pria tersebut. Tapi, lagi-lagi Aku memberi kode padanya untuk tidak mengaku.


"Disini tidak ada yang bernama Seika!" jawabku lantang.


"Bohong! Aku tahu, salah satu dari Kalian ada yang bernama Seika!"


Aneh, bagaimana bisa Pria ini mengetahui keberadaan Kami? Sedari tadi Aku terus memutar otak. Mereka tidak tahu wajah Seika, tapi Mereka bisa tahu bahwa diantara Kami ada yang bernama Seika. Tidak mungkin jika Mereka menemui setiap Orang secara acak hanya untuk mencari seseorang yang bernama Seika. Aneh sekali! Aku yakin, pasti ada seseorang yang sudah membuntuti Kami.


"Aku, Seika! Kalian mau apa?" Seika bersimpuh dihadapan Mereka bertiga. Seika begitu pasrah dan menangis sesenggukan.


"Tidak! Seika!" teriakku.


Ya Tuhan! Kenapa sama sekali tidak ada Orang yang melintas di jalan ini? Tolong Kami! Kami berdua sudah terpojok.


"Bagus! Akhirnya Kamu mengaku juga! Kalau Kamu ingin kumaafkan, sekarang juga Kamu harus bersujud di Kaki Kami!"


"Tidak! Seika, jangan lakukan! Dan Kalian, bisa-bisanya Kalian semua Laki-laki melawan satu Orang Perempuan yang lemah!"


"Yumiko, tidak apa-apa. Aku tidak ingin melibatkanmu lagi!"


"Seika! Jangan lakukan!"


"Teman-teman, tutup mulut Gadis itu! Dari tadi Dia yang paling lantang melawan ucapanku!" ujar Pria yang mengaku sebagai Kakak dari Akane.


Kedua temannya menahan tubuhku. Aku sama sekali tidak bisa bergerak. Lalu, Kakak dari Akane menghampiriku dan dengan beraninya memegang dagu ku.


"Menarik!" ucapnya sinis.


"Apa maumu? Lepaskan Kami!" Aku berusaha terus berontak.


"Kalau Kamu ingin Aku melepaskan Kalian, boleh saja! Tapi, ada syaratnya!"


"Katakan! Asal jangan membuat Seika bersujud pada Kalian!"


"Baiklah! Kamu boleh berdiri sekarang!" Pria itu menyuruh Seika untuk berdiri. Dan Seika pun menuruti ucapannya.


"Perkenalkan, namaku Yuji."


Cih! Bisa-bisanya Dia memperkenalkan diri di saat situasi seperti ini?


"Oh ya, barusan Aku mendengar Dia (Seika) memanggilmu, Yumiko. Apakah itu namamu?"


"Ya. Lalu, Kau mau apa?"


"Kamu ini menarik! Jadilah pacarku!"