
Rasanya bagaikan mimpi. Sambil berjalan memasuki Gerbang Sekolah, Aku memandang takjub bangunan yang ada dihadapanku.
"Sstt—siapa Gadis itu?
"Apakah Dia Siswi baru? Aku baru pertama kali melihatnya!"
"Wah, cantik sekali! Coba kenalan dengannya!"
"Sepertinya Dia bukan Orang Jepang. Wajahnya terlihat seperti Orang Asia Tenggara."
Tentu saja kalimat itu samar-samar terdengar karena Mereka saling berbisik kencang. Tapi, syukurlah! Untuk saat ini, tidak ada komentar buruk tentangku. Dan, semoga saja seterusnya seperti itu. Aku ingin memulai hidup baru disini. Aku ingin tenang.
Baiklah, pertama-tama, Aku akan mendaftarkan diri ke Ruang Guru. Tapi, dengan Sekolah sebesar ini, kira-kira dimana Ruang Gurunya?
Aku bertemu dengan seorang Siswi yang sangat Cantik, selain itu, Dia juga begitu Imut dan terlihat ceria. Mungkin sebaiknya Aku bertanya padanya.
"Permisi!"
"Ya?"
"Apakah Kamu tahu dimana Ruang Guru?"
"Kamu berjalan saja kearah kanan, Ruangannya di sebelah tangga."
"Baik, terima kasih."
"Ya!"
Sungguh Gadis yang ramah. Aku sangat menyukai kepribadiannya. Semoga Ia sekelas denganku.
Setelah mendaftar, Aku diterima di kelas 2-3, dengan Wali Kelas bernama Mitsuko Ishikawa. Aku diberi kunci Loker dan Uwabaki ( alas kaki untuk dipakai khusus di dalam gedung Sekolah). Sebelum masuk kelas, Aku diminta untuk mengganti alas kaki terlebih dulu, dan sepatu yang kupakai saat ke Sekolah tadi disimpan ke dalam Loker.
"Selamat pagi!" seorang Siswa menyapaku saat Aku sedang menutup pintu Loker.
"Selamat pagi!" Aku membalas sapaannya.
Siswa itu menyapaku dengan hangat. Baru kali ini Aku melihat langsung wajah Laki-laki Jepang. Kulit wajah Mereka begitu mulus dan bermata sipit. Aku merasa seakan berada dalam sebuah Film Romansa Jepang.
Ah, apa yang Aku pikirkan? Ini adalah Dunia nyata. Bukan skenario yang dibuat oleh seorang Penulis Cerita.
"Apakah Kamu Siswi baru di Sekolah ini?"
"Ya, betul."
"Salam kenal. Dan, Sampai jumpa lagi!"
Aneh, baru saja mengucapkan Salam Kenal, tapi langsung mengatakan Sampai Jumpa. Apakah semuanya bersikap seperti Dia? Hmm—entahlah!
Bu Guru Mitsuko memberitahuku bahwa kelas 2-3 berada di lantai 2. Sekolah mulai tampak sepi, sepertinya Para Murid sudah masuk kelas meskipun Kegiatan Belajar belum dimulai.
"Yumiko, Kamu masih disini?" Aku bertemu Bu Guru Mitsuko saat hendak menaiki tangga.
"Ya, Bu Guru Mitsuko."
"Baiklah, Mari ikut Saya. Kita akan ke Kelas sama-sama."
Aku mengikuti langkah kaki Bu Guru Mitsuko. Kuperhatikan setiap langkahnya yang begitu anggun. Bu Guru Mitsuko terlihat masih muda. Mungkin usianya belum kepala 3, dan Wajahnya pun sangat cantik.
Kami tiba di depan kelas 2-3. Beberapa Siswa dan Siswi masih sibuk berkumpul dengan kelompok Mereka masing-masing. Saat Bu Guru Mitsuko memasuki kelas, Mereka semua sibuk berpencar dan duduk manis dibangku masing-masing.
"Selamat pagi semua!"
"Selamat pagi, Bu Guru Mitsuko!"
"Anak-anak, hari ini kelas Kita kedatangan Murid baru."
Seisi kelas menjadi riuh, beberapa Siswa dan Siswi memandangku dengan tatapan kagum.
"Yumiko, silahkan perkenalkan diri Kamu!"
"Baik. Selamat pagi semua, nama Saya Yumiko Matsushima. Saya Siswi pindahan dari Indonesia."
Ya, Aku resmi memakai nama Keluarga Ayahku. Namaku menjadi Yumiko Matsushima.
"Wow, Indonesia?"
Suasana kelas kembali riuh, beberapa dari Mereka berdecak kagum ketika mengetahui dari Negara mana Aku berasal.
"Kenapa namamu Yumiko? Bukankah Kamu berasal dari Indonesia?" tanya salah satu dari Mereka.
"Ayah Saya asli Jepang. Ibu Saya dari Indonesia."
"Baiklah, kalau begitu. Yumiko, Kamu duduk di sebelah Yui!" Bu Guru Mitsuko menunjuk ke bangku kosong yang berada disamping seorang Siswi.
"Hai!" seorang Siswi disebelahku menyapa.
"Hai!" Aku pun tersenyum padanya.
Tak kuduga, Dia adalah Gadis Imut yang memberitahuku letak Ruang Guru. Gadis itu mengajakku berkenalan lebih dulu. Akhirnya, Doaku terkabul, ternyata Aku sekelas dengannya.
"Aku, Yui Yamazaki!"
"Hai, salam kenal, Yui!"
Aku dan Yui saling melempar senyuman. Percakapan Kami terputus karena Bu Guru Mitsuko sudah memulai pelajaran.
Jam istirahat pun tiba, Yui menghampiri bangku ku. Ia mengajakku untuk makan bersama di Kantin, dan Aku mengiyakan ajakannya. Dalam perjalanan ke Kantin, banyak pasang mata terus memandang ke arahku. Setiap kubaca raut wajah Mereka, terlihat dengan jelas jika Mereka memandangku dengan tatapan kagum. Bukan Aku bermaksud percaya diri. Tapi, kehidupan Sekolahku disini berbanding terbalik dengan kehidupan sekolah di Indonesia. Di Sekolah Jepang, Merek melihatku seolah layaknya Primadona Sekolah.
"Yumiko, bagaimana Sekolahmu di Indonesia? Pasti seru!"
"Ah, tidak! Tidak terlalu menyenangkan."
"Oh ya? Padahal Kamu itu cantik sekali. Aku saja yang Perempuan kagum dengan kecantikan Kamu. Menurutku, Kamu itu sangat sempurna."
"Kamu bisa saja. Justru Aku yang kagum sama Kamu. Kamu itu terlihat sangat ceria, ramah dan juga imut sekali."
"Wah, terima kasih pujiannya!"
Kantin sangat ramai oleh Para Siswa dan Siswi. Mereka sibuk mengantri untuk mengambil makanan.
"Yumiko, ikut aku!"
Yui mengajakku masuk ke barisan antrian yang cukup panjang. Cukup lama Kami menunggu giliran. Beberapa menit kemudian, akhirnya Kami mendapatkan makanan. Kami mencari tempat duduk yang masih kosong.
"Yumiko, disana!"
Yui menunjuk kearah bangku kosong yang masih kosong. Yui begitu bersemangat mengajakku untuk duduk di tempat itu. Dan Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang.
Saat langkah kaki Kami hampir tiba di bangku tersebut, tiba-tiba Kami ditahan oleh 3 Orang Siswi.
"Hei, Kalian tidak boleh duduk disini!" ujar salah satu dari Mereka.
Seisi Kantin melihat kearah Kami, karena volume suaranya begitu tinggi. Kulihat kearah Yui, Ia sangat gugup ketika 3 Orang Siswi tersebut mendekat kearahnya. Bukan Aku tak ingin membantu Yui, tapi Aku hanya ingin melihat dulu sejauh mana sikap Mereka terhadap Yui. Aku sering mengalami kekerasan di Sekolah. Maka dari itu, Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi di Sekolahku yang sekarang. Apalagi, kekerasan itu terjadi pada Orang terdekatku.
"Hei, Yui, Kamu berani melawan Saya?"
"Ti-tidak. Saya tidak berani!" Yui begitu ketakutan. Aku tak tega melihat Yui ketakutan seperti itu.
"Bagus! Kalau begitu, berikan tempat ini pada Kami. Mengerti?"
"Baik, silahkan!"
"Oh ya, bagaimana dengan ancamanku yang kemarin? Apakah Kamu bisa untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Hiro?"
"I-itu—"
Brak!
"Saya bertanya, bisa atau tidak? Apa susahnya tinggal menjauhinya. Dari awal, Kamu sudah cari gara-gara sama Kita. Kamu boleh dekat dengan Laki-laki manapun di Sekolah ini. Asal jangan dekat dengan Hiro atau Akira. Mengerti?"
"I-iya, Aku mengerti!"
"Awas kalau Kamu sampai melanggar janji. Kamu akan tahu akibatnya! Sekarang, enyahlah dari sini!" Siswi itu mendorong Yui hingga mundur kebelakang. Untung saja Aku bisa menahan tubuh Yui meskipun kedua tanganku sedang memegang sebuah nampan.
"Yui, Kamu tidak apa-apa?" tanyaku.
"Tidak! Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir. Mari, Kita cari tempat yang lain!"
Sebenarnya, apa salah Yui sehingga Ia diperlakukan seenaknya seperti barusan? Jika yang dimaksud karena Yui dekat salah satu Siswa yang Mereka Idolakan, mengapa sasaran Mereka harus pada Yui? Apalagi, Mereka hanya berani bermain keroyokan.
Aku taksir, sepertinya yang tadi berkata kasar pada Yui adalah Ketua dari Genk Mereka.
Ah, Aku tak bisa tinggal diam! Aku tidak tega melihat Yui diperlakukan kasar seperti itu. Kelak, Aku akan meminta maaf pada Ayah karena tidak bisa memegang omonganku, yang berjanji tidak akan ada apa-apa selama Aku bersekolah disini.
"Yui, tunggu disini!"
"Ka-kamu mau kemana?" Aku mengabaikan pertanyaan Yui.
Aku meletakkan nampan makanku di sembarang Meja. Lalu, Aku menghampiri Mereka yang sedang tertawa karena merasa menang. Cih! Menyebalkan!
Brak! Aku memukul meja dihadapan Mereka. Semua orang yang mendengar, merasa sangat terkejut dan melihat ke arahku.
"Hei, Kalian! Kenapa kelakuan Kalian seperti sampah? Sungguh menyebalkan!"
"Kamu! Berani sama Kami?"