
"Yumiko, sebenarnya Aku—"
Apa, Ryu? Cepat katakan! Sebenarnya apa? Apakah Kamu mau menyatakan cinta padaku? Duh, jantungku berdebar semakin kencang.
"Sebenarnya A-Aku—"
Cepatlah! Aku sudah tidak sabar lagi! Kenapa Kamu harus kaku seperti itu, sih!
"Yumi-chaaaaannn!" Yui teriak memanggil namaku sembari berlari menghampiriku.
Astaga! Yuuiiiiii—Kamu sepertinya tidak lihat sikon, ya? Hah! Udah berdebar-debar nunggu, malah akhirnya Ryu mengurungkan niatnya.
"Oh, Yui-chan. Kamu dari mana saja?,
"Kami habis keliling Taman."
"Lalu, Hiro dan Seika kemana?"
"Entahlah, Kami berpencar."
"Hmmm—oh ya, barusan Kak Ryu mau bilang apa?" Aku pura-pura bersikap polos. Padahal, Aku ingin sekali tahu apa yang akan Ia katakan. Dengan terpaksa, Aku memancingnya meskipun Yui dan Akira sedang berada diantara Kami.
"Ah, tidak jadi. Aku lupa dengan apa yang ingin Aku katakan."
Yui melirik kearah Kami berdua seraya menahan tawanya. Aku tahu, pasti Yui sudah tahu maksud Kakaknya. Dari awal, Yui ingin Ryu ikut berlibur bersama Keluargaku. Setelah itu, Yui seolah terus mendorongku untuk lebih dekat dengan Ryu. Tapi, kenapa sekarang Yui malah jadi pengganggu? Hmmm—sudahlah, mungkin Yui memang tidak tahu situasi Kami saat ini.
"Yumi-chan, Aku lupa, ternyata Aku harus beli camilan. Apakah Kamu mau ikut atau menitip sesuatu?"
"Tidak usah. Aku sudah punya minuman. Aku hanya haus saja."
"O-oh begitu, ya! Baiklah, Aku dan Akira akan pergi beli camilan. Ayo, Akira!" sembari memegang tangan Akira.
Yui, selalu saja menarik tangan orang lain. Eh, tunggu! Aku pikir Dia seperti itu hanya padaku.
"Kak Ryu!"
"Ya, ada apa?"
"Apakah Yui punya kebiasaan menarik tangan Orang lain kalau ingin mengajak Orang itu pergi?"
"Tidak. Dia tidak pernah seperti itu padaku. Hanya saja, Dia memiliki kebiasaan seperti itu jika Ia sudah menganggap Orang itu sebagai Sahabat atau mungkin Pacar."
"Benarkah?"
"Setahuku begitu. Memangnya ada apa? Bukankah Dia juga selalu seperti itu padamu?"
"Iya juga. Tapi, Aku sedikit heran saja."
"Heran kenapa?"
"Tidak apa-apa. Lupakan saja. Lalu, kenapa Dia tidak pernah seperti itu pada Kak Ryu?"
"Entahlah. Mungkin Aku bukan Orang yang dekat dengan Adikku sendiri."
"Lho, bukankah Kalian terlihat cukup akrab, ya?"
"Kalau itu, Kami baru akrab akhir-akhir ini saja. Sebelumnya, Kami seperti Orang lain yang hanya memiliki status sebagai Saudara Kandung."
"Jadi begitu, ya! Padahal, Yui itu Anak yang sangat ceria. Hanya saja, Ia mengalami masa-masa yang cukup sulit di Sekolah. Apakah Kak Ryu tahu?"
"Yui mengalami masa-masa sulit? Aku tidak tahu sama sekali. Memangnya, ada seseorang yang sering menyakiti Yui di Sekolah?"
Hmm— enggak mungkin juga kan kalau Aku bilang itu semua ulahnya Seika? Lebih baik kualihkan saja.
"Itulah mengapa bersaudara itu harus dekat. Saling membantu, saling mengerti, dan saling memahami. Aku saja iri pada Yui karena memiliki Saudara. Aku adalah Anak Tunggal. Saat Aku masih tinggal di Indonesia, Aku hanya memiliki Ibu. Tapi, tepat dihari Ulang Tahunku, Ibu meninggal dunia. Di sekolah lamaku pun, Aku mengalami masa-masa yang sangat sulit. Masa-masa dimana Aku tidak Sudi mengenangnya."
"Yumiko, Aku baru tahu, ternyata dulu Kamu mengalami masa-masa sulit. Tapi Aku yakin, kalau Kamu adalah Gadis yang kuat. Buktinya, Kamu bisa melewati itu semua."
"Ya. Aku terpaksa harus kuat demi Ibuku. Aku hanya tidak ingin membebani pikiran Ibu."
"Tunggu! Bukankah Bibi Aiko adalah Ibumu?"
"Bibi Aiko adalah Ibu Tiriku. Tapi, Ayah Junichi memang Ayah Kandungku. Ibuku asli Indonesia, Aku lahir dan dibesarkan disana. Hubungan Ayah dan Ibu Kandungku memang cukup rumit. Intinya, diantara Mereka itu tidak pernah ada Pernikahan ataupun Perceraian. Maka dari itu, di Sekolahku yang dulu, Mereka selalu menyebutku 'Anak Haram' karena Aku tidak memiliki Ayah."
"Astaga! Tega sekali Mereka berkata seperti itu."
"Ya, begitulah. Namanya juga Manusia. Terkadang ada yang merasa dirinya sangat sempurna."
"Yumiko, kalau Kamu tidak keberatan, Kamu boleh berbagi cerita padaku."
Entah kenapa Aku merasa sangat nyaman menceritakan ini semua pada Ryu. Aku begitu percaya padanya. Aku menceritakan semua tentang apa yang sudah kualami saat masih di Indonesia. Mulai dari Diana, Darren hingga akhirnya bagaimana Aku bisa sampai ke Jepang. Ryu menjadi pendengar yang baik. Terlihat dari raut wajahnya, Ia begitu empati pada kisahku.
"Yumiko, Aku kagum padamu. Kamu memang benar-benar Gadis yang sangat kuat. Suatu hari nanti, Kamu akan menemukan kebahagiaanmu. Percayalah!"
"Ya. Kalau begitu, mari Kita menyusul Yui dan yang lainnya."
"Oke!"
Ryu berjalan 3 jengkal di depanku. Jika kuperhatikan dengan seksama, Punggung Ryu terlihat sangat indah. Aku ingin sekali memeluk punggung itu dari belakang. Ih, apa sih? Kenapa Aku bisa berpikiran seperti ini? Ayolah Yumiko, Kamu tidak boleh berandai-andai.
Hari ke 3
Hari ini Kami akan mengunjungi Istana Osaka yang terletak di tengah Kota dan juga Dotonbori. Kami menyewa 2 buah Mobil. Karena, hari ini semuanya akan ikut, tanpa terkecuali. Perjalanan ke tempat tujuan memakan waktu sekitar 30 menit.
Pertama-tama, Kami mengunjungi Istana Osaka. Dalam sejarahnya, Istana Osaka dibangun pada tahun 1583 oleh Hideyoshi Toyotomi seorang Pemersatu Jepang. Namun, saat ini Istana Osaka sudah direnovasi.
Terakhir, dan yang paling ditunggu-tunggu pada Wisata hari ini adalah mengunjungi Dotonbori. Kita juga akan melewati area yang bernama Shinsaibashi yang merupakan area perbelanjaan dan spot belanja yang murah di Osaka, disana banyak terdapat Restoran dan Toko-toko. Kami yang masih muda, memilih berpencar dengan Para Orangtua. Para Orangtua memilih untuk mengunjungi Shinsaibashi. Sedangkan Kami yang masih muda, lebih memilih untuk mengunjungi Amerikamura, yang merupakan pusat perbelanjaan bagi anak muda. Seika memborong banyak Pakaian. Dan pastinya, setiap apa yang hendak Ia beli, selalu saja meminta saran dari Hiro. Sebenarnya, Mereka itu sudah pacaran belum, sih?
Ponselku bergetar, ada panggilan masuk dari Ibu. Aku menjawab panggilan dari Ibu. Ibu menanyakan apakah Kami akan makan malam bersama Mereka atau tidak? Kami kompak menjawab kalau Kami akan makan di Restoran Pasta. Sedangkan Para Orangtua inginnya pergi makan di Restoran Sushi.
Tak terasa wisata hari ini berakhir dengan keseruan. Aku dan Yui sudah mulai dekat dengan Seika meskipun sikap Seika masih malu-malu untuk bersikap ramah pada Kami. Sebenarnya, Seika Anak yang baik. Hanya saja, Dia sangat manja dan segala inginnya harus dituruti.
Hari ke 4
Para Orangtua sudah kelelahan pasca jalan-jalan kemarin. Tapi, tidak berlaku bagi Kami yang masih muda. Para Orangtua memilih untuk Istirahat di Villa. Sedangkan Kami tetap lanjut berwisata. Hari ini, Kami akan ke Universal Studio Jepang. Ya Tuhan! mungkin Aku memang sedikit kampungan. Aku tak menyangka bisa ke Universal Studio, di Jepang pula. Biasanya, saat Aku masih di Indonesia, Aku hanya melihat postingan di Media Sosial beberapa teman Sekolahku. Mereka memposting foto Mereka sedang berada di Universal Studio Singapura. Akhirnya, salah satu impianku tercapai. Aku bisa ke Universal Studio.
Untuk hari ini, Kami khususkan hanya ke Universal Studio saja. Karena, meskipun hanya satu tujuan, pasti Kami merasa sangat kelelahan. Kami harus menyisakan stamina Kami untuk ke tempat wisata terakhir Kami esok hari.
Kami berjalan seperti layaknya seorang pasangan. Aku dan Ryu, Yui dan Akira, Seika dan Hiro. Setelah kuperhatikan, semenjak Hiro lebih intens bersama Seika, Ia sudah mulai terlihat lebih sering tertawa. Dan Yui pun lebih terlihat lepas jika bersama Akira.
Hari ke 5
Karena sudah beristirahat selama satu hari, akhirnya Para Orangtua ikut bersama Kami untuk menikmati wisata hari terakhir, yaitu ke Aquarium Kaiyukan. Aquarium ini merupakan Aquarium terbesar di Dunia. Di Aquarium ini terdapat sekitar 30.000 Binatang laut dengan 630 spesies. Salah satu yang yang menarik perhatianku adalah Crabzilla, yaitu sejenis Kepiting besar seperti laba-laba. Wow! Fantastis! Lagi-lagi Aku seperti Anak Kampungan. Tapi, memang seperti itulah kenyataannya. Bunda tidak pernah mengajakku Tamasya ke tempat mahal. Karena, Aku tahu kondisi keuangan Bunda bagaimana? Jadi, Aku sangat memahami kesulitan Bunda saat itu. Untuk kebutuhan sehari-hari saja Kami lebih sering berhemat. Maka dari itu, setidaknya Aku tidak ingin menambah beban Bunda.
"Yumiko, Kami menangis?" Ryu bertanya kepadaku.
"Ah, masa? Entahlah, Aku tiba-tiba saja merasa terharu."
"Terharu? kenapa?"
"Tiba-tiba saja Aku merindukan Ibuku. Dulu, Aku ingin sekali ke tempat seperti ini. Di Indonesia namanya adalah SeaWorld, lokasinya berada di Jakarta. Meskipun Aku tinggal di Jakarta, tapi Aku tak pernah bisa kesana."
"Kenapa? Bukankah lebih mudah untukmu?"
"Ya, Kamu benar. Tapi, tidak untukku dan Ibuku. Kami—ah, sepertinya Aku tidak bisa mengatakan hal ini."
"Tidak masalah. Sekarang Kamu jangan sedih lagi. Setelah ini, Aku akan mengajakmu ke Bianglala Tempozan."
"Bianglala Tempozan? Dimana itu?"
"Tepat sebelah Aquarium Kaiyukan."
"Lalu, bagaimana dengan yang lain?"
"Tidak perlu ajak Mereka. Jika Mereka mau kesana, Mereka bisa pergi atas kemauan sendiri. Bukan karena Kita yang mengajak."
"Ah, begitu. Baiklah."
Setelah Kami puas melihat-lihat Binatang Laut. Akhirnya Ryu mengajakku ke Bianglala Tempozan. Yui, Seika, Akira dan Hiro sengaja tidak Kami ajak. Karena dari awal Kami sudah berpencar. Dan, tibalah Kami di Bianglala Tempozan.
"Yumiko, Ayo naik!"
"Iya."
Sebenarnya, Aku sedikit gugup saat menaiki Bianglala ini. Bianglala ini sangat tinggi. Aku dan Ryu duduk berseberangan agar tetap seimbang. Mungkin Bianglala Tempozan lebih tinggi dari Bianglala yang ada di Dunia Fantasi. Itupun Aku hanya menebak saja. Karena, Aku memang belum pernah ke Dunia Fantasi. Aku hanya pernah naik Bianglala yang ada di Pasar Malam. Dan itu pun saat Aku masih kelas 3 SD.
"Wow, pemandangan Osaka dari atas sini sangat menakjubkan."
"Bagaimana? Apakah Kamu suka?"
"Ya, Aku suka."
"Lalu, bagaimana denganku? Apakah Kamu juga suka padaku?"
Deg! Barusan Ryu bilang apa? Dia bertanya apakah Aku suka padanya? Ya Tuhan! Tolong jangan membuat Jantungku berdebar seperti ini lagi.
"O-oh, itu. Mu-mungkin," jawabku ragu-ragu.
"Kenapa harus mungkin?"
Speechless. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Lebih baik Aku memilih diam. Jujur saja, jantungku sudah semakin tak karuan.
"Yumiko, bagaimana jika Aku menyukaimu? Maukah Kamu menjadi Kekasihku?"