
HOTEL SAPPORO
"Permisi, memangnya sudah tidak ada Kamar lagi?" ujar Seika pada seorang Resepsionis.
"Maaf, Nona. Kamar sudah terisi penuh oleh Pengunjung yang lain."
"Tapi, Aku tidak mau satu Kamar dengan Mereka (Seika menunjuk kearahku dan juga Yui."
"Maaf, berhubung sedang banyak Pengunjung, jadi Kamar yang tersedia sesuai dengan pesanan yang sudah di reservasi."
"Cih, menyebalkan!" umpat Seika.
Dan akhirnya, Seika terpaksa memilih untuk satu kamar dengan Aku dan Yui. Suruh siapa juga Dia harus ikut dengan Kami? Toh, Dia sendiri kan yang mau. Dasar Tamu tak diundang. Bisanya hanya merusak suasana.
Kami semua berjalan menuju Kamar masing-masing, yang letaknya berada di ujung koridor. Kamar untuk grup Perempuan dan Laki-laki terpisah dan saling berseberangan. Seika berjalan lebih dulu, tepat di depanku dan Yui. Namun, langkah Seika terasa sangat lambat. Ia berjalan seolah dirinya seorang Peragawati sambil menarik Tas Koper besar miliknya. Kami semua yang berada dibelakang harus menyesuaikan langkah kakinya.
"Hei, Seika! Kamu ini siput atau bukan? Kenapa jalanmu lambat sekali? Kamu tidak lihat Kami semua dibelakang harus berjalan menyesuaikan langkahmu? Bisa cepat, tidak?" celetukku
Seika menghentikan langkahnya. Ia berbalik arah dan menghampiriku dengan wajah geramnya. Seika menatapku dengan sinis. Namun, Aku berusaha menatap balik padanya. Aku tidak akan mau kalah darinya.
"Hei, siapa yang Kamu bilang siput?" cetusnya.
"Kamu."
"Apakah Kamu enggak tahu kalau ini sudah bagian dari Tata Krama cara berjalan seorang Wanita Kelas Atas?"
"Enggak tahu! Terus, kenapa?" masih menatap Seika dengan tatapan sinis.
"Oh, iya! Harap maklum saja, soalnya Aku sedang bicara sama Anak Kampung!" ujarnya.
"Ehem! Oke, Gue Anak Kampung, terus Loe apa? Orang Udik? Segala bawa koper gede-gede, emangnya situ mau mudik? Kita aja cuma bawa handbag doang! Dih, gaya sok kelas atas tapi norak. Dasar Orang Kaya Baru. Mending Loe ke laut aja deh!" lagi-lagi Aku menggunakan Bahasa Indonesia.
Seika semakin geram padaku. Ia tampaknya tahu kalau Aku sedang mengumpatnya dengan Bahasa Indonesia.
"Kau! Berhenti meracau menggunakan Bahasamu. Beraninya menghina pakai Bahasa lain. Dasar Pengecut!" Aku tak menyangka, Seika mendorong tubuhku hingga Aku terpental ke belakang.
"Yumi-chan!"
Yui hendak menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Tapi, ternyata sudah ada seseorang yang menopang tubuhku dari belakang.
"Kau tidak apa-apa?"
Suara ini? Aku menoleh kebelakang untuk memastikan seseorang yang telah menopang tubuhku. Ryu? Ternyata Dia yang telah menolongku. Astaga! Sungguh memalukan. Aku segera melepaskan diri dari pegangannya.
"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa. Terima kasih."
"Seika! Kenapa Kamu kasar sekali pada Yumi?" ujar Yui.
"Salah sendiri. Kenapa cari masalah denganku?"
"Sudah, cukup! Aku enggak apa-apa. Seika, Awas saja kalau sekali lagi Kamu kasar padaku!"
"Cih! Coba saja kalau Kamu mengancam. Aku tidak takut."
Seika berbalik arah dan melangkahkan kaki dengan cepat. Aku masih fokus memikirkan kejadian tadi, saat Ryu menolongku. Ah! Aku benar-benar malu.
Akhirnya, Kami tiba di Kamar Hotel tempat Kami menginap. Ah! Aku ingin sekali merebahkan tubuhku diatas ranjang.
Bruk! Dan, tubuhku mendarat dengan indah diatas kasur yang sangat nyaman.
"Wah! Lelah sekali, Aku jadi mengantuk."
"Hei, sejak kapan ranjang itu boleh Kau tiduri?" ujar Seika dengan ketus.
"Yui, tolong katakan pada Anak itu, badanku terasa sakit karena baru saja didorong keras olehnya."
Yui menahan tawa mendengar selorohku. Seika terlihat sangat kesal dan ingin membalas ucapanku. Tapi, sepertinya Dia sudah kehabisan kata-kata. Akhirnya, Dia mengambil pakaian ganti dan peralatan mandinya. Ia segera menuju ke Kamar Mandi untuk membersihkan diri.
Kamar yang Yui pesan adalah Kamar Double Bed. Mulanya, Kamar ini hanya Kami berdua yang menempati. Namun siapa sangka, ternyata Akira dan Seika juga ikut bersama Kami. Yui sudah terlanjur memesan 2 kamar. Satu Kamar untuk Kami, dan satu Kamar lagi untuk Ryu dan Hiro.
Ketika Seika berada di Kamar Mandi, Kami berinisiatif untuk menggabungkan Dua Kasur tersebut agar terlihat lebih leluasa untuk Kami tiduri bertiga. Untuk malam ini, sepertinya Kami akan tetap berada di Hotel untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga. Karena besok Kami berencana untuk pergi seharian penuh.
Kami makan malam bersama di Restoran Hotel. Lagi-lagi, Seika mencari perhatian pada Hiro. Sepertinya Seika lebih menyukai Hiro ketimbang Akira, meskipun kata Murid yang lain kalau Seika mengincar Keduanya. Tapi yang kulihat, perhatian Seika lebih tertuju pada Hiro. Dih, dasar Perempuan genit!
Kami memilih Meja Makan untuk 6 Orang. Dimana Kami saling terbagi menjadi 3 tengah dan Seika duduk disebelah Hiro. Dan di sayap kiri ada Aku yang juga memojok dekat tembok, Yui berada ditengah, dan Akira disebelah Yui. Tanpa sadar, ternyata Aku berhadapan dengan Ryu, dan Yui berhadapan dengan Hiro.
Seorang Pelayan datang ke Meja Kami dengan membawa daftar menu makanan.
"Hiro-kun, Kamu mau makan apa?" tanya Seika pada Hiro.
Tingkah laku Seika membuatku muak. Aku melirik kearah Yui, Ia berusaha membuang muka agar tidak melihat tingkah laku Seika yang begitu sok akrab pada Hiro. Aku yakin, Yui pasti cemburu melihat Mereka duduk begitu dekat. Seika terus saja menempel pada Hiro.
"Entahlah. Aku mau lihat menu dulu."
"Oke, ini! Silahkan Kamu lihat dulu!" Seika memberikan daftar menu pada Hiro dengan wajah sumringah. Tak butuh waktu lama melihat menu, Hiro pun sudah memutuskan.
"Aku pesan makannya Donburi dan minumnya Matcha," ujar Hiro.
"Oke, Aku juga akan pesan makan dan minum yang sama dengan Hiro."
Aku meraih daftar menu, lalu Aku mengajak Yui untuk melihatnya secara bersamaan. Aku pun mengajak Akira agar ikut bersama Kami untuk melihat daftar menu. Tak perlu waktu lama, Kami akhirnya sudah memutuskan menu apa yang akan Kami makan.
"Kami (Aku dan Yui) pesan Miso Ramen 2 dan ocha panas 2," ujarku pada Pelayan.
"Akira mau pesan apa?" tanya Yui pada Akira.
"Aku mau pesan Donburi dan Ocha panas."
"Ada lagi yang mau dipesan?" Pelayan tersebut bertanya pada Kami.
"Kak Ryu, apakah Kakak sudah pesan?" tanyaku pada Ryu.
"Belum."
"Oh, begitu. Ini daftar menunya!" Aku menyerahkan daftar menu pada Ryu. Namun, Ia menolak karena sudah menemukan apa yang akan Ia makan.
"Saya pesan Miso Ramen dan Sake."
"Baik, Saya ulangi pesanannya, ya! Tiga porsi Miso Ramen, tiga porsi Donburi, dua Matcha, tiga Ocha panas dan satu sake. Mohon ditunggu! Terima kasih!" Pelayan itu pun segera pergi.
"Kak Ryu, bukankah Ayah sudah melarang Kakak untuk minum sake?" ujar Yui.
Aku mencuri pandang kearah Ryu. Wajahnya tetap datar. Ia seakan tidak peduli dengan ucapan Adiknya.
"Tidak masalah. Hanya sesekali," jawabnya datar.
Yui pun pasrah dan tidak ingin lagi ikut campur. Mungkin, tidak ada salahnya sesekali saja Ryu minum sake. Setahuku, Sake itu mengandung kadar alkohol yang cukup tinggi, namun bisa menghangatkan tubuh di cuaca dingin seperti ini.
Beberapa menit kemudian, makanan dan minuman Kami telah dihidangkan di Meja Makan. Kami sangat menikmati makan malam Kami. Aku, Yui dan Akira saling bergurau dan tertawa bersama. Sedangkan Seika, Ia sibuk berceloteh pada Hiro. Namun, Hiro tak pernah menanggapi dengan senyum. Wajahnya tetap datar.
Aku melirik kearah Ryu, Ia begitu tampak serius menikmati makan malamnya.
Aku ingin sekali berbicara padanya. Tapi, Aku khawatir jika Ryu juga memperlakukanku sama seperti Hiro memperlakukan Seika.
Makan malam telah usai. Kami kembali ke Kamar masing-masing. Hanya saja, ada sesuatu yang tampak berbeda dari Ryu. Sepertinya Ia sudah mulai merasa sedikit mabuk karena pengaruh Alkohol dari Sake yang Ia minum.
"Kalian duluan saja ke Kamar. Aku mau ke rooftop."
Perasaanku tidak enak. Aku takut terjadi sesuatu hal pada Ryu. Mungkin sebaiknya Aku menyusul Ryu ke rooftop. Tapi, sebaiknya Aku ke kamar dulu agar tidak terlalu mencolok kalau Aku hendak mengikuti Ryu.
"Yui, pokoknya Aku tidak mau tidur di dekat Yumiko!" celetuk Seika.
"Astaga! Siapa juga yang mau tidur dekat siput? Ih, amit-amit (bahasa Indonesia)."
"Amit-amit? Apa itu? Kamu mulai lagi ,ya!"
"Apa? Kamu mau pukul Aku?"
"Cukup! Ini sudah malam. Kita harus banyak istirahat. Besok seharian penuh Kita akan menikmati Festival!" Yui menengahi.
"Yui, Kamu tidur saja duluan. Tidak perlu tunggu Aku. Aku mau cari udara segar dulu. Kepalaku pusing."
"Yumi-chan, apakah Kamu marah?"
"Tidak. Aku hanya ingin mencari udara segar saja. Enggak usah terlalu dipikirkan. Aku akan kembali secepatnya."
"Baiklah. Jangan lama-lama, ya?"
"Oke!"
"Pergi sana! Kalau bisa jangan balik lagi!" seloroh Seika.
Aku tidak menanggapi ocehannya sama sekali. Justru Aku mengabaikan dan segera keluar dari Kamar.
Yes! Akhirnya! Aku tidak perlu repot-repot cari alasan untuk keluar. Secara tidak sengaja, ternyata Seika sudah membantuku agar punya alasan untuk keluar.
Aku menaiki tangga darurat untuk bisa sampai ke rooftop. Saat kubuka pintu yang menuju ke rooftop, ternyata Ryu sedang berdiri sembari bersandar pada penyangga, Ia seolah sedang memikirkan sesuatu. Ah, mungkin sebaiknya Aku menyapa Ryu lebih dulu.
"Kak Ryu?"
"Yumiko, ada apa? Kenapa Kamu belum tidur?"
"Belum. Aku sedang mencari udara segar. Kak Ryu sedang apa disini?"
"Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak berguna."
"Oh, begitu. Boleh Aku ikut bergabung disini?"
"Tentu saja."
"Terima kasih."
"Yumiko, bolehkah Aku bertanya suatu hal padamu?"
"Tentu saja. Kak Ryu mau tanya apa?"
"Apakah Kamu sudah punya Pacar?"