
Semua ini diluar dugaanku. Kupikir, selama ini yang menjadi Pengagum Rahasiaku adalah salah satu Siswa di Sekolahku. Ta-tapi, bagaimana mungkin?
Tidak! Aku pasti salah lihat. Tidak mungkin Pak Tanaka!
"Yumiko, ada yang bisa Aku bantu? Apakah Kamu sudah dari tadi menungguku?"
Sepintas Mata Pak Tanaka melirik kearah laci Meja. Ia terlihat sangat gugup saat bertanya padaku.
"A-Ah, tidak. Aku barusan ingin meminjam Pompa Ban. Ban Sepedaku kempis. Jadi, Aku datang kesini untuk meminta bantuan Pak Tanaka."
"Oh, begitu. Baiklah, dimana Sepedamu? Mari Aku bantu mengisi angin."
"I-iya, Pak. Sepedaku masih di Parkiran."
Pak Tanaka akhirnya membantuku memompa ban Sepedaku. Aku semakin gugup menghadapi Pak Tanaka. Aku masih tak jika Pak Tanaka yang menulis Surat itu untukku.
"Oke, sudah selesai! Sekarang sudah bisa digunakan."
"Terima kasih, Pak Tanaka."
"Ya, hati-hati di jalan."
Kabur! Aku harus segera kabur dari sini. Aku tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Pak Tanaka. Ya Tuhan! Jantungku rasanya nyaris copot.
"Yumiko, tunggu!"
Deg! Aku menghentikan langkahku. Berat sekali rasanya membalikkan tubuhku. Tapi, Aku tidak boleh bersikap mencurigakan. Aku harus berpura-pura tidak tahu.
"Ya, ada apa, Pak Tanaka?"
"Kamu pulang sendiri? Dimana Yui?"
"Yui sedang tidak membawa sepeda. Jadi, Dia naik Bis."
"Oh, begitu! Bisakah Kita bicara sebentar?"
"Bi-bicara sebentar? Ada apa, ya?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya sebentar saja. Apakah Aku boleh minta waktumu sebentar?"
"Hmm—baiklah. Ada hal apa yang ingin Pak Tanaka sampaikan?"
"Begini, jadi, apakah Kamu sudah tahu?"
"Ma-maksudnya? Tahu apa?"
"Kamu sudah melihat semuanya. Jadi, Kamu tidak usah berpura-pura kalau Kamu tidak tahu apa-apa."
"Tentang apa?"
"Surat itu. Aku lah yang telah menulis surat itu."
Aku membelalakkan mata. Benar-benar diluar dugaanku. Kupikir Ia akan terus menyembunyikannya dariku. Tapi ternyata, Ia justru berkata jujur padaku.
"A-apa? Ja-jadi, Pak Tanaka yang menulis surat itu untukku? Kenapa?"
"Tidak ada alasan lain, selain karena Aku memang menyukaimu. Awalnya, Aku ingin tetap diam dan merahasiakan hal ini seterusnya. Tapi, Aku tak menyangka jika rahasia bisa terbongkar."
"Jadi selama ini Pak Tanaka diam-diam menyukaiku?"
Pak Tanaka hanya diam dan tertunduk malu. Aku sudah berjanji, Aku tidak akan pernah mempermasalahkan siapapun yang menyukaiku.
"Ya. Aku memang sudah mengagumimu dari semenjak Kamu datang ke Sekolah ini. Maaf!"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Perasaan itu tak pernah salah, dan Aku pun tidak pernah ingin menyalahkan siapapun yang memiliki perasaan padaku. Hanya saja, mungkin perasaan itu bisa saja tak terbalas olehku. Jadi, Aku minta maaf jika Aku tidak bisa membalas perasaan Pak Tanaka."
Pak Tanaka memasang wajah kecewa. Namun, Ia juga harus menerima konsekuensinya jika menyukai seseorang tidak selamanya harus terbalaskan. Bukankah dalam surat itu sudah jelas tertulis bahwa cukup Dia saja yang mengagumi dan menyukaiku. Dan itu artinya, Aku tidak ada kewajiban untuk berbalik menyukainya.
"Tidak. Aku tidak ada hak untuk membenci. Selama Pak Tanaka bersikap baik padaku, Aku pun akan bersikap baik pada Pak Tanaka. Jadi, mari sama-sama saling mengerti!"
"Terima kasih, Yumiko."
"Maaf sebelumnya, Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
"Ya, katakan saja!"
"Apakah selama ini Pak Tanaka yang selalu memperhatikanku dari Lapangan Basket? Yang memakai Jaket Hoodie berwarna Biru Elektrik?"
"Jaket Hoodie berwarna biru? Aku tidak pernah punya Jaket Hoodie berwarna biru."
"Benarkah?"
"Yumiko, apa ada sesuatu yang terjadi?" sepertinya Pak Tanaka bicara jujur.
"A-Ah, tidak ada. Tidak ada apa-apa. Kalau begitu, Aku permisi! Terima kasih karena telah membantuku"
"Oh, baiklah. Hati-hati, Yumiko!"
"Baik!"
Yuji Tanaka, usia 24 tahun dan wajahnya terbilang tampan. Menurut cerita yang kudengar, Ia sudah 6 bulan bekerja sebagai penjaga Sekolah. Ia menggantikan Ayahnya yang sudah lama sakit-sakitan. Meskipun usianya tidak jauh berbeda dariku, tetap saja Aku harus menghormatinya dengan memanggil sebutan 'Pak Tanaka'.
Fyuh! Akhirnya, rasa penasaranku terobati. Kini Aku tahu siapa sebenarnya yang diam-diam sudah menulis Surat cinta padaku. Ku harap, tidak ada imbas untuk kedepannya setelah Aku menolak Pak Tanaka. Dan untuk masalah ini, sepertinya Yui tidak perlu tahu.
Tapi, jika bukan Pak Tanaka, siapa sebenarnya Laki-laki yang selalu memperhatikanku?
Tiga hari kemudian, Pak Tanaka tiba-tiba saja berhenti bekerja. Aku tahu karena Ia menuliskan Surat terakhir untukku. Ia meminta maaf padaku karena mungkin sudah menggangguku selama ini. Jadi, Dia berhenti bekerja karena memang memutuskan untuk melanjutkan Kuliahnya yang sempat tertunda. Aku bersyukur karena Pak Tanaka adalah Orang baik. Hanya saja, sampai saat ini Aku masih penasaran, darimana Ia tahu semua tentangku? Ah! Tapi, sudahlah! Semua sudah berlalu.
Satu Minggu kemudian, Kami sedang menjalani Ujian Kenaikan Kelas. Untunglah selama ini Akira selalu mengajariku. Jadi, Aku bisa menjawab soal-soal Ujian dari setiap Mata Pelajaran dengan mudah. Ujian dilaksanakan selama sepekan. Selanjutnya ada class meeting, pembagian hasil evaluasi belajar dan libur Sekolah hingga awal April, saat Bunga Sakura mulai bermekaran.
"Yumi-chan, apa rencanamu saat libur Sekolah? Apakah Kamu akan pergi dengan Keluargamu?"
"Aku belum tahu. Waktu itu Ayahku sempat berencana mengajak Kami berlibur ke Osaka, Kampung halaman Ibuku."
"Wah, Osaka. Pasti sangat seru! Oh ya, jika Ibumu berasal dari Osaka, itu artinya Ibu dari Hiro berasal dari tempat yang sama."
"Ya, tentu saja."
"Dan itu artinya, Hiro pasti ikut berlibur bersama Kalian?"
"Aku rasa belum pasti. Karena, belum tentu Paman Toshio dan Bibi Emiko ikut bersama Kami. Memangnya ada apa, Yui-chan?"
"Ah, tidak. Hanya saja, Aku iri padamu. Kamu bisa begitu dekat dengan Keluarga Hiro."
"Yui-chan, Kamu ini bagaimana? Aku dekat pun karena Ibuku adalah Adik dari Ibunya Hiro. Ya Tuhan! Aku tidak bisa berkata-kata lagi!" sembari mencubit kedua pipi Yui.
"Maaf!" Yui memasang wajah imutnya.
"Justru Aku yang merasa iri padamu karena Kamu—Ah, tidak. Bukan apa-apa."
"Karena Kamu, apa?" Yui begitu penasaran.
"Bukan apa-apa. Lupakan saja!"
Aku tidak mungkin mengatakan pada Yui bahwa Aku iri karena Dia adalah Adiknya Ryu. Yumiko, pakai logikamu! Kenapa Aku harus iri pada Yui yang notabene adalah Adik Kandung Ryu? Terang saja Mereka dekat, karena Mereka berada dalam satu atap dan hubungan Mereka adalah Saudara Kandung.
Mungkin Yui benar, Dia yang seharusnya iri padaku. Aku dan Hiro tidak ada hubungan darah. Karena, meskipun Ibu dan Bibi Emiko adalah Saudara Kandung, tetap saja Aku adalah Anak Tiri dari Ibu. Dan itu artinya, jika kedepannya Aku dan Hiro memang memiliki perasaan satu sama lain, tidak ada halangan bagi Kami untuk bersama, karena Kami tidak ada hubungan darah.
Ah! Sebenarnya Aku mikirin apa, sih? Tetap saja Kami tak bisa bersama. Tidak mungkin Ibu dan Bibi Emiko bisa menjadi Besan? Hah, ada-ada saja!
"Yui-chan, jika Keluargaku dan Keluarga Bibi Emiko pergi ke Osaka. Apakah Kamu mau ikut bersama Kami. Aku yakin, Orangtuaku pasti mengizinkan jika Kamu ikut bersama Kami."
"Wah, tentu saja. Aku mau. Mauuuu!"