YUMIKO

YUMIKO
RUMAH YUI



Tak terasa, sudah hampir satu bulan Aku Sekolah di Jepang. Rasanya baru kemarin Aku menjadi Siswi Baru di Sekolah ini. Seika dan Teman-temannya masih setia menggangguku dan Yui. Tapi, yang masih membuatku penasaran hingga saat ini adalah sikap Yui yang begitu ciut ketika menghadapi Seika.


"Yumiko!" lagi-lagi Yui mengejutkanku yang sedang memandang ke luar jendela.


"Hmm—"


"Pulang Sekolah nanti main ke Rumahku, yuk!"


"Dalam rangka apa?"


"Tidak ada apa-apa. Hanya main saja. Aku ingin sekali mengajak Temanku main ke Rumah."


"Memangnya selama ini Kamu enggak pernah ajak Teman untuk main ke Rumah?"


"Belum pernah."


"Apa? Belum pernah? Selama 2 tahun Sekolah disini, Kamu belum pernah ajak Teman?"


Yui menggelengkan kepala perlahan. Aku tahu, pasti selama ini Yui begitu tertekan dan sangat kesepian. Karena, selama ini hanya Aku lah yang berteman dengannya. Teman-teman satu kelas seolah enggan berteman dengannya. Ada apa sebenarnya?


"Baiklah, nanti sepulang Sekolah Kita main ke Rumahmu."


"Hore! Nah, bagaimana kalau sekalian menginap? Besok kan sudah akhir pekan. Ayolah!"


Yui merajuk kepadaku. Sebenarnya, Aku sedikit khawatir, apakah Ayah akan mengizinkanku menginap atau tidak? Paling tidak, Aku bisa meminta bantuan Tante Aiko untuk membujuk Ayah.


"Oke. Tapi, Kita ke Rumahku dulu. Aku harus mengambil baju dan keperluan untuk menginap nanti."


"Baiklah!" Yui begitu antusias dan senang sekali ketika Aku menyetujui ajakannya.


Jam pulang Sekolah tiba. Sesuai rencana, Aku dan Yui singgah ke Rumahku terlebih dulu. Seperti biasa, Ayah belum pulang kerja. Ayah biasa pulang kerja pukul 19.00 atau diatas waktu tersebut.


Aku meminta izin kepada Tante Aiko, dan meminta tolong kepada Tante Aiko untuk menyampaikan pada Ayah bahwa Aku akan menginap di Rumah Yui. Syukurlah, Tante Aiko dengan senang hati mengizinkan dan akan membantuku untuk bicara pada Ayah.


"Tante, Kami pergi dulu, ya!" ujarku.


"Kalian hati-hati, ya! Oh ya, Kalian naik apa?"


"Kami akan naik Sepeda. Yui yang akan memboncengku."


"Yumiko, kenapa tidak membawa Sepeda sendiri?"


"Kebetulan ban Sepedaku bocor saat perjalanan pulang tadi. Besok Aku akan membawanya ke Bengkel, setelah pulang dari Rumah Yui."


"Baiklah. Nanti Saya akan meminta tolong pada Ayahmu untuk membawanya ke Bengkel."


"Terima kasih, Tante Aiko. Tante Aiko baik sekali."


Tante Aiko tersenyum manis padaku. Memang benar, Tante Aiko sangat keibuan meskipun Tante Aiko tidak memiliki Anak. Tante Aiko menyayangiku selayaknya Anak sendiri. Aku bersyukur karena Ayah Menikah dengan Wanita yang baik, meskipun pada akhirnya Ayah tidak bersama Bunda.


Sepanjang perjalanan, Yui bercerita tentang Keluarganya. Yui hanya 2 bersaudara. Ia memiliki seorang Kakak Laki-laki, yang menjemputnya tempo hari. Ibunya adalah seorang Ibu Rumah Tangga, dan Ayahnya adalah Pengusaha. Ayahnya memiliki Bisnis Karaoke dan Restoran Sushi yang tersebar di Tokyo, Osaka, Chiba, Hokkaido, dan Kyoto.


Yui terlihat sederhana meskipun Orang Tuanya bergelimang harta. Ia justru tidak sombong dan tetap rendah hati.


Rumah Yui begitu besar bak Istana. Kupikir, menurutku kalau Rumah Ayahku itu sudah tergolong Mewah. Tapi, setelah melihat Rumah Yui, membuatku takjub dan terpana. Memang sungguh berbeda, apalagi membandingkannya dengan Rumahku yang ada di Indonesia. Bagaimana bisa seorang Sultan sepertinya bisa bersikap sederhana?


Ya, memang benar ternyata, Orang yang benar-benar Kaya, tidak akan pernah menunjukkan kalau Ia Kaya. Justru, Mereka lebih terlihat sederhana. Berbeda dengan Orang yang berpura-pura Kaya. Mereka bertingkah dan berperilaku layaknya Orang Kaya. Namun pada dasarnya, semua itu palsu dan hanya rekayasa. Sungguh ironis!


"Yumi-chan! Silahkan masuk!"


"Yumi-chan?" ujarku.


"Ya, karena Kamu sudah menjadi Sahabat terbaikku, maka Aku akan memanggilmu Yumi-chan," ujarnya sambil tersenyum.


"Kalau begitu, Aku juga akan memanggilmu dengan sebutan Yui-chan."


Yui menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ia memelukku dengan erat, seolah Aku lah satu-satunya Orang yang sangat berarti baginya.


Rumah Yui sangat luas. Ia memiliki 3 Orang Pelayan dan 2 Orang Supir Pribadi, yang kesemuanya memiliki tugas masing-masing. Ada yang khusus memasak, membersihkan bagian dalam rumah, membersihkan bagian luar rumah, Supir pribadi untuk Ayahnya, dan Supir Pribadi untuk Ibunya. Yui dan Kakak Laki-lakinya memilih untuk tidak memakai Supir. Mereka lebih memilih menaiki kendaraan sendiri. Kakak Laki-laki Yui sudah duduk di bangku Kuliah tahun kedua semester akhir, Ia mengambil jurusan IT. Selain itu, Kakak Yui adalah seorang Pemain Baseball.


Saat memasuki Ruang tengah, Aku tidak melihat satupun foto Keluarga Yui. Apa mungkin Mereka hanya memasangnya di Kamar masing-masing?


"Yumi-chan! Mari Kita ke Kamarku!"


Kamar Yui berada di lantai 2. Dan seperti kebiasaannya, Ia menarik paksa tanganku. Mungkin itu adalah salah satu bentuk ungkapan Kebahagiaan baginya, karena memiliki seorang Teman, ah bukan, maksudku Sahabat!


"Nah, di seberang sana adalah Kamar Kakakku. Sepertinya Ia belum pulang Kuliah. Biasanya hari ini adalah jadwal latihan Baseball."


"Hmm—" jawabku sekenanya.


"Ayo, masuk!"


Yui membuka pintu Kamarnya. Lagi-lagi, Aku dibuat terperangah oleh Pemandangan yang ada di hadapanku. Kamar Yui bagaikan Kamar Seorang Putri Raja. Semua fasilitas tersedia di Kamarnya. Kamar bernuansa Pink kalem, sungguh membuatku takjub.


"Yui-chan, Kamarmu bagus sekali!"


"Terima kasih. Silahkan duduk, Yumi-chan. Aku akan meminta Pelayan mengambilkan camilan dan minuman untuk Kita. Oh ya, apakah Kamu suka Kue Red Velvet?"


"Red Velvet?"


Ya Tuhan! setiap kali mengingat nama Kue itu disebut, setiap itu pula Aku pasti mengingat Bunda.


"Yumi-chan? Kenapa Kamu diam saja?"


"Ah, maaf, Aku hanya sedikit kurang fokus."


"Bagaimana? Kamu suka, tidak? Kalau tidak, nanti akan kupesankan camilan yang lain. Karena, hanya Kue itu saja yang tersedia di Rumahku."


"Aku suka, kok! Kue itu adalah Kue Favorit Aku."


"Baguslah."


Yui menelepon seorang Pelayan yang berada di lantai bawah. Kamar Yui telah di fasilitasi pesawat telepon yang menghubungkan panggilan ke beberapa Pelayan di lantai bawah. Ya, Sultan memang beda.


Kulihat sekeliling Kamar Yui, terdapat beberapa foto Yui saat masih kecil. Ada foto ketika Ia sedang duduk bersama Ayah dan Ibunya. Ayah Yui sangat tampan, begitupun dengan Ibu Yui, sangat cantik. Dan, ada lagi foto ketika Ia sedang makan es krim di Taman Hiburan bersama Kakak Laki-lakinya.


"Yui-chan, ini fotomu dengan Kakakmu saat Kamu usia berapa?"


"Oh, foto itu? Itu waktu Aku masih TK. Waktu itu Kami mengambil foto saat di Disneyland."


"Disney Land? Wah, pasti seru sekali main disana. Aku ingin sekali main ke Disneyland. Kalau di Indonesia ada namanya Dunia Fantasi. Tapi, Aku belum pernah kesana."


"Yumi-chan ingin sekali ke Disneyland?"


"Hu-um."


"Baiklah, libur Sekolah nanti Kita akan pergi kesana."


"Serius?"


"Tentu saja."


Aku sangat bahagia mendengar Yui mengatakan bahwa Ia akan mengajakku ke Disneyland. Semua bagaikan mimpi.


"Yui-chan, lalu ini foto siapa? Gadis kecil yang sedang bersamamu bermain pasir di Pantai? Sepertinya familiar."


Yui tampak gugup ketika Aku bertanya padanya. Aku yakin, pasti Ia menyembunyikan sesuatu. Karena, foto Gadis kecil yang bersama Yui sangat mirip dengan Seika.


"Yui, tidak apa-apa kalau Kamu tidak ingin cerita. Aku tidak akan bertanya lagi."


"Itu, Seika!"