YUMIKO

YUMIKO
KHILAF



Sudah waktunya Kami bersiap untuk pulang. Kami hanya menginap satu malam saja. Meskipun Sekolahku masih libur, tapi Ayah dan Paman Toshio harus bekerja keesokan harinya. Formasi tempat duduk Kami masih sama seperti saat Kami berangkat. Hanya saja, kali ini Hiro sudah mulai mau membuka suaranya dan mengajakku berbicara.


Semua ini terjadi karena peristiwa kemarin. Saat Aku berpapasan dengan Mereka, Aku sengaja menoleh kebelakang. Aku melihat Mereka memasuki Kamar yang letaknya berada di seberang Kamar yang kutempati bersama Ibu dan Bibi Emiko. Namun, Aku berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang akan Mereka lakukan. Itu bukan urusanku. Lebih baik Aku melanjutkan apa yang sudah menjadi tujuanku di awal. Yaitu, mencari udara segar di sekitar Hotel.


Saat Aku merasa tujuanku telah terpenuhi, Aku berpikir sebaiknya kembali saja ke Kamar dan segera membersihkan diri. Karena sebentar lagi Ibu dan Bibi Emiko akan mengajakku untuk makan malam bersama yang lain.


Aku melewati koridor hotel yang tampak sangat sepi sekali. Tidak ada siapapun yang melintas. Mungkin Mereka sudah berada di dalam kamar masing-masing atau mungkin juga sedang keluar untuk makan malam.


"Eh, kok kamar ini enggak ketutup rapat, ya?" gumamku.


Karena pintunya sedikit terbuka, Aku bisa mendengar percakapan dari penyewa kamar tersebut. Suara itu? Terdengar seperti suara d*s**h** seorang Wanita dan juga Pria.


"Ichiro, setelah ini, jangan pernah tinggalkan Aku. Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Ryu."


Suara ini? Sangat mirip dengan suara Perempuan yang bernama Yoshida. Apa jangan-jangan, pasangan romantis yang Aku lihat barusan adalah Yoshida dan Pacarnya?


Aku mendekatkan telingaku ke daun pintu. Mumpung koridor tampak sangat sepi. Aku bisa lebih leluasa mencuri dengar percakapan Mereka. Memang perbuatanku ini sangat tidak sopan. Tapi, setelah Perempuan itu menyebut nama 'Ryu', seketika rasa keingintahuanku sangat besar.


"Bagus. Lalu, apa alasanmu putus dengannya, Yoshida?


Bingo! Ternyata benar, Perempuan itu adalah Yoshida. Jadi, tebakanku sangat jitu. Hanya saja, sepertinya Ia sedang bersama Laki-laki yang mungkin saat itu dilihat oleh Ryu saat di Apartemen Yoshida.


"Karena Dia terlalu kaku. Aku tidak suka Laki-laki kaku seperti Dia. Jika bukan karena Orangtuanya Kaya Raya, Aku tidak mungkin bisa mau bertahan dengannya selama 2 tahun. Aku tidak bisa menjalankan suatu hubungan tanpa melakukan seperti ini (Berhubungan Suami Isteri)."


"Kamu ini benar-benar Wanita licik! Lantas, bagaimana denganku? Apakah Aku sudah termasuk kriteriamu?" Laki-laki itu tertawa atas kemenangannya.


"Tentu saja. Kamu itu bisa memuaskan Aku. Selain itu—hmmm—"


"Selain itu? Apa? Lalu, waktu Dia melihat Kita sedang bercumbu di Apartemenmu, bagaimana reaksinya?"


"Dia sangat marah. Tapi, biarkan saja. Aku juga sudah muak berpacaran dengannya."


"Selain cantik, Kamu juga sangat cerdas dalam memilih pasangan. Aku jamin, Kamu tidak akan pernah menyesal memilihku."


"Awas kalau Kamu berani macam-macam di belakangku!"


"Tenang saja! Aku janji tidak akan berbuat macam-macam dibelakangmu. Kamu bisa pegang omonganku. Kalau begitu, Mari Kita lanjutkan lagi yang sempat tertunda!"


Dasar Munafik! Mereka melanjutkan kembali permainan terlarang itu. Gila! Gila! Gila! Bisa-bisanya Perempuan itu memutar balikkan fakta. Perempuan itu melempar kesalahan penuh pada Ryu. Jelas-jelas Dia yang berbuat salah. Ah! Orang Aneh. Enggak ada bedanya Dia sama Diana dan Seika. Sama-sama tukang memutar balikkan fakta. Menjijikkan! Lebih baik Aku pergi saja dari sini.


Bruk!


"Aww!" Lututku sakit. Kedua kakiku tak sengaja beradu, sehingga membuatku terjatuh.


"Siapa itu?" cetus si Laki-laki.


Gawat! Aku kesulitan bangun. Aku harus segera pergi dari sini sebelum Mereka keluar. Tiba-tiba saja seseorang menutup mulutku dari belakang, lalu Ia membantuku berdiri dan mengajakku untuk segera bersembunyi. Ia membawaku memasuki pintu tangga darurat. Lantas, Siapa sebenarnya yang telah membantuku?


"Hiro?"


"Sstttt!"


"Kamu? Kenapa bisa—?"


"Ssttt! Jangan bersuara! Sepertinya Laki-laki itu masih mencarimu."


Aku melihat ke kaca intip pintu, tampak seorang Laki-laki yang tadi bermesraan dengan Yoshida sedang mencari seseorang yang Ia curigai. Dan, tentu saja pastinya Aku lah orangnya.


"Gawat! Laki-laki itu menuju ke pintu ini!" bisikku.


Hiro segera menarik tanganku. Tidak ada waktu lagi untuk kabur. Jika pun Kami harus berlari ke anak tangga menuju ke atas ataupun ke bawah, sudah pasti Ia sempat melihat Kami yang berusaha untuk kabur dan sudah pasti mencurigai Kami . Tapi, jalan satu-satunya adalah?


"Maaf, tolong jangan bergerak!" bisik Hiro padaku.


Hiro memelukku dengan erat sembari mengenduskan wajahnya ke rambutku. Aku tertegun, mataku terbelalak ketika Hiro dengan berani memelukku. Aku tahu, mungkin ini salah satu cara agar Kami tidak dicurigai oleh Laki-laki itu.


Cklek! Laki-laki itu melihat Kami saling berpelukan.


"Ah, maaf! Saya pikir tidak ada orang. Silahkan lanjutkan!"


Laki-laki itu kembali menutup pintu. Ah, lega rasanya! Aku segera melepaskan pelukanku dari Hiro dan mendorongnya dengan pelan. Setelah itu, Hiro tidak berkata apapun. Ia segera pergi meninggalkanku yang masih diam mematung.


Sial! Bisa gila Aku. Bisa-bisanya Aku berpelukan dengan seorang Laki-laki yang disukai oleh Sahabatku. Ini sama saja Aku sudah mengkhianati Yui. Tidak! Ini tidak boleh terjadi lagi! Aku dan Hiro adalah Saudara Sepupu. Meskipun Kami tidak memiliki hubungan darah. Lagipula, Aku bukanlah seseorang yang tega merebut Laki-laki yang disukai oleh Sahabatku sendiri.


Dan begitulah hal yang terjadi kemarin. Malamnya, Aku kesulitan untuk memejamkan mataku karena masih memikirkan kejadian itu.


Maaf, untuk yang kemarin. Apakah Kamu marah?


Hmm—sebenarnya Aku berterima kasih pada Hiro. Karena Ia sudah menolongku. Aku hanya merasa sedikit canggung saja padanya karena kejadian di tangga darurat.


Aku menghapus pesan yang sebelumnya Ia tulis. Kemudian, Aku membalas pesan tersebut dan mengetik jawabanku.


Tidak. Aku hanya merasa tidak enak saja padamu. Gara-gara Aku, Kamu harus terlibat dengan masalahku. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Sebenarnya, karena kejadian kemarin, Aku malah tidak enak dengan Yui.


Aku menyerahkan kembali ponsel miliknya setelah mengetik beberapa kalimat. Hiro segera membaca pesan yang kutulis untuknya. Dan selanjutnya, Kami saling berkomunikasi melalui ketikan dari ponsel.


Hiro:


Kamu tidak enak pada Yui? Kenapa?


Aku:


Tentu saja Aku merasa tidak enak padanya. Meskipun Ia tidak tahu apa-apa, tapi Ia adalah Sahabat baikku. Aku merasa telah mengkhianatinya.


Hiro:


Tidak usah terlalu dipikirkan. Lagipula, Kamu melakukannya karena memang sedang dalam situasi yang darurat. Aku dan Yui tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya berteman. Dia memang Gadis yang baik dan sangat perhatian padaku. Tapi, Aku hanya menganggapnya sebagai Teman baik.


Aku:


Kamu? Bisa-bisanya Kamu hanya anggap Yui sebagai Teman baik. Kamu tidak tahu bagaimana bahagianya Dia ketika bercerita tentangmu. Yui bercerita padaku, sebelum Aku menjadi Siswi Baru di Sekolah, Yui bilang kalau Ia itu lebih dekat denganmu. Kamu sangat baik padanya. Maka dari itu, Dia menaruh hati padamu. Tolong! Kamu jangan memberikan harapan palsu pada Yui. Aku kasihan padanya. Ia dari awal dijauhi oleh Teman-teman yang lain. Dan, itu semua karena ulah Seika.


Hiro:


Aku memang baik padanya, apa itu salah? Lagipula, Aku memang sama sekali tidak pernah menyukai Yui. Saling perhatian, tapi bukan berarti saling menyukai. Mungkin sebaiknya Aku menjauh darinya. Daripada perasaannya semakin dalam untukku.


Aku:


Tidak! Kamu tidak boleh menjauh darinya. Yui pernah bilang padaku, jika memang Kamu tidak menyukainya, tidak masalah baginya. Yang penting, Kamu bisa terus bersikap baik padanya. Kelak, jika memang Yui menyatakan perasaannya padamu, tolong Kamu jangan memberi harapan palsu padanya. Aku yakin, Yui bukan seseorang yang pendendam. Cukup lindungi Dia saja dari Seika. Aku tidak ingin Seika selalu menindasnya. Apakah Kamu bisa mengabulkan permintaanku?


Hiro:


Baiklah. Aku ingin bertanya sesuatu padamu?


Aku:


Apa?


Hiro:


Apakah Kamu mengenal Laki-laki yang kemarin mencarimu? Ada hubungan apa Kamu dengannya?


Aku:


Tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Tapi, Aku cukup tahu tentang Perempuan yang sedang bersamanya.


Hiro:


Maksudmu, Yoshida?


Aku :


Kamu kenal dengan Yoshida?


Hiro:


Ya, kurang lebih. Tapi, Aku lebih mengenal Laki-laki itu.


Aku:


Bagaimana Kamu mengenalnya? Apakah Kalian dulunya sama-sama seorang Model? Maaf kalau Aku ingin tahu.


Hiro:


Namanya Ichiro. Ia seorang Model dan Aktor. Tapi, Aku mengenalnya bukan karena dulunya Aku seorang Model. Tapi, Ia sudah merebut seseorang yang sangat Aku cintai.


Seseorang yang Aku cintai katanya? Ya Tuhan! Seorang Hiro yang berwajah dingin dan sangat kaku bisa mencintai seseorang? Siapa Orang itu? Aku sangat penasaran!