
Sesuai rencana sebelumnya, hari ini akan belajar bersama di Rumahku. Malam sebelumnya, Aku sudah memberitahu Ayah dan Ibu kalau besok Yui dan Akira akan datang ke Rumah untuk belajar bersama.
"Yui-chan, sepertinya Aku akan menumpang Sepedamu!" sembari memegang ban Sepedaku. Ketika ku perhatikan dengan seksama, ternyata ban Sepedaku bocor. Sepertinya terkena paku saat perjalanan ke Sekolah.
"Yumi-chan, maafkan Aku, sepertinya ban Sepedaku sebentar lagi kehabisan angin. Jika Kamu tidak percaya, cobalah duduk di jok belakang."
Karena penasaran, Aku pun mengikuti instruksi dari Yui. Saat Aku memastikan ucapannya, ternyata benar, jika beban bertambah lagi, ban Sepeda Yui semakin lama semakin kehabisan angin.
"Benar, kan?" Yui memastikan kembali.
"Yumiko, naik Sepedaku saja!" ujar Akira.
"Iya, betul. Sebaiknya Kamu dibonceng oleh Akira."
"Ah, tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkan Akira."
"Yumi-chan, Kamu ini bagaimana? Bukankah Kita satu tujuan?"
"Iya. Tapi, bagaimana dengan Sepedaku?"
"Kita minta tolong pada Bapak Penjaga Sekolah untuk bawa Sepedamu ke Bengkel. Lalu, Kita berikan ongkos ganti ban, sekaligus beri uang terima kasih untuk Bapak Penjaga Sekolah karena sudah membawa Sepedamu ke Bengkel. Lalu, besok Kamu minta antar pada Ayahmu ke Sekolah. Bagaimana?"
"Hmm—benar juga, ya! Kalau begitu, Aku akan ikut Sepeda Akira."
"Baiklah. Kita berangkat sekarang!"
Kring kring kring
"Akira, Aku ingin menyampaikan sebuah rahasia padamu!" ujar Yui.
"Oh ya, rahasia apa?"
"Kamu mau tahu tidak, waktu itu Yumi-chan pernah menginap di Rumahku. Ternyata, Yumi-chan tidurnya mendengkur keras sekali."
"Benarkah? Ternyata Yumiko cantik, tapi tidurnya mendengkur, ya?" Akira tertawa lepas.
"Yui-chan, Kamu ini usil sekali, ya? Biarkan saja tidurku mendengkur, tapi Kamu justru sampai mengeces."
"Enak saja! Yumi-chan, Kamu ini pintar sekali mengarang cerita, ya!"
"Bukankah Kamu yang justru duluan mengarang cerita. Bwee!" Aku menjulurkan lidah kearah Yui.
Kami bertiga menikmati keseruan dan saling tertawa lepas saat dalam perjalanan menuju ke Rumahku. Aku duduk menyamping sembari memegang jas Akira. Aku harus tetap fokus menjaga keseimbangan agar tanganku tidak sampai memeluk pinggang Akira.
Tapi, baru saja Aku memikirkan hal tersebut, tiba-tiba sebuah Motor melaju dengan sangat cepat dari arah berlawanan dan hampir saja menabrak Kami. Alhasil, Akira dan Yui sempat hilang keseimbangan, terlebih Akira yang sedang memboncengku.
Bruk!
Entah bagaimana prosesnya, Aku dan Akira terjatuh. Dimana posisi tubuh Akira membelakangiku dan Aku baru sadar kalau ternyata tanganku sudah melingkar di pinggang Akira. Aku langsung saja melepas pelukanku darinya dan segera bangkit. Aku meringis kesakitan karena lututku terluka.
"Akira! Kamu tidak apa-apa? Mari, Aku bantu Kamu berdiri!" ujarku.
Akira masih pada posisi tidur menyamping. Ternyata, tubuh Akira tertimpa Sepedanya sendiri. Yui segera meletakkan sepedanya di pinggir jalan dan bergegas menghampiri Kami. Yui membantuku mengangkat Sepeda yang telah menimpa Akira.
"Kalian tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka?" tanya Yui sembari mengecek tangan dan kakiku.
"Sudah, tidak apa-apa! Hanya luka kecil. Lebih baik, Kita bantu Akira saja."
Dan akhirnya, Kami bertiga terpaksa berjalan kaki menuju Rumahku. Untung saja jarak ke Rumahku kurang lebih 100 meter lagi. Aku berjalan dengan kondisi Kaki sedikit pincang. Yui dan Akira sama-sama memapah Sepeda Mereka.
"Yumiko, Aku minta maaf. Aku sudah lalai sehingga Kamu ikut terjatuh."
"Tidak apa-apa. Bukan Kamu yang salah. Justru pengendara Motor tadi lah yang salah. Harusnya Dia yang minta maaf. Kamu tidak apa-apa, Akira-kun?"
"Tidak apa-apa. Hanya luka kecil di pergelangan tanganku."
"Sesampainya di Rumah, Aku akan bantu obati lukamu, ya?"
"Tidak perlu repot-repot. Bukankah lututmu juga terluka?"
"Sudah enggak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya sendiri."
Tibalah Kami di Rumahku. Mulanya, Ibu menyambut kedatangan Kami dengan suka cita. Tapi, ketika Ibu melihat kondisi Kami yang begitu berantakan, Ibu menyuruh Kami segera masuk dan mengambil Kotak Medis.
"Bagaimana bisa Kalian terluka seperti ini?"
Aku dan Akira hanya diam. Lalu, Yui membuka suara dan menjelaskan secara rinci kejadian yang menimpa Kami barusan. Ibu menggeleng-gelengkan kepala dan memasang wajah kesal. Tentu saja rasa kesal Ibu ditujukan kepada Pengendara Motor yang hampir menabrak Kami.
Kemudian, Ibu mengobati lukaku dan juga luka Akira. Setelah itu, Ibu menyiapkan makanan untuk Kami dan menyuruh Kami untuk istirahat.
Berhubung kondisiku dan Akira sedang kurang baik, akhirnya Kami memutuskan untuk tetap istirahat sembari berbincang. Kami pun memutuskan untuk tidak belajar bersama hari ini. Meskipun begitu, tidak mengurangi keseruan diantara Kami bertiga.
Tak terasa, hari sudah semakin gelap. Yui dan Akira pamit pulang. Berhubung sudah malam, Yui meminta Supir Pribadi Ibunya untuk segera menjemputnya. Yui meminta Supir tersebut menjemputnya dengan menggunakan Mobil SUV. Alasannya, sekalian mengantarkan Akira pulang. Selain itu, Sepeda Mereka pun bisa disimpan di Bagasi belakang.
Aku dan Ibu mengantarkan Yui dan Akira hingga halaman Rumah.
"Yumi-chan! Bibi Aiko! Kami pamit pulang, ya! Terima kasih untuk hari ini. Sampai berjumpa besok!" ujar Yui.
"Yumiko! Bibi Aiko! Kami pulang dulu. Terima kasih banyak untuk hari ini?" ujar Akira.
Esok harinya, Ayah mengantarkanku ke Sekolah. Aku pun bersyukur karena Aku sudah bisa berjalan dengan normal. Saat memasuki Gerbang Sekolah, Aku menuju ke Pos Penjaga Sekolah.
"Selamat Pagi, Pak Tanaka!"
"Oh, Yumiko. Kamu datang untuk mengambil Sepeda, ya?"
"Betul sekali. Apakah sudah selesai?"
"Sudah. Kemarin memang harus ganti ban depan."
"Tidak masalah. Lalu, bagaimana mengenai biayanya?"
Pak Tanaka merogoh saku kemejanya. Beliau mengeluarkan sejumlah uang sebesar 100 Yen padaku, "Ini kembalinya!"
"Tidak usah dikembalikan. Itu untuk Bapak saja. Saya yang harus berterima kasih karena Pak Tanaka sudah mau membantu Saya," seraya membungkukkan badan.
"Benarkah? Kalau begitu, terima kasih, Yumiko!"
"Iya, sama-sama."
Aku segera membawa Sepedaku ke Parkiran khusus Sepeda. Sepertinya Aku datang terlalu pagi. Para Siswa dan Siswi yang tiba di Sekolah masih bisa terhitung dengan jari. Aku menuju loker milikku dan hendak mengganti Sepatuku dengan Uwabaki (sendal khusus dipakai di Sekolah). Namun, ketika Aku membuka lokerku, ada sebuah benda jatuh ke Kakiku. Aku penasaran, benda apa yang barusan terjatuh dari loker milikku. Aku menundukkan kepala dan melihat selembar Amplop berwarna merah muda. Kuambil amplop tersebut, lalu Aku memperhatikan situasi di sekelilingku, tapi tidak ada siapapun. Lalu kuteliti kembali, awalnya Kupikir amplop tersebut milik Orang lain. Tapi ternyata, nama yang tertera di amplop tersebut memang ditujukan untukku.
"Surat untukku? Dari siapa, ya?" gumamku.
Karena sangat penasaran, Aku berjalan cepat menuju kelas. Di kelas pun hanya baru ada 2 Orang Murid yang datang, lalu kusapa Mereka. Aku segera duduk di bangkuku. Kucoba mengatur nafasku, lalu kubuka amplop tersebut dengan perlahan.
Untuk : Yumiko
Saat itu adalah Musim Gugur.
Seorang Gadis berjalan memasuki Gerbang Sekolah.
Ini pertama kalinya Aku melihat Gadis itu.
Entah mengapa jantungku berdegup sangat kencang saat memandangnya.
Ketika Aku tahu kalau ternyata Ia adalah Siswi Baru di Sekolah ini, Aku ingin sekali berkenalan dengannya.
Tapi, Aku malu. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh.
Selanjutnya, Aku tahu kalau ternyata nama Gadis itu adalah Yumiko. Nama yang sangat cantik. Sangat cocok disematkan pada dirimu yang begitu cantik dan anggun.
Yumiko, Maafkan Aku yang begitu pengecut.
Aku tak berani menyapamu.
Bahkan, menatap matamu pun Aku tak sanggup.
Selama ini, Aku hanya bisa memandangmu dari jauh. Menyukaimu semauku. Dan mencintaimu dalam diam.
Yumiko, wajahmu sangat cantik ketika memandang kearah langit.
Cukuplah Aku sebagai pengagummu.
Aku tak ingin berharap lebih darimu.
Salam,
Dari Seseorang, Untuk Seseorang, Tentang Seseorang.
Aku penasaran, sebenarnya siapa yang menulis surat ini untukku? Ya Tuhan! berarti Aku mendapat Surat Cinta dari seseorang? Tapi, siapa Dia? Apakah Aku mengenalnya?
Tanpa sadar pandanganku mengarah ke luar jendela. Aku melihat seorang Laki-laki berdiri di Lapangan Basket. Laki-laki itu terus saja menatap kearahku. Tapi, Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia memakai Jaket Hoodie dan menutup kepalanya. Selain itu, Ia juga menggunakan masker. Apa jangan-jangan Dia adalah Orang yang menulis Surat Cinta untukku?
"Dor! Yumi-chan!" Yui mengagetkanku.
"Astaga! Kau membuatku terkejut."
"Pagi-pagi sudah melamun. Oh ya, bagaimana lututmu? Apakah masih sakit?"
"Sudah jauh lebih baik."
Yui menatap kearah Mejaku dan mengambil selembar Surat yang baru saja kubaca, "Yumi-chan! Apa ini? Wah, Kamu dapat Surat Cinta dari seseorang?"
"Yui-chan! Kembalikan padaku!"
Yui mengelak untuk memberikan Surat itu padaku. Ia sengaja mengerjai ku dan berlari agar Aku mengejarnya. Teman-teman satu kelas menertawakan tingkah laku Kami. Hingga akhirnya, Yui berlari keluar kelas, Aku pun tak segan untuk mengejarnya. Saat Aku baru saja keluar pintu, Aku menabrak tubuh Seorang Laki-laki, dan Kami sama-sama terjatuh. Untung saja Aku terjatuh dalam keadaan duduk. Saat itu, Kami sama-sama bangkit dan kembali berdiri.
"Astaga! Maaf, Saya tidak sengaja!" ujarku seraya membungkukkan badan.
Yui tidak menyadari kalau Aku telah menabrak seseorang. Ia terus saja berlari kearah anak tangga.
"Apakah Kamu baik-baik saja?" Laki-laki itu bertanya padaku.
"Iya. Aku baik-baik saja. Permisi!" jawabku singkat.
Aku sama sekali tidak menatap wajah Laki-laki yang telah kutabrak. Aku segera berlari mengejar Yui yang sudah jauh dari pandanganku.