
Seisi kelas tampak tegang. Kulihat wajah Ayah yang menunjukkan kekecewaannya padaku. Tapi di sisi lain, beberapa teman Perempuanku berbisik perlahan membicarakan sosok Ayahku. Tentu saja Mereka berbisik tentang ketampanannya.
"Ahjussi Macho!" itulah kalimat yang kudengar samar-samar sambil melirik kearah Mereka
"Ayah? Mengapa Ayah kesini?" Aku bertanya menggunakan Bahasa Jepang.
Seisi Kelas terperangah mendengar ucapanku. Sedikit-sedikit, Mereka pasti tahu apa yang Aku ucapkan.
"Apa?Ayah? Gue enggak salah denger, kan?" kalimat bisikan itu terucap dari Mereka.
"Yumiko, Ayah dengar tadi dari teman sekelasmu, Ia bilang bahwa Kamu sedang bertengkar dengan salah satu Teman sekelasmu. Ayah sangat panik mendengarnya, maka dari itu Ayah ikut bersama Gurumu. Kenapa Kamu bertengkar? Coba jelaskan pada Ayah!"
"Kalau begitu, Yumi! Diana! Ikut Ibu ke Ruang BP (Badan Penyuluhan)."
Tanpa menjawab apapun, Aku dan Diana menuruti perintah dari Bu Roro. Ya, memang ini yang Aku inginkan. Kalau bisa, Orang Tua Kami dipanggil ke Sekolah. Dan, tentu saja Ayahku sudah ada disini. Lalu, sekarang giliran Orang Tua Diana yang harus dipanggil. Huh, Rasakan Kau!
"Baik, berhubung Orang Tua dari Yumiko kebetulan sudah ada di Sekolah, maka Kita tinggal panggil Orang Tua dari Diana."
"Ja-jangan, Bu! Saya mohon! Jangan panggil Orang Tua Saya!"
"Diana, Kamu sudah membuat kesalahan disini. Sebagai Wali Kelas, Saya ingin mendisiplinkan Kalian semua. Dan, Saya bawa Kalian ke Ruang BP agar Guru BP bisa memberikan sanksi yang tepat untuk Kalian. Mengerti?"
"Ta-tapi, Bu, Orang Tua Saya sibuk kerja. Mereka tak bisa di ganggu."
"Apapun itu, Mereka harus tetap datang!Mana nomor telepon Orang Tuamu?"
Aku melirik kearah Diana, Ia nampak gugup sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Baguslah! Aku tahu, Dia bukan takut dimarahi, tapi justru takut kalau Ayahnya datang ke Sekolah dengan memakai Seragam Satpam. Ah! Bodoh sekali! Disaat Aku mati-matian menginginkan seorang Ayah, selama Ayahku memiliki perkerjaan halal, Aku akan selalu bangga padanya. Tapi, justru ini kebalikannya! Diana memiliki Ayah yang sangat menyayanginya, tapi Dia malah malu hanya karena Profesi Ayahnya tidak sesuai harapannya. Sungguh ironis!
"Diana? Kenapa diam? Sini! Berikan nomor telepon Orang Tuamu!"
"I-Ibu Saya lagi Dinas ke Luar Kota, Bu."
Astaga! Aku hanya bisa menyeringai. Disaat seperti ini, Dia masih bisa berbohong. Ingat Diana! Ibumu bukan Dinas ke Luar Kota, lebih tepatnya pergi meninggalkanmu dan juga Ayahmu, untuk Menikah dengan Pria lain yang lebih Kaya.
Ah! Sungguh mulutku terasa gatal. Ingin sekali kubongkar semua kebohongan dan kebusukannya.
"Bu Roro!"
"Ya, Yumiko?"
"Kalau Ibu mau menghubungi Ayahnya Diana, Aku punya nomor Ayahnya kok, Bu!" Diana tersentak mendengar pernyataanku. Aku menyeringai kembali padanya. Diana sudah mulai kalang kabut. Hah! Maaf Diana, Aku tak akan pernah mengampuni perbuatanmu padaku!
"Benarkah? Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Bukankah lebih sopan kalau Anaknya sendiri yang memberi tahu pada Ibu?"
"Iya, juga. Ya sudah, bisa tolong beritahu Ibu nomor Ayahnya Diana?"
Aku mengambil ponsel dari Saku celanaku. Aku mencari nomor kontak Ayah Diana.
"Nah, ini, Bu!"
Bu Roro segera mengangkat pesawat telepon Sekolah. Beliau mulai memencet tombol angka yang sesuai dengan nomor yang telah kuberikan.
Tak lama kemudian, telepon pun dijawab dari seberang sana.
"Ya, Halo, Pak! Ini betul dengan Orang Tua dari Diana?"
"Saya Roro, Wali Kelas dari Diana. Kalau Bapak tidak sibuk, Bapak bisa segera datang ke Sekolah? Ada beberapa hal yang harus Kami sampaikan kepada Bapak menyangkut perilaku Anak Bapak."
"Ah, baik. Kami tunggu ya, Pak! Terima kasih!"
Bu Roro menutup pesawat teleponnya. Lagi-lagi kulihat kearah Diana yang sudah tampak begitu pucat. Kali ini, Ia sudah mulai menggigit jarinya. Ya, Aku puas! Sangat puas! Inilah kenang-kenangan yang akan kuberikan untukmu Diana, Mantan Sahabatku. Aku tak akan pernah berbelas kasih padamu!
30 menit kemudian, Ayah Diana datang. Tepat dugaanku, Ayahnya mengenakan Seragam Satpam. Saat Bu Roro menelepon Ayah Diana, pasti Beliau sedang bekerja. Aku kasihan pada Ayah Diana, Beliau pasti menyempatkan diri untuk datang ke Sekolah.
"Permisi! Saya Ayah dari Diana."
"Ya, Pak. Silahkan masuk!"
"Terima kasih!"
Bu Roro mempersilahkan Ayah Diana duduk di Sofa Ruang BP. Kami sama-sama di pertemukan dalam satu Ruangan. Bu Roro memulai pembicaraan. Bu Roro bertanya alasan kenapa Aku dan Diana sampai bertengkar? Diana membela diri, Ia berkata kalau Aku lah yang menamparnya lebih dulu.
"Iya, betul! Aku memang menampar Diana lebih dulu."
"Tuh, kan! Anaknya aja ngaku sendiri."
Semua yang ada dalam Ruang BP tertegun mendengar pernyataanku. Aku sama sekali tidak menyangkal perbuatanku.
"Diana! Bisakah Kamu diam dulu?"
"Iya, Bu."
"Yumi, kenapa Kamu menampar Diana?" Bu Roro menegaskan.
"Awalnya, Aku ingin memberikan kenang-kenangan untuknya sebelum pindah Sekolah."
"Kenang-kenangan? Maksud Kamu tamparan?"
"Iya."
"Kenapa, Yumi? Selama ini Kamu itu Siswi yang cukup teladan. Kamu selama ini pendiam, tidak banyak tingkah dan tidak pernah buat masalah. Tapi, kenapa setelah Kamu mau pindah, Kamu lantas bersikap kurang baik seperti tadi?"
"Bu Roro, apakah Ibu pernah merasakan kesabaran yang sudah di ambang batas?"
"Maksud Kamu?"
"Apakah selama ini Ibu tidak pernah tahu kalau Diana dan teman-temannya sering menindasku? Selain itu, Mereka sering menghina kalau Aku adalah Anak Haram."
"Apa? Menindas? Anak Haram? Yu-Yumi, Kamu enggak sedang memfitnah Temanmu, kan? Kalau memang benar, kenapa diam saja?"
"Eh, Loe jangan asal nuduh, ya? Kapan Gue pernah bilang Loe Anak Haram? Yang bilang begitu kan Anak-anak yang lain!"
"Ta-tapi, Bu?"
"Bu, Yumi berani bersumpah atas nama Tuhan Yang Maha Mengetahui. Bu Roro bisa tanya pada Ketua Kelas Kita, Ricky. Memang benar kalau Diana enggak pernah menghina Aku Anak Haram secara langsung. Tapi, mulut tajamnya lah yang menghasut Anak-anak yang lain, dan mengatakan kalau Aku adalah Anak Haram."
"Benar begitu, Diana?"
"Enggak kok, Bu. Yumi ngarang tuh!"
"Baik kalau begitu, Saya akan panggil Ricky sebagai Saksi."
Bu Roro kembali ke Kelas untuk memanggil Ricky. Ketika Bu Roro kembali ke Ruang BP, terdengar samar-samar teman sekelas yang lain sedang sibuk untuk menguping pembicaraan Kami.
Bu Roro bertanya kebenarannya pada Ricky, dan Aku bersyukur karena Ricky bisa jujur. Ia mengatakan yang sebenarnya pada Kami semua. Aku merasa lega. Ternyata, masih ada seseorang yang begitu tulus peduli padaku.
Singkatnya, Diana diberi hukuman skorsing selama 1 Minggu oleh Guru BP. Sedangkan Teman-teman lain, Mereka yang ikut menghinaku diberi hukuman menulis kalimat 'AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN KESALAHAN LAGI' sebanyak 50 halaman. Ya, bagiku itu sudah cukup! Setidaknya, Aku sudah memberi pelajaran bagi Mereka.
"Diana!" Ayah Diana memanggilnya ketika Kami baru saja keluar dari Ruang BP.
"Mau apa?" cetus Diana.
"Diana? Kenapa Kamu melakukan hal seperti itu?"
"Mending Ayah diam aja, deh! Aku malas kalau Ayah ada disini, dan lagi, harus ya pakai Seragam Satpam? Ayah bikin malu Aku tahu, enggak?"
"Apa yang bikin Kamu malu? Ayah enggak marahin Kamu depan umum, kan? Justru Kamu yang dari tadi marahin Ayah. Apa salah Ayah?"
"Salah Ayah? Ayah itu cuma seorang Satpam. Diana malu, Yah! Diana malu punya Ayah yang hanya bekerja sebagai seorang Satpam."
Teman-teman yang mendengar ucapan Diana kepada Ayahnya merasa tersentak ketika mendengar pernyataan itu. Diana sungguh keterlaluan! Bisa-bisanya Ia membuat malu Orang Tua sendiri.
Aku secara tidak langsung mendengar cibiran dari Teman-teman yang diutarakan pada Diana. Mereka kecewa karena Diana telah membohongi Mereka selama ini. Ya, itulah balasan yang semestinya Ia dapatkan, yaitu Sanksi Sosial.
Lantas, apa hukuman yang diberikan padaku? Tentu saja, berhubung Aku akan pindah dari Sekolah ini, Bu Roro memintaku untuk meminta maaf lebih dulu kepada Diana. Setelah itu, Aku diminta Bu Roro untuk meminta maaf kepada seluruh Teman Sekelasku.
Mereka mengatakan kalau Mereka menyesal telah termakan oleh ucapan dari Diana. Kami sama-sama saling memaafkan. Tak lupa, Aku pun berpamitan pada Mereka semua dan juga seluruh staff Guru.
"Yumiko!"
"Darren?"
Aha! kebetulan sekali, Aku tak perlu repot-repot mencarinya.
"Yumi! Kamu enggak apa-apa? Katanya Kamu habis bertengkar dengan Diana?"
"Iya, Aku enggak apa-apa."
"Syukurlah! Oh ya, katanya Kamu mau pindah Sekolah? Apa betul?"
"Ya, betul."
"Kemana?"
"Jepang."
Darren melihat kearah Ayah, terlihat dari matanya kalau Darren pasti bertanya-tanya tentang siapa Pria yang ada di sampingku?
"Oh ya, kenalkan, ini Ayahku."
"Apa? Ayahmu?"
"Ya. Kalau enggak percaya, tanya aja Bu Roro. Terus, Ayahku Warga Negara Jepang. Ayahku bekerja di Perusahaan Investasi sebagai Manajer Keuangan. Ya, meskipun bukan Direktur Bank seperti Ayahnya Diana. Tapi, seenggaknya Aku enggak ngada-ngada masalah pekerjaan Orang Tuaku, lho! Satu hal lagi, Aku bukan Anak Haram! Karena Aku masih memiliki Ayah Kandung."
"Yumi, maksud Kamu apa? Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?"
Aku mengambil ponsel dari saku celana jeansku. Aku mencari sebuah rekaman yang ingin kuperdengarkan pada Darren. Setelah Aku menemukan rekaman itu, Aku kemudian memutarnya. Aku kencangkan volume suaranya agar semua Orang yang berada disekitar Kami ikut mendengarkan.
Semua terkejut mendengar isi dari rekaman itu. Isi rekaman tersebut adalah suara percakapan Darren bersama dengan Temannya, yang mengatakan kalau Aku adalah Anak Haram, dan Ia mendekatiku hanya untuk memanfaatkanku.
Aku bersyukur kalau Ayah tidak mengerti artinya. Jika iya, Aku tidak tahu bagaimana nasib Darren nantinya.
"Yumi! Kenapa bisa?"
"Darren, Aku menyesal karena selama ini percaya gitu aja sama sampah kayak Kamu. Kamu ternyata lebih busuk dari yang lainnya. Untung saja setelah ini Aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Jika iya, tidak Sudi Aku lihat muka mu. Menjijikkan! Kamu itu emang cocoknya sama Diana. Sama-sama Ular."
"Teman-teman! Terutama yang Cewek, sekedar info aja dari Gue, JANGAN MAU DIRAYU SAMA DARREN. KALIAN CUMA DIMANFAATKAN. KALAU DIA UDAH DAPAT BADAN KALIAN, YA SUDAH LANGSUNG DITINGGAL!" Aku mengencangkan Suaraku agar terdengar seantero lorong Sekolah.
"Yumi! Sudah, Nak! Biarkan saja. Hentikan balas dendam Kamu pada Mereka. Menurut Ayah, itu sudah cukup! Ya? Mari Kita pulang dan memulai hidup baru."
Wajah Darren memerah. Ia pasti sangat malu karena ucapanku yang menyakitinya. Toh, biarkan saja! Biarlah Diana dan Darren sama-sama mendapatkan Sanksi Sosial dari Para Murid yang lain.
Keesokan hari, Bandara Internasional
"Yumi, Kamu kenapa? Wajahmu pucat? Kamu sakit?"
"Tidak. Yumi hanya takut."
"Takut kenapa?"
"Ini pertama kalinya Yumi naik Pesawat."
Ayah tertawa mendengar ucapanku, "Yumi, Yumi! Kamu tenang saja, ya? Ada Ayah disini. Oke?"
"Hmmm," Aku masih menunjukkan wajah ketakutan.
Pesawat akhirnya lepas landas. Aku begitu gugup dan panik saat Pesawat sudah menukik keatas. Mataku terpejam, jantungku berdegup kencang, lalu Ayah memegang tanganku dan berusaha menenangkan.
"Yumi! Buka Matamu! Lihatlah ke Jendela!"
Aku berdecak kagum, "Wah! Yumi sudah berada diatas awan."
"Ya. Selamat Datang di Jepang."