YUMIKO

YUMIKO
KASUS AKANE (1)



Sudah 3 hari ini Polisi belum menemukan bukti tersangka Pembunuhan Akane. Sekolah sudah mulai tenang dan tidak ada keributan lagi terkait masalah kematian Akane. Aku dan yang lain tetap berusaha mencari tahu tentang siapa sebenarnya yang melakukan Pembunuhan terhadap Akane?


"Bu Mitsuko, Saya mau izin ke Toilet!"


"Ya, silahkan Yumiko."


Koridor lantai 2 begitu sepi. Semua Murid masih melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas masing-masing. Sepertinya hanya Aku saja yang berjalan di Koridor ini.


"Aduh, Aku sudah enggak tahan!" gumamku sembari berlari kecil memasuki bilik Toilet. Aku memang sudah menahan ingin buang air kecil saat di kelas.


Dan akhirnya, keinginanku untuk buang air kecil terlaksana sudah. Saat sedang merapikan seragamku dan hendak membuka pintu bilik Toilet untuk keluar, Aku mendengar seseorang masuk sembari berbicara di telepon.


"Pokoknya, Kamu harus tanggung jawab jika sesuatu terjadi padaku!" ujar seorang Siswi yang masuk ke dalam Toilet. Suaranya terdengar familiar. Kupikir Ia akan masuk ke bilik Toilet, tapi rupanya Ia sedang mencuci tangan di wastafel. Aku ingin sekali keluar dari bilik ini, tapi entah kenapa seperti ada yang mendorongku untuk terus mendengarkan pembicaraan Siswi itu meskipun hanya satu arah.


"Sejauh ini, tidak ada yang tahu! Jadi, Kamu jangan melimpahkan semuanya padaku. Kamu dalang dalam Pembunuhan ini."


(terdengar suara seorang Pria sedang berbicara, namun Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan)


"Isamu-san, salah siapa sampai Akane hamil? Itu semua salahmu! Dan salahmu juga kenapa menjadikanku sebagai selingkuhan? Harusnya Aku tidak percaya ucapanmu sejak awal. Kamu yang telah membunuhnya saat Ia meminta pertanggungjawaban!"


"Aku sama sekali tidak ikut campur. Aku tidak membunuh Akane. Kamu lah yang telah membunuhnya. Ingat itu! Aku dan Miu terpaksa menyalahkan Seika untuk menutupi kebenaran. Sudah dulu, Aku harus kembali ke kelas!" Siswi itu melanjutkan kembali ucapannya.


Ya Tuhan? Apa yang baru saja kudengar? Jadi, yang baru saja bebicara adalah Hikari? Astaga! Bisa-bisanya Dia melimpahkan semua kesalahan pada Seika? Aku jadi menyesal, kenapa Aku tidak membawa ponsel saat ke Toilet. Jika saja Aku bawa, mungkin Aku sudah merekam pembicaraannya.


Baiklah, karena Aku sudah tahu siapa Pelakunya, itu artinya Aku hanya perlu berusaha untuk membuat si Pelaku mengakui kesalahannya.


Tunggu! Barusan Hikari menyebut nama Isamu? Isamu! Isamu! Isamu! Aku berpikir keras! Sepertinya Aku pernah mengetahui nama itu sebelumnya. Ah, benar! Isamu! Dia Kakak Senior yang baru saja lulus tahun ini. Dia adalah Kakak Senior yang tempo hari tidak sengaja menabrakku.


Jam pulang Sekolah pun tiba. Aku meminta Yui, Seika, Akira dan Hiro untuk berkumpul disuatu tempat. Aku sengaja tidak membahas masalah ini saat masih di Sekolah. Aku khawatir jika ada yang mendengar obrolan Kami.


Setelah ditetapkan, akhirnya Kami berkumpul di sebuah Cafe yang lokasinya agak jauh dari Sekolah Kami.


"Yumiko, ada hal apa yang ingin Kamu sampaikan pada Kami?" tanya Seika.


"Begini—"


Aku menceritakan semua pada Mereka tentang apa yang kudengar saat di Toilet. Mereka semua terkejut dan seolah tak percaya dengan apa yang Aku ucapkan. Namun, wajah Seika tampak begitu geram. Maklum saja, Dia sudah difitnah oleh Miu dan Hikari. Terlebih lagi, Hikari telah ikut andil atas kematian Akane. Meskipun Hikari tidak membunuh langsung. Tapi, ternyata Hikari lah penyebab Kematian Akane. Jika saja Hikari tidak selingkuh dengan Isamu, dan Isamu tetap mau bertanggung jawab karena sudah menghamili Akane, mungkin saja tidak terjadi hal seperti ini Akane. Namun, Nasi sudah menjadi bubur. Akane sudah tidak mungkin kembali lagi.


"Kurang ajar Kau, Hikari! Awas saja Kau! Aku tidak terima di fitnah olehmu!" Seika meluapkan amarahnya. Namun, setelah Hiro berusaha menenangkannya, amarah Seika pun mulai mereda.


"Baiklah, berhubung Kita sudah tahu siapa Pelakunya, Kita juga tidak bisa asal lapor tanpa bukti. Maka dari itu, Kita harus atur rencana agar Para Pelaku mau menyerahkan diri dan mengakui kesalahan Mereka!" ujar Akira.


"Oke. Mari Kita diskusikan sekarang!" imbuhku.


Cukup lama Kami saling berdiskusi dan terkadang berselisih pendapat. Tapi pada akhirnya, Kami mencapai satu kesepakatan.


Keesokan harinya...


Kami mulai menjalankan rencana, Akira menulis pesan untuk Hikari agar terlihat murni bahwa surat itu adalah tulisan tangan Akira. Setelah itu, Seika membantu Akira meletakkan surat tersebut ke laci meja Hikari. Seika sangat mengenal Hikari, Ia adalah Gadis yang mudah tersipu malu jika menerima surat cinta dari siapapun. Maka dari itu, dijalankan lah rencana seperti ini untuk memancingnya.


Hikari masuk ke dalam perangkap. Benar saja, Ia menjadi tersipu malu setelah membaca surat cinta palsu itu. Surat itu berisi jika Hikari harus datang sendiri dan bertemu di rooftop Sekolah saat jam istirahat. Dan benar, Hikari datang seorang diri. Disana memang murni Akira yang sedang menunggu, untuk lebih meyakinkan Hikari lagi. Saat Hikari tahu bahwa Akira lah yang menulis dan menjadi pengagumnya, Hikari tampak begitu senang. Kami semua mengamati dari tempat tersembunyi. Dan tentu saja percakapan itu terdengar jelas oleh Kami.


"Akira! Jadi, Kamu yang menulis untukku?"


"Ya, benar! Maaf jika membuatmu kesulitan."


"Tidak. Tidak sama sekali. Tapi, ini semua bagaikan mimpi."


"Ini nyata, Hikari. Aku sudah lama menyukaimu. Hanya saja, Kamu selalu berada di dekat Seika."


"Benarkah? Maaf, sebenarnya Aku terpaksa dekat dengannya. Dia selalu memaksaku untuk berteman dengannya. Bahkan, Dia selalu menyuapku dengan barang-barang bagus agar Aku bisa terus berteman dengannya. Padahal, Anak-anak lain membenci Seika karena Dia selalu bersikap arogan."


"Sialan Kau Hikari! Awas saja Kau! Jelas-jelas Kamu sendiri yang ingin jadi Pengikutku!" Seika begitu marah ketika mendengar pernyataan dari Hikari. Namun, Ia masih memelankan suaranya saat mengatakan hal tersebut.


"Seika, tenanglah! Jangan sampai Hikari tahu keberadaan Kita, atau usaha Kita akan sia-sia!" ujarku.


"Hufft! Oke. Aku akan tetap tenang!"


"Akira, sejak kapan Kamu mulai menyukaiku?" Hikari melanjutkan percakapannya.


"Sejak awal kenaikan kelas 2."


"Selama itu?"


"Ya. Tapi, Aku bukanlah Laki-laki yang berani menyatakan perasaan secara langsung. Setelah Aku tahu bahwa kemarin Kamu melawan Seika, Aku begitu kagum padamu. Maka dari, saat ini Aku mulai memberanikan diri mengajakmu untuk bertemu."


"Be-begitu, ya!" Hikari tersipu malu.


"Maaf jika Aku lancang menulis surat padamu dan mengajakmu untuk bertemu. Kudengar, Kamu sudah menjalin hubungan dengan salah satu Senior Kita yang dulu."


"A-Ah, tidak. Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Mungkin Kamu salah dengar. Justru yang menjalin hubungan dengan Senior Kita yang dulu adalah Miu."


Astaga! Hikari benar-benar keterlaluan. Ia seperti ular berbisa. Ternyata Ia juga memfitnah Miu. Padahal, saat kematian Akane, Miu begitu mati-matian membela Hikari. Sungguh tak tahu diuntung.


"Ah, syukurlah!" Akira berpura-pura senang.


"Memangnya ada apa?"


"Hikari, akhir pekan ini, maukah Kamu berkencan denganku?"


"Ya, Aku mau!" Hikari begitu antusias menjawabnya.