
Ya Tuhan! Aku enggak mimpi, kan? Ryu menyatakan cinta padaku? Laki-laki yang selama ini Aku sukai. Astaga! Jantung ini sepertinya tak bisa berhenti berdetak kencang.
Ryu terus saja menatapku dengan tatapan penuh makna. Ah, sungguh romantis! Ryu menyatakan cintanya saat Kami tengah berada di Puncak teratas Bianglala.
"Yumiko, kalau Kamu belum siap untuk menjawab, tidak masalah. Aku akan menunggu!"
"Tidak! Bukan seperti itu!"
"Jadi?"
"Ah, maksudku, bagaimana dengan Yui?"
"Pfftt— kenapa Kamu tiba-tiba bertanya tentang bagaimana Yui?"
"Bukan begitu. Aku hanya tidak nyaman pada Yui. Bagaimanapun juga, Yui kan Adikmu."
"Yumiko, asal Kamu tahu saja, justru Yui lah yang terus mendorongku untuk menyatakan cinta padamu. Aku bisa ikut ke Osaka pun karena Yui yang memaksa Aku untuk ikut. Meskipun Aku sendiri pun ingin sekali liburan bersamamu. Hanya saja, Aku malu pada Keluargamu. Tapi, berhubung Seika dan Akira juga ikut, akhirnya Aku mengabulkan permintaan Yui."
"Jadi, selama ini—"
"Ya. Jujur saja, Aku sudah menyukaimu sejak pandangan pertama. Sejak saat Kamu menolongku."
"Selama itu? Tapi, kenapa sikap Kak Ryu selalu dingin padaku?"
"Tentu saja Aku harus bersikap seperti itu demi menyembunyikan perasaanku. Saat Kita berhadapan disebuah gang sempit, sejujurnya Aku merasa jantungku berdegup sangat kencang. Untung saja saat itu Kamu tidak menyadarinya. Maka dari itu, Aku menolak saat Kamu menawarkan bantuan untuk mengobati lukaku. Aku berusaha menahan perasaanku. Aku hanya tidak ingin serakah. Sudah ditolong, tapi ingin meminta lebih dari itu. Jadi kuputuskan untuk pergi meninggalkanmu begitu saja. Aku berharap, perasaanku padamu hanya sementara saja karena Kita tidak akan bertemu lagi, pikirku begitu. Tapi ternyata, Kamu adalah sahabat baik Yui, Adikku. Apalagi saat Kamu menginap di Rumahku, sebenarnya Aku salah tingkah saat membuka pintu Kamar Mandi tapi tiba-tiba saja ada Kamu sedang membungkuk di depan pintu. Ingin rasanya tiba-tiba kabur saat itu juga. Tapi, lagi-lagi Aku hanya bisa bersikap dingin dan ketus padamu untuk menyembunyikan rasa gugup."
Hmmm—Bukankah memang karakter Ryu seperti itu? Selalu bersikap dingin, tapi juga tipe Laki-laki yang tsundere (jatuh cinta tapi bersikap jual mahal).
"Kak Ryu, terima kasih karena Kak Ryu sudah menyukaiku selama ini. Tapi, bukankah Kak Ryu sudah punya Pacar?" Aku mencoba memastikan kembali hubungan Ryu dengan Yoshida.
"Pacar? Maksudmu, Perempuan yang Kamu lihat tempo hari di Restoran Sushi?"
"Kak Ryu tahu kalau disana ada Aku?"
"Tentu saja Aku tahu. Dan Aku juga tahu kalau Kamu mendengar percakapan Kami. Aku memang sengaja sedikit meninggikan suaraku agar Kamu tidak salah paham. Karena, Aku tak ingin Kamu berpikiran kalau Aku masih memiliki hubungan dengannya."
"Itu artinya, Kak Ryu menyukaiku saat masih berpacaran dengannya?"
"Tidak juga. Hubungan Kami menggantung. Saat Aku menjalin hubungan dengan Yoshida, Aku menyukainya hanya sebagai Teman, karena dulu Kami adalah Teman SMA yang kebetulan bertemu kembali saat acara Reuni Sekolah. Yoshida selalu perhatian padaku, dan Ia pun menyatakan cintanya lebih dulu padaku. Hanya saja, saat itu aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Kami menjalani hubungan selama 1 tahun. Namun, entah kenapa perasaan itu tetap saja hanya perasaan suka kepada Teman. Tidak lebih dari itu. Hanya status Kami saja Berpacaran."
"Kak Ryu, bukankah cukup kejam menjalin suatu hubungan tapi tidak ada rasa cinta."
"Jadi, alasan Aku menerimanya karena desakan dari teman-temanku. Saat itu mungkin Aku bodoh, karena tidak punya pendirian. Aku berpikir, tidak ada salahnya menjalani dulu. Dan bisa saja suatu hari nanti perasaan itu muncul dengan sendirinya. Tapi nyatanya, rasa cinta itu tak pernah ada. Jadi, selama menjalani hubungan dengannya, Aku sedikit menjaga jarak."
"Menjaga jarak?"
"Ya. Aku selalu bersikap kaku padanya. Jarang perhatian, jarang memegang tangannya, apalagi menciumnya. Hampir sama sekali tak pernah Aku lakukan padanya."
Oh, pantas saja Yoshida sampai selingkuh dengan Laki-laki yang lebih agresif saat Aku bertemu Mereka di Hotel Gunung Fuji. Saat Aku mendengar Yoshida mengatakan kalau Ryu sulit untuk disentuh itu ternyata benar. Aku pikir Yoshida hanya mengada-ada. Secara logika, umumnya Orang pacaran itu pasti berciuman. Apalagi di Jepang, di Negara yang cukup bebas.
"Jadi, ini adalah pertama kalinya Kak Ryu merasakan jatuh cinta?"
"Benar. Dan itu hanya padamu. Jadi, karena Aku sudah menyatakannya, Aku hanya tinggal menunggu jawaban darimu. Pikirkan saja dulu, tak perlu tergesa-gesa. Aku akan menunggu."
Duh, bagaimana jawabnya, ya? Aku ingin sekali langsung menjawab 'IYA'. Tapi harus mulai darimana? Memang sudah banyak Laki-laki yang menyatakan suka padaku saat masih di Indonesia. Hanya saja, tak satupun dari Mereka yang bisa membuat hatiku tergerak untuk menyukai salah satu dari Mereka. Memang ya, jatuh cinta itu indah, apalagi kalau cinta Kita sampai terbalas. Meskipun bukan Aku yang menyatakan cinta lebih dulu, setidaknya Aku tahu ternyata Ryu juga mencintaiku.
"Kak Ryu!"
"Ya?"
"Boleh Aku jawab sekarang saja?"
"Ah, tentu saja. Jika Kamu tidak keberatan!" Raut wajahnya terlihat seperti harap-harap cemas.
"Hmm—baiklah!"
"Baiklah? Apa?"
"Be-benarkah?" Ryu tersentak.
"Iya!" kuberikan senyum termanis ku untuknya.
"Kamu yakin, Yumiko? Kamu yakin jika suatu hari nanti tidak akan menyesali keputusanmu?"
"Ya, Aku yakin. Sanga yakin."
"Ya Tuhan! terima kasih!" Ryu segera berdiri dan ingin menghampiriku yang sedang duduk dihadapannya. Namun, Ryu gagal menghampiriku karena Kapsul yang Kami tumpangi tiba-tiba saja bergoyang karena hilang keseimbangan.
"Eh, Kak, jangan bergerak! Nanti tidak seimbang!"
"Ah, maafkan Aku. Aku sangat bahagia hingga tak bisa mengontrolnya."
"Pfftt— Kak Ryu lucu sekali."
"Yumiko, mulai saat ini, panggil saja namaku."
"Bukankah itu terdengar tidak sopan? Kak Ryu kan Kakaknya Yui."
"Tidak masalah. Yui pasti akan mengerti. Lagipula, Dia pasti tidak akan keberatan jika Kamu hanya memanggil namaku."
"Baiklah. R-Ryu!" Aku masih sedikit ragu.
"Ya, begitu lebih baik."
Liburan Musim Semi ini ditutup dengan Kisah Romantis dari Kami. Setibanya Kami di Villa, Aku menceritakan pada Yui bahwa Aku dan Ryu telah resmi berpacaran. Yui sangat senang sekali menanggapi hal itu.
"Jadi, mulai saat ini Aku akan memanggilmu dengan sebutan 'Kakak Ipar'?"
"Hei, bukankah belum saatnya. Kami masih pacaran. Belum Menikah."
"Tidak masalah. Suatu hari Kalian pasti Menikah."
"Semoga saja. Doakan Kami, ya!"
"Baiklah."
"Ehem—sepertinya ada yang baru saja pacaran?" Seika tiba-tiba saja datang saat Kami tengah berbicara di Kamar.
"Seika? Kamu menguping?"
"Iya, tapi tidak sengaja. Salah Kalian sendiri, kenapa Suara Kalian sampai terdengar keluar Kamar?"
"Oh, begitu!" ternyata Aku dan Yui yang salah.
"Yumiko, selamat! Karena Kamu sudah berpacaran dengan Kakak Sepupuku. Kalau begitu, Aku bisa berpacaran dengan Hiro, Sepupumu. Betul, tidak?"
"Ah, untuk masalah itu!" Aku melirik kearah Yui.
Aku merasa bimbang, namun Yui mengangguk kecil seraya tersenyum padaku.
"Bagiku, itu terserah Kalian saja. Selama Kita liburan bersama, Kalian sepertinya sudah nyaman dengan pilihan Kalian masing-masing. Yui sepertinya sudah nyaman dengan Akira. Sedangka Hiro yang biasanya bersikap dingin, kini lebih nyaman bersama Seika. Dan untuk Yui, Aku minta maaf padamu, sepenglihatanku sekarang ini, ternyata Hiro sepertinya sudah mulai nyaman dengan Seika. Aku harap Kamu tidak tersinggung dengan ucapanku."
"Haahh! Yumi-chan, Aku sama sekali tidak tersinggung. Memang benar yang Kamu katakan. Hiro memang terlihat lebih nyaman bersama Seika. Aku memang menyukai Hiro sejak lama. Tapi, Aku tak ingin memaksakan perasaannya padaku. Dan untuk Seika, Aku tidak masalah jika Kamu menyukai Hiro dan begitupun sebaliknya. Aku tahu, Kamu adalah Gadis yang baik. Kita dulu sangat dekat. Hanya saja, sampai detik ini, Aku ingin sekali tahu alasanmu, mengapa Kamu bisa bersikap Setega ini padaku? Apa salahku Seika? Kenapa Kamu menyuruh teman-teman untuk menjauhiku? Kenapa? Aku bersyukur karena Tuhan mengirimkan Yumiko ke Sekolah Kita, dan Dia bisa menjadi Sahabat terbaikku. Selama ini, Aku sudah cukup menderita karena teman-teman menjauhiku. Beberapa dari Mereka bilang, Mereka tidak ingin dekat denganku karena Aku adalah Anak dari Seorang Pemimpin Yakuza. Mereka khawatir jika berbuat macam-macam padaku, Mereka malah justru akan dihabisi oleh Anak Buah Ayahku. Apa benar Kamu yang menyebarkan berita bohong itu?"
"Yui, apa maksudmu? Siapa yang berkata seperti itu? Aku memang bersikap menjauh darimu, tapi karena ada alasan lain yang tak akan pernah bisa Aku katakan padamu. Jujur saja, Aku tak pernah meminta teman-teman atau siapapun untuk menjauhimu. Apalagi sampai menyebarkan berita bohong seperti itu."
"Seika, benarkah itu?" Yui mencoba meyakinkan Seika.
"Yui, Aku berani bersumpah. Aku tak pernah melakukan itu semua."
Tatapan mata Seika menyiratkan kalau Ia sama sekali tidak berbohong pada Yui. Seika sepertinya tidak tahu masalah itu.
"Lalu, siapa yang melakukannya?"