
Aku tak menyangka, ternyata Ryu sampai sebegitunya ingin selalu menemaniku. Kasihan, pasti Ryu merasa sangat bersalah. Padahal, Ryu dari awal sudah menolongku dan ingin melindungiku.
"Yumiko, berhubung Ryu sudah datang, Ayah dan Ibu pamit pulang sekarang!"
"Iya, Ayah. Terima kasih, ya! Dan untuk Ibu, terima kasih karena sudah menemaniku sepanjang hari. Aku sayang Kalian."
"Iya, Nak. Kami juga sayang Kamu. Semoga lekas pulih, ya! Kami pulang dulu!" ujar Ibu.
"Ryu, Kami titip Yumiko, ya!" Ayah berpesan pada Ryu.
"Iya, Paman."
Ayah dan Ibu segera pulang ke Rumah. Tinggallah Aku dan Ryu dalam Ruang Rawat Inap.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ryu.
"Sudah jauh lebih baik."
"Syukurlah!" Ryu merasa sangat lega.
"Ryu, apakah tidak masalah jika Kamu harus menemaniku?"
"Justru Aku senang bisa menemanimu. Jujur saja, Aku merasa sangat khawatir padamu!" Ryu menitikkan air mata.
"Ryu, terima kasih karena sudah khawatir padaku. Terima kasih juga karena Kamu sudah meluangkan waktu untuk menemaniku."
"Tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Gara-gara Aku, Kamu harus mengalami hal seperti ini! Harusnya Aku yang mengalami ini semua. Dan juga, seharusnya Aku bisa melindungimu, tapi—"
"Ryu, sudahlah! Yang penting sekarang Aku baik-baik saja. Aku senang sekali karena bisa bertemu denganmu."
Ryu segera menghampiri dan memelukku dengan erat. Ryu pun menangis dalam pelukanku. Aku mengusap punggung Ryu dengan lembut untuk menenangkannya.
"Terima kasih, Ryu! Terima kasih karena selalu ada untukku. Aku mencintaimu!" tuturku.
Ryu memandang wajahku lekat-lekat, lalu Ryu mencumbu bibirku dengan lembut, hingga Aku dimabuk kepayang. Aku berharap malam ini sangat panjang. Jadi, Aku bisa lebih lama bersamanya.
"Yumiko, Aku akan terus menemanimu hingga Kamu sehat."
"Benarkah?"
"Iya. Aku ingin bisa terus bersamamu."
"Terima kasih!" Aku kembali memeluk tubuh Ryu seraya tersenyum bahagia.
Tiga hari kemudian...
Aku sudah dinyatakan pulih sepenuhnya, dan juga sudah diperbolehkan untuk pulang oleh Dokter yang menanganiku. Ayah, Ibu, Ryu dan Teman-teman begitu gembira mengetahui akan hal ini.
Ayah dan Ibu sudah berada di Rumah sejak pagi. Mereka berniat membantu membereskan barang-barang yang hendak dibawa pulang.
Ryu pun datang menjemputku dan juga ikut mengantarkanku pulang ke Rumah.
"Yumiko, Ayah dan Ibu akan mau kebagian Farmasi dulu untuk menebus obatmu. Kalian berdua duluan saja ke Parkiran!" ujar Ayah.
"Baik, Ayah."
"Yumiko, apakah Kepalamu masih pusing?"
"Hmm—sudah tidak terlalu."
"Kalau begitu, peganglah tanganku!"
"Ya."
Kami berdua berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada Seorang Wanita yang sedang berjalan sedikit tergesa-gesa. Sosoknya seperti Familiar. Itu Yoshida! Aku melihat kearah Ryu, sepertinya Ia tidak menyadari tentang keberadaan Mantan Kekasihnya.
"Yumiko, Kamu kenapa seperti Orang linglung begitu?"
"Ah, tidak apa-apa."
Kasih tahu Ryu tidak, ya? Bahwa Yoshida sedang berada di Rumah Sakit ini? Baru saja Aku berpikiran hal ini, Ryu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Yumiko, sepertinya Aku harus ke Toilet. Kamu tidak apa-apa, kan?"
"Baiklah, Aku akan menunggu di Lobby."
"Oke, tunggu sebentar, ya!"
Ryu sepertinya sedang terburu-buru. Mungkin Dia sudah tak tahan ingin Buang air, atau— Astaga! Jangan-jangan Ryu menyadari keberadaan Yoshida?
Sudah 10 menit Aku menunggu, tapi Ryu belum selesai juga. Ah, Aku harus berpikir positif. Bisa jadi sedang mengantri dalam Toilet.
Aduh! Susul tidak, ya? Kenapa perasaanku tidak nyaman begini. Ah, Aku penasaran! Aku tidak ingin membiarkan diriku dihantui rasa penasaran. Aku akan menyusul Ryu.
"Permisi, apakah di dalam ada Pria yang memakai Sweater berwarna Biru Tua?"
"Tidak!"
"Oh, terima kasih!"
"Ya."
Sudah 5 menit berlalu, Ryu tak kunjung keluar. Padahal, beberapa Pria baru saja lewat di hadapanku untuk segera masuk ke Toilet. Namun, tak butuh waktu 5 menit, beberapa Pria tadi justru sudah keluar.
Aku harus berpikir positif, apa jangan-jangan Ryu sedang Buang Air Besar?
Semakin Aku menunggu, perasaanku semakin tidak nyaman. Aku memutuskan untuk bertanya kepada cleaning service yang kebetulan baru saja keluar dari Toilet.
"Permisi!"
"Ya, ada yang bisa Saya bantu?"
"Maaf, apakah di dalam Toilet ada Pria yang memakai sweater berwarna biru tua?"
"Sepertinya sudah tidak ada siapapun di dalam Toilet."
"Ah, mungkin di dalam biliknya?"
"Tidak ada siapapun juga. Saya baru saja membersihkan semua bilik."
"Oh, baiklah. Terima kasih."
"Ya."
Ryu! Sebenarnya Kamu dimana? Kuputuskan untuk mencari Ryu. Namun, tiba-tiba saja Aku merasa tidak nyaman. Entah kenapa perasaanku selalu mengatakan bahwa Ryu telah menyadari keberadaan Yoshida dan sedang bertemu dengannya.
Aku terus saja mencari, hingga langkahku seakan dituntun untuk menuju ke pintu tangga darurat.
Saat langkah kakiku hendak tiba di pintu tangga darurat, Aku mendengar suara tangisan seorang Wanita. Suaranya terdengar samar-samar.
Kuberanikan diri melangkahkan kakiku untuk lebih dekat lagi kearah pintu. Suara tersebut semakin lama semakin nyata kudengar, meskipun masih terdengar lirih.
"Ryu, Aku harus bagaimana? Apakah Aku harus menggugurkan bayi ini?"
"Yoshida, itu sudah menjadi pilihanmu. Dan harusnya Kamu sudah siap dengan konsekuensinya. Saat Kita masih bersama, Aku memiliki alasan mengapa Aku tidak ingin melampaui batas saat bersamamu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Dan hal itu adalah seperti yang Kamu alami saat ini. Lalu, apakah Kamu sudah meminta pertanggungjawaban dari Ichiro?"
"Sudah. Dia bilang sebaiknya Aku menggugurkan Kandungan ini. Dia tidak ingin karirnya hancur sebagai Aktor."
"Lantas, apakah Kamu ingin mengikuti kemauannya?"
"Entahlah! Tapi, Aku malu jika harus menanggung semuanya sendirian. hiks-hiks-hiks."
"Yoshida, Kamu harus berani mengambil keputusan. Itu adalah jalan yang sudah Kamu pilih. Di luar sana, banyak sekali pasangan yang mendambakan seorang Anak. Tapi, Mereka belum juga diberikan keturunan. Sedangkan Kamu, Kamu sudah diberi Anak dengan begitu mudahnya. Tapi kenapa malah Kamu sia-siakan keberadaannya?"
"Ryu, tapi bukan seperti ini yang kuinginkan!"
"Apapun itu. Kamu dan Ichiro sudah membuat kesalahan. Sekarang, semua keputusan ada ditanganmu. Kamu sudah Dewasa, Kamu pasti bisa memilih mana yang terbaik?"
"Ryu, apakah Aku sudah tidak ada lagi dihatimu?"
Aku tersentak mendengar pertanyaan dari Yoshida. Bisa-bisanya Dia bertanya hal seperti itu pada Ryu? Kemana saja Dia selama ini? Dia seenaknya meninggalkan Ryu dan asyik dengan Pria lain. Sekarang Dia sedang terpuruk, tapi justru seolah berharap Ryu kembali padanya. Hah! Lucu sekali! Aku tak akan pernah membiarkan hal itu.
"Maaf, Yoshida! Aku sudah memiliki seseorang yang Aku cintai. Dia rela berkorban nyawanya untukku. Jadi, Aku tak ingin membuatnya kecewa. Sampai kapanpun, Aku akan terus mencintainya."
"Kamu telah memiliki seseorang yang Istimewa? Siapa Dia?"
"Kamu tak perlu tahu. Suatu hari, Kamu pasti tahu dengan sendirinya."
"Hah! Selamat, ya! Kini, Kamu telah bertemu dengan seseorang yang begitu peduli dan tulus mencintaimu."
"Terima kasih!"
"Oh ya, apakah Aku boleh memelukmu untuk yang terakhir kalinya?"
"Maaf. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman nantinya."
"Ayolah, Ryu! sekali ini saja!"
Dih, udah jelas-jelas Ryu menolak. Masih saja ngotot. Enggak bisa dibiarkan! Mau tidak mau, Aku harus muncul dan memergoki Mereka. Enak saja Dia menyentuh milikku.
"Yoshida, jangan melampaui batas. Aku tak bisa memenuhi keinginanmu!"
"Ryu, tolonglah! Untuk yang terakhir kalinya!"
Cklek!
"Oh, jadi begitu, ya! Pantas saja Aku sudah lama menunggu! Ternyata, Kamu malah asyik bicara berdua dengan Wanita lain!" ujarku dengan nada sinis.
"Yumiko, ini salah paham! Aku tidak bermaksud—" Ryu mencoba membela diri. Sedangkan Yoshida hanya diam membisu.
"Tak perlu Kamu jelaskan! Maaf, karena sudah mengganggu Reuni Kalian!"
"Yumiko, tunggu!"
Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Mereka. Aku kagum pada kesetiaan Ryu padaku. Ia sudah berusaha untuk tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan dengan memeluk Yoshida. Hanya saja, Aku masih sedikit kecewa padanya. Kenapa Ia membiarkanku menunggu dengan waktu yang cukup lama demi bisa berbicara dengan Mantan Kekasihnya.
Ryu memilih meninggalkan Yoshida dan mengejarku. Sebenarnya, Aku tidak sepenuhnya marah pada Ryu. Hanya saja, Aku butuh waktu untuk sendiri.
Aku masih belum bisa berlari dengan cepat. Efek obat yang kuterima selama perawatan membuat tubuhku masih terasa lemah. Alhasil, Ryu bisa mengejarku dan menarik lenganku dengan perlahan, lalu menenggelamkan wajahku ke dadanya yang bidang.
"Maafkan Aku, Yumiko. Tidak seharusnya Aku membuatmu menunggu lama! Sekali lagi, Aku minta maaf! Aku janji, Aku tidak akan seperti ini lagi!"