
Perjalanan dari Indonesia ke Jepang kurang lebih memakan waktu selama 7 jam. Aku dan Ayah sempat tertidur beberapa jam di Pesawat. Perjalanan pertamaku menggunakan Pesawat begitu melelahkan.
"Ayah, apakah Rumah Ayah jauh dari Bandara?"
"Ayah tinggal di Tokyo. Sedangkan Bandara Narita berada Prefektur Chiba. Berhubung barang bawaan Kita cukup banyak, sepertinya Kita harus menyewa Taksi."
"Tapi, Aku ingin sekali naik kereta."
"Tidak mungkin bisa! Pasti padat dan Kita akan kesulitan dengan barang sebanyak ini. Lain kali Ayah akan mengajak Kamu naik Kereta. Bagaimana?"
"Baik, Ayah."
Perjalanan dari Bandara Narita ke Tokyo dengan menggunakan Taksi memakan waktu sekitar 1 jam lebih. Kami tiba di Tokyo pukul 16.50 waktu di Jepang.
Kami tiba di Komplek Perumahan. Komplek Perumahan tempat Ayah tinggal begitu mirip dengan Komplek Perumahan dalam Film Romansa Jepang yang biasa ku tonton.
"Yumiko, Mari masuk!"
Aku melihat ke sekeliling, design Rumah Ayah bergaya minimalis dengan tingkat 2. Rumah Ayah cukup besar jika hanya ditempati untuk 2 Orang saja.
Cklek!
Seseorang membuka pintu masuk, tampak seorang Wanita Jepang yang sangat cantik berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum ramah padaku dan juga Ayah, lalu Ia mengucapkan kata 'Selamat Datang'.
"Aiko! Kami pulang!" ujar Ayah.
Aiko? Wanita ini adalah Istri Ayah. Wanita itu sangat cantik. Pantas saja Ayah bisa berpaling dari Bunda. Selain cantik, Wanita itu pun sangat ramah. Ia menyambut Kami dengan hangat.
"Kamu pasti, Yumiko?"
"Iya."
"Saya, Aiko. Istri dari Junichi."
"Salam Kenal!" Aku membungkukkan badan.
"Ya, salam kenal! Mari, silahkan masuk!"
Aku memasuki Rumah Ayah. Design dalamnya tampak terkesan mewah. Furniture dan Alat Elektronik yang digunakan pun sudah sangat mewah menurutku. Mungkin kalau di Indonesia, Alat Elektronik ini hanya terdapat di Rumah Orang-orang kalangan atas.
Tante Aiko meminta Kami untuk duduk di Sofa. Sofa milik Ayah sangat empuk. Jika Aku tak tahu malu, mungkin Aku sudah melompat-lompat di atasnya.
"Yumiko, Kamu pasti lelah karena perjalanan yang cukup panjang?" tanya Tante Aiko.
"Begitulah, Tante. Aku baru pertama kali naik pesawat."
"Oh, ya? Kalau begitu, Kita makan dulu, ya! Saya sudah masak makanan kesukaan Kamu."
"Makanan kesukaan? Bagaimana Tante bisa tahu makanan kesukaanku?"
Tante Aiko memberikan isyarat dengan melirik kearah Ayah. Aku pun memahami maksudnya. Tentu saja Ayah pasti tahu dari Tante Lisa. Karena, Aku mulai menyukai Udang Balado semenjak Tante Lisa memasak untukku ketika Aku dan Bunda berkunjung ke Rumah Tante Lisa.
Tante Aiko meminta Aku dan Ayah untuk bergegas ke Meja Makan. Tante Aiko memasak banyak Makanan, termasuk Udang Balado kesukaanku. Tapi, entah kenapa Aku begitu sedih? Aku teringat hari Ulang Tahunku. Hari itu Bunda berjanji akan memasak Udang Balado sepulang kerja. Namun, justru Aku menerima kabar duka, telat di hari Ulang Tahunku. Setiap kali mengingat itu semua, dadaku sangat sesak.
"Yumiko, Kamu kenapa? Tidak suka sama Masakan Saya?"
"Teringat sesuatu?"
"Iya, tepat di hari Ulang Tahunku, Bunda berjanji akan memasak Udang Balado kesukaanku. Tapi—tapi ternyata, Bunda—" Bulir bening menetes dari sudut mataku. Aku sudah tidak tahan ingin menangis setiap kali mengenang hari itu. Dadaku semakin lama semakin sesak.
Tante Aiko menghampiriku, Ia mencoba menenangkanku, "Yumiko, menangislah! Keluarkan semua kesedihanmu. Setelah ini, Kamu harus kembali bahagia. Berbahagialah demi Ibumu, ya?"
"Yumiko, Kamu masih memiliki Ayah dan juga Tante Aiko. Kami akan selalu menyayangimu," ujar Ayah.
"Yumiko, kemarilah!" Tante Aiko memelukku dengan hangat. Aku merasakan pelukan Tante Aiko begitu hangat seperti pelukan Bunda. Tante Aiko begitu tulus padaku. Jadi, pernyataan tentang Ibu Tiri itu kejam sudah terbantahkan. Ibu Tiri yang kejam itu tidak berlaku untuk Tante Aiko.
Setelah makan, Ayah membawakan barang-barang milikku ke lantai 2. Lantai 1 khusus untuk Ruang Tamu, Ruang Keluarga, Dapur, Kamar Mandi untuk Tamu. Sedangkan untuk Kamar tidur berada di lantai 2, seluruhnya terdapat 3 Kamar tidur. Kamarku berada di sebelah Kamar Ayah. Dan, untuk Kamar 1 lagi digunakan sebagai Kamar Tamu, jika Orang Tua dari Ayah atau Tante Aiko menginap.
"Yumiko, silahkan masuk!"
Aku begitu terperangah melihat Kamar yang disediakan untukku. Kamar itu terlihat sangat cantik, dengan Wallpaper motif bunga sakura. Terdapat Kasur ukuran single dengan seprei berwana Pink Polos, Meja Belajar, Laptop, dan Lemari Baju dari Kayu.
"Yumiko, coba Kamu buka Lemarinya!" Tante Aiko memintaku untuk membuka Lemari Baju. Ketika kubuka Lemari tersebut, Aku melihat 1 set Seragam Sekolah yang terdiri dari blazer, dasi, kemeja, dan rok pendek. Aku tak pernah menyangka, setiap kali menonton Film Romansa Jepang tentang Anak Sekolah, Aku sangat ingin mengenakan Seragam Sekolah tersebut. Namun, sekarang semuanya begitu nyata, tepat dihadapanku terpampang Seragam Sekolah yang ku idam-idamkan.
"Tante Aiko, ini?"
"Ya, sejak Ayahmu mengabari bahwa Kamu akan ikut Ayahmu ke Jepang. Saat itu, Saya segera mendaftarkan Sekolah untukmu."
Aku menghampiri Tante Aiko dan memeluknya dengan erat, "Terima kasih, Tante Aiko! Terima kasih sudah begitu peduli padaku."
Tante Aiko tak menjawab, Ia justru mengusap kepalaku dengan lembut.
"Yumiko, mulai Minggu depan, Kamu akan mulai Sekolah di Sekolah baru mu. Apakah Kamu siap?" ujar Ayah.
"Iya, Yumi siap, Ayah!"
Kami bertiga tertawa bersama. Kini, Aku sudah menemukan kebahagiaanku yang baru.
Bunda, Aku tak akan pernah melupakan Bunda. Karena, Bunda akan selalu ada bersamaku. Disini, dihatiku selamanya! Aku akan terus bahagia agar Bunda tenang disana.
Seperti yang sudah Ayah janjikan padaku, Ayah dan Tante Aiko mengajakku untuk berkeliling Kota Tokyo. Sebenarnya, Aku ingin sekali mencoba naik Kereta Shinkansen ke Hokkaido dan ke tempat lainnya. Tapi, Ayah menyarankan agar terlebih dahulu mengenal Kota Tokyo.
Ayah dan Tante Aiko mengajakku ke Taman Ueno, Harajuku, Ginza, Kuil Sensoji dan terakhir ke Akihabara. Jika ingin mencari Gadget dan Elektronik terbaru, Akihabara adalah tujuan yang tepat. Ayah membelikanku sebuah Ponsel lipat, karena Aku sangat menyukai Ponsel dengan model tersebut. Dan, perjalanan Kami di tutup dengan Makan Malam di sebuah Restoran Sushi.
"Bagiamana, Yumiko?Apakah Kamu senang sudah berkeliling Kota Tokyo?" Tante Aiko bertanya padaku.
"Ya, tentu saja. Aku senang sekali."
Kami tiba di Rumah pukul 12 malam. Perjalanan yang sangat melelahkan. Akhir pekan ini, Aku harus istirahat dan menyiapkan segala keperluan untuk hari pertama masuk Sekolah.
Dan, persiapan yang sangat penting adalah Aku harus lancar berbicara menggunakan Bahasa Jepang.
Tiba hari pertama masuk Sekolah. Dihari pertama, Ayah mengantarkan Aku sampai depan Gerbang Sekolah.
"Yumiko, Kamu baik-baik di Sekolah, ya? Ayah pergi kerja dulu. Kalau ada apa-apa, Kamu langsung hubungi Ayah atau Tante Aiko. Mengerti?"
"Baik, Ayah."
Aku segera turun dari Mobil. Aku berjalan memasuki Gerbang. Ya Tuhan! Aku masih tak percaya, mulai hari ini Aku menjadi salah satu Siswi di Sekolah Jepang.