
Cerita tentang liburan Kami selama di Osaka sungguh sangat menyenangkan dan berkesan. Semua tampak sangat bahagia. Saat perjalanan pulang, Kami para Anak Muda memesan tiket Kereta Shinkansen dengan formasi 2 kursi . Sedangkan para Orangtua tetap memilih formasi 3 kursi. Kami Anak Muda sepakat untuk berada di Gerbong yang berbeda dengan Gerbang Para Orangtua. Syukurlah, Mereka tidak keberatan dan mengerti ketika Kami meminta izin untuk berada di Gerbong yang berbeda dengan Mereka.
Hari sebelum Kami pulang, saat Aku, Yui dan Seika saling bertukar cerita, Seika mengatakan kalau Hiro belum menerima cintanya. Tapi, Hiro sudah mulai membuka hatinya untuk Seika. Semua itu terlihat dari sikap Hiro yang mulai hangat pada Seika.
"Maka berusahalah! Suatu hari, Aku yakin kalau Hiro akan melihat perjuanganmu," ujarku pada Seika.
"Ya, terima kasih."
Selain itu, Yui juga mengatakan kalau Ia sedang melakukan pendekatan dengan Akira, dan begitupun sebaliknya. Semua bermula saat Liburan di Sapporo tempo hari. Yui bilang ada kejadian yang membuat Mereka berdua merasa sangat canggung setelah itu. Yui belum siap menceritakannya padaku. Setiap kali kutanya, Ia hanya tersipu malu. Hanya saja, yang masih menjadi pertanyaan dalam benak Kami bertiga (Aku, Yui dan Seika) adalah siapa sebenarnya yang menyebarkan berita bohong tentang Yui?
Aku dan Yui kini sudah berbaikan dengan Seika. Kami bertiga telah menjadi teman baik. Seika pun sudah menunjukkan sisi persahabatannya dengan Kami.
Selanjutnya, saat perjalanan pulang adalah saat yang paling membuatku bahagia. Kami semua duduk berpasangan. Seika dan Hiro berada dibaris pertama, Akira dan Yui dibaris kedua, dan Aku bersama Ryu dibaris ketiga. Aku sudah tidak merasa canggung lagi untuk bersandar di bahu Ryu sembari memegang tangannya.
"Apakah Kamu mengantuk?" Ryu bertanya padaku seraya mengusap lembut rambutku.
"Hu-um."
"Tidurlah!"
"Iya."
Perjalanan dari Osaka ke Tokyo cukup jauh dan melelahkan. Tapi Ryu tidak merasa lelah meskipun Kepalaku terus bersandar di bahunya. Sepertinya Aku tertidur cukup lama. Ketika ku terbangun, Ryu juga ikut tertidur. Aku memindahkan posisi Kepalaku dari bahu Ryu agar tidurnya merasa lebih nyaman karena tak ada beban.
"Yumiko, Kamu sudah bangun?" ternyata gerakanku membuatnya terbangun.
"Iya. Kau tidur lagi saja!"
"Tidak apa-apa. Aku sudah tidak mengantuk."
"30 menit lagi sepertinya Kita akan tiba di Tokyo."
"Oh ya?" Ryu melihat jam tangannya, "Ya, benar. Apa Kamu senang?"
"Tentu saja. Aku sangat senang sekali. Terima kasih, Ryu!"
"Ya. Sama-sama."
Satu Minggu kemudian...
Tak terasa, tahun ajaran baru tiba. Di Jepang, tahun fiskal itu dimulai setiap awal April, dengan ditandai mekarnya Bunga Sakura.
"Selamat pagi, Yumi-chan!" Yui menyapaku saat Kami bertemu dekat loker.
"Selamat pagi, Yui-chan."
"Setelah liburan dari Osaka Minggu lalu, Kamu dan Kak Ryu berkencan kemana saja?"
"Sabtu malam kemarin, Kami pergi ke Bioskop dan Makan di Cafe. Memangnya Kak Ryu tidak memberitahumu?"
"Tidak. Dia hanya bilang kalau Ia akan pergi denganmu."
"Begitu, ya! Kami kencan seperti biasa saja."
"Dasar Kak Ryu payah. Aku pikir Dia mengajakmu ke Disneyland."
"Disneyland? Dia tidak mengatakan apapun."
"Oh ya, bagaimana kalau akhir pekan nanti Kita pergi ke Disneyland?"
"Nanti saja. Aku harus mengumpulkan Uang saku dulu."
"Yumi-chan, Kamu tidak perlu khawatir. Kak Ryu yang akan menanggungnya."
"Tidak. Aku tidak ingin merepotkan Kak Ryu."
"Ayolah, Yumi-chan!"
"Sekali tidak, tetap tidak. Kalau Kamu mau menunggu, bagaimana kalau Kita pergi bulan depan saja?"
"Benarkah? Baiklah!"
"Ya sudah, ayo Kita masuk kelas!"
"Oke!"
Aku dan Yui saling bercanda saat berjalan menuju kelas. Namun, tiba-tiba saja Kami dikejutkan oleh Para Siswa dan Siswi yang sedang berkumpul di depan Ruang Kelas 3-4, yaitu Kelas Seika.
"Yui-chan, ada apa ini?"
"Entahlah. Ayo Kita kesana!"
Aku dan Yui segera berlari menuju kerumunan Para Murid.
"Permisi!" Yui mencolek bahu salah satu Siswi yang berdiri paling depan.
"Ya?"
"Ini ada apa, ya? Kenapa semua berkumpul disini?"
"Baru saja terjadi kegemparan di kelas 3-4."
"Ada apa sebenarnya?" tanyaku penasaran.
"Lihatlah!" Siswi itu menunjuk kedalam kelas Seika.
Aku dan Yui terperangah melihat pemandangan yang tak lazim. Aku belum pernah melihat pemandangan ini di Sekolahku sebelumnya. Pemandangan dimana Aku melihat salah Seorang Siswi di Kelas Seika gantung diri di dalam kelas.
"Astaga! Ba-bagaimana bisa seperti ini? Apakah Kalian sudah memanggil Guru?" tanyaku.
"Sudah. Saat ini Para Guru sedang memanggil pihak Kepolisian. Dan, lihatlah kearah papan tulis!"
Ya Tuhan! Tidak mungkin! Dihari pertama Kami masuk Sekolah kenapa bisa terjadi hal seperti ini? Dan lagi, Kenapa di papan tulis ada kalimat seperti itu? SEIKA, KAMU HARUS MEMBAYAR PERBUATANMU SELAMA INI. AKU AKAN MENUNGGUMU DI NERAKA.
"Sedang apa Kalian berkumpul di depan Kelasku?"
Seika tiba di depan kelas dengan wajah angkuh yang biasa Ia tunjukkan. Sepertinya Seika tidak tahu menahu masalah ini. Ia baru saja tiba di Sekolah.
"Itu Dia Pembunuhnya!" teriak seorang Siswi.
Aku melihat kearah sumber suara tadi. Dan yang membuatku semakin tak habis pikir, ternyata yang berteriak lantang tadi adalah Hikari, Teman dekat Seika.
"Ya, benar. Pasti Seika Pembunuhnya!" jawab teman-teman yang lain.
"Apa maksud Kalian semua?"
"Seika, Kamu yang sudah membuat Akane mati bunuh diri!"
"Akane ? Mati?" Seika membelalakkan matanya.
Yui tiba-tiba saja berteriak ditengah-tengah yang lain.
"Tidak! Seika tidak mungkin membunuh Akane. Kalian jangan asal menuduh bahwa Seika adalah Pelakunya. Bukankah Fitnah namanya jika Kalian menuduh tanpa bukti, apalagi jika Seika bukan Pelakunya!"
"Yui, kenapa Kamu justru membela Seika? Bukankah Dia selalu berbuat jahat padamu?" ujar Miu, Sahabat Seika.
Astaga! Kenapa 2 Orang sahabatnya justru tidak membela Seika? Mereka malah membuat Seika semakin terpojok.
"Tidak! Aku tidak melakukannya! Bukan Aku!" Seika teriak histeris.
"Memang bukan Kamu yang melakukannya. Tapi, Kamu lah yang jadi penyebab Akane mati. Bukankah Kamu yang selalu menindasnya?" Hikari semakin menyudutkan Seika.
"Tenanglah! Sebaiknya Kita tunggu Para Guru dan Polisi datang. Kalian tidak boleh main Hakim sendiri dengan menyalahkan sepenuhnya pada Seika. Bisa jadi, bukan Seika yang melakukannya. Tapi justru seorang Pengecut yang mengatasnamakan Seika. Dia memanfaatkan kebiasaan buruk Seika yang selalu menindas Akane. Maka dari itu, dengan adanya kejadian ini, Orang itu bisa leluasa menyalahkan Seika dan menutupi kejahatannya!" akhirnya Aku membuka suara.
Walaupun dimasa lalu Seika sering menindasku dan juga Yui, tapi Dia tidak mungkin sekejam itu. Dia hanya Anak Manja yang butuh perhatian. Ini pasti ulah seseorang yang ingin memanfaatkan kebiasaan buruk Seika. Aku harus cari tahu!
"Yumiko, kenapa Kamu dan Yui justru berbalik membela Seika? Ah, benar, sekarang Kalian memang sudah jadi teman baik. Apalagi Kalian sering berlibur bersama. Dan sebentar lagi akan menjadi komplotan yang akan menindas Murid lain. Teman-teman! Kalian semua hati-hati dengan Mereka bertiga. Mereka semua telah bersekutu" Miu berseloroh.
Kurang ajar! Bisa-bisanya Dia menyebar fitnah seperti itu? Ah, Aku semakin yakin, ini pasti bukan kesalahan Seika. Pasti ada dalang dibalik semua ini yang mati-matian melimpahkan kesalahan pada Seika. Ingin sekali Aku menampar mulut Miu dan Hikari!
Mata Seika sudah berkaca-kaca, Kakinya seolah terasa lunglai. Aku kasihan padanya, pasti Ia merasa tersudut.
Bruk! Seika jatuh tersungkur, Ia menangis sejadi-jadinya. Seika pasti merasakan sesak karena dituduh yang bukan-bukan.
"Seika! Kamu tidak apa-apa?" Aku dan Yui berlari menghampiri Seika.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Tapi, Aku berani bersumpah, Aku bukan Pelakunya!"
"Tenanglah! Kami percaya padamu."
"Hei, Seika. Kami tidak ingin lagi berteman dengan Pembunuh sepertimu!" ujar Hikari.
Sial! Mereka membuatku muak. Aku memang benci karena Seika terkenal sering menindas, tapi Aku lebih benci pada Mereka yang menuduh seseorang tanpa bukti. Apalagi, tak tanggung-tanggung Mereka menuduh sahabat Mereka sendiri sebagai Pembunuh. Aku akan membuat perhitungan pada Mereka. Akhirnya, Aku berdiri dan berjalan menghampiri Para Nenek Lampir itu. Yui mencoba menahanku, tapi Aku menepisnya.
Miu! Hikari! bersiaplah menerima pukulan dariku!
Gedebug!!
"Awwwww!"