YUMIKO

YUMIKO
BERBAGI CERITA



Seika dan Yui, Mereka adalah Saudara Sepupu. Ayah Seika, sebelum menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Jepang, dulunya adalah seorang Pejabat Tinggi dan Ketua Partai Politik, yang bernama Arata Miyama. Tuan Arata adalah Kakak dari Ibu Yui. Sedangkan, Seika adalah Anak dari Isteri Kedua Tuan Arata. Isteri pertama telah lama bercerai, alasannya karena Isteri Pertama tidak bisa memberikan keturunan. Sebelum bercerai, Tuan Arata sempat berselingkuh dengan Ibu Seika, hingga akhirnya Ibu Seika mengandung Seika. Ibu Seika dahulunya adalah seorang Wanita Penghibur. Mereka bertemu di Club Malam. Tuan Arata akhirnya jatuh cinta pada Ibu Seika karena kecantikannya. Ibu Seika diketahui bernama Satoko Matsuda.


Karena jarak lahir Yui dan Seika berdekatan, maka dari itu, Mereka sejak kecil sudah sangat dekat layaknya Anak Kembar. Hingga pakaian dan aksesoris pun harus sama.


Yui dan Seika terpaksa harus berpisah saat Mereka duduk dibangku kelas 6 SD. Tuan Arata ditugaskan di Osaka. Jadi, Seika beserta Keluarganya harus pindah ke Osaka. Yui merasa sangat sedih dan sangat kehilangan. Yui lebih memilih untuk menyendiri dan enggan berteman dengan siapa pun.


Tiga tahun berlalu, Tuan Arata kembali ditugaskan di Tokyo. Mengetahui akan hal itu, Yui merasa sangat gembira. Ia sudah sangat menantikan dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan Seika. Namun, semua berubah. Semua berbanding terbalik dengan ekspektasi Yui. Seika berubah 180 derajat. Ia bukanlah Seika yang dulu Yui kenal. Seika yang sekarang Ia lihat adalah Seika yang sangat angkuh dan selalu memamerkan kehebatannya. Seika yang sekarang adalah Seika yang selalu merasa bahwa Dunia selalu berputar didekatnya.


Yui merasa sangat sedih ketika melihat perubahan yang ada pada diri Seika.


Singkat cerita, Yui dan Seika akhirnya berada di Sekolah SMA yang sama. Yui berusaha berbuat baik dan mendekati Seika. Tapi, Seika justru menolaknya. Seika selalu mengabaikan Yui, Ia pun merasa jika dirinya adalah Orang terhebat karena pengaruh Ayahnya yang merupakan seorang Wakil Perdana Menteri Jepang. Sampai saat ini, Yui tidak pernah tahu, kesalahan apa yang sudah diperbuatnya hingga membuat Seika begitu membenci dirinya?


Semua kebencian itu semakin menjadi, ketika Seika yang notabene sangat menyukai Hiro, melihat Sang Pujaan Hati ternyata begitu dekat dengan Yui. Seika terbakar api cemburu. Seluruh angkatan Kami tahu, bahwa Seika sudah cukup lama mengincar Hiro dan Akira sejak masih duduk di Kelas 1 SMA. Maka dari itu, Seika akan memberi pelajaran bagi Para Siswi yang berusaha mendekati Hiro dan Akira, terutama kepada Yui.


Kali ini, Aku baru tahu alasan mengapa Yui begitu ciut jika bertemu dengan Seika? Itu karena Seika mengancamnya. Yui tidak berani bercerita tentang ancaman yang diberikan oleh Seika padanya. Selain itu, Seika sama halnya seperti Diana. Ia meracuni semua Teman-teman untuk menjauhi Yui. Ia mengatakan bahwa Yui adalah Anak dari seorang Yakuza (Mafia Jepang).


Entah benar atau tidak? Yang pasti, Aku hanya melihat Yui adalah seorang Gadis yang baik. Maka dari itu, Ia selalu bersikap ceria meskipun hatinya begitu tertekan dan sangat kesepian.


"Begitulah ceritanya," ujar Yui.


"Yui-chan, selama ini Kamu selalu bersabar dengan perlakuan Seika dan Teman-temannya. Kamu begitu kuat. Padahal, Kamu sendiri sangat rapuh. Mungkin, kalau Aku di posisi Kamu, Aku enggak akan bisa bertahan. Tersenyum ceria pun tak akan pernah bisa Aku lakukan. Karena, Aku pun pernah berada di posisi yang sama ketika Aku masih Sekolah di Indonesia."


"Yumi-chan, bagaimana bisa? Aku pikir Kamu begitu senang Sekolah disana. Kamu itu seperti Idola di Sekolah."


"Yang Kamu lihat dari luar itu bisa saja justru sebaliknya. Aku pun pernah dijauhi oleh Teman-temanku karena satu ucapan yang membuatku hancur saat itu juga. Yang membuatku kehilangan keceriaan dan kebahagiaan. Itulah mengapa dampak rasa iri itu begitu dahsyat. Karena hati yang penuh kedengkian, kebahagiaan Orang Lain pun dikorbankan."


"Yumi-chan, ucapan apa darinya yang sudah membuatmu begitu hancur?"


"Mereka menyebutku 'Anak Haram'. Semua ini karena ulah seseorang yang sudah kuanggap sebagai Sahabat baik, namun ternyata justru menghancurkanku karena kesalahan yang tidak pernah ku perbuat. Semua itu berawal karena Laki-laki yang disukainya ternyata justru menyukaiku."


" Ya Tuhan! Tega sekali Dia memfitnahmu seperti itu. Intinya, kurang lebih, nasib Kita sama. Hanya saja, Aku tidak sekuat dirimu yang bisa melawan Mereka yang sudah menindasku."


"Aku pun pernah sepertimu. Tapi, Aku sengaja tidak melawan karena Aku tidak ingin membebani Ibuku."


"Maksudmu, Tante Aiko?"


"Bukan, tapi Ibu Kandungku. Ibuku meninggal sebulan yang lalu. Ibuku meninggal tepat dihari Ulang Tahunku. Hatiku benar-benar merasa sangat hancur . Saat Aku berduka, tak ada satupun dari Teman-temanku yang datang untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa. Karena Ibuku sudah meninggal, maka disaat itulah Aku lebih leluasa membalas perbuatan Mereka yang sudah menindasku."


"Yumi-chan, ternyata Kamu sudah banyak mengalami hal yang berat. Aku salut sama Kamu. Kamu ternyata lebih kuat dariku."


"Terima kasih, Yui-chan."


"Yumi-chan, bolehkah Aku memelukmu?"


"Tentu saja."


Yui memelukku erat, dan Aku pun mengusap lembut punggungnya. Nasib Kami memang sama, hanya jalan cerita Kami saja yang berbeda. Aku bersyukur karena bisa bertemu dengan Teman yang senasib denganku.


Tak terasa, waktu sudah berganti malam. Yui mengajakku untuk makan malam bersama. Aku salut dengan Keluarga Yui, meskipun Mereka semua sibuk, tapi Mereka semua menyempatkan diri untuk makan malam bersama.


Aku cukup canggung bertemu dengan kedua Orang Tua Yui. Yui memperkenalkanku kepada Orang Tuanya. Kedua Orang Tua Yui sangat ramah. Bahkan, Aku sampai tidak percaya apa yang dikatakan oleh Seika tentang Ayah Yui, yang katanya seorang Yakuza.


"Ayah! Ibu! Ini Sahabatku, Dia adalah Siswi Baru di Sekolah. Namanya Yumiko."


"Selamat Malam, Paman! Bibi! Nama Saya Yumiko Matsushima."


"Hai, Yumiko!" Kedua Orang Tua Yui menyapaku dengan hangat.


"Oh ya, dimana Ryu?" Ibu Yui bertanya pada Yui.


"Entahlah! Bukankah Dia masih latihan Baseball?"


"Ya sudah, biarkan saja. Sebentar lagi juga pasti turun."


"Yui, bisakah Kamu panggilkan Ryu? Ibu khawatir kalau Dia justru ketiduran karena kelelahan. Dua Minggu lagi akan ada Pertandingan Baseball antar Universitas."


"Baiklah. Yumi-chan, tunggu sebentar!"


"Oke."


Yui berlari menaiki anak tangga. Terdengar suara ketukan pintu berulang kali. Namun, pemilik Kamar tersebut sepertinya tidak menjawab. Yui mencoba mengetuk pintu lagi, dan lagi. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada jawaban sama sekali. Yui kembali menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.


"Ibu, sepertinya Kak Ryu sudah tidur."


"Oh ya? Baiklah kalau begitu, nanti makan malamnya diantar saja ke Kamarnya.


Hidangan makan malam yang disajikan di Meja Makan sangat menggugah selera. Semua hidangan yang disajikan bertema Seafood. Dan, satu menu yang cukup menyita perhatianku adalah Udang Balado.


"Yumiko, silahkan di makan makanannya! Maaf kalau ala kadarnya."


"Terima kasih, Bibi!"


"Akane-san, tolong antarkan Makanan untuk Ryu! Jangan lupa Udang Baladonya, Ryu suka sekali."


"Baik, Nyonya!"


Ibu Yui meminta salah satu Pelayannya untuk mengantar makan malam ke Kamar Kakak Yui. Jadi, Kakak Yui ternyata memiliki selera yang sama denganku. Sama-sama menyukai Udang Balado.


Saat Kami menikmati santapan makan malam, tidak ada satupun yang bersuara. Mungkin, memang sudah aturan di Rumah ini kalau saat makan bersama tidak boleh ada yang berbicara.


Setelah makan malam bersama, Kami kembali ke Kamar masing-masing. Aku dan Yui memilih untuk saling bercerita tentang kehidupan Kami, sambil merebahkan diri di atas Kasur Yui yang sangat empuk. Hingga tak terasa, sudah hampir tengah malam.


"Yui-chan, sepertinya Aku ingin ke Toilet, ada disebelah mana, ya?"


"Setelah keluar pintu, Kamu jalan kearah Kiri. Tepatnya di sebelah Kamarku."


"Bukankah seharusnya Kamar Tidur sebesar ini punya Kamar Mandi sendiri?"


"Seharusnya begitu! Tapi Aku sangat penakut. Aku tidak suka kalau Kamar Tidur menyatu dengan Kamar Mandi. Aku pasti membayangkan sesuatu yang menyeramkan."


"Hmmm— hal seperti itu tidak ada. Hanya ada di Film saja," ujarku.


"Ya sudah, Aku ke Toilet dulu sebentar!" timpalku.


"Oke."


Kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang? Apakah jangan-jangan ucapan Yui ada benarnya?


Bulu kudukku meremang. Apalagi, saat kudengar seperti ada seseorang yang sepertinya sedang menyiram Toilet.


Aku mencoba mengintip di lubang pintu Kamar Mandi. Tapi, tidak ada siapapun di dalam sana.


Cklek!


"Oh, tidak! Suara pintu terbuka?" batinku


Namun, pemandangan yang sangat mengejutkanku adalah ketika seorang Laki-laki tengah berdiri di ambang pintu.Ia memakai sehelai handuk yang hanya menutupi bagian perut hingga lututnya.


"Kamu?" sahut Kami bersamaan.