YUMIKO

YUMIKO
PREFEKTUR OSAKA



Tibalah Kami di Osaka. Dari Stasiun Osaka, Kami menyewa Dua buah Mobil minibus. Kami akan menuju Villa Pribadi milik Kakek di daerah Minoo. Perjalanan dari Stasiun Osaka ke Minoo membutuhkan waktu kurang lebih selama 30 menit menggunakan Mobil. Berhubung Keluarga Ibu semuanya telah pindah ke Tokyo, maka Kakek berinisiatif untuk membeli sebuah Villa Pribadi di daerah Minoo. Dengan tujuan, jika suatu hari Mereka pergi berlibur ke Osaka, tidak perlu repot-repot lagi menyewa penginapan. Meskipun Villa milik Kakek dibiarkan kosong dalam waktu yang lama, tapi Villa itu tetap bersih karena Kakek meminta tolong kepada kenalannya yang kebetulan dulu adalah Tetangga saat Mereka masih tinggal di Minoo, namanya Pak Hamabe. Dia lah yang rutin membersihkan Villa milik Kakek setiap 3 hari sekali. Maka dari itu, Perabotan yang ada di dalam Villa Kakek selalu bersih, dan tanaman yang ada di halaman depan sangat terawat. Villa Kakek memiliki 5 buah Kamar. Kakek sengaja membuat banyak Kamar dengan tujuan agar suatu hari nanti Kakek bisa mengajak Anak, Menantu serta Cucu-cucunya untuk menginap di Villa miliknya. Villa Kakek memiliki design Gaya Tradisional tempo dulu.


"Akhirnya, sampai juga! Wah, Villa Kakek bagus sekali!"


"Apa Kamu senang, Yumiko?" tanya Kakek padaku.


"Senang sekali. Liburan kali ini pasti sangat menyenangkan!" Aku merangkul lengan Kakek dan kepalaku bersandar di bahunya. Meskipun Kakek bukanlah Kakek Kandungku. Tapi, Aku merasa kalau Kakek itu sudah seperti Kakek Kandungku. Ia terlihat begitu menyayangiku.


"Baiklah. Mari Kita masuk!" ajak Kakek kepada yang lain.


"Baik!"


Kami membagi Kamar masing-masing. Kakek dan Nenek di Kamar utama. Paman Toshio dan Bibi Emiko di Kamar kedua. Ayah dan Ibu berada di Kamar ketiga. Tersisa 2 buah kamar lagi. Satu kamar diisi olehku, Yui dan Seika. Dan satu kamar lagi diisi oleh Hiro, Akira dan Ryu.


Kami semua beristirahat sejenak sembari menunggu waktu Makan Malam tiba. Isteri dari Pak Hamabe, yaitu Ibu Fukuhara memasak makan malam untuk Kami semua. Ibu Fukuhara memasak makanan khas Osaka, dengan tema makanan laut.


Sudah waktunya Kami makan malam. Masakan yang dihidangkan diantaranya adalah Udon-Suki (Hidangan laut dan sayuran yang disajikan ala Sukiyaki dan disajikan dengan Udon), Tessa (Shasimi ikan buntal), Ikayaki (Penekuk Cumi Panggang), selain itu ada—Udang balado? Bagaimana bisa ada makanan kesukaanku? Namun, Udang balado ini dicampur dengan tofu (tahu jepang).


"Itadakimasu!" (selamat makan).


"Ibu, bukankah ini adalah Makanan kesukaanku?" Aku menunjuk pada Udang Balado.


"Ya. Sebelumnya, Ibu meminta pada Ibu Fukuhara untuk membuat makanan kesukaanmu."


"Benarkah? Terima kasih, Bu?"


"Iya."


"Yumi-chan, seleramu sama dengan Kak Ryu!"


Aku baru ingat, saat Aku menginap di Rumah Yui. Ibu dari Yui pernah bilang kalau Udang Balado adalah makanan kesukaan Ryu.


"A-Ah, benarkah? Aku baru tahu!" Aku terpaksa berpura-pura tidak tahu.


"Iya. Dia sangat suka sekali. Karena saat itu Ia pernah menonton sajian masakan khas Indonesia. Dia begitu tergiur ingin mencobanya. Ternyata, saat Kami pergi ke Nagoya, ada Restoran khas Indonesia. Dan kebetulan sekali ada menu Udang Pedas. Saat Kak Ryu mencobanya untuk pertama kali, Ia langsung jatuh cinta pada rasanya. Selanjutnya, Ibu mencari Resep Udang tersebut. Di Indonesia ternyata dinamakan UDANG BALADO."


"Begitukah? Ternyata selera Kami sama."


"Benar. Sepertinya Kalian jodoh!" Yui mengucapkan hal tersebut dengan wajah polosnya.


Ryu tiba-tiba saja tersedak ketika Ia sedang menyantap makanannya. Aku mengamati raut wajah yang lain. Mereka seolah sedang menahan tawa karena ucapan Yui. Wajah Ayah terlihat tampak serius, sedangkan Ibu tersenyum manis padaku.


"O-oh, begitu, ya!" jawabku singkat. Aku tak berani mengucapkan kalimat penolakan. Karena memang Aku pun menyukai Ryu. Hanya saja, Aku masih belum bisa memastikan perasaan Ryu padaku. Tapi, setelah kejadian di Kereta tadi, apakah Ia manaruh hati padaku?


Selesai makan malam, Kami semua berkumpul dihalaman depan. Kami membuat Api Unggun dan duduk dengan formasi lingkaran. Namun, Kakek dan Nenek hanya menyaksikan keseruan Kami dari dalam Villa. Kakek dan Nenek sudah tidak bisa berlama-lama berada di Udara dingin saat malam hari.


"Semenjak ada Yumiko, liburan Kita kali ini terasa sangat menyenangkan. Begitu ramai hingga Aku tetap ingin seperti ini," ujar Kakek.


"Memangnya Orang Tua Kalian tidak masalah jika Kalian ikut bersama Kami?" Ibu bertanya pada yang lain.


"Tidak. Mereka justru mengizinkan Kami ikut. Ayah dan Ibuku sibuk bekerja. Jadi, Aku dan Kakakku jarang diajak berlibur. Maka dari itu, Kami lebih sering liburan sendiri, atau pergi bersama teman-teman," ujar Yui.


"Begitu, ya! Lalu, bagaimana dengan Akira dan Seika?" tanya Bibi Emiko.


"Ayahku sibuk urusan Negara. Begitupun dengan Ibuku. Ibuku sering menemani Ayahku kemanapun Ia pergi. Mereka jarang sekali di Rumah. Jadi, Aku lebih sering bersama Pembantuku."


"Urusan Negara? Apakah Ayahmu seorang Anggota Parlemen?" tanya Bibi Emiko.


"Ayahku, Arata Miyama. Wakil Perdana Menteri."


"Ya Tuhan! Ayahmu Wakil Perdana Menteri? Apakah tidak masalah jika Kamu ikut bersama Kami."


"Tidak. Karena Mereka tahu kalau Aku pergi bersama Yui dan Kak Ryu."


"Apakah Kalian bersaudara?"


"Ya, Kami saudara sepupu."


Yui dan Ryu menatap Seika. Mereka terkejut mendengar pernyataan dari Seika. Apakah selama ini Seika tak pernah menganggap Mereka Saudara? Maka dari itu, sampai sebegitunya Mereka terkejut ketika mendengar pernyataan Seika yang mengatakan kalau Mereka adalah Saudara.


"Lalu, bagaimana dengan Akira?"


"Kalau Ayahku sedang Dinas di Chiba. Lalu, Ibuku sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Jadi, Aku hanya tinggal bersama Kakak dan Adikku. Maka dari itu, Kami harus hidup mandiri karena Ayah sangat sibuk bekerja."


Ya Tuhan! Aku baru tahu kalau ternyata Akira sudah tidak memiliki Ibu. Sama sepertiku. Pasti merasa sangat kehilangan.


"Akira, pasti sedih sekali ditinggal oleh sosok Ibu yang Kita cintai. Sama sepertiku. Saat Aku masih di Indonesia, Ibuku meninggal. Tinggallah diriku yang sebatang kara. Aku pikir, Aku akan hidup sendiri seumur hidupku. Tapi ternyata, Aku bersyukur karena Aku masih memiliki seorang Ayah yang tinggal di Jepang, dan Ibu yang sangat baik seperti Bibi Aiko. Mereka berdua sangat menyayangi diriku."


"Ya, awalnya memang berat. Tapi, Kita yang masih hidup harus terus berusaha."


"Betul sekali. Kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan."


Suasana tiba-tiba menjadi hening. Kami semua kompak menatap kobaran api unggun yang ada dihadapan Kami.


"Bagaimana kalau Kita bernyanyi bersama?Toshio sangat pandai bermain gitar!" Ayah akhirnya memecah keheningan diantara Kami.


"Boleh juga. Baiklah, Mari Kita bernyanyi bersama!"


Suasana menjadi ramai kembali. Paman Toshio memainkan gitarnya dengan sangat baik. Aku, Yui, Ibu, Bibi Emiko bernyanyi bersama. Aku tidak banyak tahu judul lagu Jepang yang sedang booming saat ini. Aku hanya ikut meramaikan saja dengan tepuk tangan sembari tertawa bersama. Kulihat Seika mengajak Hiro bicara. Akira yang masih setia menatap kobaran api unggun. Entah apa yang ada dipikirkannya saat ini? Namun, Aku masih bertanya-tanya, kenapa saat ini Yui seolah sudah peduli lagi dengan kedekatan Hiro dan Seika? Tatapan Yui selalu saja mengarah pada Akira. Apakah perasaan Yui sudah mulai berpaling pada Akira?


Tapi, ada suatu pemandangan yang cukup menyita perhatianku, yaitu Ayah. Ternyata, Ayah sedang asyik mengobrol dengan Ryu. Sebenarnya, apa yang sedang Mereka bicarakan? Astaga! Aku jadi penasaran dan ingin tahu. Jantungku pun berdegup kencang melihat Ayah dan Ryu asyik mengobrol.