
Aku tak pernah menyangka, kejadian ini begitu sangat mendadak. Bunda, kenapa Bunda meninggalkan Aku sendiri di Dunia ini? Kenapa Bunda harus pergi sendiri? Apakah Bunda tidak ingin mengajakku?
Aku lelah, Bunda! Aku lelah! Tak ada satupun dari Mereka yang peduli padaku. Bahkan, saat Bunda meninggal, Teman-teman tidak ada satupun yang melayat. Hanya Bu Roro yang datang untuk melayat.
Tak apa, Aku harus kuat! seperti pesan Bunda padaku untuk yang terakhir kali. Jika Bunda yakin Aku bisa melalui itu semua, maka pasti Aku bisa melewati itu semua.
Baiklah, kini Bunda sudah pergi untuk selamanya. Sudah waktunya Aku menunjukkan siapa diriku!
Selama ini, Aku hanya diam tak bergeming menghadapi Mereka. Kali ini, Aku akan melawan. Karena, sudah tidak ada alasan lagi untukku tetap mengalah atas perbuatan Mereka.
Sudah 2 hari ini, Aku kurang bergairah. Nafsu makanku lenyap. Aku ingin makan masakan Bunda.
Bunda dinyatakan meninggal ketika sedang bekerja. Bunda bekerja di Pabrik Minuman. Dari rekaman CCTV, Bunda saat itu sedang memegangi kepalanya. Tak lama, Bunda pingsan dan kepala bagian belakangnya terbentur mesin berat.
Memang sudah Takdir. Tidak ada yang bisa disalahkan. Memang semua ini murni kecelakaan tunggal yang kebetulan terjadi di Pabrik tempat Bunda bekerja.
Tok tok tok
"Siapa?"
"Ini Bu Risma."
"Oh, Bu Risma! Sebentar!"
Aku membuka pintu untuk Bu Risma. Namun, siapa sangka? Ternyata Ia bersama seorang Pria Gagah dan tampan, usianya diperkirakan sudah diatas 40 tahun.
"Ya. Ada apa Bu Risma? Dan, Bapak ini, siapa ya, Bu?"
"Anu, Bapak ini bicaranya pakai Bahasa Inggris. Saya kurang paham. Intinya sih Dia nanya rumah Ibu Sheryl. Maka dari itu, Saya bawa saja Dia kemari!"
"Oh begtu. Nama Bunda memang Sheryl. Dan, yang punya nama Sheryl di daerah sini hanya Bunda."
"Begitu, ya! Cocok lah. Ya sudah, Saya permisi dulu kalau begitu. Mari, Yumi! Mister!"
Pria itu tersenyum menawan. Memang sangat tampan di Usianya yang terbilang sudah sepantasnya menjadi Ayahku.
(Percakapan dibawah ini menggunakan Bahasa Inggris. Berhubung Penulis ga terlalu mahir Bahasa Inggris, jadi Saya gunakan Bahasa Indonesia)
"Bapak cari Ibu Sheryl?"
"Ya, benar!"
"Kalau boleh tahu, Bapak siapa, ya?"
"Perkenalkan, nama Saya Junichi Matsushima."
"Junichi Matsushima? Bapak dari Jepang?"
"Ya, benar. Apakah Kamu Anak dari Sheryl?"
"Ya, betul. Ada apa? Bapak mencari Ibu Saya?"
"Tidak! Saya mencari Kamu."
"Apa? Mencari Saya. Bapak siapa, ya? Kenapa di awal malah menanyakan Ibu Saya?"
"Mohon maaf sebelumnya, Saya dengar kabar, kalau Ibumu sudah meninggal 2 hari yang lalu."
"Iya, betul. Bapak tahu dari siapa?"
"Dari teman Saya di Indonesia."
"Teman? Jadi, Bapak ini siapa?"
Pria itu terdiam sepersekian detik. Aku berusaha menelaah mimik wajahnya. Dari raut wajahnya, Ia mulai menunjukkan kesedihan.
"S-Saya, Saya Ayahmu, Anakku!" Pria itu menangis dan reflek ingin memelukku. Tapi, Aku berusaha untuk mundur beberapa langkah.
"APA?" suaraku nyaris teriak dan hampir saja menjadi pusat perhatian.
"Tenang! Saya tidak ada maksud jahat sama Kamu."
"Tidak! Bohong! Bapak pasti bohong. Bapak ngaku-ngaku sebagai Orang Jepang, kan? Iya, kan?"
"Saya bersumpah! Saya Ayah Kandungmu."
"PERGI! PERGI DARI SINI!" Aku mendorong pintu dengan keras, dan tidak memberi kesempatan baginya untuk menjelaskan.
Aku duduk membelakangi pintu. Aku menangis. Kenapa? Kenapa Dia baru muncul? Tapi, jika memang benar Dia adalah Ayah Kandung yang ingin kutemui dari dulu, kenapa Ia membuangku dan juga Bunda?
"Anakku, Yumiko! Tolong, beri Saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya!"
"AKU BILANG PERGI!"
"Yumiko! Tolong, sekali saja! Beri Saya sedikit waktu. Saya janji, setelah ini Saya akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi."
Mungkin, sebaiknya Aku memberi kesempatan baginya untuk menjelaskan. Bagaimanapun juga, Aku memang merindukan sosok Ayah.
Cklek!
"Yumiko! Terima kasih. Tolong beri Saya kesempatan untuk menjelaskan!" Ia membungkukkan badan yang menjadi ciri khas sopan santun dari Masyarakat Jepang.
"Baiklah. Sekarang, katakan yang sejujurnya kepadaku. Aku tidak ingin ada kebohongan."
Bali, 19 tahun yang lalu
"Junichi Matsushima."
"Sheryl Cassandra."
Sheryl dan Junichi saling berjabat tangan. Kesan pertama pertemuan Mereka saat berada dipinggir pantai Kuta.
Sheryl yang notabene tinggal di Jakarta, kala itu sedang berlibur bersama teman-temannya di Bali saat Kelulusan SMA. Sheryl sedang duduk sendiri di tepi Pantai, dibawah panas terik matahari sambil memandangi indahnya laut. Ia menyadari, ternyata ada seseorang yang meminta tolong. Sheryl segera berlari dan menceburkan dirinya ke dalam air, Ia tidak peduli kalau Ia sedang menggunakan Dress. Yang ada dipikirannya, Ia harus segera menyelamatkan Orang itu sebelum tenggelam terbawa arus.
Sheryl pandai berenang, dengan sekuat tenaga, Ia membawa Orang tersebut kepinggir pantai. Beberapa Wisatawan yang melihat kejadian tersebut berusaha untuk membantu.
Sheryl berusaha membantu Orang tersebut, yang ternyata adalah seorang Pria, dan diketahui Pria itu adalah Junichi. Sheryl berusaha memberikan pertolongan pertama dengan memompa bagian dadanya. Hasilnya nihil, Junichi itu belum sadar juga.
"Mbak, kasih nafas buatan saja!" sahut salah satu Wisatawan.
"Ta-tapi?"
"Cepat, Mbak! Bukankah itu pacarnya Mbak, ya?"
Sheryl menjadi bimbang. Ia sama sekali tidak mengenal Pria yang sudah Ia tolong. Dengan terpaksa, karena desakan dari para Wisatawan yang lain, maka Sheryl memberikan nafas buatan untuk Junichi. Dan, beruntung Junichi selamat dan sadar.
Setelah kejadian itu, Sheryl dan Junichi menjadi lebih akrab. Kebetulan, masa-masa liburan Mereka masih tinggal beberapa hari lagi. Junichi juga diketahui adalah Wisatawan Asing dari Jepang. Ia bersama rombongan Kampusnya.
Singkatnya, sebelum masa liburan usai, Junichi dan Sheryl bertemu di salah satu Hotel yang letaknya cukup jauh dari Tempat Mereka menginap. Mereka saling memadu kasih dan akhirnya melakukan hubungan terlarang. Sebelum berpisah, Mereka saling bertukar nomor telepon untuk memudahkan Komunikasi meskipun harus dipisahkan oleh Samudera.
Tiga bulan berlalu, Sheryl mengalami muntah-muntah setiap pagi. Badannya begitu lemah. Padahal, sebentar lagi Ia akan masuk ke Universitas.
Ia baru sadar, ternyata sudah 3 bulan tidak menstruasi. Sheryl begitu ketakutan. Ia takut jika ternyata Ia sedang hamil. Bagaimana dengan Orang Tuanya jika sampai tahu? Bagaimana dengan Kuliahnya yang baru saja mau mulai? Beribu pertanyaan berkecamuk di pikirannya.
Sheryl membeli beberapa buah alat tes kehamilan. Tiba dirumah, Ia buru-buru menuju Kamar Mandi dan melakukan tes kehamilan dengan Air Seni. Beberapa detik kemudian, hasil tes itu keluar. Terpampang nyata, 2 garis merah. Sheryl begitu panik, Ia mencoba sekali lagi dengan alat yang berbeda. Namun, hasilnya tetap sama. Bagaimana jika seluruh Orang tahu tentang kehamilannya? Apalagi, Orang yang sudah menghamilinya bukan Warga Negara Indonesia.
Sheryl ingat, Ia pernah menyimpan nomor telepon Junichi di Buku Diarynya. Sheryl coba menghubungi nomor Junichi. Bersyukur, ternyata nomor itu aktif dan diterima oleh Junichi.
"Halo!"
"Ya, siapa ini?" tanya Junichi.
"I-ini Aku, Sheryl."
"Ya Tuhan, Sheryl? Aku sangat merindukanmu. Kenapa Kamu baru menghubungiku? Waktu itu, Aku sempat menghubungimu, tapi kenapa nomormu tidak aktif?"
"Iya. Ponselku hilang saat di Bandara. Tapi, Aku sempat simpan nomormu di Buku Diary. Maaf, Aku baru bisa menghubungi Kamu sekarang."
"Tidak apa-apa. Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku, kurang baik."
"Maksud Kamu?"
"Ya, Aku sedang tidak baik-baik saja."
"Ya Tuhan, coba ceritakan, ada masalah apa?"
Sheryl menghela nafas panjang. Ia berusaha memantapkan hatinya untuk mengakui kepada Junichi kalau Ia tengah mengandung. Sheryl takut, jika Junichi tidak ingin bertanggung jawab.
"Halo, Sheryl? Kamu masih disana?"
"Y-ya, masih."
"Ada apa? Aku penasaran. Cepat ceritakan!"
"A-aku, Aku hamil."
"APA?"
Junichi terdengar sangat panik. Tapi, siapa sangka, Junichi ingin bertanggung jawab sepenuhnya pada Sheryl. Junichi segera menghampiri Sheryl ke Indonesia. Mereka saling melepas rindu.
Junichi berjanji, akan menikahi Sheryl. Tapi, Sheryl bukanlah Wanita yang egois. Junichi masih memerlukan waktu 2 tahun agar lulus Kuliah. Sheryl tidak ingin membebani Junichi. Biarlah Ia yang menanggung semuanya sendiri. Junichi sangat mencintai Sheryl dan calon buah hatinya.
"Kejarlah cita-citamu. Aku tak masalah menanggung beban ini sendiri. Setelah Kamu menggapai semuanya, datanglah kembali pada Kami!"
Perpisahan yang begitu pilu. Membuat dada Mereka begitu sesak. Sakit! Tapi, Sheryl merasa kalau itu sudah keputusan yang tepat. Hingga akhirnya, Junichi tak pernah kembali lagi, meskipun Sheryl dan Yumiko kecil sedang menantikan kehadirannya.
Ya, Junichi telah jatuh cinta kepada Wanita lain dan akan segera Menikah. Mengetahui akan hal itu, Sheryl memilih untuk mengalah dan tidak ingin mengganggu kebahagiaan Junichi.
Kembali ke waktu saat ini
Aku menangis mendengar cerita dari Pria itu. Sepertinya, Ia jujur dengan perkataannya. Ia pun ikut menangis bersamaku, Ia begitu sangat menyesali perbuatannya pada Kami.
"Jika Ibumu tidak menolongku saat itu, mungkin Aku sudah tidak ada di Dunia ini lagi."
Lagi-lagi, Aku menangis. Dadaku begitu sesak. Ternyata, inilah alasannya kenapa Bunda begitu merahasiakan tentang sosok Ayah padaku. Bunda hanya tidak ingin membuka luka lama. Sekaligus membuka hatinya untuk Pria lain. Padahal, Bunda sangat cantik, banyak Pria yang melamar Bunda. Tapi, Bunda menolak dengan halus.
"Asal Anda tahu, selama ini, Bunda tidak pernah Menikah dengan siapapun. Mungkin saja, Bunda selalu menunggu Anda."
"Benarkah? Ya Tuhan, Aku begitu kejam padanya. Ternyata Ia selalu menungguku. Tapi, Aku malah menyia-nyiakan ketulusannya. Aku memang Bodoh!" tangisnya pecah sambil meratapi rasa bersalah.
"Baiklah, jika memang Anda adalah Ayah Kandungku. Mari, Kita tes DNA!"