
Aku, Yumiko. Mereka biasa memanggilku dengan sebutan 'Anak Haram'. Sejujurnya, Aku sangat muak dengan hinaan dari Mereka. Mereka mengira bahwa Mereka adalah Anak-anak yang sempurna.
Aku memang sangat menginginkan Keluarga yang utuh, tapi setidaknya meskipun Aku tidak memiliki seorang Ayah, Aku ingin tahu siapa sebenarnya Ayah Kandungku?
Bunda tidak pernah memberi tahu tentang kebenarannya. Bunda hanya berkata kalau Ayah Kandungku Warga Negara Jepang. Selebihnya, Bunda merahasiakan kebenaran itu.
"Yumi, sarapannya kenapa enggak dihabiskan?"
"Udah, Bun! Yumi udah kenyang."
"Yumi, hari ini Kamu Ulang Tahun. Mau hadiah apa dari Bunda?"
"Yumi enggak mau apa-apa!"
"Masa enggak mau hadiah? Serius, nih?"
"Serius. Yumi enggak mau apa-apa. Yumi cuma mau Bunda sehat terus. Belakangan ini, Bunda kelihatannya agak kurang sehat? Bunda sakit?"
"A-ah enggak. Bunda sehat, kok. Hanya sedikit pusing aja, tapi nanti juga hilang pusingnya."
"Bunda bohong, ya? Kalau Bunda kurang sehat, lebih baik Bunda jangan kerja dulu. Istirahat di Rumah."
"Bunda enggak apa-apa. Oh ya, gimana Sekolahmu?"
"Ba-baik, kok. Yumi baik-baik aja."
"Tidak ada masalah?"
"Tidak, kok."
"Ngomong-ngomong, sudah lama Diana tidak pernah datang kerumah?"
Aku tertegun mendengar pertanyaan dari Bunda. Aku bingung harus menjawab apa? Aku tidak ingin Bunda tahu masalah yang sedang Aku alami di Sekolah. Kasihan Bunda, Beliau sudah susah payah dan berkorban banyak untukku. Bahkan, Bunda sudah merangkap perannya sebagai Ibu dan Ayah. Aku hanya tidak ingin menambah beban Bunda.
"Diana? Kami beda kelas. Jadi, Dia sibuk dengan teman-teman barunya."
"Oh, begitu! Yumi, maafin Bunda ya, Nak?"
"Maaf kenapa, Bunda? Memangnya, Bunda sudah melakukan kesalahan?"
"Ah, tidak! Hanya saja, Bunda ingin minta maaf atas kesalahan Bunda di masa lalu. Bunda hanya tidak ingin terlambat untuk mengatakannya."
"Maksud Bunda? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?"
"Tidak! Bunda hanya asal bicara saja. Kalau begitu, Kamu siap-siap berangkat Sekolah sekarang, ya! Nanti malam, Bunda masakin makanan kesukaan Kamu. Terus, Bunda akan beliin Cake Red Velvet Favorit Kamu. Gimana?"
"Oke, Bunda! Janji, ya?"
"Iya, Sayang."
Bunda meraih tubuhku lalu memelukku dengan sangat erat. Entah kenapa rasanya ada sesuatu yang beda pada Bunda. Tapi, Aku berusaha menepis perasaan itu.
"Bunda, Yumi sayang sekali sama Bunda."
"Bunda juga sayang sekali sama Kamu, Nak! Doa Bunda, semoga Kamu bisa menjadi Anak yang kuat dan sabar dalam menghadapi cobaan!" senyum Bunda begitu merekah. Aku tidak ingin menyakiti hatinya. Selama ini, Bunda sudah terlalu lama menyimpan beban itu.
"Yumi berangkat Sekolah dulu ya, Bunda!" Aku mencium kening dan pipi Bunda.
"Hati-hati ya, Sayang!"
Sepanjang perjalanan, hatiku merasa tak menentu. Tapi, Aku tidak ingin menjadikan hal itu sebuah sugesti. Selalu kukatakan pada diri sendiri, bahwa semua akan baik-baik saja. Dan, Aku akan bisa melewati hari ini dengan baik.
SMA HARAPAN BANGSA
"Anak-anak, hari ini Bapak akan membagikan hasil Ulangan Bahasa Jepang Kalian. Sebagian besar dari Kalian sudah mengalami banyak kemajuan. Sebagian lagi tetap sama hasilnya seperti sebelumnya. Tapi, Bapak salut sama peningkatan dari salah satu Siswi di Kelas ini. Dia mengalami banyak sekali kemajuan. Bahkan, nilai Bahasa Jepangnya yang tertinggi di Sekolah ini. Kalian penasaran kan siapa orangnya?"
"Siapa sih? Siapa sih?" Mereka semua ribut mempertanyakan siapa Siswi yang yang dimaksud oleh Pak Anto.
"Siapa, Pak? Kasih tahu dong!" Diana bertanya pada Pak Anto.
Ya! Aku berbohong pada Bunda. Sejak kelas 10 hingga saat ini duduk dibangku kelas 11, Aku selalu satu kelas dengannya.
Diana, Dia adalah temanku, lebih tepatnya Mantan Sahabatku. Kami sangat dekat ketika Kami masih SMP. Dan, setelah lulus SMP, Kami memutuskan untuk bersekolah di Sekolah yang sama. Tapi, ketika pertengahan semester kelas 10, Diana menyukai Kakak Kelas dari Kelas 12, namanya Kak Rangga. Diana memintaku untuk menjadi Mak Comblangnya. Tapi, Aku tak pernah menyangka kalau ternyata Kak Rangga dari awal sudah menyukaiku.
Ketika Diana mengetahui bahwa Kak Rangga menyatakan suka padaku, Ia menjadi murka dan sangat membenciku. Ia beranggapan kalau Akulah yang berusaha merebut Kak Rangga darinya. Diana sama sekali tidak memikirkan kalau Aku memang tulus membantunya. Yang dipikirkannya adalah kalau Aku yang salah. Dan, Ia sama sekali tidak menyalahkan Kak Rangga. Sebelum peristiwa itu terjadi, Aku banyak dikagumi oleh Laki-laki satu Sekolah. Tapi, semenjak Diana mengeluarkan racunnya, semua situasi itu berbalik menyerangku. Mulut Diana memang sangat tajam. Ia memutar balikkan fakta yang mengatakan kalau Aku telah merebut Kak Rangga dengan tebar pesona. Dan, semua Orang tentu saja percaya, terutama Murid Perempuan yang mayoritas iri terhadapku. Racun itu semakin lama semakin menyebar, tak tanggung-tanggung, Diana mulai menyebarkan aib bahwa Aku Anak yang lahir di Luar Nikah. Aku menyesal, Aku sudah sepenuhnya percaya padanya. Aku menceritakan padanya kalau Aku tidak memiliki Ayah. Sungguh ironis!
"Nilai tertinggi Bahasa Jepang diraih oleh Siswi bernama Yumiko."
Satu kelas menjadi hening saat Pak Anto menyebut namaku. Mereka hanya menatap tajam ke arahku. Seolah Aku tak pantas untuk menyandang predikat nilai tertinggi.
"Yumiko! Silahkan diambil kertas hasil Ulangannya!"
Aku bangkit dari tempat dudukku, Aku berjalan menghampiri Pak Anto yang sudah bersiap memberikan kertas hasil Ulanganku. Saat kuraih kertas itu, Pak Anto bertanya kepadaku, "Kamu Les Bahasa Jepang juga?"
"Iya, Pak!"
"Kalau Orang Tuamu asli Jepang, ya?"
Aku tertegun ketika Pak Anto bertanya seperti itu padaku. Aku sedang berada dihadapan semua teman-teman sekelas ku. Aku sendiri bingung harus menjawab apa?
"A-ah, bukan! Ibuku asli Indonesia."
"Oh begitu, tapi namamu Yumiko, seperti nama Orang Jepang. Mungkin Ayahmu asli Jepang ya?"tanya Pak Anto penuh selidik.
"Dia enggak punya Ayah, Pak!" sahut Diana.
Diana memotong ucapanku. Sungguh keterlaluan! Pak Anto menatapku dengan heran. Beliau pasti merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini. Satu kelas menjadi riuh karena ucapan dari Diana. Mereka semua menertawakanku.
"Ya sudah, Kamu kembali ke tempat duduk Kamu!"
"Baik, Pak!"
Saat Aku kembali ke tempat duduk, Mereka semua masih menatapku dengan tatapan sinis. Aku tak menyadari kalau ternyata seseorang menjulurkan kakinya tepat dihadapanku. Alhasil, kakiku terantuk kakinya. Aku terjatuh, dan Mereka semua menertawakanku. Sungguh ironis! Aku berharap, kalau Aku tidak akan pernah melihat wajah Mereka lagi. Ya, semoga!
Jam Istirahat
"Yumiko! Padahal Dia cantik banget, tapi sayang, Anak Haram. Gue ogah pacaran sama Anak Haram kayak Dia. Apa kata Keluarga Gue nanti kalau Gue sampai jadi Nikah sama Dia? Mending Gue sama Diana, yang jelas-jelas ketahuan bibit bebet bobotnya."
"Memangnya si Diana Anak Orang Kaya?"
"Katanya sih Bokapnya Diana itu Direktur Bank."
"Wuih, keren. Loe udah PDKT sama Dia?"
"Ya belum. Diana kan tahunya Gue itu naksir sama Yumiko."
"Terus, kenapa Loe deketin Yumiko? Jangan bilang Loe deketin Dia karena ada maunya?"
"Tahu aja Loe. Masa iya Gue enggak dapat apa-apa setelah belain Dia selama ini? Minimal bisa dapat ciuman dari Dia udah lumayan lah! Syukur-syukur lebih dari itu. Body nya itu loh, bikin Gue kepengen. Kali aja Dia sama kayak cewek-cewek bodoh yang mau Gue deketin."
"Wah, parah Loe! Gue kalau jadi Dia bakal sakit hati banget!"
"Ya jangan sampai Dia tau lah!"
Suara itu? Ya, Dia adalah Darren. Aku mendengar perkataan itu saat hendak ke Toilet. Darren! Dia yang selama ini selalu membelaku dan bersikap baik padaku. Disaat yang lain begitu ramai menghinaku, Dialah satu-satunya yang selalu melindungiku.
Penipu! Jadi, selama ini Ia mendekatiku karena ada maunya. Dia pikir kalau Dia itu lebih baik? Tidak! Dia itu sampah! Lebih rendah dari yang lain.
Cih! Diana? Anak Direktur Bank? Lebih tepatnya Satpam di Bank. Dulu, seringkali Aku memergoki Dia seolah tak mengenal Ayahnya sendiri karena malu. Tentu saja Ia malu dengan pekerjaan Ayahnya yang hanya sebagai Satpam. Sedangkan Ia begitu pamer kepada teman-teman yang lain kalau Ayahnya seorang Direktur Bank. Bergaya seolah Anak Orang Kaya. Ia kerap kali memaksakan untuk membeli barang Merk Mewah agar teman-teman yang lain kagum sekaligus iri padanya.
Aku bisa saja membocorkan rahasia itu pada yang lain. Tapi, Mereka semua pasti tidak akan ada yang percaya padaku. Aku pikir, suatu hari pasti Mereka akan tahu kebohongan yang ditutupi oleh Diana.
Namun, Aku bersyukur karena Tuhan menunjukkan sifat asli Darren. Ternyata, Dia lebih busuk dari teman-teman yang lain. Menyesal Aku pernah sangat percaya padanya.
"Yumi! Yumi!"
Ricky, Ketua Kelas di Kelasku, sekaligus Siswa Teladan. Ia termasuk salah satu Siswa yang bersikap netral, alias tidak ikut-ikutan menghinaku 'Anak Haram'.
"Ya? Ada apa, Ricky?"
"Kamu dipanggil Bu Roro ke Ruang Guru! Katanya ada seseorang yang mau bertemu sama Kamu."
Bu Roro adalah Wali Kelasku. Beliau mengajar Mata Pelajaran Biologi kelas 10.
"Oke, makasih ya, Ky?"
"Ya, sama-sama."
Aku mendatangi Bu Roro ke Ruang Guru. Aku penasaran, siapakah yang ingin bertemu denganku? Dan lagi, perasaanku semakin tak enak.
"Permisi!"
"Ya, ada apa?" tanya salah satu Guru yang berada di Ruang Guru.
"Saya mau bertemu dengan Bu Roro, Pak?"
"Yumi! Kemari!" sahut Bu Roro.
Aku semakin penasaran, siapakah seseorang yang ingin bertemu denganku? Rupanya seorang Wanita, Ia duduk membelakangiku. Dan Aku seperti mengenalnya.
"Yumi!" Wanita itu berbalik kepadaku.
"Lho, Bu Risma? Kok, Bu Risma ke Sekolah Yumi? Ada apa ya, Bu?"
"Yumi! Lebih baik Kamu ikut Ibu sekarang!" suara Bu Risma terdengar sangat panik. Aku melirik ke arah Bu Roro, tatapannya begitu nanar. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi? Kenapa dadaku begitu sesak?
"Bu Risma, ini sebenarnya ada apa? Bisa jelaskan dulu pada Yumi?"
"Aduh! Gimana, ya? Ibumu!"
"Bunda? Kenapa dengan Bunda?"
Sekali lagi, Aku melirik kearah Bu Roro. Namun, Beliau hanya diam membisu sambil sesekali menundukkan wajah.
"Pokoknya, Kamu ikut sama Ibu dulu, ya? Nanti Ibu jelaskan di Jalan."
"Bu, tolong tenang dulu! Bu Risma ceritakan saja pelan-pelan. Ada apa sebenarnya? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Bundaku?"
"Ibumu! Ibumu meninggal!"
"APA??"
Semua terasa gelap. Hanya samar-samar terdengar suara teriakan Bu Risma dan Bu Roro yang memanggil namaku.