
Aku memejamkan mataku. Ya Tuhan! Kenapa bisa ada Makhluk sesempurna ini dihadapanku? Tubuhnya sangat atletis. Pasti Orang ini rajin berolah raga.
"Kamu?" ujarnya.
Ups! Ketahuan! Terus, Aku harus bagaimana? Mau kabur tapi sudah terlanjur malu.
"Hei! Ngapain Kamu membungkuk disitu? Kamu mau mengintip Saya?"
Spontan Aku menegakkan badan. Oh, tidak!Ternyata Dia? Laki-laki Misterius itu? Bagaimana bisa? Apakah Dia Kakaknya Yui? Ya Tuhan! Aku semakin salah tingkah. Dia Laki-laki yang ada di mimpiku. Ternyata Dia adalah Kakak dari Yui, Sahabatku. Tapi, kenapa Dia tidak mengenaliku? Apakah Dia sudah lupa?
Ah, Jantungku?Jantungku berdebar sangat kencang.
"Halo! Saya dari tadi nanya Kamu?" ujarnya ketus.
"A-Ah, maaf!" Aku tersipu malu.
"Kamu mau terus membungkuk disitu?"
"Ti-dak. Saya mau masuk Kamar Mandi, kok!"
"Kalau mau masuk Kamar Mandi, ngapain halangi jalan Orang?"
"Ah, itu!"
"Ada apa sih ribut-ribut?" Yui tiba-tiba keluar Kamar.
"Kak Ryu! Kenapa Kakak ketus sekali sama Temanku?" Yui berusaha membelaku.
"Siapa yang ketus? Dia itu udah halangi jalan Kakak. Sampai membungkuk di depan pintu begitu. Mau mengintip, ya?"
"Yui, maaf, ya! Aku enggak bermaksud mengintip. Aku pikir Kamar mandinya kosong. Jadi, Aku mengintip dari lubang kunci."
"Tuh kan, Kak! Yumi-chan bukan mau mengintip Kakak. Kak Ryu saja yang terlalu percaya diri."
"Sudah lah, capek ngomong sama Anak Perempuan. Minggir!" Ryu menyuruhku untuk segera menggeser posisiku agar Ia bisa lewat.
Benar! Dia sungguh Laki-laki Misterius, sekaligus Laki-laki yang sangat kaku dan juga ketus. Bagaimana bisa sikap Yui dan Kakaknya berbanding terbalik seperti itu? Yui selalu bersikap ceria, tapi Kakaknya justru bersikap dingin. Sama seperti saat pertama kali bertemu, sangat ketus.
"Yumi-chan! Kamu enggak jadi masuk?"
"Oh, jadi, kok. Ini mau masuk. Tunggu sebentar ya, Yui-chan!"
Hah! Sungguh, Aku sampai tidak bisa tidur memikirkan kejadian tadi. Kenapa harus Dia? Kenapa Aku harus bertemu lagi dengannya di situasi yang tidak menyenangkan.
Tapi, kalau dipikir-pikir, Kami sudah dua kali bertemu. Dan, keduanya memang berada di situasi yang sama-sama tidak menyenangkan. Pertama, saat Ia dikejar-kejar oleh Sekolompok Pria tak dikenal. Kedua—Ah, tidak! mengingatnya pun bikin Aku malu setengah mati.
Aku kesulitan memejamkan mataku. Tapi, kulihat Yui sepertinya sudah tenggelam dalam mimpi.
"Aduh! Kenapa jadi ingin buang air kecil terus, sih?" gumamku.
Sebenarnya Aku takut. Aku ingin membangunkan Yui, tapi Aku tidak tega membangunkannya. Kulihat kearah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Daripada harus menahannya sampai pagi, yang ada malah jadi penyakit. Lebih baik, Aku memberanikan diri ke Kamar Mandi.
Aku perlahan membuka pintu Kamar Yui. Lalu, Aku berjalan sambil mengendap-endap. Kuberanikan diri membuka pintu Kamar Mandi. Untunglah semua aman dan akhirnya Aku bisa menuntaskannya.
Aku kembali berjalan dengan mengendap-endap. Saat Aku lewat depan Kamar Ryu, samar-samar kudengar sepertinya Ia sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Entah kenapa langkahku seolah terhenti di depan pintu. Aku ingin tahu apa yang sedang Ia bicarakan? Tapi, ku urungkan niat itu. Sangat tidak sopan jika mencuri dengar pembicaraan orang lain.
'Ya sudah, Kamu maunya apa?'
Suara Ryu terdengar sangat jelas. Ryu sepertinya sedang marah kepada lawan bicaranya.
'Baiklah, Kita putus! Kamu sudah memilihnya. Lebih baik, Aku mundur!'
'Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Selama ini Kamu sudah banyak mengecewakan Aku. Aku sudah tahu dari dulu kalau Kamu ternyata selingkuh. Aku mendengar dari Teman-temanku. Tapi, Aku berusaha menepis semuanya, sebelum Aku melihat sendiri. Dan ternyata benar, Kamu memang sudah lama menduakan Aku.'
'Oke. Selamat tinggal. Kita sudah selesai!'
Oh, ternyata! Ryu baru saja putus dari pacarnya. Yes!
Ya Tuhan! Apa yang kupikirkan? Kenapa Aku justru bahagia di atas penderitaan Orang Lain. Sudahlah, lebih baik Aku kembali ke Kamar Yui sekarang. Aku khawatir kalau Ryu mengetahui keberadaanku disini.
Keesokan harinya...
Aku membuka mata perlahan. Sinar matahari pagi sudah memasuki jendela kamar Yui. Aku meraba-raba sekitarku, tapi Aku tidak menemukan Yui. Sepertinya Ia sudah bangun lebih dulu.
"Yumi-chan, Kamu sudah bangun?"
"Ah, Yui-chan! Dari mana saja Kamu?"
"Aku habis mandi. Barusan Aku ingin membangunkanmu, tapi Aku tidak tega. Tidurmu sangat nyenyak."
"Hmmm—semalam Aku kesulitan tidur. Mungkin karena bukan di Rumah sendiri. Selain itu, Aku terpaksa harus sering-sering ke Kamar Mandi karena Buang Air Kecil."
"Yumi-chan, pasti Kamu masih mengantuk? Kamu tidur lagi saja!"
"Enggak apa-apa. Aku udah enggak ngantuk lagi, kok! Oh ya, sekarang jam berapa, ya?" Aku menyipitkan mataku agar bisa melihat jelas kearah jam dinding. Ternyata sudah pukul 7 pagi.
"Yui-chan, Aku juga mau mandi dulu."
"Baiklah. Setelah ini, Kita sama-sama turun kebawah, lalu sarapan bersama. Ibuku sebentar lagi pasti memanggil Kita untuk segera sarapan."
"Oke! Tunggu sebentar, ya!"
Sebenarnya, Aku masih ingin memejamkan mata. Biasanya, jika hari libur begini, Tante Aiko pasti membangunkanku pukul 9 pagi, dan sudah menyiapkan sarapan sehat untukku. Tapi, berhubung Aku menginap di Rumah Yui, Aku tidak bisa tidur sesukaku.
"Yui-chan, Aku sudah selesai!
"Oke."
Aku sudah sedikit terbiasa makan bersama Keluarga Yui. Karena Kedua Orang Tua Yui sangat ramah, Aku jadi bisa beradaptasi dengan Mereka. Namun, ada satu yang kurang. Ryu! Kemana Dia? Apakah Ia masih tidur?
"Selamat Pagi, Ayah! Ibu!"
"Ryu, Kau sudah pulang dari lari pagi?" Ibu Yui bertanya pada Ryu.
"Iya, Bu."
"Kalau begitu, ayo sarapan sama-sama!"
"Baiklah."
Meskipun mataku sedang tidak melihat kearah Ryu. Tapi, Aku bisa tahu kalau sepintas Ia melirik kearahku dengan tatapan tajam. Lagi-lagi, Aku sangat canggung. Ia menggeser kursi meja makan, lalu Ia duduk berseberangan denganku. Dan tentunya Kami saling berhadapan. Jantungku kembali berdegup kencang.
Jadi, untuk mengalihkan pandanganku, Aku tetap menundukkan kepala sambil menyantap makananku.
Pukul 09.45
Ayah meneleponku dan memintaku segera pulang. Ayah merasa tidak enak pada Keluarga Yui jika terlalu lama membiarkanku tetap berada di Rumah Yui.
"Yui-chan, barusan Ayahku menelepon, Ia memintaku untuk segera pulang."
"Yumi-chan, bisakah Kamu lebih lama lagi disini?" Yui merajuk padaku.
"Maaf, Yui-chan. Tapi Ayahku memintaku segera pulang. Oh ya, bagaimana kalau Minggu depan giliran Kamu yang menginap di Rumahku? Setuju?"
"Baiklah. Akan Aku usahakan."
"Kalau begitu, Aku akan berpamitan dengan Orang Tuamu."
Yui berencana mengantarkanku pulang dengan memboncengku menggunakan Sepedanya. Aku bersikeras menolak. Tapi, Yui lebih bersikeras lagi memaksaku. Mungkin sebaiknya Aku berjalan kaki saja atau menggunakan Taksi. Jarak antara Rumahku dengan Yui kira-kira berjarak 2 km. Dan, Aku tidak ingin merepotkannya.
"Yumi-chan, Kamu harus mau kuantar pulang."
"Tidak usah, Aku naik Taksi aja."
"Tidak bisa! Ikut Aku!" Yui menarik paksa tanganku. Ia membawaku ke Garasinya. Di Garasi Yui terdapat 2 buah Mobil mewah keluaran terbaru. Mungkin Mobil itu milik Ayah dan Ibu Yui.
Yui mengeluarkan Sepedanya dan hendak naik. Tapi, aktifitas itu terhenti lantaran ada sesuatu yang mengganjal. Ternyata ban Sepeda Yui bocor. Mungkin akibat Ia memboncengku kemarin.
"Yumi-chan, Ban Sepedaku bocor!" Yui berkata dengan nada manja.
"Ya ampun! Apa jangan-jangan karena habis memboncengku kemarin?"
"Sepertinya tidak," Yui mengecek kondisi Ban Sepedanya. Ia menemukan sebuah paku bersarang disana.
"Yumi-chan, sepertinya Kita harus ke Bengkel dulu. Aku akan minta Supir Ayah atau Ibu untuk membawanya ke Bengkel. Jadi, Kamu tunggu sebentar, ya!"
"Tidak perlu repot-repot, Yui-chan. Aku naik Taksi saja."
Ponselku berbunyi, ternyata Ayah meneleponku lagi. Pasti Ayah memintaku untuk secepatnya pulang ke Rumah. Dan benar saja, Ayah memintaku secepatnya pulang. Karena, baru saja Ayah mendapatkan kabar kalau Ayah dari Tante Aiko masuk Rumah Sakit. Jadi, Ayah memintaku untuk segera pulang dan mengajakku untuk menjenguk Ayah dari Tante Aiko, sekaligus memperkenalkanku pada Keluarga Tante Aiko.
"Yui-chan, maaf! Ayah dari Tante Aiko masuk Rumah Sakit. Jadi, Ayah memintaku untuk secepatnya pulang. Kalau begitu, Aku naik Taksi saja."
"Tunggu! Daerah sini agak susah mencari Taksi. Gimana kalau—Ah, kebetulan. Kak Ryu!"
Aku menoleh kebelakang. Ternyata Ryu sudah berdandan rapi memakai seragam Baseballnya. Dan, sepertinya Ia hendak latihan Baseball di Kampusnya.
"Ada apa?" Ryu memasang wajah dingin.
"Bolehkah Aku minta tolong? Please, sekali ini saja. Boleh, ya?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong antar Yumi-chan pulang."
"Tidak bisa. Kakak harus latihan Baseball."
"Kak Ryu, tolonglah!"
"Yui-chan, sudah! Tidak usah. Aku akan berjalan kaki saja kalau memang Taksi tidak ada yang lewat."
"Kak Ryu! Tolonglah! Yumi-chan harus segera pulang. Kakeknya masuk Rumah Sakit," sepertinya Yui sengaja mengabaikan penolakanku.
"Naik!" ujar Ryu.
Aku terperangah mendengar ucapan Ryu. Serius? Ia akan mengantarkanku pulang? Ya Tuhan! Jantungku semakin tidak bisa dikondisikan lagi.
"Yumi-chan, ayo tunggu apalagi? Cepatlah naik!" Yui membuyarkan lamunanku.
"A-ah, baiklah."
Langkahku terasa berat. Berulang kali Aku menelan saliva. Aku masih tidak percaya dengan semua ini.
"Pakai ini!" Ryu memberikan sebuah Helm untukku.
"Y-ya? Pa-pakai?" Aku justru merasa gugup, hingga akhirnya Aku tak mengambil Helm tersebut.
Mungkin karena terburu-buru dan terlanjur kesal padaku, akhirnya Ryu mendadak berbuat sesuatu hal yang membuat Jantungku meledak. Dan, tiba-tiba saja Ia menarik tanganku dengan lembut agar bisa lebih dekat dengannya. Lalu, Ia memakaikan Helm ke kepalaku. Wajahnya hampir mendekat dengan wajahku. Tubuhku rasanya kaku dan bergetar hebat.
"Ya Tuhan! Tolonglah hatiku! Apakah Aku terserang Virus Merah Jambu?"