YUMIKO

YUMIKO
KONSEKUENSI



"Kamu ini menarik! Maukah Kamu menjadi Pacarku?"


Tidak! Aku tidak ingin menjadi Pacarnya! Aku tidak ingin bersama dengan seseorang yang kasar seperti Dia. Lagi pula, Aku sudah bersama dengan Ryu.


"Tidak mau! Enyahlah!"


"Wow! Hebat sekali! Jadi Kamu menolakku?" Yuji mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Aku tidak Sudi menjadi Pacarmu!"


"Baiklah, kalau Kamu tidak mau menjadi Pacarku, itu artinya Kalian lebih memilih untuk menerima konsekuensi karena menolak permintaan dariku."


"Apa maksudmu? Tolong lepaskan Kami! Kami janji, Kami tidak akan lapor pada siapapun!"


"Hah! Aku tidak percaya. Pokoknya, Kalian harus mendapatkan pelajaran dari Kami sebelum Kalian pergi dari sini! Teman-teman, ikat tangan Seika, lalu kaitkan ke Motorku. Aku akan menyeret paksa tubuhnya!"


"Jangan! Tolong ampuni Aku!" Seika menjerit. Namun sayangnya, tak ada satupun Orang yang mendengar.


"Kumohon! Ampuni Kami!" Aku memohon belas kasihan padanya.


"Baiklah. Kami akan ampuni Kalian! Asal Kamu mau menjadi Pacarku!"


Sial! Dia masih tetap saja memaksaku untuk menjadi Pacarnya. Tidak mungkin! Aku tidak ingin mengkhianati Ryu.


"Yumiko! Jangan!" Seika berbisik padaku dengan wajah memelas. Seika sepertinya sudah pasrah akan nasibnya malam ini.


Aku bimbang! Jika Aku tak menuruti keinginannya, Seika pasti akan disiksa oleh Mereka. Tapi sisi lain, Aku juga tidak mungkin menjalin hubungan dengan Pria lain. Apalagi, Aku dan Ryu baru saja pacaran.


"Apakah ada pilihan lain, selain harus menjadi pacarmu? Mungkin Aku bisa jadi Pesuruhmu selama satu Minggu."


"Yumiko! Apa-apaan? Kamu jangan pernah menawarkan diri. Biar Aku saja yang menanggungnya. Ini semua salahku! Kalau saja dulu Aku tidak pernah merundung Akane, pasti Dia tidak akan pernah menulis di Buku Hariannya tentang keburukanku selama ini. Jadi, biarkan Aku yang menjalani hukuman ini!"


"Bravo! Kalian semua memang Gadis yang sangat merepotkan. Aku jadi terharu melihat solidaritas Kalian. Tapi, sayangnya tidak ada tawar menawar! Pilihan hanya ada dua : Yumiko menjadi pacarku, atau Seika harus Kami siksa?"


Ya Tuhan! Tolong Aku! Bagaimana ini? Kami sudah terpojok. Tolong kirim seseorang untuk menolong Kami! Aku tidak ingin melihat Seika disiksa.


"Baiklah, Aku mau menjadi pacarmu!" ujarku.


"Tidak! Jangan, Yumiko! Jangan! Bagaimana dengan Kak Ryu? Kalian baru saja berpacaran."


Yuji bertepuk tangan, "Wow! Benarkah? Bagus! Akhirnya Kamu membuat keputusan yang tepat! Lebih baik, Kamu putuskan pacarmu sekarang juga! Aku tidak ingin ada serangga pengganggu dalam hubungan Kita."


Cih! Hubungan Kita? Menjengkelkan sekali! Ingin rasanya Aku mencakar wajahnya. Jika Aku punya kekuatan, pasti Aku sudah melawan Mereka semua. Aku menyesal karena tidak pernah belajar bela diri.


"Yumiko! Tolong pikirkan baik-baik!" Seika terus memohon padaku untuk membatalkan keputusan yang telah kubuat.


"Seika, Aku hanya tidak ingin Kamu menderita."


"Tapi, Kamu pasti lebih menderita. Dan untuk Yuji, biar Aku saja yang menjadi Pacarmu. Lepaskan Yumiko!"


"Apakah Kamu tidak dengar Aku bilang apa barusan? Tidak ada tawar menawar. Semua Keputusanku bersifat mutlak. Lagi pula, Aku juga tidak tertarik padamu. Percuma saja jika Kamu menawarkan dirimu untuk menjadi Pacarku. Aku tidak akan mau! Karena, Aku hanya tertarik pada Yumiko!"


"Kurang ajar Kau! Kalian hanya berani pada Perempuan lemah. Kalian semua tidak ada bedanya denganku. Sama-sama suka merundung Orang lain!" Seika mulai berani membuka suara, meskipun bibirnya tampak gemetar.


"Diam! Kalau begitu, tidak ada pilihan lain lagi! Teman-teman, ikat Mereka berdua. Kita akan seret tubuh Mereka sejauh mungkin. Berani sekali cari masalah pada Kita."


"Baik!"


Kedua Teman Yuji manarik paksa Kami. Lalu, Mereka mengikat kedua tangan Kami. Selanjutnya, Mereka mengaitkan tali yang telah mengikat Kami kebagian belakang Motor.


"Seika! Jika Aku yang menuruti permintaannya, mungkin Kita tidak akan berada dalam bahaya seperti ini!"


"Tidak, Yumiko! Kamu tidak pantas menanggung kesalahan yang telah kubuat di masa lalu. Maafkan Aku, Yumiko!" Seika menitikkan air matanya.


"Baiklah, semua sudah siap! Teman-teman, jalankan motornya!" Yuji memerintahkan kedua temannya.


Brummmm brummmmmm! Kedua Motor milik Teman Yuji sudah mulai mengambil ancang-ancang. Mereka telah siap menarik tubuh Kami berdua. Aku dan Seika saling berpandangan. Seika berkali-kali meminta maaf padaku, meskipun hanya dari gerak bibir saja. Aku hanya mengangguk perlahan sembari tersenyum untuk menguatkan dirinya. Aku pasrah! Aku pasrah! Hanya kalimat itu yang terus kuucapkan secara berulang di dalam hatiku.


Motor sudah siap untuk tancap gas. Aku dan Seika memejamkan mata dan terus berusaha menguatkan hati Kami. Kami sudah pasrah dengan nasib Kami malam ini. Dalam hati, Aku hitung mundur dari sekarang! Tiga—Dua—Satu!


"Berhenti!" suara seorang Pria terdengar lantang.


Kami semua melihat kearah sumber suara. Kedua Teman Yuji segera mematikan mesin Motornya.


"Hiro!" Seika memanggil nama tersebut meskipun suaranya sedikit tercekat.


"Apa? Hiro?" Aku membelalakkan sekaligus merasa terharu. Karena, Tuhan itu Maha Baik. Tuhan telah menjawab Doaku.


"Lepaskan Mereka!" Hiro berjalan menghampiri Kami.


"Siapa Kamu?" tanya Yuji.


"Tak perlu tahu siapa Aku? Tapi yang pasti, apapun masalah Kalian, sangat tidak pantas jika Kalian semua sebagai Laki-laki justru beraninya terhadap Perempuan. Dasar Pengecut!"


"Diam Kau! Kamu tidak tahu masalahnya! Lebih baik Kamu tidak usah ikut campur dengan masalah Kami, atau Kamu akan bernasib sama dengan Mereka!"


"Baik kalau itu memang mau mu. Dengan senang hati Aku akan meladeninya. Tapi, jangan pernah menyesal dengan ucapanmu barusan!"


Hiro tak banyak bicara lagi. Ia justru mulai memasang kuda-kuda untuk melawan Yuji dan Teman-temannya. Yuji dan Teman-temannya menghampiri Hiro. Sepertinya Mereka hendak melawan Hiro secara bersamaan. Tidak adil! Mereka hanya bisa main keroyokan.


Yuji dan teman-temannya pun mulai menyerang Hiro. Tapi, dengan cepat Hiro sanggup menghindari pukulan dari Mereka dan melakukan serangan balik. Di sisi lain, selama Hiro sibuk melawan Yuji dan Teman-temannya, Aku dan Seika justru berusaha melepas ikatan Kami. Kami ingin membantu Hiro melawan Mereka meskipun tidak banyak yang bisa Kami lakukan.


"Yumiko! Ayo Kita berusaha!" Seika terus menyemangatiku.


"Ya!"


Kami berdua terus mencoba membuka ikatan tersebut. Ikatan Mereka cukup kencang dan kuat. Aku harus punya ide untuk melepaskan ikatan ini.


"Ya, hampir lepas!" gumamku.


Tapi, saat kulihat pertarungan Mereka, sepertinya Hiro sudah mulai kewalahan. Aku khawatir Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Bagaimana tidak, tiga lawan satu.


"Ayolah! kumohon!" Seika sudah tidak sabar lagi agar ikatan ditangannya segera terbuka.


"Ha-ha-ha-ha-ha! Sudah kubilang, jangan pernah ikut campur!" ujar Yuji.


Tidak! Hiro dalam bahaya! Sepertinya Hiro sudah tidak sanggup lagi melawan Mereka! Seika menangis tersedu saat mengetahui jika Hiro hampir saja dihabisi oleh Mereka. Ya Tuhan! Tolong Kami!


Dzig! Dzig!


"Hiro, maaf! Aku terlambat! Ayo Kita bereskan Mereka!"


Ryu? Tidak mungkin! Bagaimana bisa? Ya Tuhan! Aku sangat terharu. Lagi-lagi Engkau mengirimkan seseorang untuk menolong Kami. Baiklah, Aku harus semangat melepaskan ikatan ini!


"Wah, ternyata Ryu Yamazaki!" ujar Yuji.


"Yuji? Jadi, Kau?" Ryu menanggapi.


"Harusnya kuhabisi saja Kau dari dulu! Meskipun dulu sempat gagal, tapi tidak masalah bagiku. Kali ini Aku harus berhasil menghabisimu."


"Oh, jadi ternyata Kamu yang sudah menyuruh Orang untuk menghabisiku tempo hari? Yuji, persaingan Kita hanya dalam pertandingan Baseball. Tidak sepantasnya persaingan Kita terjadi di luar pertandingan. Dasar Pecundang!"


"Diam Kau, Ryu! Karena mu, Aku selalu disalahkan akibat kekalahan yang harus kuterima."


"Kekalahan itu terjadi karena Kamu sendiri sudah berlaku curang. Sekarang Kamu justru malah menyalahkan Orang lain."


"Jangan banyak bicara Kau, Ryu! Andai saja Kamu tidak ada, pasti Aku yang akan menjadi Pemenangnya."


"Belum tentu. Kemenangan itu bisa terjadi jika Kita mau berusaha dan sportif dalam pertandingan. Lagi pula, Aku bersyukur karena Kamu menyuruh Orang untuk mengejarku!"


"Apa maksudmu dengan bersyukur?"


"Ya, jika peristiwa itu tidak pernah terjadi, mungkin Aku tak akan pernah bertemu dengan Malaikat penolongku."


"Malaikat penolong?"


"Ya, betul. Malaikat penolongku adalah Yumiko. Saat ini, Dia adalah Pacarku."


"Apa? Yumiko? Ha-ha-ha-ha! Dasar bodoh! Sebentar lagi Yumiko justru akan jadi Pacarku."


"Bohong! Jangan percaya ucapannya, Kak Ryu! Dia telah mengancam Kami. Dia juga memaksa Yumiko untuk menjadi Pacarnya!" teriak Seika.


"Sial! Yuji, jangan pernah bermimpi! Aku masih bisa memaafkanmu karena kesalahanmu yang lalu. Tapi, jika Kamu berani mengganggu seseorang yang sangat berharga bagiku, maka Aku tidak segan untuk menghabisimu!"


"Heh, coba saja! Yumiko, setelah Aku habisi Pacarmu, maka Kamu harus menerimaku sebagai Pacarmu. Ingat itu!"


Amarah Ryu telah sampai pada puncaknya. Ryu begitu geram melihat tingkah laku Yuji. Tanpa banyak basa-basi lagi, Ryu langsung menyerang Yuji. Begitu pula dengan Hiro, Ia juga membantu Ryu melawan kedua teman Yuji.


Aku dan Seika masih berusaha terus membuka ikatan Kami.


"Ah, akhirnya!" gumamku seraya tertawa puas.


Aku segera membantu Seika membuka ikatannya. Dan akhirnya, Kami bebas! Aku melihat pertarungan sengit di depan mataku. Sepertinya pihak Yuji sudah mulai kewalahan. Ryu memang sangat jago berkelahi. Aku bangga padanya.


Ah, tidak! Temannya Yuji mengambil sebuah tongkat Baseball. Perlahan Ia mendekati Ryu yang sedang sibuk melawan Yuji. Ya Tuhan! Ryu! Aku harus menolongnya.


Secara impulsif, Aku segera berlari menghampiri Ryu yang notabene sedang dalam bahaya. Sepertinya teman Yuji akan memukul Ryu dari belakang.


"Yumiko! Jangan kesana!" Seika meneriakiku. Namun, Aku mengabaikan peringatannya.


Aku terus berlari dan berlari tanpa memperdulikan sekitarku. Aku harus melindungi Ryu.


"Ryu, Awaaassssss!!!!!"


Gedebug!


Ugh! Sakit sekali! Dadaku sesak. Lalu, semuanya tampak gelap. Samar-samar Aku masih bisa mendengar Mereka memanggil namaku.