
"Bukan tipe kalian?" Erden menggeram dengan rahang mengatup. "Memangnya aku mau mempunyai seorang anak?"
"Jangan terlalu percaya diri!"
Rose jadi marah karenanya, kalau Erden memang ayah kandungnya berarti lelaki itu tidak menginginkan dirinya.
"Aku juga tidak mau mempunyai daddy sepertimu!" Rose menginjak kaki Erden kemudian berlari pergi untuk mendatangi Miss Chloe.
Erden memicingkan matanya melihat Rose yang berlari menjauh. Dalam hatinya dia sudah mengumpat tapi dia berusaha supaya umpatan itu tidak keluar dari mulutnya.
Baik Rose dan Erden masih sama-sama syok, Erden tidak menyangka jika memiliki seorang anak dan Rose sendiri tidak menyangka jika sang daddy adalah seorang bos mafia.
Ingin menenangkan diri, Erden tidak mengejar Rose. Dia akan menunggu sampai Jack memberi laporan padanya.
Erden duduk di lobi hotel dan memeriksa ponsel Rose yang masih berada di tangannya. Dia membuka galeri dan melihat foto-foto Rose bersama Jasmine.
"Tidak salah lagi," batin Erden yakin jika Jasmine telah mencuri benihnya.
Dulu dia menganggap Jasmine wanita malam jadi dengan tanpa beban Erden tidak memakai pengaman karena dari pengalamannya, seorang wanita malam pasti sudah antisipasi dengan kontrasepsi.
"Sial!" Erden akhirnya mengumpat juga karena merasa kecolongan. Dia tidak sadar sudah menjadi ayah tujuh tahun ini.
Dan hal itu memang benar adanya karena Jack memberi laporan jika DNA Erden dan Rose 99℅ cocok.
Erden mengepalkan kedua tangannya, dia harus bertemu dengan Jasmine untuk meminta penjelasan.
Namun sebelum itu, dia harus berbicara pada Rose yang masih marah padanya.
"Hah? Anak itu..." Erden tidak melanjutkan kalimatnya karena memang Rose terbukti anak kandungnya sekarang.
Anak itu tidak bersalah, satu-satunya orang yang dia salahkan di sini adalah Jasmine.
"Apa anak itu ada di dalam?" tanya Erden setelah mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh miss Chloe dan anak-anak muridnya.
"Maksudnya Rose?" Miss Chloe bertanya untuk memastikan.
"Iya anak itu, cepat suruh dia menemuiku!" perintah Erden.
"Maaf Tuan, kami harus kembali besok jadi kami harus istirahat dan Rose berpesan tidak mau bertemu anda," ucap Miss Chloe.
Erden mengeratkan giginya, berani-beraninya anak itu menolaknya. Seharusnya Rose menangis dipelukannya dan mengucap syukur karena telah lahir dari bibitnya. Walaupun dia mengklaim kalau bibitnya telah dicuri.
"Setelah mencuri bibitku, lari kemudian kau mengutukku. Sekarang menolakku?" batinnya semakin emosi pada Jasmine.
Sudah dipastikan respon Jasmine nanti pasti seperti Rose sekarang.
Dan berhasil, Rose langsung muncul dengan membawa ranselnya.
"Sepertinya aku akan kembali dengan uncle tidak sopan ini, Miss Chloe," pamit Rose.
"Ba--baiklah," Miss Chloe langsung memberi izin. Dia harus memberitahu Jasmine nanti ketika sampai.
"Keputusan yang tepat," Erden tersenyum miring dan menarik tangan Rose supaya ikut bersamanya.
Mereka keluar dari hotel dan Erden membawa Rose kembali ke kafe miliknya.
"Katakan padaku, apa kau bisa melihat dalam keadaan gelap?" tanya Erden ketika masih dalam perjalanan.
"Hm, itu kelebihan mataku," jawab Rose.
Sebelum sampai di kafe, Erden singgah di toko optik untuk membeli soflens.
"Aku tidak mau memakainya," tolak Rose.
"Kau harus menyembunyikan matamu!" Erden tetap memaksa. Dia membeli soflens berwarna hijau emerald untuk menutupi warna mata hazel milik Rose. "Cukup memakainya sebelah saja supaya tidak mengurangi kemampuannya!"
"Kenapa harus seperti ini?" Rose merasa tidak nyaman dengan soflens yang dia kenakan.
Erden menunduk dan berbisik pada Rose. "Supaya kau tidak mati!"
"Apa hubungannya?"
"Karena kau adalah anakku. Kau tahu, hasilnya positif artinya kau harus membawaku menemui pencuri itu!"
"Pencuri?"
"Kau masih ingat kodenya, 'kan?"
"Jadi, betina Alpha itu adalah mommy?"
"Ya, benar."
Rose menatap Erden, dia mengamati wajah ayah kandungnya itu. Wajahnya memang lumayan tapi untuk sifat dan kelakuannya sangat menyebalkan. Bahkan saat Erden tahu jika Rose adalah anaknya, lelaki itu justru mengancam akan membakar hotel dan sekarang memaksanya memakai soflens supaya tidak mati.
"Sepertinya sebelum bertemu mommy, kau harus melakukan serangkaian tes," ucap Rose.
"Tes apa?" tanya Erden.
"Tes berkelakuan baik," jawab Rose sambil berlalu keluar dari toko optik itu.