
"Tu... tunggu!" Jasmine menahan Erden yang akan mencium lehernya. "Kita tidak akan melakukannya di dalam lift, 'kan?"
"Tentu saja tidak," balas Erden.
Pada saat itu, pintu lift terbuka dan ada satu ruangan kosong yang dimaksud Erden sebelumnya.
Ruangan itu terlihat jarang dipakai.
"Ada berapa lantai bangunan ini? Apa semua aksesnya menggunakan lift?" tanya Jasmine.
"Kalau misalnya ada salah satu lift rusak, bukankah itu akan mengganggu lift lainnya? Tempat ini tidak cocok untuk berkeluarga," lanjutnya.
"Jadi, maksudnya aku harus pindah ke tempatmu?" Erden menyimpulkan.
"Aku tidak memintamu pindah tapi kita harus membicarakan hal seperti ini sebelum menikah supaya tidak terjadi perdebatan kedepannya," jelas Jasmine.
Perempuan itu duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan Erden mengikutinya.
"Pernikahan akan digelar di serenity, aku dan Rose tidak bisa tinggal di sini karena sekolah Rose ada di kotaku. Jadi, kau yang harus sering mengunjungi kami," Jasmine menjelaskan lagi.
Untuk sementara memang hanya ada pilihan itu.
"Saat kita jauh aku percaya padamu tapi jika kau macam-macam..." Jasmine memicingkan matanya. "Aku bisa menggila!"
"Tenang saja, Jase. Aku tidak akan mungkin bisa macam-macam karena milikku hanya bereaksi padamu saja," balas Erden jujur.
"Kau pikir aku percaya, selama tujuh tahun kau pasti sudah berganti-ganti pasangan. Lebih baik kita periksa dulu ke dokter, aku tidak mau terkena penyakit menular," kesal Jasmine karena cemburu buta.
"Aku akui, awalnya aku menerima kacang manis supaya bisa menjadi jembatan untuk menemukanmu dan menghilangkan kutukan sialan itu. Tapi, semuanya sudah berubah Jase karena aku menginginkan kalian berdua dan aku baru menyadari sesuatu...." Erden mengambil cincin yang sudah dia beli dan memasangnya pada jari manis Jasmine. "Aku menyukaimu, Jase."
"Aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatmu saat kita menghabiskan satu malam dulu. Aku tidak bisa melupakanmu setelah kejadian itu."
Jasmine melihat cincin yang tersemat di jari manisnya sambil mencerna cerita dan pengakuan Erden padanya. Dia akan mencoba memulai lembaran baru dengan mafia itu.
"Pengakuan diterima," ucap Jasmine kemudian.
Erden tersenyum kemenangan, jujur memang solusi terbaik. Selain itu, dia merasa lega karena tidak ada lagi yang coba untuk Erden tutup-tutupi. Dia memang mafia dan lelaki brengseek tapi dia akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Jasmine dan Rose.
"Jadi, aku boleh meminta hadiahku karena sudah berkata jujur?" tanya Erden.
Tentu saja Jasmine langsung paham maksud lelaki itu, dia menganggukkan kepala dan Erden mengeluarkan pengaman yang dia siapkan sebelumnya.
"Jangan pakai pengaman lagi," cegah Jasmine.
"Aku siap hamil lagi dan kau juga harus siap memiliki anak lagi," sambungnya.
Erden menelan ludahnya, menerima Rose sudah berat dan sekarang Jasmine justru mau mempunyai anak lagi. "Apa tidak terlalu terburu-buru? Kita nikmati waktu kita berdua dulu, sepuluh tahun lagi baru kita program memiliki anak lagi."
"Sepuluh tahun? Keburu aku tua dan rawan hamil atau melahirkan. Aku ingin bayi secepatnya," tolak Jasmine yang ingin hamil.
Sebenarnya sudah lama Jasmine memikirkan untuk hamil lagi supaya Rose tidak sendirian, dia bahkan sudah berkonsultasi dengan dokter untuk proses bayi tabung. Tapi, siapa sangka dia akan bertemu dengan Erden lagi dan menikah.
"Baiklah, ayo kita buat bayi Alpha," ucap Erden yang akhirnya menuruti permintaan Jasmine.