Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
Hot Affair With Mafia



Ramein karya othor di rumah F ya ges



BAB 1


Seorang perempuan saat ini tengah tergeletak pasrah, tubuhnya terus bergoyang karena digagahi oleh suaminya sendiri. Suami yang selama lima tahun ini telah menikahinya tapi perempuan itu tidak mencintainya sama sekali.


Yang dia lakukan sekarang sebagai bentuk rasa patuhnya.


"Ck! Aku seperti berhubungan dengan mayat," decak sang suami kesal.


Selama lima tahun istrinya tidak mengalami perubahan ketika berhubungan. Dia seperti seorang pemerkosa karena istrinya tidak ada perlawanan dan selalu memejamkan mata seolah jijik dengannya.


Kalau sudah begitu, lelaki itu akan memanggil kepala pelayan mansionnya. Kepala pelayan sekaligus selingkuhannya.


"Iya, Tuan," jawab pelayan itu.


"Buka bajumu dan tunjukkan pada istriku, bagaimana cara melayani suami," sang suami memberi perintah.


Dan dengan senang hati pelayan itu menuruti perintah tuannya.


Sang istri menggeser tubuhnya, dia ingin pergi dari kamar itu. Kamar di mana suaminya yang terang-terangan selingkuh di kamar mereka.


"Siapa bilang kau boleh pergi, lihatlah ini, Anna," sang suami melarang istrinya keluar dan meminta perempuan itu melihatnya bercinta.


"Kalau kau berani melangkahkan kakimu keluar, keluargamu taruhannya!"


Ancaman yang selalu membuat Anna tidak bisa berkutik, dia bertahan selama ini hanya untuk keluarganya.


"Kau memang suami bajingan, Fred," batin Anna seraya mengepalkan kedua tangannya. Dia membalik badan dan melihat bagaimana suaminya bercinta dengan seorang pelayan.


Sungguh menjijikkan!


Semua ini berawal dari keluarga Anna yang bekerja sama dengan keluarga Fred, keluarga Philone dan keluarga Rusell adalah keluarga yang berpengaruh pada pemerintahan.


Anna Philone yang saat itu baru lulus sekolah menengah dipaksa menikah dengan Frederick Tobias Rusell. Ketika kedua keluarga itu bersatu, kekuatan kekuasaan mereka akan bertambah.


Terbukti setelah pernikahan politik itu terjadi, Fred bisa menaikkan statusnya sebagai perdana menteri.


Fred memegang kartu As keluarga Philone jika Anna macam-macam, suaminya akan bisa menjebloskan keluarganya ke penjara.


Tentu Anna tidak mau hal itu terjadi, dia bertahan menjadi istri Fred walaupun dalam kondisi hina seperti itu.


Walaupun menjadi nyonya rumah, Anna tetap tidak dianggap karena semua penghuni mansion tahu bagaimana Fred yang berselingkuh dengan kepala pelayannya sendiri.


Sebenarnya Fred sangat mencintai Anna tapi caranya salah. Tahu kalau tidak mendapat balasan cinta dari istrinya, dia justru menunjukkan sikap arogannya supaya Anna tidak bisa melawan.


"Aku membencimu, Fred," ucap Anna seraya melihat suaminya yang tengah tidur sambil memeluk selingkuhannya.


Anna keluar dari kamar dan masuk ke sebuah ruangan. Ruangan yang selalu menjadi penghiburnya selama ini karena di sana Anna bisa melukis untuk mengusir rasa kesepiannya.


Tangannya yang kurus kembali memoles kanvas kosong, Anna berimajinasi dan melukis pemandangan seolah membuat tempat yang paling dia ingin datangi.


Menjadi istri Fred membuatnya tidak leluasa melakukan banyak hal, semua tindakannya diawasi dan harus dengan persetujuan suaminya.


Beruntung ketika Anna meminta dibuatkan studio lukis, Fred mengizinkan.


Di sana Anna bisa menjual lukisan dan mengajar seni walaupun muridnya tidak banyak.


"Apa hari ini kau pergi ke studio?" tanya Fred.


Saat ini Anna dan Fred tengah sarapan di satu meja.


"Iya, hari ini saya membuka pendaftaran kelas baru," jawab Anna.


"Jangan terlalu sibuk dengan urusan lukisanmu, kau harus tetap fokus melayaniku," ucap Fred dengan arogan.


"Bukankah anda sudah puas dengan pelayanan Lisa?" tanya Anna yang menyebutkan nama kepala pelayan mansion.


Fred terkekeh mendengarnya, kadang memang Anna melakukan pemberontakan kecil dibalik sikapnya yang penurut.


Memang semenjak menikah, Anna tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Walaupun dia dinikahkan secara politik tapi mereka masih Anna anggap keluarga.


"Saya akan bersabar," ucap Anna. Dia tidak sudi menjadi ****** seperti yang suaminya inginkan.


"Kalau kau begini terus, kapan kau bisa hamil? Semua orang membicarakan pernikahan kita yang tidak kunjung memiliki pewaris, jangan membuat toleransiku habis, Anna," Fred mulai mengimintidasi istrinya.


"Jangan sampai kau mencoreng nama baik keluarga, kau harus memberiku anak tahun ini," tuntutnya kemudian.


Padahal Anna sudah diperiksa oleh dokter kandungan beberapa kali dan dinyatakan rahimnya sehat. Tapi, memang buah hati tidak kunjung hadir.


Anna bersyukur karena itu, setidaknya tidak ada anak yang mengikat hubungannya dengan Fred.


"Aku kerja dulu," Fred berdiri dan mengecup puncak kepala Anna sebelum pergi.


Anna hanya mematung tanpa respon, dia melirik ke arah suaminya yang berjalan menjauh. Di belakangnya sudah ada Lisa yang membawakan tas kerja suaminya.


Yah, Lisa memang sok berkuasa di mansion itu bahkan tidak takut sama sekali dengan Anna. Dia merasa menang karena bisa tidur dengan tuan rumahnya.


"Apa Nyonya ingin pergi setelah sarapan?" tanya Baron, pengawal pribadinya.


Setidaknya hanya Baron yang masih menghargainya sebagai nyonya rumah.


"Iya, aku akan bersiap-siap," balas Anna.


Anna bergegas mengganti bajunya untuk pergi ke studionya. Hari ini ada beberapa murid baru yang mendaftar ke kelas seninya.


Ketika sudah siap, Anna diantar oleh Baron pergi ke studionya itu.


Di sana ada asisten Anna yang sudah bersiap menyambut kedatangan istri perdana menteri itu. Walaupun statusnya sebagai istri perdana menteri, Anna selalu menyembunyikan identitas asli pada murid-muridnya.


Murid-murid seni Anna dari berbagai kalangan, ada tua dan muda. Namun, rata-rata dari mereka adalah ibu-ibu yang ingin mengembangkan kreativitas.


Ada beberapa pelajar juga, walaupun tidak banyak.


"Selamat datang, Nyonya," sambut Lily sang asisten ketika Anna keluar dari mobil.


"Bagaimana dengan kelas barunya? Apa semua yang mendaftarkan diri sudah datang?" tanya Anna.


"Sebagian sudah datang, Nyonya," jawab Lily.


Mereka pun berjalan ke ruangan di mana kelas baru itu akan dimulai.


Ada ibu-ibu dan pelajar jadi satu di ruangan itu. Anna segera memperkenalkan diri dengan ramah dan sopan.


"Saya Anna yang bertanggung jawab di kelas ini, semoga semua yang ada di sini betah dan terus mengikuti kelas," ucap Anna.


Terdengar tepuk tangan dan Anna tidak mau membuang waktu karena pertemuan mereka tidak lama hanya dua jam saja, tiga kali pertemuan dalam satu minggu.


Anna menjelaskan tentang dasar-dasar melukis sampai ada yang mengetuk pintu kelas itu.


Atensi Anna teralihkan pada sosok yang mengetuk pintu tersebut.


Seorang lelaki tampan, usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahunan dengan badan tegap dan berisi tengah berdiri di ambang pintu.


"Apa saya masih bisa mendaftar?" tanyanya seraya berjalan mendekati Anna.


Lelaki itu menyerahkan formulir pendaftaran yang sudah terisi, Anna menerima formulir itu dan membaca namanya.


"Felix?" tanya Anna.


"Iya, itu nama saya. Apa boleh saya ikut bergabung?" tanya Felix.


"Tentu saja, kau boleh duduk di kursi yang masih kosong," jawab Anna.


Tanpa Anna duga, Felix meraih satu tangannya dan lelaki itu mengecup punggung tangannya.


"Terima kasih, mohon bimbingannya, Guru," ucap Felix kemudian.


BAB 2 serbu di rumah F ges, othor tunggu di sana💃