Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 7 - Terkejut



"Apa kau yakin, Rose?" tanya Miss Chloe yang mencemaskan keadaan anak muridnya.


Rose tiba-tiba menghubungi perempuan itu dan mengatakan bahwa kerabatnya ada yang menjemput.


"Yakin, Miss Chloe. Jangan mencemaskan aku," sahut Rose berusaha meyakinkan.


"Kalau begitu kami tunggu di hotel, okay," ucap Miss Chloe akhirnya.


"Baiklah." Rose kemudian langsung menutup panggilannya.


Kini gadis kecil itu kembali menatap Erden yang duduk di depannya. Lelaki itu juga melakukan hal yang sama.


"Kau sudah merencanakan ini semua, ya?" tanya Erden.


Rose menganggukkan kepalanya. "Kalau tidak begini, mommy akan curiga. Selama ini mommy tidak pernah membicarakan masalah daddy! Jadi, aku mencari tahu sendiri."


"Seharusnya kau merencanakan semua dengan matang. Alat yang kau bicarakan itu masih berupa purwarupa, tingkat keberhasilannya hanya lima puluh persen. Lagi pula mencurinya bukan hal yang mudah, kalau pun berhasil tidak menguntungkan bagiku," balas Erden.


Jujur saja Rose jadi kecewa mendengarnya, terbatasnya informasi yang membuat Rose merencanakan itu semua.


"Sepertinya aku memang harus menerima garis hidupku, aku akan menganggap daddy ku sudah mati," ucap Rose kemudian.


Dia berniat kembali ke hotel saja, ternyata percuma bergabung dengan kelompok hacker. Mereka tidak bisa membantu, gayanya saja yang keren.


"Lagi pula aku hanya ingin bertanya satu hal kalau bertemu dengan ayah kandungku itu," sambungnya sambil berdiri.


"Memangnya kau ingin bertanya apa?" tanya Erden ingin tahu.


Rose tidak mau menjawabnya karena sudah tidak berminat lagi. "Terima kasih Mr. E sudah meluangkan waktunya, aku mundur dari kelompok."


Mendengar itu, Erden merasa tidak suka. Anak yang dianggapnya ingusan itu membuatnya semakin penasaran.


"Kita belum selesai," cegah Erden.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rose. Biasanya orang-orang bawah tanah seperti Erden pasti tidak mau rugi.


"Ceritakan kehidupanmu dengan lengkap supaya aku bisa menyimpulkan," jawab Erden.


Untuk saat ini, hanya itu yang Erden inginkan.


"Kehidupanku? Hm..." Rose mengetukkan jari di dagunya. "Aku hanya tinggal berdua dengan mommy. Itu saja!"


"Mommy ku itu wanita karir yang sukses, dia mempunyai penginapan bernama Serenity di kota kami. Dari aku kecil, aku tidak punya daddy. Dan semua orang mengatakan kalau mommy ditinggalkan oleh suaminya. Saat aku bertanya akan hal itu, mommy tidak mau menjawab. Jadi, aku ingin bertanya pada daddy, kenapa meninggalkan kami?"


Akhirnya Rose menjelaskan secara garis besarnya.


"Lalu kenapa kau yakin kalau daddy yang kau cari itu berada di kota ini?" tanya Erden lagi.


"Karena mommy berasal dari kota ini, sesuai penelusuranku selama ini, mommy meninggalkan kota ini ketika hamil aku," jawab Rose.


"Jadi, daddy mu meninggalkan mommy mu ketika masih hamil? Apa itu tidak terdengar aneh?" Erden mulai menganalisa.


"Atau jangan-jangan daddy mu tidak tahu kalau mommy mu hamil," sambungnya.


Rose menganggukkan kepalanya. "Bisa jadi! Sepertinya aku harus mencari teman atau kerabat mommy di kota ini. Pasti mereka bisa memberikan petunjuk."


"Kalau seperti itu mungkin aku bisa membantu, apa kau punya fotonya?" tanya Erden. Tidak biasanya dia sebaik ini pada anak kecil.


"Sebentar." Rose mengeluarkan ponselnya kemudian membuka galeri untuk memperlihatkan foto Jasmine. "Ini mommy ku, namanya Jasmine Summer!"


Erden mengambil ponsel Rose dan melihat rupa yang disebut oleh anak itu. Jantungnya langsung berdebar kencang sekali karena melihat potret wanita yang selama ini dicarinya.


"Mr. E, kau tidak apa-apa?" tanya Rose cemas karena Erden memegangi dada dan mengeluarkan keringat dingin. Erden seperti melihat hantu. "Kata orang mommy ku itu sangat cantik, aku juga mengakuinya."