Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 14 - Berusaha Sabar



"Dasar pria mesum!" umpat Jasmine. Dia berpikir selama ini pasti Erden sudah bergonta-ganti pasangan tidur sampai tidak terhitung. "Dia pasti tidak sadar kalau sudah menjadi seorang ayah, rasanya tidak mungkin bertemu Rose!"


Jasmine masih berusaha menyangkal. "Dia hanya ayah biologis, tidak lebih dari itu!"


Perempuan itu akan menunggu Rose pulang tapi kalau tidak pulang juga, terpaksa dia harus lapor pada polisi.


Beberapa jam kemudian, ada sebuah mobil yang berhenti tepat di halaman rumah Jasmine.


Di dalam mobil itu, Erden tampak gugup, entah kenapa dia jadi mengeluarkan keringat dingin dan mual.


"Daddy, tidak apa-apa?" tanya Rose khawatir.


"Aku tidak tahu, sepertinya aku jadi berpenyakitan sekarang," sahut Erden yang mengalami kondisi aneh saat dekat dengan Rose dan sekarang mau bertemu Jasmine juga seperti itu.


"Daddy tegang, ya? Ini gejala alami saat kita merasa takut, cemas atau gugup. Jadi, santai saja, akting kita harus natural seperti anak dan ayah yang merindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu," Rose berusaha menenangkan sang daddy.


Erden tidak sanggup lagi menimpali karena perkataan Rose begitu menyebalkan, seolah Erden berbicara pada dirinya sendiri.


"Ayo kita turun, Dad!" ajak Rose kemudian.


Di dalam rumah, Jasmine memperhatikan mobil yang baru sampai itu lalu dia membuka pintu rumah untuk melihat siapa yang datang.


Saat Jasmine membuka pintu, rasanya waktu berjalan begitu lambat. Setiap gerakan yang dilakukan perempuan itu menjadi slow motion.


Erden melihat Jasmine dari jendela mobil, di matanya Jasmine terlihat jauh lebih cantik dari pada dulu, seketika matanya langsung silau dan jantungnya berdebar tak karuan.


"Argh... Argh..." Erden mengerang sambil memegangi dadanya. Kakinya pun jadi lemah tak bertenaga. "Aku sepertinya terkena stroke!"


"Hahaha..."


Bukannya iba, Rose justru menertawakan sang daddy.


"Jatuh cinta apanya? Aku ini terkena stroke dan mataku juga terkena katarak jadi cepat bawa aku ke rumah sakit," Erden merasa tubuhnya bermasalah.


"Rumah sakit dan dokter spesialis apapun itu tidak akan bisa mengobati penyakitmu itu, Dad! Jadi..." Rose menepuk pipi Erden. "Sadarlah, kalau dari awal daddy sudah jatuh cinta pada mommy. Kalau tidak, tidak mungkin daddy mencarinya selama bertahun-tahun!"


Saat ini Rose belum tahu apa yang dimaksud kutukan oleh Erden, yang anak itu pikirkan adalah kutukan cinta setelah cinta satu malam di antara kedua orang tuanya.


"Ayo cepat kita turun, saatnya berakting," Rose duduk di pangkuan Erden supaya sang daddy menggendongnya.


Erden sendiri berusaha setenang mungkin, dia memejamkan matanya sambil mengatur nafas.


Kakinya mulai bisa digerakkan lagi, Erden merasa sudah siap untuk menemui Jasmine.


"Akulah sang Alpha, aku adalah ketua Wolf Winter," batin Erden berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Setelah dirasa semua sudah terkendali, Erden memerintahkan anak buahnya untuk membuka pintu.


"Buka pintunya, James!"


James bergegas membuka pintu mobil dan Erden turun dengan menggendong Rose. Anak itu bergelayut manja sambil memeluk leher Erden seolah-olah menjadi putri kesayangan sang Alpha.


"Jadi itu benar kau!" seru Jasmine ketika melihat wajah Erden. Perempuan itu merasa tidak suka.


"Cepat turunkan anakku!"


Erden berdehem, benar kata Rose kalau Jasmine akan langsung menolaknya. Dia tidak boleh terpancing dan marah pada Jasmine, dia harus menjadi sosok laki-laki idaman.


"Sudah lama sekali, ya?" Erden menahan amarah walaupun kadang kesabarannya setipis tisu.


"Ternyata malam itu kita menghasilkan kacang manis ini!"