
Erden mondar-mandir karena menunggu James yang tak kunjung datang. Dia sudah tidak sabar untuk menggunakan kekuatan tubuhnya terutama pinggang.
Saat dia berhasil membuat Jasmine puas pasti perempuan itu akan langsung jatuh cinta padanya.
"Awas kau, James," Erden yang kesabarannya setipis tisu tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Akhirnya dia mendatangi Jasmine ke kamar perempuan itu.
"Jase..." panggilnya di depan pintu.
Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Erden akhirnya membuka pintu dengan keahliannya yang suka membobol pintu.
Pintu terbuka, Erden langsung masuk tapi Jasmine tidak ada di dalam.
"Jase..."
Erden memanggil ulang dan lagi-lagi tidak ada respon. Ternyata Jasmine tengah berendam di bathub, perempuan itu tidak mendengar panggilan dari sang Alpha.
Sampai Jasmine melihat pintu kamar mandinya terbuka, dia sebenarnya terkejut karena Erden yang menyembul masuk namun dia berusaha bersikap biasa saja.
"Aku mencarimu," Erden berjalan mendekat dengan menelan ludahnya beberapa kali.
Jasmine mengulurkan satu tangannya. "Mau ikut bergabung? Aku rasa bathub ku cukup luas!"
Seperti mendapat santapan lezat, Erden tentu saja tidak akan menolak. Dengan tak tahu malu, lelaki itu membuka bajunya satu persatu yang membuat Jasmine memalingkan wajahnya.
Dia tidak berniat menggoda atau apapun, hanya saja mungkin dengan mendekatkan diri seperti ini membuatnya memiliki sedikit simpati pada Erden.
Sedetik kemudian, Jasmine merasakan ada seseorang yang ikut masuk ke dalam bathubnya.
Erden memilih duduk berseberangan dengan Jasmine supaya bisa melihat wajah perempuan itu.
"James memang mau mati, aku seharusnya tidak membawanya kemari," ucap Erden karena anak buahnya tak kunjung datang.
"Seharusnya pemain sepertimu selalu prepare dari awal, kau tidak akan membuang bibitmu sembarangan, bukan? Tapi kenapa malam itu kau membuangnya di dalam? Apa karena kau pikir aku wanita malam?" tanya Jasmine beruntun.
"Semuanya sudah kau jawab sendiri tapi aku benar-benar tidak berhubungan lagi semenjak malam itu," Erden berusaha meyakinkan.
"Benarkah?" Jasmine menaikkan kakinya kemudian mengelus dada Erden menggunakan kakinya itu.
Erden memejamkan matanya karena mendapat sentuhan dari perempuan lagi setelah selama ini hanya bisa bermain dengan sabun.
"Apa aku boleh melakukannya tanpa pengaman?" Erden menangkap kaki Jasmine lalu dia masukkan dalam mulutnya.
Suara lenguhan terdengar, sentuhan Erden memang benar-benar membuat Jasmine kehilangan akal.
Tidak ada jawaban dari Jasmine yang membuat Erden berpikir jika perempuan itu setuju. Perlahan tapi pasti, Erden merangkak untuk mendekati Jasmine yang wajahnya tampak memerah.
"Kau menginginkan aku, hem?" Erden bertanya seraya membungkuk dan menumpukan kedua tangannya di pinggiran bathub.
Hawa di kamar mandi itu tiba-tiba menjadi panas, Erden tidak ingin menyia-menyiakan kesempatan.
"Jase..." Erden mencoba menjangkau bibir perempuan itu dan Jasmine mengalungkan kedua tangannya di leher kekar sang Alpha.
Ketika bibir mereka akan beradu, terdengar suara Rose yang baru datang.
"Mommy... daddy..." Rose berteriak memanggil kedua orang tuanya.
Seketika Jasmine langsung tersadar, dia mendorong dada Erden dan berusaha keluar dari bathub.
"Hampir saja," batin Jasmine seraya memakai handuknya.
Jasmine buru-buru keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Erden dengan sesuatu yang sudah tegak menantang.
Rasanya Erden ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Apalagi saat bertemu dengan Rose, anak itu bertanya tanpa dosa.
"Bagaimana, Dad?" tanya Rose.
"Kau menggagalkan semuanya!?" kesal Erden. Si Alpha tengah mode merajuk.