
Erden berdecak sebal karena Jasmine seolah meremehkan penyakit anehnya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengutarakan mimpinya setiap malam.
"Kau selalu datang setiap malam dalam mimpiku, apa kau masih tidak mengerti?" tanya Erden.
Sebagai perempuan dewasa, Jasmine tentu langsung paham apa yang ada dipikiran Erden.
"Kau jatuh cinta padaku, ya?" tanya Jasmine.
"Jatuh cinta?" Erden tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Rose yang anak kecil saja juga mengatakan hal seperti itu. "Apa aku memang tengah jatuh cinta?"
Erden bertanya-tanya dalam dirinya sendiri dan mencoba mencari jawabannya. Dia pernah membaca salah satu kisah mitologi Yunani. Kisah tentang Psyche dan Eros.
Jika kau mencintai seseorang, kau akan melihat segalanya dengan lebih jelas
Seperti Eros yang mencintai Psyche
Kemudian lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Jasmine. Erden merabanya perlahan sampai menyentuh bibir perempuan itu.
Jantungnya semakin berpacu dengan cepat bahkan Jasmine mendengar karena jarak mereka yang sangat dekat sekarang.
"Kendalikan dirimu, tuan Walters," Jasmine mencoba menolak ciuman Erden.
Semenjak berhubungan dengan Erden malam itu, Jasmine tidak pernah berhubungan dengan pria lain dan dia tidak akan melakukan tindakan bodoh itu lagi.
"Aku ingin memastikan apa yang aku rasakan sekarang," Erden masih berusaha membujuk Jasmine.
"Lupakan aku, okay. Kita memang orang tua Rose tapi kita tidak akan bisa bersama," ucap Jasmine. Dia harus tegas.
"Kita bahkan belum mencobanya," sahut Erden.
"Kau itu buruk di mataku!" Jasmine akhirnya mencoba membuat Erden sakit hati supaya tidak berharap padanya.
Bukannya sakit hati, Erden justru mengguyar rambutnya. Dia merasa menjadi laki-laki sempurna.
"Tidak mungkin, coba bagian mana yang menurutmu buruk?" tanya Erden.
JLEB!
Erden langsung tertusuk ulu hatinya, bisa-bisanya Jasmine menilai dirinya seburuk itu.
Namun, lelaki itu tidak akan menyerah. Dia mempunyai kelebihan dibanding laki-laki lain pada umumnya. Dan Erden harus menunjukkan hal itu pada Jasmine.
"Kau pasti ingat malam itu, 'kan? Aku mempunyai kelebihan sendiri, aku mempunyai bagian tubuh bawah yang kuat," Erden mulai menyombongkan dirinya.
Jasmine sampai tersedak mendengar hal itu, dia tidak memungkiri kekuatan Erden di atas ranjang memang luar biasa. Dia bahkan bisa merasakan apa itu surga dunia.
"Terutama kekuatan pahaku ini," tambah Erden dengan menepuk-nepuk pahanya.
Tidak sampai disitu, Erden menunjukkan bagian tubuhnya yang lain.
"Pinggang yang kuat, tangan yang kuat, aku ini cukup handal menggunakan semua kekuatan tubuhku. Kau pasti akan puas," ucap Erden menggebu-gebu.
"Percayalah aku ini benar-benar hebat!"
Wajah Erden begitu serius tapi membuat Jasmine ingin tertawa.
Kali ini Jasmine merespon dengan mengelus pipi lelaki itu.
"Itu semua tidak akan cukup, mungkin akan diawalnya saja tapi lama-kelamaan kau akan bosan dan meninggalkanku. Semua laki-laki akan seperti itu, aku tidak mau membuang waktuku untuk menghadapi hal semacam itu," Jasmine tetap menolak Erden.
Dari sini Erden mulai tersadar jika Jasmine mengalami krisis kepercayaan pada laki-laki.
"Berikan aku kesempatan, aku pasti akan membuktikan jika semua yang kau katakan itu tidak benar," pinta Erden kemudian.
Erden mendekat supaya bisa memeluk tubuh Jasmine. Lelaki itu merasa seperti orang gila sekarang, dia tidak bisa mengontrol apa yang Erden rasakan sekarang.
"Jase, beri aku kesempatan untuk menunjukkan kekuatan pinggangku. Aku pasti akan melakukannya dengan baik," sambungnya penuh permohonan.