
Erden memikirkan perkataan Rose, walaupun menyebalkan itulah kenyataannya. Dia hanya ingin Jasmine mencabut kutukannya tapi membuat perempuan itu jatuh cinta padanya, sepertinya bukan hal yang buruk.
Bukankah dia merindukan goyangan Jasmine? Kalau perempuan itu jatuh cinta, pasti Jasmine akan suka rela bergoyang bukan hanya dalam mimpinya saja.
"Cepat lanjutkan rencana merajut nada cinta itu!" perintah Erden kemudian.
"Pertama-tama, kau harus menyembunyikan identitas aslimu yang seorang mafia pada mommy. Setidaknya tidak boleh bocor sebelum mommy jatuh cinta. Kedua, kita harus berakting menjadi anak dan ayah yang mesra," jelas Jasmine.
"Kalau untuk urusan menyembunyikan identitas, semua mafia pasti akan melakukan itu. Untuk bersikap mesra, bukankah aku sudah memberimu nama kacang manis?" Erden yang selama ini tidak pernah mengenal kasih sayang orang tua, tentu awam dengan hal seperti itu. Baginya memberi Rose nama kesayangan sudah lebih dari cukup.
Rose menepuk jidatnya sendiri, sang daddy sepertinya memang tidak tahu apa-apa. Sekarang misinya semakin rumit, dia harus bisa membuat Erden dan Jasmine jatuh cinta. Kalau sudah begitu, Erden pasti akan melupakan rencana menjadi penjahat dunia dan Jasmine akan sadar kalau butuh sosok laki-laki.
"Sepertinya ini akan sulit," gumamnya.
Rose jadi memikirkan rencana-rencana nakal yang akan dia buat nanti untuk menyatukan kedua orang tuanya.
"Hahaha..." Rose tertawa karena sudah membayangkan yang tidak-tidak.
Erden menatap Otis dan bertanya. "Apa resep barunya bisa membuat anak kecil menjadi sedikit gila?"
"Itu anakmu, Bos. Mengatainya sama dengan mengatai Bos sendiri," jawab Otis dengan gelengan kepala.
Setelah sarapan, Erden memerintahkan Otis untuk menjaga kafe dan menghentikan segala transaksi ilegal dalam bentuk apapun sebelum dia kembali.
"Aku akan pergi bersama James dan beberapa anggota lainnya supaya tidak mencolok. Aku akan menyelesaikan masalahku dulu dengan betina Alpha itu," jelas Erden.
Otis mengangguk paham, dia memberikan beberapa pastry dari kafe untuk oleh-oleh. "Kau harus membawa buah tangan untuk betina Alphamu, Bos!"
Walaupun sebenarnya Erden tidak mau membawanya, lelaki itu tetap mengambil bungkusan dari Otis.
Akhirnya rombongan berjalan menuju kota di mana Jasmine saat ini berada.
...***...
Jasmine merasa cemas karena ponsel Rose tidak bisa dihubungi lagi. Perempuan itu mondar-mandir sampai akhirnya memutuskan untuk menemui miss Chloe.
Dia pun menghubungi miss Chloe dan menanyakan keberadaannya sekarang.
Kebetulan miss Chloe memang baru sampai dan mengantarkan anak muridnya satu persatu pulang ke rumah mereka.
"Biar saya saja yang datang ke sana," ucap miss Chloe.
Tak berselang lama guru perempuan itu sampai di rumah Jasmine.
Di sana Jasmine mencecar miss Chloe yang pulang tanpa membawa Rose.
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Rose?" Jasmine tentu saja melakukan protes.
"Maafkan saya, Nyonya. Tapi Rose baik-baik saja karena anak itu bersama dengan ayahnya," ucap Miss Chloe mencoba menjelaskan.
"Ayahnya?" Jasmine semakin syok dan tidak percaya.
"Wajahnya sangat mirip dan mata mereka juga sama, dia mengancam akan membakar hotel jadi saya terpaksa mengizinkan Rose," jelas Miss Chloe.
Seketika ingatan malam panas bersama Erden dulu kembali terputar di kepala Jasmine.
"Apa pria itu bertemu Rose? Aku bahkan tidak tahu namanya, apa benar dia?" batin Jasmine sambil membayangkan wajah Erden yang keenakan saat berhubungan.