
Erden melajukan mobil ke penginapan Jasmine untuk menemui perempuan itu. Ada waktu beberapa jam sebelum Rose pulang sekolah jadi dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Di penginapan serenity, anak buah Erden sudah menunggu kedatangan bosnya.
"Di mana betina Alpha?" tanya Erden ketika turun dari mobil.
"Ada di dalam, Bos," jawab James.
Erden melihat wajah James sejenak, ada beberapa lebam bekas pukulan semalam. Tapi, dia menolak untuk minta maaf.
"Ini, Bos," James memberikan pengaman yang dibelinya semalam.
"Bagus," puji Erden seraya menerima pengaman itu dan memasukkannya dalam kantong celana.
"Kapan kita akan kembali, Bos? Banyak jadwal transaksi yang sudah dibatalkan, barang yang seharusnya keluar jadi tertumpuk. Kalau begitu pasti akan tercium oleh agen atau polisi," jelas James.
"Dan Otis sepertinya kewalahan karena harus mengurus itu semua ditambah kafe. Selama kita tinggal kafe tutup lebih cepat," sambungnya.
Erden mendengus lalu menepuk pundak anak buahnya itu. "Kita pasti akan cepat kembali, aku akan menyelesaikan urusanku dulu!"
Hari ini, Erden harus berhasil meniduri Jasmine supaya kutukannya cepat hilang.
Lelaki itu masuk ke lobi penginapan dan berpapasan dengan Sarah.
"Di mana nyonyamu?" tanya Erden.
"Nyonya ada di dalam ruangannya," Sarah memberitahu ruangan Jasmine yang berada di lantai paling atas.
Erden tersenyum smirk, di dalam lift dia melepas kancing baju atasnya supaya terlihat seksi. Dia akan menggoda Jasmine dan membuat perempuan itu bertekuk lutut di hadapannya.
Namun, tidak sesuai ekspektasi. Jasmine ternyata saat ini berbincang dengan seorang laki-laki. Mereka tampak akrab dan tertawa bersama.
Erden mengepalkan kedua tangannya karena marah.
Menyadari ada Erden yang datang, Jasmine meminta lelaki itu untuk masuk.
"Masuklah, tunggu sebentar!" seru Jasmine.
Erden memang masuk tapi lelaki itu duduk di antara keduanya, pas di tengah-tengah mereka.
"Dia siapa, Jase?" tanya teman laki-laki Jasmine itu.
"Jase?" Erden jadi geram sendiri. "Hanya aku yang bisa memanggilnya seperti itu. Jase is mine!"
"Nanti aku hubungi lagi," ucap Jasmine.
"Baiklah," laki-laki itu berdiri dan mengecup telapak tangan Jasmine. Dia memang tengah merebut hati single parent itu.
Erden langsung menjilat telapak tangan Jasmine yang habis dicium. "Aku akan membersihkannya dari kotoran!"
"Cepat pergi sana!"
Merasa diusir, laki-laki itu pergi tapi sempat-sempatnya memberi kode telepon di telinganya.
"Ish, kenapa kau kasar begitu? Dia itu kolegaku, aku akan memperluas serenity dan membutuhkan bantuannya," ucap Jasmine.
"Dilihat dari mana pun, laki-laki itu terlihat mesum!" ketus Erden.
Jasmine terkekeh. "Bukankah kau juga seperti itu? Benarkan kataku, kalau laki-laki itu semua sama saja!"
"Tidak, Jase," Erden meraih tengkuk Jasmine supaya perempuan itu hanya menatapnya saja.
"Bagaimana kalau kita berkencan?"
"Maksudmu kita menjadi sepasang kekasih?" tanya Jasmine memperjelas.
"Ya begitulah,"
"Bukankah akan terlihat aneh, kita bahkan sudah mempunyai anak,"
"Urutannya memang berantakan tapi kita bisa memperbaikinya,"
"Entahlah, aku merasa kau mempunyai tujuan tertentu setelah itu kau akan meninggalkan kami,"
"Erden..."
Demi apa, jantung Erden semakin tidak karuan saat mendengar Jasmine memanggil namanya.
"Gejala stroke ini, kambuh lagi," batinnya.
"Jangan beri harapan palsu untuk Rose, kau akan menyakiti hatinya," ucap Jasmine.
"Aku tidak memberinya harapan palsu, Rose itu adalah anakku," sahut Erden serius. Dia meraup wajah Jasmine dengan kedua tangannya. "Aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian!"