Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 44 - Arti Keluarga



"Bagaimana kalau kita merayakan lamaran ini supaya lebih sah?" tanya Erden seraya mendekat ke telinga Jasmine. "Aku punya kamar kosong!"


Jasmine terkekeh karena dia tahu pikiran mesum sang Alpha. "Aku memang melamarmu dan cara supaya sah bukan dengan sekss!"


Perempuan itu menunjuk jari manisnya. "Kau harus beli cincinnya!"


"Aku menunggunya," Jasmine mengecup pipi Erden dan berlalu pergi sambil membawa kopinya. Dia ingin menemui Rose lagi.


Sementara Erden tampak bingung karena memikirkan cincin seperti apa yang harus dia beli. Yang jelas, dia harus secepatnya menikahi Jasmine supaya kutukannya hilang untuk selama-lamanya.


Dia pikir setelah berhubungan dengan perempuan itu, Erden akan kembali normal. Namun kenyataannya, miliknya hanya memilih Jasmine seorang.


"Ini adalah aib, jangan sampai semua orang tahu," batinnya.


Hari itu juga, Erden pergi ke toko perhiasan dan memilih cincin untuk Jasmine. Dia memilih desain yang simple karena karakter Jasmine memang seperti itu.


...***...


Di dalam kamar Erden, Rose membaringkan dirinya di paha sang mommy.


Kalau sudah begitu, Jasmine akan bernyanyi sambil mengelus rambut putrinya.


"Mommy menyukai daddy, 'kan?" tanya Rose tiba-tiba.


"Dia memang kasar dan kadang suka gila tapi sebenarnya hatinya selembut salju," tambah anak itu.


Jasmine tergelak mendengar pernyataan Rose itu. "Sebenarnya, mommy sudah melamar daddy."


"Apa? Artinya mommy dan daddy akan menikah?" tanya Rose memperjelas.


"Apa kau senang?" Jasmine harus mengutamakan kebahagiaan anaknya.


Rose menganggukkan kepalanya cepat yang membuat Jasmine menunduk dan mengecup kening anak itu.


"Maafkan mommy karena bersikap egois selama ini, mommy berpikir kita akan bisa hidup berdua saja tapi ternyata peran ayah itu penting,"


"Mommy selalu berkaca pada pernikahan kakek dan nenekmu padahal itu salah. Justru dari pernikahan mereka, mommy belajar sesuatu sekarang,"


"Bahwa dari menjadi anak, mommy tahu ingin menjadi orang tua seperti apa," lanjut Jasmine.


"Ehem!" Erden berdehem supaya kedatangannya disambut oleh kedua perempuan berbeda usia itu.


"Daddy..." panggil Rose yang mendengar sang Alpha.


"Apa aku mengganggu?" tanya Erden.


"Tentu saja tidak," Rose beralih ke pangkuan lelaki itu.


"Ayo cepat tidur!" Erden meminta anak itu untuk cepat tidur supaya bisa berduaan dengan betina Alphanya.


"Kenapa tiba-tiba menyuruhku tidur? Aku tidak mengantuk," tolak Rose.


Namun, Erden malah menepuk-nepuk bokong Rose dan menyanyikan lagu nina bobo.


Oh, kacang manis cepatlah bobo


Kalau tidak bobo digigit nyamuk


Jasmine tertawa mendengar nyanyian Erden itu. "Rose bukan bayi, kenapa kau nyanyikan lagu yang membuatnya jadi bayi kecil."


"Biar dia cepat tidur," balas Erden.


"Tapi, aku benar-benar tidak mengantuk. Aaaa..."


"Daddy, lepaskan aku!"


Namanya Erden, tentu pantang menyerah, dia terus memaksa anak itu tidur sampai akhirnya Jasmine ikut-ikutan mengantuk dan tidur.


Perlahan dia menarik selimut untuk Rose dan menggendong Jasmine keluar dari kamar itu.


Erden membawa Jasmine masuk ke dalam ke lift, perempuan itu perlahan membuka mata karena merasa ada yang mengganggu.


"Kau menculikku, Tuan Mafia," ucap Jasmine seraya mengalungkan kedua tangannya ke leher lelaki itu.


"Aku sudah membeli cincinnya," balas Erden. "Apa kau ingin melihatnya?"


"Dengan senang hati," ucap Jasmine yang bibirnya langsung disambar oleh bibir Erden dengan rakus.