Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 35 - Lepasnya Kutukan



Pintu kamar Jasmine terbuka, sepasang anak manusia masuk ke dalam kamar itu dan langsung berciuman.


Jasmine masih berada di gendongan Erden dan lelaki berjalan menuju kasur untuk merebahkan tubuh Jasmine di sana.


"Please, Jase. Jangan ada drama lagi malam ini," ucap Erden. Dia menjadi trauma karena banyak gangguan dan ditolak sebelumnya.


"Aku akan mematikan ponselku," Jasmine mengambil ponselnya dan mematikan ponsel itu.


Erden juga merogoh ponsel yang ada di kantong bathrobe yang dia pakai. Dia mengirim pesan pada James supaya menahan Rose, jangan sampai anak itu muncul di waktu yang tidak tepat.


Setelahnya, lelaki itu melempar ponselnya yang sudah mati.


"Apa kau siap?" Erden mengeluarkan pengaman yang dibawanya bersama ponsel.


Pengaman itu terlihat panjang sekali.


"Kita tidak akan menggunakan semuanya, 'kan?" tanya Jasmine jadi takut sendiri.


"Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan sekitar sepuluh pengaman," jawab Erden dengan santainya.


Erden tidak mau membuang waktunya, dia kembali mencium Jasmine tapi kali ini tangannya bergerak aktif membuka helai demi helai pakaian yang Jasmine kenakan.


Tanpa terasa Jasmine hanya mengenakan pakaian dalam saja sekarang.


Erden tidak mau terburu-buru, dia akan memberikan pemanasan sampai Jasmine benar-benar siap.


Suara lenguhan terdengar dari mulut Jasmine ketika Erden menciumi setiap permukaan kulitnya.


Hawa di kamar itu jadi begitu panas sekali.


"Akh! Apa yang kau lakukan?" Jasmine panik ketika Erden membuka kedua kakinya dan menunduk di bawah sana.


"Tenang, Jase. Aku ingin kau menikmatinya," Erden mencoba membuat perempuan itu tenang.


Bukannya tenang, Jasmine justru gelisah ketika Erden bermain di bawah sana. Rasanya begitu menggelitik sampai tanpa sadar Jasmine mendesaah.


Jasmine sudah membuang rasa malunya, dia hanya ingin menikmati apa yang Erden lakukan padanya.


"Erden, stop!" teriaknya kemudian.


"I want you, please!"


Erden kembali menegakkan kepalanya, dia berlutut kemudian membuka bathrobe yang dia pakai.


Erden terkekeh dengan bangga, dia membuka satu pengaman dan langsung memakainya.


Seperti mengulang masa lalu, malam itu terjadi penyatuan yang membara. Erden benar-benar memperlihatkan kekuatan pinggangnya.


Selesai satu, Erden kembali membuka pengaman kedua dan berganti gaya.


Jasmine sudah tidak bisa menghitung berapa kali dia mendapat pelepasannya. Erden memang pria yang perkasa sesuai perkataannya.


"Erden, sepertinya aku tidak kuat lagi," keluh Jasmine yang merasa sudah lemas.


Namun, Erden sendiri tidak memelankan laju tubuhnya. Dia bahkan menarik pinggang Jasmine supaya lebih dekat dengannya.


"Sekali lagi, Jase," ucap Erden terengah-engah.


"Dari tadi sekali terus, kapan selesainya?" Jasmine melakukan protes.


Bahkan jam sudah menunjukkan dini hari jadi sudah semalaman mereka bercinta.


Erden menaikkan tubuh Jasmine yang sudah lemah, dia duduk dan Jasmine berada di atasnya.


"Peluk aku, Jase," pintanya.


Jasmine memeluk lelaki itu dengan tubuhnya yang kembali dihujam dari bawah.


Sampai lolongan kenikmatan terdengar untuk kesekian kalinya. Tubuh Jasmine langsung ambruk di dada Erden.


Rasa kantuk sudah tidak bisa ditahan lagi, Jasmine tertidur hitungan detik.


"Akhirnya," Erden merasa sangat puas sekali.


Kutukannya sudah hilang, dia menciumi Jasmine yang sudah tidak sadar lagi.


"Aku tidak akan melepasmu, Jase," ucapnya.


Erden membaringkan perempuan itu dan menarik selimut supaya menutupi tubuh polos Jasmine.


Saat dia akan memejamkan mata, terdengar ketukan pintu.


"Daddy..."