Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 39 - Pengakuan



"Penculik itu terlalu ceroboh, dia memperlihatkan wajahnya di kamera cctv dan juga plat mobil yang notabene bisa terlacak," Erden berkata pada James dan anak buahnya yang lain.


Saat ini mereka berada di loby penginapan dan mereka berunding di sofa yang ada di sana.


James mengangguk. "Sepertinya memang bukan dari kalangan bawah tanah, Bos. Lantas apa tujuan mereka?"


"Pasti ada sesuatu yang diincar dari kacang manisku," Erden menghela nafasnya karena merasa gagal melindungi Rose.


Rose mempunyai kelebihan dari kemampuan otak dan matanya.


"Apa jangan-jangan..." Erden berasumsi jika ini bukan penculikan biasa yang meminta sejumlah uang tapi bisa jadi pengambilan organ dalam.


Memikirkan saja membuat kepala Erden mau pecah, dia tak kuasa menahan emosinya yang setipis tisu.


Erden memukuli dinding penginapan sampai buku-buku jarinya luka dan berdarah. Kemudian dia mengambil pistolnya dan berjalan keluar.


Lelaki itu menembak ke atas sampai kehabisan peluru sebagai pelampiasan.


"Apa menurutmu petani kopi akan melakukan itu?" tanya Jasmine yang berlari ketika mendengar suara pistol di depan penginapan. Dia bertanya pada Sarah yang berdiri di sampingnya.


"Sepertinya tidak, Nyonya," sahut Sarah ketakutan.


Jasmine memberanikan diri mendekati Erden yang masih memegang senjata. Aura lelaki itu berubah jadi gelap sekali. Dia yang biasanya seenaknya marah jadi takut.


"Erden..." panggilnya.


Lelaki itu menoleh ke arah Jasmine, dia jadi tidak bisa menahan diri dan memperlihatkan sisi gelapnya.


"Apa ada seseorang yang menghubungimu untuk minta tebusan?" tanya Erden kemudian.


"Tidak ada..." Jasmine mendekat dan memeluk Erden di sana. "Aku sangat khawatir!"


"Tenanglah, aku pasti bisa menemukan anak kita," balas Erden berusaha menenangkan.


"Kau saja tidak bisa tenang, tamuku sampai ketakutan," ucap Jasmine sambil melepas pelukannya. Dia ingin melihat tangan Erden yang terluka. "Ayo kita obati dulu!"


"Tidak perlu," Erden menepis tangan Jasmine yang memegangnya. "Aku sedang menunggu laporan dari anak buahku!"


"Sebenarnya siapa dirimu? Aku tidak percaya kalau kau seorang petani kopi," Jasmine semakin bertanya-tanya.


Pada saat itu, James berlari ke arah bosnya dan memberikan laporan plat mobil yang berhasil di lacak.


Erden melihat tab itu dan memeriksa lokasinya, Jasmine juga ikut melihat dan tampak mengenali nama rumah sakit itu.


"Esther Hospital? Bukankah itu rumah sakit pribadi keluarga Esther?" gumam Jasmine.


"Kau mengenal pemiliknya?" tanya Erden.


Jasmine menggeleng. "Aku tidak mengenal tapi keluarga itu terkenal sangat kaya, lalu apa hubungannya dengan Rose?"


"Cepat cari tahu tentang keluarga itu!" perintah Erden lagi.


"Baik, Bos," James bergegas memasukkan coding-coding untuk peretasan data penduduk di kota itu.


Sambil menunggu, Erden mempersiapkan dirinya. Perasaannya sudah tidak enak sedari tadi.


"Aku mau ikut," pinta Jasmine yang ingin tahu keadaan Rose.


"Kau tunggu di sini saja, kau bilang mereka kaya bukan? Pasti bukan uang yang mereka butuhkan," sahut Erden.


"Tapi..." Jasmine tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Erden menaikkan kelima jarinya. Lelaki itu tengah menghubungi seseorang.


"Jack, cepat susul aku! Aku akan kirimkan lokasinya!" perintah Erden.


"Siapa Jack?" tanya Jasmine lagi.


"Orang gila yang melakukan tes DNA ku dengan kacang manis," jawab Erden.


Jasmine mengingat hasil DNA yang waktu itu diberikan oleh Erden padanya. "Bukankah tes itu tidak resmi dan ilegal?"


"Ya," Erden mendekati Jasmine yang membuat perempuan itu memundurkan badannya karena tatapan Erden begitu mengimintidasi.


Namun, Erden meraih pinggang Jasmine supaya ibu dari anaknya itu tidak bisa menjauh.


"Kau tahu kenapa bisa ilegal dan tidak resmi?" tanya Erden.


Jasmine menggelengkan kepalanya.


"Itu karena aku seorang mafia, aku Alpha dari organisasi Wolf Winter," ucap Erden membuat pengakuan.


"Jadi, kau benar-benar bukan petani kopi?" tanya Jasmine memastikan.