
Setelah acara di sekolah, Rose jadi takut kalau Erden akan pergi. Anak itu terus mengikuti langkah Erden, jangan sampai lelaki itu pergi tanpa berpamitan padanya lagi.
"Daddy, tidak akan pulang, 'kan?" tanya Rose memastikan.
"Aku datang hanya untuk pertandingan tapi nanti kalau ada waktu, aku akan kemari lagi. Jadi, jaga diri baik-baik dan tetap sembunyikan matamu!" jawab Erden sambil mengetuk kening Rose dengan kedua jarinya.
Jasmine mendengar itu dan langsung berseru dengan keras.
"Jangan pergi!" pekiknya.
Erden mengerutkan keningnya dalam sekali. "Bukankah hobimu adalah mengusirku?"
"Kenapa kau berpikiran seperti itu? Tentu saja tidak..." Jasmine mengelak.
"Aku justru ingin menawarkan penginapan, anak buahmu pasti lelah apalagi tadi kalian memasak begitu banyak burger," sambungnya.
Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, mungkin mereka akan menginap semalam saja.
"Aku hargai niat baikmu itu," balas Erden kemudian.
Akhirnya rombongan Erden pergi ke penginapan serenity. Di sana kebetulan ada beberapa kamar kosong.
"Kalau begitu, malam ini aku ingin tidur bersama daddy," pinta Rose ketika sampai. Anak itu ingin bertanya lebih jauh tentang kelompok hacker yang dibentuk oleh Erden sebelumnya.
Hal itu sempat tertunda karena harus menjalankan misi merajut nada cinta.
"Baiklah," Erden setuju.
Dan lagi-lagi Jasmine merasa tidak dianggap.
Perempuan itu berjalan melewati Erden dan Rose dengan sengaja.
"Sepertinya malam ini, aku juga akan menginap di sini," ucap Jasmine. Nadanya dibuat sekeras mungkin.
Dia ingin memancing sang Alpha tapi sepertinya, Erden terlihat biasa saja.
...***...
Malam harinya, Jasmine benar-benar menginap di serenity. Perempuan itu mondar-mandir tidak jelas. Dia ingin Erden kembali seperti sedia kala.
"Aneh, aneh, aneh," Jasmine bergumam sendiri.
Sebelumnya, dia sangat ingin Erden pergi dari hidupnya tapi sekarang dia justru ingin lelaki itu dekat dengannya.
"Aku harus berbicara padanya," ucap Jasmine penuh tekad.
Jasmine akhirnya memberanikan diri untuk pergi ke kamar Erden. Perempuan itu membuang rasa gengsinya.
Tangannya mengetuk pintu kamar tapi yang membuka bukan Erden melainkan putrinya.
"Ada apa, Mom?" tanya Rose.
"Ehem, tidak ada apa-apa. Hanya ingin tahu, apakah kau sudah tidur," jawab Jasmine memberi alasan.
Rose curiga pada sang mommy. "Jangan bohong, Mom. Pasti mommy mau mengusir daddy lagi, 'kan?"
"Kalau mommy ingin mengusir, tidak mungkin mommy menyediakan kamar," elak Jasmine.
Pada saat itu, Erden baru keluar dari kamar mandi. Bos mafia itu hanya memakai bathrobe saja.
"Siapa?" tanya Erden karena melihat Rose membuka pintu.
Rose meminta Jasmine masuk, hal pertama yang dilihat oleh perempuan itu adalah Erden yang mengibaskan rambutnya. Rambut itu masih basah, Erden terlihat sangat seksi apalagi bagian dada bathrobe yang terbuka.
"Akh!" Jasmine memegang dadanya karena merasakan debaran itu lagi.
"Mommy, okay?" tanya Rose.
Jasmine mengangguk, dia mendudukkan dirinya supaya tenang.
"Ada apa? Aku ada urusan dengan kacang manis," Erden ingin tahu tujuan Jasmine datang dengan sikap aneh itu.
"Aku ingin berbicara padamu," ucap Jasmine tanpa mau melihat wajah Erden.
"Berbicara? Bukankah kau alergi padaku?" tanya lelaki itu.
Jasmine bingung caranya membujuk Erden supaya tidak marah lagi padanya. Mungkin dengan pujian, lelaki itu akan memaafkan dirinya.
"Aku tidak alergi padamu, sebenarnya hari ini kau terlihat sangat keren," puji Jasmine.
Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!
_
Hayu, bunyi jantung siapa tuh?ðŸ¤