
"Kau memang pria mesum, ya," tanggap Jasmine
Biar berkata begitu, Jasmine justru menarik kerah baju Erden kemudian mencium bibir lelaki itu.
Mendapat serangan tak terduga, membuat Erden membelalakkan mata. Dia masih berusaha untuk tetap sadar jika yang dialaminya ini bukanlah mimpi.
Setiap gerakan dari mulut Jasmine begitu lembut, Erden harus mengimbanginya. Dia harus menunjukkan keahliannya dalam berciuman.
Suara decapan semakin terdengar sampai Jasmine merasakan tubuhnya digerayangi oleh tangan nakal Erden.
"Cukup, okay." Jasmine melepas ciuman dan berusaha menyadarkan diri.
Tentu saja Erden tidak terima karena perempuan itu sudah memancingnya.
"Aku akan meminta anak buahku untuk membeli pengaman," ucap Erden seraya merogoh ponselnya yang berada di celananya.
Erden menghubungi James dan benar-benar meminta anak buahnya itu untuk membeli pengaman.
"Cepat, James!" perintah Erden tidak sabaran.
Pada saat itu, James tengah makan bersama anak buah Erden lainnya di tempat makan yang ada di penginapan.
Setelah mendapat panggilan dari Erden, James tampak berpikir sejenak. Kemudian dia tertawa karena tahu apa maksud dari bosnya.
"Apa bos Erden sudah tertarik pada wanita?" gumamnya. Selama ini yang dia tahu kalau Erden tidak pernah berkencan.
Dia kemudian mencari Sarah yang duduk dengan Rose memakan es krim. Mereka duduk tak jauh dari kursi James.
"Bisa antarkan aku membeli sesuatu," pinta James.
"Sesuatu apa?" tanya Sarah.
"Itu..." James melirik ke arah Rose yang tampak bingung. Tidak mungkin dia berbicara di depan anak itu.
Jadi, James mencoba berbisik pada Sarah.
"Apa!?" Sarah berteriak tidak percaya. Selama ini dia tahu bagaimana Jasmine yang selalu menolak laki-laki.
"Bagaimana mungkin nyonya Jasmine akan melakukan itu?"
Sarah bergumam sendiri dan Rose melihat keduanya bergantian.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Rose.
"Saya akan cepat kembali jadi nona tunggulah di sini," ucap Sarah berpamitan.
"Baiklah," sahut Rose.
Setelah kepergian James dan Sarah, bukannya menunggu mereka, Rose justru pergi meninggalkan es krimnya dan mengelabui anak buah Erden.
Rose pergi dari penginapan karena ingin pergi ke rumah miss Chloe. Dia ingin meminta bantuan pada gurunya itu untuk menunjukkan arti keluarga bagi kedua orang tuanya.
Namun, di tengah perjalanan Rose melihat ada seorang kakek yang tampak mencari sesuatu.
"Kakek mencari apa?" tanya Rose.
Kakek itu menatap Rose kemudian menunjuk rerumputan yang minim pencahayaan.
"Cincin kakek tadi terjatuh di sekitaran rerumputan ini," ucap sang kakek.
"Serahkan padaku," Rose tanpa berpikir panjang menggunakan kelebihan matanya untuk mencari cincin itu.
Di mata Rose rerumputan yang minim cahaya di depannya itu tampak terlihat terang dan dia bisa menangkap sebuah kilauan di dalam rerumputan.
Anak itu mengambilnya dan ternyata memang cincin sang kakek.
"Bagaimana cincin kakek bisa terlepas?" tanya Rose seraya memberikan cincin itu.
Tidak ada jawaban dari si kakek, lelaki tua itu justru memandangi mata Rose yang langka dan unik.
"Matamu berfungsi dengan baik dan masih muda," ucapnya.
Kalimat kakek itu mengandung maksud tersembunyi, Rose langsung mengingat kata-kata Erden jika dia harus menyembunyikan matanya.
Rose memundurkan badannya, anak itu tidak jadi ke tempat miss Chloe melainkan kembali ke penginapan.
Beruntung tidak ada yang mengejarnya, dia harus lebih berhati-hati lagi ke depannya.
"Nona..." tegur Sarah yang baru kembali. "Kenapa bisa ada di luar? Apa yang terjadi?"
Rose menggeleng, dia justru mendekati James.
"Uncle, ayo kita ke rumahku. Aku ingin bersama mommy dan daddy," pinta Rose.
James dan Sarah langsung beradu tatap, mereka bingung karena baru saja membeli pengaman.